
"Biar adil kalian duduk di belakang, dan saya jadi supir kalian." ucap Hendrawan yang di balas anggukan oleh Rachel dan Luna.
Setelah masuk ke dalam mobil, Hendrawan pun melajukan mobil ke lokasi street food.
Tak lupa Luna membuat story Ig sedang OTW ke street food agar followers nya ikut ke sana juga.
Sesampainya di sana, Hendrawan memakirkan mobil lalu Luna dan Rachel turun dari mobil.
"Rachel Ayo!."
Rachel yang awalnya bete tapi begitu melihat banyak makanan di sana senyum nya mengembang.
"Rachel, kita habiskan semuanya!."
Rachel tertawa. "Oke!."
Kedua gadis cantik itu saling bergandengan tangan menuju ke salah satu stand makanan. Hendrawan tersenyum melihat kedua putrinya.
"Rachel lihat unik banget ini sate cumi."
"Iyah kamu mau?."
"Mau."
"Oke."
Hendrawan tersenyum melihat kedua putrinya akur. Rachel benar-benar seperti seorang kakak untuk Luna. Menganyomi, melindungi dan menyanyangi sepenuh hati. Suatu hari jika Rachel tahu bahwa Luna adalah adik kandung nya, semoga sikap Rachel tidak akan berubah.
"Papa mau juga?."
"Boleh. Tapi beli dua porsi saja untuk bertiga, biar nggak cepet kenyang. Nanti kita bisa mencoba menu yang lainnya." usul Hendrawan yang di balas anggukan oleh kedua putrinya.
Dua porsi sate cumi yang berisi 10 tusuk sudah berada di tangan mereka dan mereka pun makan dengan lahap.
"Enak banget." seru Luna. "Om cobain deh, Aku suapin yah?." Luna menyuapkan sate kepada Hendrawan.
"Iya enak banget. Ini Om suapi untuk putri tersayang." Hendrawan menyuapkan sate kepada Luna. "Ini untuk Rachel." Lalu Hemdrawan menyuapkam dua potong cumi sisa Luna pada Rachel.
"Enak kan Hel?."
Rachel menganguk, "Enak kok, enak banget."
"Ayo kit coba yang lain. Eh aku suka bubur kacang ijo. Ih suka banget." Luna menarik tangan Rachel dan mengajaknya ke sana.
"Aku nggak suka ini!."
"Oh yah kamu nggak suka bubur yah."
"Ya udah kamu coba ini, aku coba yang lain." ucap Rachel.
"Oke."
"Papa kita coba dimsum yuk!." Ajak Rachel.
Luna yang mendengar itu langsung sedih tapi tidak bisa protes. Om Hendrawan bukan Papa nya. Jadi dia tidak punya hak untuk melarang Hendrawan menemani Rachel. Walaupun Luna ingin sekali Hendrawan tetap berada di sini bersamanya.
__ADS_1
"Rachel kamu ke sana sendiri nggak papa yah? Papa di sini menemani Luna. Papa khawatir jika ada fans rusuh yang meminta foto Luna, terus Luna kenapa-napa.
Hati Rachel mencelos.
"Eh aku nggak jadi beli dimsum deh Pa. Nunggu Luna saja, biar kita ke sana sama-sama."
"Makasih Rachel."
Rachel menganguk.
Mereka pun membeli makanan sampai puas dan kenyang. Sebelum pulang Rachel tak lupa membeli makanan untuk Ayuma. Begitu juga Luna yang membelikan beberapa bungkus makanan untuk Dilara.
"Oke, kita pulang!."
Mereka pun menuju parkiran.
"Liat deh Om, tadi aku beli ini." Luna menunjukkan isi plastik nya pada Hendrawan. Dengan antusias Hendrawan melihat isi kantong plastik Luna.
"Makanan pilihan kamu sehat-sehat semua. Mamah kamu pasti suka."
"Iyah dong Om. Oh yah aku seneng banget hari ini bisa menghabiskan waktu bersama Om dan juga Rachel."
"Om juga senang."
Oh yah Om aku lupa belum beli sate taichan, temenin sebentar lagi yuk Om!, Mama suka banget sate taichan."
"Oh yah Mamah kamu kan suka sate taichan. Ayo Om temani!."
"Papa tahu dari mana kalau Tante Dilara suka Sate Taichan?" tanya Rachel.
Rachel menganguk.
"Kamu mau ikut atau ke mobil duluan?." tanya Hendrawan.
"Ke mobil aja."
Rachel mulai lelah, lelah untuk bersaing dengan Luna untuk mendapatkan perhatian Papa nya. Rachel pun memutuskan untuk mempercepat langkahnya menuju mobil.
Namun tiba-tiba....
"RACHEL AWAS....."
Luna menjatuhkan bungkus makanannya dan berlari mendorong punggung Rachel agar tidak tertarik motor.
Tapi.
"Bruk."
Luna terserempet motor dan tersungkur.
"LUNA." Teriak Hendrawan dan Rachel bersamaan. Beberapa orang juga ikut melihat kondisi Luna. Sementara pengendara motor langsung kabur.
"Aku ngga papa, cuma luka kecil di lutut." ucap Luna saat melihat lututnya berdarah.
"Luna." Rachel berjongkok di samping Luna."
__ADS_1
"Minggir kamu!." namun tiba-tiba Hendrawan menepis tangan Rachel saat ingin menyentuh lengan Luna.
"Semua ini gara-gara kamu Rachel. Coba kalau kamu nggak ceroboh menyebrang jalan pasti Luna nggak akan nolong kamu dan akhirnya terluka kayak gini. Dan kamu juga Luna, nggak usah terlalu peduli sama orang lain sampai kamu harus mengorbankan nyawa kayak gini. Pikirin diri kamu sendiri. Jadi orang nggak usah terlalu baik."
"Om jangan begitu, aku ngga papa."
"Nggak papa gimana! lutut kamu berdarah kayak gini. Luna, kita ke rumah sakit sekarang Om ngga mau kamu terluka sedikitpun."
Luna menggeleng lalu menatap Rachel. "Rachel kamu nggak papa?."
"A-aku ngga papa."
Sementara Hendrawan merangkul pundak Luna dan membantu nya berdiri. Dengan tertatih Luna berjalan menuju mobil yang terparkir lumayan jauh.
Sementara Rachel terdiam dan menatap punggung Luna dan Papa nya yang sudah menjauh.
"Kenapa bukan aku yang tertabrak?."
Rachel meremas tali tas nya dan memutuskan untuk pulang sendiri saja. Bukannya tidak peduli dengan Luna atau tidak tau terima kasih, tapi benar-benar Rachel ingin sendiri.
Rachel berbalik badan dan selangkah maju namun langkah nya tertahan saat melihat sosok di depannya. Sosok lelaki tampan dan tegap memakai topi hitam.
"Farel?."
Farel mendekat dan berdiri di hadapannya.
"Lo ada di sini juga?, kok gue ga liat dari tadi. Oh yah kalau lo mau cari Luna. Luna sedang di mobil sama Papa. Tadi gue ceroboh banget mau nyebrang tapi nggak lihat kanan kiri dulu dan akhirnya gue hampir ketabrak tapi untuk Luna menolong gue. Sekarang Luna butuh Lo, lo temani saja dia. Gue mau pulang duluan."
Rachel tersenyum dan berjalan dengan mata berkaca-kaca. Tapi tiba-tiba Farel menahan pergelangan tangan nya lalu Farel melepas topi dan memakaikannya pada Rachel.
"Farel?."
"Motor gue ada di sana." Farel menggenggam tangan Rachel dan mengajaknya ke motor.
Luna yang sudah sampai di mobil Hendrawan, sebelum masuk ke dalam mobil menoleh dulu ke arah Rachel. Dan ternyata di sana ada Farel.
"FAREL, FAREL. AKU DI SINI."
Farel yang baru saja berbalik badan, langkahnya tertahan mendengar teriakan itu.
"Farel sini!."
Rachel menatap wajah Farel dari samping, entah apa yang di pikirkan nya. Wajahnya tampak datar, namun tak jauh yang di pikirkan nya tak jauh dari Luna. Selama ini jika Luna ada kesulitan, Farel selalu ada di sisinya. Rachel tidak marah, Farel mencintai Luna. Wajar jika Farel memprioritaskannya.
Dari pada sakit hati berharap sesuatu yang tidak akan berpihak kepadanya. Rachel memutuskan hendak melepaskan genggaman tangan Farel. Lebih baik Rachel pulang sendiri dari pada berharap Farel mengantarkannya pulang tapi ujung-ujung nya Farel meninggalkannya.
"Fa-Farel gue...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1