
Kevin menciumi pipi Luna. "Mama."
Brandon ikut mencondongkan tubuhnya ke arah Luna dan mengusap rambutnya. Lalu mendekatkan bibir ke arah telinga Luna dan berbisik-bisik sambil berkaca-kaca.
"Sayang, buka mata kamu. Aku Brandon suami kamu, aku minta maaf. Aku janji jika kamu membuka mata. Aku akan menjadi suami yang baik untuk kamu. Tolong beri aku kesempatan. Aku akan perbaiki diri."
"Mama," Kevin terus berteriak memanggil mama nya. Begitu juga Brandon yang meminta maaf, berharap Luna memberi kesempatan nya lagi dan juga memberi kesempatan untuk dirinya sendiri. Kata Dokter jika pasien mempunyai keinginan yang tinggi untuk bertahan hidup, kemungkinan pasien akan sadar lebih tinggi. Brandon berharap Luna masih membuka membuka mata.
"Sayang."
"Mama."
Perlahan Mama membuka mata, merasakan cahaya yang terang. Luna memejamkan mata lagi, lali samar-samar mendengar suara bersahutan bergantian memanggil dirinya 'Mama' dan 'sayang'. Merasa lebih tenang Luna membuka mata lagi, menggerakkan bola mata ke arah dua lelaki yang dia sayangi.
"Luna," air mata Brandon mengalir seraya memeluk Luna.
"Mama," begitu juga Kevin yang memeluk perut Mama nya.
Sementara Luna yang terbaring di brankar. Setetes air mata mengalir di pipi.
***
Dua hari kemudiaan,
"Kata Dokter kamu sudah boleh pulang sekarang," ucap Brandon sambil mengemasi barang-barang miliknya dan milik Kevin yang ada di lemari kecil.
"Yeahhh, aku senang banget akhirnya Mama di bolehkan pulang." Kevin bersorak senang, lalu naik ke atas kursi dan mencium pipi Luna. "Uh Mama bau obat-obatan, nanti kalau sampai rumah Kevin mandiin mama. Biasanya kan kalau Kevin sakit mama yang suka mandiin Kevin."
Luna tersenyum, Kevin memang menurut dan mengikuti apapun yang dia lakukan. Tapi kadang-kadang ada hal yang tidak boleh Kevin lakukan. Sebagai seorang Ibu seharusnya Luna menasehati putranya hal-hal yang boleh dan hal-hal yang tidak boleh Kevin lakukan.
Luna baru saja ingin menyela, tapi Brandon sudah menyela.
"Nggak boleh, tugas mandiin mama itu tugas papa."
Seketika Luna tersedak saliva nya sendiri.
"Nggak mau, Kevin juga mau mandiin mama."
"Papa dong, papa kan suaminya mama."
"Tapi aku anaknya mama."
__ADS_1
Ayah dan anak itu saling berebut satu sama lain. Sementara yang di rebutkan hanya tertawa. Lucu saja melihat mereka mendebatkan hal-hal kecil. Kevin sudah biasa memberi perhatian, tapi Brandon... ini hal yang baru. Apalagi Brandon mengatakan ingin memandikan nya. Jelas ini hal yang langka.
"Kevin tunggu di sini sebentar yah, papa mau keluar sebentar mau bicara sama Dokter untuk bertanya lebih lanjut soal kondisi mama."
"Oke papa. Jangan lama-lama."
"Oke." Brandon mengusap rambut Kevin. Lalu menatap Luna yang juga menatap dirinya. Agak canggung dan aneh. Brandon hanya melempar senyum dan pergi. Entahlah Brandon jadi gugup saat bertatapan dengan istrinya.
"Mama."
"Iya, Sayang."
Kevin pindah duduk di tepi brankar dan memeluk mama.
"Tadi katanya Kevin mama bau, tapi kok mau peluk-peluk mama."
"Kevin ngga bilang mama bau, Kevin bilang mama bau obat-obatan. Kevin suka bau nya mama."
"Kenapa suka?."
"Ngga tahu, poko nya suka. Kevin suka mama sudah sadar. Kevin nggak sabar mau makan masakan mama. Nanti mama suapin Kevin yah. Kevin juga akan suapin mama."
"Iya Sayang. Kita akan lakukan semua yang biasa kita lakukan."
Di tengah keseruan obrolan Ibu dan anak itu tiba-tiba pintu terbuka. Ada seorang perawat memakai masker wajah masuk ke dalam ruangan sambil membawa paper bag.
"Suster Lira." Sapa Kevin.
Di balik masker nya Dilara tersenyum mendengar sapaan riang cucunya.
"Mama ini namanya suster Lira. Suster Lira yang merawat mama selama mama sakit."
"Oh begitu." Luna hendak turun dari brankar, buru-buru Dilara berjalan ke sisi Luna dan menahan Luna.
"Duduk saja di sini. Saya tidak akan lama."
Luna mengangguk, "Saya ingin mengucapkan terima kasih, terima kasih karena Suster Lira telah merawat saya selama saya sakit. Terima kasih juga karena sudah menjaga putra saya."
"Sama-sama memang sudah tugas saya menjaga pasien. Ini untuk kamu." Dilara menyodorkan paper bag.
"Ya ampun jadi merepotkan, seharusnya saya dan keluarga saya yang memberikan hadiah untuk suster."
__ADS_1
"Saya biasa memberikan hadiah kepada pasien yang sudah berjuang untuk sembuh dari penyakitnya. Saya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah bertahan sampai sekarang. Saya doakan semoga kamu sehat selalu, bahagia selalu dan panjang umur. Semoga juga rumah tangga kamu selalu bahagia. Suami kamu menjadi lebih baik dan anakmu tumbuh menjadi anak yang hebat."
"Amiin," Luna mengaminkan dan tersenyum. Luna menatap lurus suster Lira, meskipun wajahnya di tutupi masker, tapi kenapa Luna merasa tidak asing. Luna seperti pernah melihat matanya.
"Ini untuk Kevin." Dilara mengerahkan paper bag kecil untuk Kevin.
"Wah Kevin juga dapet. Tapi Kevin kan nggak sakit suster?."
"Nggak papa, ini untuk Kevin."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Luna membuka paper bag hadiah dari suster Lira yang ternyata sebuah syal berwarna merah, cantik sekali. Kevin pun membuka kadarnya yang ternyata baju dan celana.
"Bagus sekali suster Lira Kevin suka. Nanti kalau Kevin sudah sampai rumah, Kevin pakai."
Dilara mengangguk. Bahagia sekali melihat keceriaan cucu nya menerima hadiah itu, padahal hadiah itu sangat sederhana. Brandon pasti sering memberikan hadiah-hadiah mahal untuk Kevin. Tapi Kevin selalu menghargai hadiah pemberian orang lain meskipun tidak mahal. Sekali lagi Dilara bangga pada putrinya karena berhasil mendidik Kevin sehingga menjadi putra yang rendah hati.
"Luna."
"Ya."
"Saya boleh memeluk kamu sebentar? biasanya saya suka memeluk pasien yang sudah sembuh dan ingin pulang. Sekaligus pelukan perpisahan dan berharap pasien tidak akan kembali lagi ke rumah sakit. Yang artinya pasien itu sudah sehat."
"Boleh."
Dilara agak membungkukkan badan dan memeluk Luna. Begitu juga Luna yang memeluk Dilara. Dilara memejamkan mata, meresapi dan menikmati momen ini. Setelah sekian lama akhirnya dia bisa memeluk putrinya. Dilara enggan melepaskan pelukan ini. Ingin memeluk erat seperti ini.
Dilara ingin sekali muncul di depan putrinya dan mengatakan ibunya masih hidup, tapi tidak mungkin. Dengan kondisi wajah yang rusak, Dilara tidak mungkin muncul di depan Luna. Luna juga pasti akan merasa sedih kalau selama ini mama nya hidup menderita. Sekarang Luna pasti akan bahagia bersama Brandon.
"Saya permisi dulu yah." Dilara melepaskan pelukan langsung berlari meninggalkan ruangan sambil menahan air mata.
Luna hanya diam memandangi kepergian suster itu. Entah mengapa perasaan Luna menjadi hampa, rasanya seperti sebagian jiwa nya pergi bersama suster itu. Perasaan ini aneh sekali.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...