
Selesai dengan acara kantor, jam 10.30 Ayuma keluar dari kantor bersama Samuel. Samuel juga ikut rapat karena Samuel menduduki posisi penting dalam perusahaan. Samuel juga menuangkan banyak ide untuk kemajuan departemen storenya.
"Kita makan dulu, dari tadi aku perhatikan kamu belum sarapan."
"Aku buru-buru, aku harus bertemu Edgar mengurus berkas-berkasku."
"Kamu keliatan pucat Ayuma. Biar aku saja yang menemui Edgar."
Ayuma menggeleng sembari menahan kepala nya yang terasa pusing. Belakangan ini dia sibuk mengurus ini itu kadang lupa makan.
"Jangan, Edgar sibuk tapi dia tetap mau meluangkan waktu untukku. Rasanya aku ngga sopan kalau aku mengirim orang untuk menemui nya."
"Ya udah kalau gitu aku setirin. Kali ini tak ada penolakan."
Ayuma tersenyum, "Terima kasih."
Samuel membukakan pintu mobil untuk Ayuma. Setelah itu berlari ke posisi setir lalu mealjukan mobil menuju ke restaurant yang kemarin di reservasi room yang sama.
Sesampainya di basement parkiran, mereka sama-sama keluar dari mobil.
"Oh ada yang mau nge-date nih."
Ayuma dan Samuel menghentikan langkahnya dan berbalik badan dan bertatapan dengan Hendrawan yang berdampingan dengan Dilara. Perlahan Dilara menggerakkan tangan dan melingkarkan tangan di lengan Hendrawan sembari menatap Ayuma.
"Sekarang aja terang-terangan, dulu aja selalu nyangkal." sinis Hendrawan.
"Mas, bisa nggak kalau kita bertemu anggap saja kita orang asing dan ga usah saling menyapa juga."
Hendrawan menggeretakkan gigi, "Sombong sekali kamu."
"Capek, Mas. Aku benar-benar capek. Tolong anggap saja kita tidak pernah bertemu sebelumnya."
Hendrawan terkejut melihat reaksi Ayuma yang kalem, dan tidak meledak-ledak seperti sebelumnya. Dilara juga heran dan semakin mengeratkan pelukan di lengan Hendrawan.
"Sebentar lagi aku akan selesai mengurus berkas-berkasku dan perceraian kita bisa menyelesaikan perceraian. Selamat menikmati waktu berdua Mas Hendrawan dan Dilara."
Ayuma melempar senyum pada Hendrawan dan Dilara, lalu berbalik badan bersama Samuel yang berjalan di sampingnya.
__ADS_1
Ayuma merasa kepalanya semakin pusing, namun dia menahan sekuat tenaga. Jangan sampai ambruk di depan mereka, namun pandangannya semakin mengabur, jalannya mulai gontai dan...
Brug.
"Ayuma,"
Refleks Hendrawan menghampiri Ayuma.
Samuel baru saja ingin menolong Ayuma, namun gerakannya tertahan saat Hendrawan tiba-tiba berjongkok di samping Ayuma.
"Ck. Kenapa bisa pingsan gini sih. Lo jadi pacar ga becus banget sih!." Hendrawan menatap tajam Samuel lalu menggendong Ayuma.
"Mas Hendrawan," Dilara juga sama terkejut nya dengan Samuel melihat Hendrawan yang tiba-tiba menggendong Ayuma.
Bahkan saking terkejutnya Dilara sampai melongo, bagaimana tidak melongo, gerakan Hendrawan terlalu cepat menghampiri Ayuma bahkan melebihi kecepatan Samuel yang berdiri di samping Ayuma. Entah kenapa Hendrawan melakukan itu entah apa alasannya, tapi yang jelas tidak di pungkiri merasa kesal dan jengkel.
"Apa-apaan kamu!, kenapa kamu menggendong Ayuma!, jangan sentuh dia!."
Samuel merebut paksa Ayuma dari gendong Hendrawan.
Hendrawan juga terkejut dan buru-buru memberikan Ayuma pada Samuel. Saat melihat Ayuma ambruk tadi, kaki nya seolah bergerak sendiri ke arah Ayuma.
Melirik pada Dilara, Hendrawan tersenyum merasa tidak enak. Apalagi melihat wajah merah padam Dilara dan tampak masam. Astaga bisa repot ini. Bisa-bisanya nanti malam dia tidak di kasih jatah atau bahkan Dilara menguncinya di luar kamar. Ck. Hendrawan tak berhenti merutuki kebodohannya yang entah kenapa harus sepeduli itu pada mantan istrinya.
"Nggak usah terkejut gitu gue nolong Ayuma," sinis Hendrawan pada Samuel. Kalau lo yang jatuh gue juga akan nolongin lo."
"Wajar, gue manusia. Gue juga punya hati
Samuel menuipitkan mata, "Seperti yang Ayuma katakan tadi, seandainya kalian bertemu pura-pura saja tidak kenal. Keadaan Ayuma sudah lemah sejak tadi, tapi dia masih bisa menahan rasa sakitnya. Tapi setelah bertemu dengan Anda kondisi nya langsung drop. Saya tidak mau kondisi Ayuma semakin tertekan."
"Kenapa lo jadi nyalahin gue? emang gue ngapain? gue cuman ngajak Ayuma berbicara. Gue nggak mukul, nampar dia, dia jatuh karena sakit. Justru itu salah lo, lo sebagai pacar gak becus. Harusnya lo lebih perhatian, peduli dan selalu mengingatkan Ayuma untuk makan dan menjaga kesehatan."
"Saya selalu mengingatkan Ayuma untuk makan dan istirahat. Tapi Ayuma tertekan karena bertemu dengan Anda."
Hendrawan sudah ingin berdebat lagi tapi Dilara sudah mendekat, berdiri di dekatnya dan mengusap lengannya.
"Sudah lah, Mas. Kita pergi dari sini aku sudah lapar."
__ADS_1
Hendrawan menoleh sekilas pada Dilara lalu mengalihkan perhatian pada Samuel lagi.
"Jagain tuh pacar lo biar nggak tiba-tiba pingsan lagi dan di gendong sama laki-laki lain. Ck."
Hendrawan melingkarkan tangan di pinggang Dilara dan mengajaknya pergi.
"Aku setuju apa yang Sakuel dan Ayuma katakan tadi, Mas. Lebih baik saat kita bertemu Ayuma kita pura-pura tidak mengenal saja. Lagi pula sebentar lagi kamu dan Ayuma akan bercerai. Ayuma akan masa lalu kamu, tidak seharusnya kamu sepeduli itu pada Ayuma. Samuel sebagai pacar Ayuma juga pasti cemburu dan aku sebagai kekasih kamu juga sangat cemburu. Aku ngga suka suamiku sepeduku itu pada perempuan lain."
Hendrawan menghentikan langkah, mencengkram lembut lengan Dilara, mengarahkan tubuhnya agar menghadap kepadanya.
"Aku nggak sepeduli itu sama Ayuma, Sayang. Gerakan ku itu refleks, refleks sesama amanusi menolong manusia. Ya kalau yang pingsan di depanki itu tadi sapi, nggak mungkin aku menggendongnya. Astaga, kenapa aku ngomongin sapi, pokonya gitu lah. Jangan cemburu yah, aku hanya mencintai kamu."
Hendrawan tersenyum dan menoel puncak hidung Dilara. Dilaea membalas senyuman itu dengan senyuman manis. Namun tetap saja Dilara merasa gelisah dan tidak nyaman. Hatinya masih terbakar api cemburu. begitu panas sampai rasanya menjalar ke seluruh tubuh. Dilara membutuhkan pelampiasan untuk meredakan amarahnya.
Tapi tidak mungkin Dilara melampiaskan itu pada Hendrawan dengan marah-marah, teriak-teriak atau tiba-tiba kabur begitu saja. Tidak, bukan seperti itu caranya menyelesaikan masalah. Dilara harus terlihat seanggun dan seelegan mungkin di depan Hendrawan.
Mereda amarahnya, Dilara melempar senyuman pada Hendrawan.
"Iya, Mas. Tapi jangan di ulangi lagi ya, jangan peduli sama Ayuma.
"Iya, Sayang. Ayo masuk katanya tadi sudah lapar."
"Iya, Mas. Aku sudah sangat lapar. Terima kasih sudah mengajak lunch bahkan reservasi room di restaurant bintang 5 ini. Aku suka kita menghabiskan waktu berdua seperti ini. Seperti kita mengenang masa kuliah kita saat kita masih berpacaran dulu.
"Hm, aku juga."
Hendrawan melingkarkan tangan di pinggang Dilara lagi. Sebelum berbalik keluar area parkir, Hendrawan menoleh ke samping mencari sosok sang mantan istrinya.
Di sana, Samuel tampak kerepotan membuka pintu mobil, tapi untungnya ada seseorang yang datang dan membukakan pintu untuk Samuel yang menggendong Ayuma.
Setelah memasukkan Ayuma masuk ke dalam mobil, Samuel langsung melajukan mobil meninggalkan bassement parkiran. Untuk meeting Ayuma dan Edgar, mau tidak mau harus di tunda dulu. Kondisi Ayuma juga tidak memungkinkan untuk tetap mengikuti meeting. Semoga saja laki-laki yang bernama Edgar itu bisa mengerti.
Begitu sampai di jalanan, Samuel mempercepat laju mobil menuju ke rumah sakit.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....