
"Eh" Farel hampir tertarik oleh seseorang yang keluar dari dalam apartement dengan membawa kardus besar.
Farel pun memberi jalan orang itu lewat, dia masuk ke dalam apartement.
Betapa terkejut Farel melihat Rachel memasukkan pakaian miliknya kedalam koper.
"Hel?," panggilnya.
Rachel tidak mengindahkan panggilan Farel kepada dirinya, dia terus memasukkan barang-barang miliknya ke dalam koper.
Farel pun berjalan mendekat dan menghampiri Rachel memegang tangannya. "Lo ngapain?," tanya Farel.
Rachel pun menoleh ke arah Farel, "Gue mau pindah." ucap Rachel kembali memasukkan pakaian-pakaiannya dan memberikan arahan kepada pekerja yang membantu nya.
Farel mematung, "Pi-pindah?," ucap nya terbata dan masih tak percaya.
Berjalan kembali menghampiri Rachel, "Gue sibuk jangan ganggu gue," ucap Rachel saat Farel menarik tangannya.
"Lo marah sama gue?" tanya Farel.
Rachel menatap Farel sekilas, tak menjawab pertanyaan Farel.
"Lo mau pindah kemana?, kenapa tiba-tiba gini?."
Rachel masih tak menjawab membuat Farel seketika panik lalu mengambil pakaian-pakaian Rachel yang sudah Rachel masukan ke dalam koper lalu mengeluarkannya.
"Farel berhenti!" teriak Rachel mencegah Farel yang memasukkan kembali pakaian nya ke dalam lemari, gerakan Farel begitu cepat membuat Rachel kewalahan.
"Ngga bisa, gue gak mau lo pindah Rachel." ucap Farel yang masih memasukkan pakaian Rachel kedalam lemari.
"Gue gak pindah Farel, gue cuman pindah Apartement doang."
"Pindah kemana?, apa gara-gara kemarin?, gue minta maaf, gue gak bermaksud ninggalin lo sendirian di sana, gue kira lo ngikutin gue di belakang pas gue noleh lo udah gak ada." jelas Farel.
__ADS_1
Rachel menghela nafas panjang.
"Udah gak usah di bahas yang kemarin. Gue ga papa. Lo ngga perlu minta maaf juga, lo ngga salah. Ngga ada yang salah lo ngeranyain kemenangan dengan orang yang lo cintai.
Kemarin gue pulang duluan karena gue lelah, maaf gue gak pamit dan buat lo sama Luna khawatir. Gue udah hubungi Luna, dan gue bilang baik-baik saja. Jadi santai saja Oke!."
Rachel tersenyum lalu mengambil pakaian nya kembali dari lemari dan memasukkannya ke dalam koper, namun Farel merebutnya kembali.
"Rachel, gue mohon jangan gini!"
"Gini gimana Farel?" ucap Rachel masih berbicara dengan lembut.
Farrel mencelos, bahkan saat Rachel sedang marah dan kesal pun masih berbicara lembut. Sepanjang mereka berteman Rachel emang tidak pernah marah-marah dia selalu bertutur kata lembut. Mau bagaimanapun keadaannya Rachel selalu tersenyum.
"Kalau lo ngga marah, kenapa lo pergi?."
"Gue bosen ingin cari suasana baru."
"Bosan?, saat pertama kali lo pindah ke apartemen ini lo bilang ngga bakalan bosan tinggal di sini. Selain karena view nya yang indah, deket dengan kampus lo juga bisa deket dengan gue!"
Jujur saja Rachel tidak ingin pindah, meskipun hanya di anggap teman. Asalkan bisa bersama selalu Rachel sudah bersyukur. Tapi semakin ke sini cinta nya pada Farel semakin besar. Semakin sakit juga melihat Farel bersama dengan Luna.
Sebenarnya rasa sakit bukan melihat Farel bahagia bersama Luna. Tapi rasa sakit saat Farel hanya membutuhkan nya saat tidak ada Luna di sisinya.
Bukan hanya kemarin, tapi sejak dulu-dulu Farel memang bersikap seperti itu. Dan sekarang dia dalam fase lelah, lelah sekali.
Sekarang Rachel ingin fokus kepada dirinya saja, tidak ingin terus mengharapkan Farel yang tidak pernah melihat ke arahnya.
Dia harus bisa menjaga jarak dengan Farel, mungkin terasa sulit namun ia harus mencoba.
"Rachel, please jangan pindah!" Farel mencengkram lembut pergelangan tangan Rachel.
Namun perlahan Rachel melepas genggaman tangannya.
__ADS_1
"Meskipun gue pindah gak bakalan ada yang berubah kok Rel. Kita masih bisa bertemu di kampus, kita masih bisa bertemu di hari weekend atau hari-hari tertentu."
"Ngga ada yang berubah lo bilang?, Kita akan berjauhan Rachel!"
"°Terus kenapa kita berjauhan?, Ngga ada bedanya Farel, lo masih bisa ketemu di kampus, walau gak akan sesering dulu. Kita masih bisa bertemu bahkan dengan teman-teman lainnya. Jadi di mana beda nya Farel?, tolong mengerti lah"
Farel mengacak rambutnya dengan frustasi. Farel bingung bagaimana menjelaskannya perasaannya sekarang, yang jelas perasaannya kalut dan takut sekali Rachel benar-benar menjauhinya.
"Setelah gue pindah nanti, lo bisa minta Luna buat tinggal di apartement gue. Jadi lo bisa deket dengan wanita yang lo cintai dengan kalian berdua tinggal di satu gedung, kalian pasti akan sering bertemu. Semakin kalian bertemu semakin cepat Luna menyadari perasaannya bahwa dia juga mencintai Lo. Gue tunggu kabar baiknya setelah 26 hari lagi kalian resmi pacaran."
Rachel kembali memasukkan pakaiannya ke dalam koper, namun tiba-tiba Farel mencengkram lembut bahunya dan mendorong hingga membentur tembok.
"FAREL!" Rachel melotot berusaha mendorong Farel namun Farel mencengkram kedua lengannya dan menguncinya di sisi kepala.
"Gue gak mau lo pergi, Rachel!"
"Ya terus lo mau nya apa?"
"Lo tetap tinggal di sini dan kita bisa melakukan banyak hal. Lo bangunin gue dari tidur begitu juga sebaliknya, kita bisa olahraga bareng, hangout di hari wekeend kalau lo gabut kita nonton atau karokean atau juga kita bisa liburan bareng. Pokoknya kita lakukan semua itu sama-sama seperti biasanya."
"Lo lakuin aja semua itu sama Luna."
"Gue mau nya Lo, Rachel. Gue mau lo!" Farel memejamkan mata dan memperpendek jarak wajah mereka. Begitu dekat sampai Rachel bisa mencium wangi nafas Farel menerpa kulit wajahnya. Mereka sama-sama diam dengan bibir sama-sama terbuka dengan nafas terengah karena emosi. Mata mereka masih saling menatap hanyut dalam kegelisahan masing-masing.
Farel menelan ludah dengan susah payah, lalu tanpa bisa di cegah jantungnya berdecak kencang. Ini bukan pertama kalinya, di saat -saat tertentu Farel tidak bisa mengendalikan detak jantungnya saat berada dekat dengan Rachel. Namun Farel menyangkal bahwa detak jantung nya yang berdecak karena dirinya gugup. Merasa wajar saja manusia merasakan gugup.
"Farel" Lirih Rachel. "Please jangan begini!"
"Begini bagaimana? Emang salah gue melarang sahabat gue pergi?, gue cuma nggak mau jauh dari lo, Rachel."
"Lo bener-bener aneh. Lo cinta Luna tapi lo ngga mau jauh dari gue. Sumpah Lo egois banget. gue juga kehidupan, Farel. Gue ngga bisa selalu memprioritaskan lo dalam hidup gue. Gue juga punya impian yang ingin gue capai. Dan gue yakin hidup lo juga bukan tentang gue, emang kapan lo mau bener-bener mentingin gue?. Lo sadar ngga sih, Rel? gue itu cuman Second choice buat lo. Dan sampai kapan pun gue ngga bakalan bisa jadi yang pertama."
"Tapi tidak seharusnya gue menginginkan jadi yang pertama. Karena yang lo cinta itu Luna bukan gue. Gue bukan perempuan yang lo cintai, jadi biarkan gue pergi dan tidak seharusnya gue berharap lebih selama ini dari lo. Gue..."
__ADS_1
"Lo suka sama gue?," tanya Farel.
Deg,!