
Dan si Farel ini... Sejak dulu sampai sekarang masih belum berubah. Masih tidak punya sopan santun dan suka melawan orang tua. Hendrawan tak habis pikir kenaoa dari sekian banyak laki-laki Rachel harus dekat dengan Farel.
"Kamu pikir saya tidak menghargai keputusan mereka. Tentu saja saya menghargai. Apalagi saya Ayah kandung Rachel, tentu saya ingin yang terbaik untuk Rachel. Tidak ada rasa kasih sayang yang melebihi kasih sayang seorang Ayah pada putrinya."
Sungguh, Farel ingin tertawa mendengar Hendrawan mengatakan itu. Kemana saja dia selama 20 tahun saat ingatan Rachel masih baik-baik saja. Jangankan memberikan kasih sayang layaknya seorang Ayah pada putrinya, menanyakan kabar saja Hendrawan tidak pernah. Justru setiap ada kesempatan Hendrawan selalu berusaha menyakiti Rachel.
Iya, Farel mengerti, mungkin sekarang Hendrawan sudah menyadari kesalahannya. Tapi yang menyebalkan, Hendrawan seolah tidak merasa bersalah dan merenungkan kesalahannya di masa lalu.
"Sudah cukup," Rachel akhirnya buka suara, "Maaf hilang ingatan saya membuat situasi menjadi rumit. Saya akan berusaha sebaik mungkin mengembalikan ingatan saya secepat mungkin. Tapi saya punya hak melakukan apa yang ingin saya lakukan. Saya berhak memilih siapa yang ingin saya tenhi atau tidak. Saya tidak suka ada yang memaksa."
Rachel menatap semua orang satu persatu, "Saya sungguh bahagia mengenal orang baik seperti kalian. Saya sangat berterima kasih atas sambutan hangat Oppa Wisnu, Om Sebastian dan Tante Anggun berikan. Tapi saya juga butuh waktu."
Rachel menatap pada Hendrawan seolah kalimat terakhirnya itu untuk Hendrawan. Hendrawan was was, deg degan dan delisah menunggu apa yang akan Rachel katakan padanya.
"Dan untuk Papa... Saya senang sekali bisa bertemu dengan papa. Saat berada di Swiss alasan terbesar saya ingin datang ke Indonesia adalah bertemu dengan papa."
"Benarkah?." Hendrawan tersenyum bahagia. "Papa tahu meskipun kamu hilang ingatan, ikatan batin kita sebagai seorang Ayah dan putri kandung tidak akan pudar. Papa yakin kamu pasti merindukan papa sama seperti papa merindukan kamu. Kalau begitu mari kita habiskan waktu lebih banyak berdua. Papa ingin kamu tinggal lagi bersama papa. Papa akan memberikan kasih sayang yang dulu tidak kamu dapatkan dari papa. Papa akan berusaha menjadi Ayah yang baik untuk kamu."
Ayuma menggelengkan kepala. Sangat tidak terima keinginan Hendrawan mengajak Rachel tinggal serumah.
Ayuma dan Edgar baru saja ingin membuka mulut, tapi Rachel lebih dulu berbicara.
"Maaf pa, aku tidak bisa. Aku akan tetap tinggal bersama mama dan papa Edgar. Aku menyanyangi papa tapi bukan berarti aku harus tinggal bersama papa. Aku lebih nyaman tinggal bersama mama. Dan untuk kapan kita bertemu... Bukan berarti kita bisa bisa bertemu setiap hari. Aku akan menghubungi papa jika aku sudah siap berbicara lebih banyak dengan papa."
Hendrawan mencelos. Sama sekali tidak menyangka Rachel akan mengambil keputusan seperti ini. Padahal Hendrawan sudah menyusun banyak rencana di kepala nya. Rencana menghabiskan waktu bersama putrinya. Tapi Sayang sekali Rachel membatasi waktu bertemu dengannya.
Hendrawan ingin menolak, tapi kesannya tidak tahu diri. Rachel masih mau bertemu dengannya saja itu sudah suatu kebahagiaan yang luar biasa. Mungkin seandainya Rachel tidak hilang ingatan Rachel tidak mau bertemu dengannya.
Hendrawan harus banyak bersyukur, meskipun terbatas, setidaknya dia masih bisa bertemu dengan putrinya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau itu menjadi keputusan kamu, papa menerima nya. Katakan saja kapan kamu siap bertemu papa. Papa akan selalu punya waktu 24 jam bertemu kamu."
Rachel menganguk.
***
Pagi hari, pukul 07.00
"Luna, itu mulut Kevin belepotan."
"Luna, pelan-pelan dong suapi Kevin."
"Ini tadi kamu sudah cuci berasnya dengan baik kan? Beras yang kamu belum bukan beras mudah dan nggak berkualitas kan?."
"Terus itu ikan nya? ikan yang sudah kamu bersihkan sampai benar-benar bersih belum? masih ada durinya ngga? awas kalau masih ada durinya dan nyangkut di tenggorokan Kevin."
"Jangan lupa nanti vitaminnya di minuman ke Kevin. Vitamin apa yang biasa kamu kasih?."
"Oma cerewet!." Kevin menatap kesal Amora yang sejak tadi terus berbicara.
Amora tersenyum dan menatap Kevin.
"Oma enggak cerewet Kevin. Kevin melakukan ini juga demi kebaikan Kevin. Kevin kan baru saja pulang dari rumah sakit. Oma khawatir dan takut sekali Kevin sakit lagi. Karena itu Oma akan memantau kesehatan Kevin. Oma sudah putuskan akan datang ke sini setiap hari."
"Setiap hari?." Luna menoleh pada Amora dengan keterkejutan.
Amora mendengkus melihat reaksi Luna.
"Tentu saja, memang salah datang ke sini setiap hari. Mama ingin menjenguk dan merawat cucu mama. Mama ingin memastikan Kevin tidak sakit lagi. Karena kamu tidak becus mengurus anak."
__ADS_1
"Oma," Kevin menatap kesal Amora, "Kenapa dari tadi Oma marah mama terus, Kevin nggak suka. Kevin nggak suka Oma ada di sini. Oma pulang aja sana."
"Kevin jangan begitu, Sayang." tegur Brandon yang baru datang. Brandon sudah rapih dan memakai baju kantor lengkap dengan tas yang di tentengnya. Karena harus menemani Kevin makan. Luna tidak membantunya bersiap-siap. Tapi Luna Sudah menyiapkan kemeja, celana, dasi, sepatu sampai jam tangan. Semua sudah Luna letakkan di tepi kasur dan Brandon tinggal memakainya.
"Oma marahin mama terus papa, Papa juga harus marahin Oma." adu Kevin pada papa nya.
Sekarang bocah kecil itu duduk di sofa panjang. Di samping kirinya ada Luna. Sementara Amora duduk di samping kanan Kevin.
"Nggak boleh dong Sayang. Kita itu tidak boleh marah sama orang yang lebih tua. Kevin harus sopan dan baik sama Oma Amora."
Amora tersenyum, senang sekali mendapatkan pembelaan dari Brandon. Sementara Luna tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Sudah terbiasa dan sudah menebak. Sejak dulu Brandon memang tidak pernah membelanya. Mau marah juga percuma, cuma menghabiskan energi. Lebih baik Luna menggunakan energi nya untuk Kevin.
"Tapi kalau orang tuanya jahat kayak Oma Amora sama mama. Kevin marah, Kevin nggak suka."
"Sayang," Amora mengusap rambut Kevin, tapi Kevin menghindar dan merapatkan tubuhnya pada Luna.
"Kevin kok gitu sih ngomongnya sama Oma," Amora mengusap kaki Kevin.
"Nggak mau jangan pegang Kevin," Kevin pindah duduk di pangkuan Luna. Luna langsung memeluk putranya. amora menatap jengkel Luna yang seolah sengaja menjauhkan Kevin darinya.
"Kevin," Brandon menegur Kevin lagi, kini duduk di samping Luna.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1