Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 117


__ADS_3

Setelah dokter memeriksa keadaan Luna, Dilara mengikuti dokter keluar ruangan untuk berbicara lebih lanjut tentang kondisi Luna. Di dalam ruang rawat, Luna di temani Farel. Dikara meminta Farel untuk menemani Luna sementara waktu sampai dia selesai berbicara dengan Dokter.


"Terima kasih sudah membawaku ke rumah sakit."


Farel hanya menganguk.


Lalu tak ada lagi obrolan. Farel duduk di sofa, berjarak sekitar 10 langkah dari posisi brankar tempat Luna berbaring. Padahal di samping brangkat ada kursi, tapi Farel memilih duduk di sofa. Luna tersenyum kecut melihat Farel begitu menjaga jarak dengannya.


"Besok aku pergi ke LA," ucap Luna.


Farel terkejut sesaat lalu ekspresi nya biasa saja. Kembali Luna tersenyum kecut. Ada sedikit harapan, Farel syok dan melarangnya pergi. Tapi ternyata Farel sudah benar-benar tidak peduli padanya.


"Soal IGS Ku, sekarang kamu tahu kan Rachel suka sama kamu. Kamu juga suka sama dia kan?."


Farel masih tetap terdiam.


"Ya sudah, aku cuma mau bilang selamat memperjuangkan cinta kamu buat Rachel."


Ada rasa perih yang luar biasa di hati Luna saat mengatakan itu pada laki-laki yang dia cintai untuk memperjuangkan cintanya pada perempuan lain. Tapi, selaku mengatakan itu, memangnya Luna bisa apa sekarang?.


Berusaha mengambil hati Farel lagi? Bersaing dengan Rachel? atau melakukan apa?.


Luna merasa tidak punya tenaga lagi untuk melakukan itu. Luna hanya ingin pergi dan menghindar dari orang-orang yang menghujatnya. Tapi jika bisa memilih Luna tidak ingin pergi. Luna ingin tetap di negeri ini, negeri kelahirannya.


Farel menghela napas panjang, lalu berdiri dan duduk di samping brankar Luna.


"Gue mau minta maaf."


Luna menahan air mata yang mendobrak ingin keluar.


"Minta maaf buat apa?."


"Maaf gue salah satu orang yang membuat karir lo hancur. Gue marah dan nggak bisa mengendalikan diri saat ada orang yang menyakiti Rachel. Saat gue lihat pipi Rachel yang terluka, rasanya gue ingin menghancurkan siapapun yang membuat pipi Rachel terluka seperti itu. Dan ternyata lo yang menjadi penyebab Rachel terluka. Gue marah dan seketika gue lupa lo juga temen gue. Yang ada di pikiran gue saat itu, lo harus hancur karena menyakiti perempuan yang gue cinta."


Air mata Luna tak terbendung lagi. Bahunya terguncang terisak-isak. Sakit. Mendengar penjelasan langsung dari Farel membuat hatinya berkali-kali lipat lebih sakit.


"Tapi, Luna. Gue nggak menyesal. Gue berhasil melindungi Rachel. Selain itu dengan cara ini lo sadar lo nggak bisa mempertahankan sesuatu dengan cara yang licik. Gue harap lo bisa memulai hidup lo dengan cara yang baik. Hilangkan rasa iri lo pada siapapun. Rasa iri hanya akan menghancurkan diri lo sendiri."


"Lo mau pindah ke luar negeri kan? semoga sukses dan lo bisa meraih mimpi lo di sana."


Farel tersenyum samar, "Gue juga pergi yah, gue masih ada kuliah."

__ADS_1


Sepeninggal Farel, tangis Luna langsung pecah. Dilara bergegas masuk ke dalam ruang rawat putrinya dan betapa hancur melihat putrinya menangis sesegukan.


"Aku nggak mau ke luar negeri, Ma. Hiks. Tolong cari cara agar aku bisa tetap di sini."


Air mata Dilara jatuh begitu saja sembari mengeratkan pelukan pada putrinya.


"Iya, Mama akan mencari cara. Sudah ya, jangan nangis. Nanti mama bicara sama papa."


"Kenapa hidup kita semakin sengsara setelah bertemu dengan papa, Ma. Jika tahu begini, lebih baik aku nggak usah bertemu papa. Lebih baik aku menganggap papa sudah mati."


"Ssst, jangan bicara begitu. Papa pikir mengirim kamu ke luar negeri adalah jalan yang terbaik. Papa kamu hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kamu. Tenang ya, Mama akan membujuk papa kamu agar membatalkan keberangkatan kamu ke LA."


***


Setelah kembali ke kampus, Farel langsung ke ruang kelas untuk mengikuti kelas selanjutnya. Untuk kelas yang tadi, Farel terpaksa absen. Karena dosen tidak mengizinkan mahasiswa terlambat mengikuti kelas.


Selesai kelas Farel langsung berlari menuju ke gedung Fakultas Rachel.


"Semoga saja Rachel nggak salah paham."


Sesampainya di sana, Farel menghentikan langkah saat melihat Rachel berjalan di lorong gedung sambil melingkarkan tangan di lengan Brandon.


"Rachel..." lirih Farel pelan.


Rachel menoleh ke arahnya, mata mereka bertemu dalam beberapa detik. Satu, dua, tiga. Dalam hitungan detik ke empat, Rachel memutus kontak mata dan kembali menatap Brandon.


Kemudian mereka berjalan lagu membelakangi Farel yang masih diam dengan pandangan mata tertuju pada punggung mereka. Farek membeku di tempat dengan tangan yang perlahan terkepal.


Dia tidak punya hak untuk marah. Rachel dan Brandon pacaran, sudah sewajarnya mereka sedekat ini. Namun tidak di pungkiri hati Farel sakit sekali melihat kedekatan mereka.


Tapi tidak mungkin juga Farel memukul Brandon saat ini juga dan menarik Rachel dalam pelukan.


Pada akhirnya, Farel memilih berbalik badan dan berjalan berlawanan arah dengan mereka.


"Wah, kamu keren banget," Rachel tersenyum senang mendengar cerita Brandon yang berhasil mendapat nilai tinggi dari latihan mingguan tadi.


Di tengah obrolan, Rachel menoleh ke belakang dan melihat punggung Farel yang sudah menjauh. Tidak ada yang salah dengan apa yang dia lakukan sekarang. Tidak ada juga kewajiban Rachel untuk menjaga perasaan Farel. Tapi tetap saja hatinya gelisah dan merasa bersalah.


Soal Farel yang menolong Luna tadi, Rachel tidak marah. Di sana memang tidak ada yang bisa menolong Luna selain Farel. Tapi tidak di pungkiri Rachel merasa sangat cemburu.


Rachel juga khawatir dengan kondisi Luna, semoga dia tidak kenapa-napa.

__ADS_1


"Mau makan dulu?." tanya Brandon begitu mereka sudah masuk ke dalam mobil.


Namun Rachel diam.


"Rachel," panggil Brandon sekali lagi sambil menyentuh lengan Rachel.


"Eh, iya kenapa?."


"Ada apa? kenapa melamun?."


Rachel menggeleng, "Gapapa, tadi kamu tanya apa?."


"Mau langsung pulang atau makan dulu?."


"Langsung pulang aja. Nanti malam kamu juga ada acara makan malam dengan anggota tim dan coach kamu kan? biar sekarang kamu bisa istirahat dulu."


Brandon menganguk, "Tapi kamu nggak papa kan? kalau ada masalah cerita aja."


"Nggak ada masalah apa-apa kok. Nggak usah khawatir. Ayo pulang."


Brandon pun menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil meninggalkan halaman kampus.


***


Melati Bar, 22.00


"Kenapa lo? nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba ngajakin ke tempat beginian? biasanya lo paling anti." Rendy terkekeh dan melingkarkan tangan di bahu Farel yang duduk di stool cair sampingnya.


Farel tak menjawab, menuangkan wiski ke gelas kecil dan meneguk dalam sekali tegukan. Farel bukan tipe sekalem Dypta, tapi juga tidak seliar Rendy. Kadang-kadang saat sedang ingin ke club, dia pergi bersama teman-temannya, tapi lebih sering bersama Rendy. Rendy yang suka melalangbuana tahu tempat-tempat yang asik untuk dugem.


Bastian juga sangat jarang ke klub, katanya dia ingin menunjukkan image baik sebagai calon menantu Anthony, sedangkan Dypta lebih suka tidur.


"Gue tebak, Rachel nolak lo."


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2