Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Ekstra Part


__ADS_3

Beberapa minggu setelah nya.


Malam ini adalah malam resepsi pernikahan Rachel dan Farel. Resepsi mewah di gelar di gedung Gelora Madya milik keluarga Gammaland. Gedung ini cukup untuk tamu 1000 undangan. Tapi Farel dan Rachel hanya mengundang sekitar 500 undangan. Itupun lebih banyak undangan dari orang tua mereka. Farel dan Rachel hanya mengundang beberapa teman dekatnya saja.


Undangan resepsi pukul 08.00 malam tapi sudah ada beberapa tamu yang datang. Sementara sang pengantin Farel dan Rachel masih ada di ruangan khusus di lantai 2.


"Kok deg degan."


"Ya sudah sini dulu biar nggak deg deg an."


Farel mencondongkan tubuhnya ingin mencium Rachel. Tapi buru-buru Rachel menutup bibir suaminya dengan jari.


"Nggak mau ah, sekali nempel kamu susah lepas."


Farel terkekeh, "Engga kok, kali ini cuma cup cup doang. Nempel doang, Sayang."


Farel merengkuh pinggang istrinya dan mendaratkan kecupan di bibir Rachel yang sudah di lapisi lipstik soft Red. Awalnya hanya kecupan saja, tapi lama-lama Farel ******* bibir yang sudah menjadi candu nya itu.


"Kan kan apa aku bilang."


Farel meringis dan meregangkan pelukan, "Maaf, Sayang."


"Lipstik aku jadi pindah ke bibir kamu tuh"


"Serius?." Farel menyentuh bibir nya sendiri, "Kamu pake lipstik merk apa sampai bisa luntur?."


"Canda hehehe," Rachel terkekeh


Rachel melingkarkan tangan di pundak Farel.


"Kok kamu kelihatan jelek banget sih malam ini?."


Farel tersenyum dan meremas pinggang istrinya, "Kamu juga jelek."


"Aku nggak sabar resepsi ini segera selesai dan kita bisa honeymoon," ucap Farel. "Sebenarnya aku pengen honeymoon dulu baru resepsi."


Rachel tersenyum, "Inti dari honeymoon apa sih...menghabiskan waktu berdua, liburan berdua dan ujung-ujung nya ranjang kan? Sebenarnya kita bisa honeymoon di manapun, di kasur bisa, di sofa bisa, di karpet kamar bisa, di dapur bahkan di mobil juga bisa," Rachel tertawa, begitu juga dengan Farel yang ikut tertawa.


Setuju sekali dengan ide istrinya. Sejujurnya itulah yang Farel pikirkan. Mereka bisa honeymoon di mana saja, karena inti dari honeymoon adalah making love tapi Farel ingin memberikan momen yang membekas untuk istrinya. Yang akan dikenang seumur hidup. Apalagi ini malam pertama mereka. Harus spesial dan tak terlupakan.


"Oh jadi kamu pernah membayangkan kita making love di dapur dan mobil?"


Seketika Rachel mendelik, "Eng-enggak kok."


Meskipun mulut berkata tidak, rona merah di pipi Rachel tidak bisa berbohong.


Farel mendekat Rachel dan menggerakkan tubuh mereka ke kanan dan ke kiri.


"Nanti kita coba satu-satu ya."


"FAREL."


Farel terkekeh, "Nggak usah malu-malu gitu.


Rachel mengerucutkan bibir dan membalas pelukan suaminya.


Namun pintu tiba-tiba terbuka.


"Ya ampun, di cariin kemana-mana tahunya di sini. Tamu udah pada berdatangan dan menunggu kalian. Ini yang ditunggu-tunggu malah sibuk pelukan di sini. Udah pelukan nanya nanti aja." Omel Ayuma.


Rachel ingin melepas pelukan nya tapi Farel justru mengeratkan pelukannya.


"Ma, nggak bisa dilepas. Tolong, Ma. Gimana ini?."


Rachel tersenyum melihat kejahilan suaminya.


"Mama jewer ya kamu Farel."


"Canda, Ma."


Farel melepas pelukan, menggenggam tangan istrinya dan bergegas meninggalkan kamar mengikuti Ibu mertuanya. Begitu sampai di sana benar saja tanya undangan sudah ramai. Gimana nggak ramai, undangan mereka saja 500 orang.


Setelah memgendarkan pandangan, ada banyak wajah asing. Farel tidak mengenal mereka dan sudah pasti itu teman mama dan Ayah nya. Begitu juga Rachel hanya tersenyum saat ada yang memberinya selamat atas pernikahan.


Hampir semua orang mengatakan keterkejutan mereka atas pernikahan Farel dan Rachel yang tiba-tiba. Ada juga beberapa ibu-ibu pengusaha rekan bisnis Anthony yang berniat menjodohkan putrinya dengan Farel kecewa. Karena dulu Rachel di Swiss dan Farel tidak pernah menggandeng perempuan. Banyak rekan bisnis yang mendekati Anthony untuk mengatur perjodohan putra putri mereka dengan imbalan akan menguntungkan perusahaan Anthony.


Jelas Anthony menolak. Selain dia sudah memiliki menantu idaman Rachel. Anthony juga tidak ingin mengorbankan masa depan putranya demi perusahaan. Farel berhak memilih pilihannya sendiri.


"Kalian kapan nikahnya kok tiba-tiba udah resepsi aja?."

__ADS_1


Begitu pertanyaan yang sejak tadi mereka lontarkan pada Rachel dan Farel sampai sang pengantin ini capek sendiri menjawab nya.


"Sekitar 2 minggu yang lalu Tante. Hanya keluarga besar yang datang." Jelas Farel.


"Oh begitu.... ngomong-ngomong nggak hamil duluan kan hahaha."


Seketika Rachel dan Farel mendelik bersamaan. Jangan kan hamil, mereka malam pertama saja belum. Ibu-ibu ini benar-benar, tidak ingat waktu dan tempat untuk berjulid.


Di depan Farel dan Rachel saja mereka dejulid ini, apalagi di belakang mereka. Pasti diam-diam para tamu undangan yang datang malam ini menggibahkan Rachel dan Farel di belakang mereka.


"Enggak, Tante. Istri saya belum hamil. Mohon doa nya semoga kami segera punya momongan," ucap Farel dengan ramah meskipun mulutnya gatal sekali ingin membalas dengan kejulidan yang lebih pedas.


"Buat apa saya doain kalian. Kalau kamu nikahnya sama putri saya, saya pasti doakan terus hahaha... Bercanda Farel," ibu-ibu tertawa.


'Cih Aneh' Batin Rachel gemas.


"Oh anak Tante yang itu ya. Maaf Tante dia nggak masuk kriteria saya. Soalnya anak Tante jelek, hahahaha..... Bercanda, Tante." ucap Farel sambil tertawa.


Ibu itu langsung berhenti tertawa dan menatap sinis Farel. Lalu tanpa mengatakan apapun langsung pergi.


"Lah pergi, padahal aku sudah siap-siap mau ngejulid lagi."


Rachel menepuk lembut lengan Farel, "Nggak boleh gitu."


"Terus boleh nya gimana, Ayang? Kalau minta cium sekarang boleh?."


"Kalau kita ciuman sekarang bisa-bisa tambah julid nih orang-orang. Mereka pasti ngejulid gini 'Serasa dunia milik sendiri ya, yang lainnya ngontrak' Terus pasti ada yang ngomong gini, 'Ya ampun, anak muda zaman sekarang, nggak ada malu-malu nya beda sama saya dulu. Dulu waktu saya nikah bla bla bla ..."


Rachel dan Farel saling menatap lalu sama-sama tertawa. Mereka sefrekuensi. Bahkan sebelum Rachel melanjutkan kalimatnya Farel sudah bisa menebaknya.


"Iya deh yang udah nikah, berasa dunia milik kalian sendiri."


"Kan bener, hahahaa," Rachel tertawa semakin kencang begitu juga dengan Farel. Baru saja mereka omongin. Contoh nyatanya langsung datang.


Dan yang ngejulidin itu adalah Rendy. Rendy tidak sendiri di belakang nya ada Dypta berjalan bersama Rana. Ada juga Bastian yang menggenggam tangan Rani. Sedangkan kembar satu nya Reza ikut bersama Anthony bertemu rekan bisnis nya.


"Lama-lama gue obrak-abrik bumi dan seisinya." kesal Rendy karena sejak tadi Farel dan Rachel terus tertawa.


"Tau nih, mentang-mentang udah nikah. Kata orang nikah itu nggak seindah zaman nya pacaran." ucap Rana.


Dypta menoleh ke arah Rana, "Kayak pernah pacaran sama nikah aja kamu."


"Ya belum sih, tapi kata orang sih."


"Abang aku udah rapihin selama 5 jam tau." Kesal Rana.


"MASA?." Rendy semakin jadi mengacak rambut Rana.


"Brutal banget, Bang ngacak rambut gue."


Rendy terkekeh.


"Btw congratulations yah." Bastian merengkuh Rachel dalam pelukan. "Nggak nyangka lo bakalan nikah duluan daripada gue."


Rachel tersenyum dan membalas pelukan Bastian.


"Gue juga nggak rencana bakal nikah secepat ini. Tapi ya sudah takdir nya gue dan Farel nikah sekarang. Papa... yang menyatukan kami pernikahan ini. Dulu papa ingin sekali memisahkan aku dengan Farel. Tapi sekarang papa yang menyatukan kami. Papa sangat menyanyangiku bahkan di detik-detik terakhir masih berusaha menjadi Ayah yang baik dan membahagiakan putrinya dengan mewujudkan impian masa kecil putrinya."


Rachel berkaca-kaca sambil menyembunyikan wajahnya di pelukan Bastian. Bastian bisa merasakan kesedihan dan kebahagiaan adik sepupunya dalam waktu bersamaan.


Bastian melepas pelukan dan menangkup pipi Rachel.


"Jika Om Hendrawan masih hidup beliau pasti bilang gini, "Putriku... malam ini sangat cantik sekali. Semoga putri papa bahagia selalu. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan."


Rachel tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"Terima kasih semoga lo sama Rani cepat nyusul." Rachel menatap Rani. Seketika Rani langsung malu-malu.


"Oh itu sudah pasti, tinggal menunggu waktu yang tepat." Bastian merangkul pundak Rani.


"Tapi berhubung kalian belum menikah, rangkul-rangkulan nya nanti aja." Farel melepaskan rangkulan Bastian di pundak Rani.


"Abang tau nggak di mobil tadi Bang Bastian cium Rani."


"Rana." Rani melotot ke arah saudara kembar nya.


"Aku mau aduin ke Ayah." Rana menjulurkan lidah pada Bastian dan Rani lalu berlari mencari Anthony.


"DASAR KANG CAPER," kesal Bastian.

__ADS_1


Bastian mengalihkan perhatian pada Farel yang sedang menatap tajam padanya.


"Di pipi doang Rel, bukan di yang lainnya." Bastian berdecak, "Dah lah aku mau makan aja. Ayo, Sayang."


Bastian menggenggam tangan Rani dan mengajak nya ke stand makanan.


Tak lama setelah kepergian Bastian dan Rani, Brandon dengan keluarga kecilnya datang. Rachel, Farel, Dypta, dan Rendy yang masih ada di sana mengalihkan perhatian nya pada mereka.


"Wih istri orang makin hari makin cakep aja," Rendy mengedipkan mata pada Luna.


Brandon berdehem keras, membuat mereka tertawa. Sekarang Brandon mulai terlihat cemburu pada Luna.


"Kevin," Rachel agak menunduk dan mengusap pipi Kevin. Kevin terlihat tampan sekali memakai tuxedo mini di tubuh kecil.


"Halo Tante, Mama bilang hari ini Tante Rachel sama Om Farel resepsi pernikahan. Kevin mau mengucapkan selamat menikah. Semoga Tante Rachel dan Om Farel bahagia."


"Terima kasih," Rachel berjongkok di depan Kevin dan memeluknya.


Cup...


Kevin mencium pipi Rachel.


"Tante cantik hihihi."


Untung saja Kevin masih anak kecil, kalau Kevin laki-laki dewasa, Farel bisa mereog saat ini juga melihat pengantinnya di cium. Tapi kalau di pikir-pikir lagi Kevin adalah Brandon dan Luna versi kecil. Contohnya Luna menyukai Dypta dan Kevin juga menyukai Dypta daripada Rendy. Begitu juga Brandon menyukai Rachel dan Kevin juga tertarik pada Rachel, bahkan sudah dua kali Kevin mencium Rachel.


"Senang kan lo, dulu lo nggak bisa cium Rachel sekarang di wakilin anak lo," ucap Farel.


"Kalau bisa sih gue pengen cium Rachel langsung."


"Lun-" Brandon langsung membekap mulut Farel.


Luna menatap heran suaminya lalu mengalihkan perhatian pada Rachel lagi.


"Rachel," Sapa Luna.


Rachel berdiri dan mengalihkan perhatian pada Luna. Dua sahabat yang pernah begitu dekat, tapi juga begitu asing, kini saling menatap lekat. Lalu sama-sama melempar senyum dengan mata berkaca-kaca dan menghamburkan diri memeluk satu sama lain.


"Kapan terakhir kita pelukan kayak gini?." tanya Rachel.


"Sudah lama. Lama sekali."


"Pernah berharap kita pelukan lagi kayak gini selama marahan dan terpisah."


"Setiap hari," Luna tersenyum. "Mungkin kamu nggak akan percaya tapi saat kamu hilang, setiap hari aku benar-benar berharap kamu segera pulang."


"Meskipun dengan resiko Brandon akan berpaling padaku."


"Hm, aku bahkan sudah merestui hubungan kalian."


Rachel dan Luna tersenyum . Sementara Farel yang mendengar pembicaraan mereka hanya menipiskan bibir. Tidak menyangka Luna bahkan sudah merelakan Brandon untuk Rachel. Untung saja Rachel tidak memiliki jiwa-jiwa pelakor, bisa-bisa Rachel benar-benar merebut Brandon dari Luna.


Untung juga Hendrawan meminta Farel menikahi Rachel sehingga Brandon tidak punya kesempatan untuk mendekati Rachel lagi. Dengan begitu Brandon bisa fokus pada Luna dan menyadari perasaannya pada Luna .


Sekarang sepertinya Brandon sudah mulai mencintai Luna.


Kepergian Hendrawan memberikan banyak kebahagiaan untuk mereka .


"Saat kamu masih koma waktu itu, Kevin memintaku menjadi teman kamu," Rachel melepas pelukan dan menatap Luna. "Kamu masih mau menjadi temanku?."


"Aku pernah jahat sama kamu. Kamu nggak takut aku mengulang kesalahanku dan menjahati kamu?."


"Nggak dong. Kan sekarang udah ada Kevin. Kevin akan selalu menjadi benteng kamu untuk tidak melakukan hal-hal nggak baik. Karena aku yakin sebagai seorang Ibu kamu tidak ingin memberi contoh yang buruk untuk anak kamu. Dan aku percaya Luna ku yang sekarang sudah berubah menjadi perempuan yang baik, hebat dan tulus. Brandon beruntung sekali memiliki kamu. Nanti kalau Brandon macam-macam masih ada Rendy dan Dypta yang akan menikahi kamu."


Rendy yang selalu menjadi umpan hanya bisa tertawa. Sementara Dypta tidak merespon apa-apa, hanya menatap biasa saja.


"Terima kasih, terima kasih banyak Rachel. Jadi kapan kita bisa shopping berdua, hangout berdua? liburan berdua?."


"Kok berdua sih? Aku?." Farel menatap Rachel sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Jangan lupakan aku dan Kevin juga," Brandon juga ikut protes pada istrinya.


Rachel dan Luna seketika menyemburkan tawa. Lucu saja melihat tingkah suami-suami mereka.


"Ck, iya deh yang punya suami. Aku juga punya. Ayo Ayang Dypta kita cari kesenangan," Rendy membuat gerakan mengibaskan rambut, lalu melingkarkan tangan di lengan Dypta dan pergi. Dypta juga tidak protes, malah terkekeh.


.


.

__ADS_1


.


Tamat.


__ADS_2