
Farel tersentak dan membeku beberapa detik saat Rachel benar-benar menciumnya, tepat di bibir.
Tapi bibir mereka tidak bersentuhan karena Rachel menempelkan tangan sehingga Rachel mencium telapak tangannya sendiri. Tapi tetap saja jarak mereka sangat dekat sampai Farel melotot saking terkejutnya.
"Siniin."
Rachel tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung merebut plastik es krim di tangan Farel. Tapi tiba-tiba Farel mencengkram pergelangan tangan Rachel yang menutup mulutnya, kemudian dengan gerakan cepat Farel mendekatkan wajah pada wajah Rachel lalu...
"Farel." Rachel memejamkan mata rapat-rapat saat bibir Farel begitu dekat dengan bibirnya.
"Sorry." hembusan nafas Farel menerpa wajah Rachel saat mengatakan itu. Perlahan Rachel membuka mata. Dan mata sayu nya tepat bertemu dengan mata elang Farel yang masihdalam jarak dekat. Bahkan jika Farel bergerak sedikit saja bibir mereka akan bersentuhan.
"Gue nggak bermaksud kurang ajar tapi... Gue ingin sekali mencium lo, Rachel."
"Friends donat kiss, Farel. Tidak ada teman yang berciuman."
"Sedikit aja ngga boleh?."
Mobil autopilot Farel perlahan menurunkan kecepatan saat di depan lampu lalu lintas menunjukkan lampu merah. Lalu..
Tok...Tok...
"Jreng, jreng... Cinta satu malam oh indahnya cinta satu malam..."
Farel dan Rachel langsung menjaga jarak, duduk tegak di kursi masing-masing. Mendadak suasana jadi awkward. Rachel menurunkan kaca dan memberikan sejumlah uang pada dua pengamen kecil.
"Terima kasih kakak cantik."
"Sama-sama."
Rachel membiarkan kaca mobil tetap terbuka dan melempar pandangan ke luar jendela. Sementara Farel memegang setir mobil, hanya untuk menyibukkan diri padahal mobil autopilot yang otomatis bisa berjalan sendiri tanpa di setir.
Hening cukup lama, sibuk dengan pikiran masing-masing. Farel sibuk mencari topik pembicaraan sementara Rachel sibuk meredam detak jantungnya.
Lebih dari sepuluh menit berlalu Farel akhirnya berdehem.
"Nih es krim lo. Cepet makan nanti mencairkan," Farel meletakkan plastik di pangkuan Rachel.
Rachel tidak melakukan apapun, mengambil salah satu es krim dan langsung memakannya.
Kemudian hening lagi.
Rachel sibuk makan sambil melempar pandangan ke luar jendela. Sementara Farel berulang kali melirik ke arahnya.
Farel masih berpikir keras mencari topik obrolan. Namun karena di landasan kegugupan, Farel tidak bisa berpikir jernih selain memikirkan bibirnya yang hampir bersentuhan dengan bibir Rachel tadi.
Farel merutuk pada dirinya sendiri karena mengatakan itu pada Rachel. Jelas-jelas hubungan mereka hanya berteman. Teman tidak mungkin berciuman. Kecuali mengubah status mereka menjadi lebih dari teman.
"RACHEL." Farel tidak tahan lagi dan akhirnya berteriak. Rachel sampai terlonjak saking kagetnya.
"Ngomong dong!, Dari tadi lo diemban aja."
Mendengar rengekan dan wajah memelas Farel, Rachel tak kuasa menahan tawa. Rachel juga ingin mengobrol tapi bingung ingin membicarakan apa. Tidak mungkin membicarakan tips-tops ciuman yang baik dan benar kan?.
"Ya lo juga dari tadi diem aja. Gue pikir lo nggak mau ngobrol sama gue."
__ADS_1
"Mau, gue mau ngobrol apapun sama lo."
"Ngobrolin apa? bentar, bentar gue mau ngasih saran buat lo aja. Mending lo kurang-kurangi nonton Blue film lo ngga jadi mesum. Sampai temen lo sendiri lo mesumin. Gue deg-deg an deket sama lo, takut tiba-tiba lo apain gue."
Farel terkekeh, Farel tidak menyangkal juga karena beberapa kali ingin sekali mencium Rachel. Tapi untuk sesuatu yang lebih intim Farel tidak pernah memikirkan sampai ke sana. Farel tahu batasan sebagai laki-laki dewasa dengan perempuan tanpa adanya ikatan pernikahan. Janjinya untuk tidak merusak Rachel masih terpatri di hatinya dan Farel tidak akan pernah mengingkari itu.
"Kapan sih gue nonton blue film, paling juga Rendy tuh kalau datang ke apart terus nonton cd di tv gue. Ya mau nggak mau gue ikutan liat dong. Tapi ngga sampe kecanduan seperti yang lo banyangin sampai gue berubah semesum itu. Dan soal ucapan gue yang tadi yang gue mau mencium lo, gue..."
"Iya yah gue juga tahu kalo cuman bercanda."
'Gue ngga bercanda Rachel gue emang ingin mencium lo' batin Farel yang tidak berani dia utarakan karena takut mereka jadi canggung lagi.
Sepanjang perjalanan mereka menuju rumah sakit, mereka berdebat banyak hal dan mengobrolkan hal-hal random. Saling jengkel, saling marah san akhirnya justru mereka tertawa.
***
Sesampainya di rumah sakit, setelah memakirkan mobil di parkiran, mereka menuju ke ruang rawat Luna. Sepanjang lorong, tak hentinya mereka bercanda tapi tetap menjaga volume suara agar tidak mengganggu orang lain. Seperti biasa jika sudah bersama, mereka akan sibuk dengan dunia mereka sendiri dan yang lain hanya ngontrak.
Tak terasa mereka sudah sampai di ruang rawat Luna.
Rachel membuka pintu dengan senyuman lebar.
"Luna."
Luna yang sedang berbicara dengan Dilara itu menoleh.
"Rachel." Senyum gadis itu mengembang sambil merentangkan tangannya.
Rachel berlari kecil menghampiri Luna dan menghamburkan diri memeluk Luna yang masih duduk di brankar.
"Iyah Aku juga seneng."
Rachel melepas pelukan, "Kamu jadi pulang sekarang kan? tapi kok kamu belum ganti baju?." Rachel heran melihat Luna masih memakai baju rumah sakit.
"Iya, Rachel. Tadi Tante juga menyuruh Luna ganti baju tapi dia malah merengek minta di belikan rujak buah. Tapi Tante tidak tega meninggalkan dua sendiri jadi Tante menunggu kalian ke sini terus Tante keluar sebentar memebelikan rujak buah untuk si gemoy ibu."
Dilara mencubit pipi putrinya dengan gemas. Lalu mengalihkan pandangan pada Rachel.
"Rachel mau kan temani Tante keluar sebentar?."
"Oke, Tante." Rachel mendekati Luna dan mengacak-acak rambutnya, "Si Gemoy yang ucul, demi kamu aku rela keluar lagi beliin rujak."
Rachel mengunyel-unyel pipi Luna sebentar lali keluar ruangan sambil menggandenga lengan Dilara sementara Luna melemparkan bantal ke arah pintu. Kesal karena Rachelsangat jail, tapi tak lama senyumnya mengembang. Luna seperti seorang adik yang sedang di jahili kakaknya.
"Rachel jail banget." adu Luna pada Farel.
Farel terkekeh, "Ya begitulah Rachel."
Farel mengambil bantal yang di lempar Luna tadi, lalu meletakkan lagi tepat di belakang punggung Luna untuk bersandar.
"Sambil menunggu Tante Dilara dan Rachel kembali sebaiknya kamu ganti baju dulu."
Luna menganguk lalu pergi ke kamar mandi untuk berganti baju. Sementara Farel membereskan beberapa barang-barang Luna dan memasukkan ke dalam tas berukuran cukup besar yang sepertinya di sediakan Dilara sebagai wadah barang-barang Luna.
Tak lama Luna muncul dari kamar mandi, tampak cantik dengan dress selutut lengan pendek berwarna biru. Tadi pagi Luna sudah mandi dan tinggal ganti baju.
__ADS_1
"Farel, liat." Luna membentangkan sisi rok nya.
Farel tersenyum, "Kamu cantik sekali." Luna memang sangat sakit walaupun tanpa hiasan.
"Kamu tahu, sebagian besar baju ku semuanya berwarna biru."
"Oh ya?."
"Iya, kamu tahu kenapa?."
"Kenapa?."
"Karena kamu menyukai warna biru."
Farel yang duduk di tepi brankar menganguk-anguk. Ya, sejak dulu dia menyukai warna biru.
Luna mendekat dan berdiri tepat di depan Farel. Farel sedikit mendongak untuk menatap wajah cantiknya.
"Aku ingin bicara sesuatu," Luna mengulurkan tangan dan mengusap rahang tegas Farel.
"Bicada apa?."
"Soal pernyataan perasaan kamu dan aku minta kamu menunggu 30 hari lagi, aku membatalkannya."
"Membatalkan? Maksudnya kamu menolakku?."
"Bukan." Luna menggeleng sembari tersenyum. "Belakangan ini aku merenungi perasaanku, menyelama lebih dalam isi hatiku dan memikirkan lebih banyak tentang persahabatan kita dari kecil sampai sekarang. Sejak kecil kamu sudah menunjukkan perasaan mu padaku. Aku pikir itu hanya candaan karena kita masih anak-anak. Tapi kamu konsisten dengan perasaan kamu sampai kita dewasa. Hingga akhirnya sekitar dua minggu yang lalu kamu menyatakan perasaan padaku."
Luna menggigit bibir bawah gugup.
"Kemarin saat aku melihat kamu terlalu dekat dengan Rachel aku merasa cemburu. Hatiku sakit sekali, Farel. Dan saat itulah aku sadar bahwa aku mencintai kamu. Aku terlalu nyaman dalam status persahabatankita, sampai aku tidak sadar bahwa selama ini aku juga mencintai kamu. Aku membutuhkan kamu dan tidak bisa jauh dari kamu."
Farel terdiam. Momen inilah yang paling dia tunggu selama 20 tahun, momen saat Luna membalas perasaan cintanya. Tapi entah kenapa rasanya biasa saja, tidak sebahagia yang Farel pikirkan.
Luna meraih tangan Farel dan menggenggam erat.
"Tadi pagi aku mengirim pesan pada Om Hendrawan dan mengatakan aku akan menjauhinya. Om Hendrawan menolak dan nyaris marah padaku. Tapi aku tetap bertekad akan menjauhi beliau agar Rachel tidak terluka harus berbagi kasih sayang Ayah dengan ku."
"Tapi aku juga takut merasa kesepian. Namun setelah aku pikir-pikir lagi, aku yakin setelah kira jadian kamu akan mwnyanyangiku dengan tulus. Kamu juga akan selalu ada untukku lebih dari siapapun. Kamu bisa menjadi kekasih, teman atau menjadi sosok Ayah untukku. Bersama kamu, aku tidak membutuhkan laki-laki menapun."
"Aku tidak membutuhkan kasih sayang Om Hendrawan sebagai ayah lagi. Dengan aku menjauhi Om Hendrawan Rachel pasti bahagia perhatian Om Hendrawan tercurah kepadanya. kita semua bisa bahagia Farel."
Farel lagi-lagi hanya diam. Pikiran nya berkecamuk. Semua yang di katakan Luna ada benarnya. Jika Luna mendapatkan kasih sayang darinya, Luna tidak akan sibuk mencari perhatian dari Om Hendrawan sehingga Rachel tidak perlu berbagi kasih sayang seorang Ayah.
Tapi jika Farel menolak Luna, Luna pasti akan sedih otomatis Luna curhat pada Hendrawan. Ujung-ujungnya Hendrawan sibuk dengan Luna dan Rachel terabaikan.
Membanyangkan Rachel menangis membuat hati Farel sakit sekali. Farel ingin Rachel selalu bahagia. Farel akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Rachel.
Selain itu Farel juga sudah terlanjur menyatakan cinta pada Luna. Tidak mungkin saat Luna sudah luluh, Farel justru meninggalkannya begitu saja. Orang-orang pasti mengecapnya sebagai laki-laki pengecut dan tidak gentelemnt.
"Farel, kamu tidak lupa kan kamu pernah menyatakan perasaan padaku?."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1