Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 130


__ADS_3

"Sial , Bella sudah pergi." ucap Dypta begitu sampai di kafe dan duduk di samping Bastian. "Apartement nya kosong. Pengelola gedung bilang, hari ini Bella out."


Bastian meneguk soft drink tiga kali teguhkan lalu meletakkan di meja dengan cukup keras


"Di rumahnya juga nggak ada."


Tadinya Bastian Ingin menyusul Dypta ke apartemen Bella. Tapi Dypta menyuruhnya ke rumah Bella saja.


Sejak Bella terlibat kasus dengan Rachel waktu itu, Bastian sudah mencari tahu latar belakang Bella termasuk tanggal lahir, alamat apartemen dan rumah serta latar belakang kedua orang tua dan pekerjaan mereka.


Sehingga Bastian tidak kesulitan menemukan rumah Bella. Tapi sayangnya begitu sampai di sana Bella sudah tidak ada di rumah.


"Gue ketemu orang tuanya, mereka memberikan gue surat Bella, dan intinya Bella pergi ke luar negeri, Bella tidak menuliskan negara tujuannya."


"Berarti benar dugaan, Rendy. Bella memang dalang semua ini." Dypta mengambil soft drink Bastian dan meneguknya.


"Sumpah gue penasaran banget Siapa yang nidurin Luna sebenarnya. Kasihan gue bakal nemuin orang itu dan menuntutnya gara-gara dia Luna sampai bunuh diri dan area intimnya robek, Rachel juga kecelakaan sampai kondisinya kritis."


Dypta menganguk.


Bastian merogoh ponselnya dan melihat chat terbaru grup, ada pesan dari Rendy.


"Eh,"


"Kenapa?." tanya Dypta begitu melihat perubahan ekspresi Bastian. Bastian pun menunjukkan chat Rendy pada Dypta.


***


Setelah hampir satu setengah jam perjalanan akhirnya Farel sampai di rumah Brandon.


Rumah Brandon nemang jauh. Ditambah lagi, ini pertama kalinya Farel datang ke rumah Brandon, itupun Dia mendapat alamat dari salah satu teman basketnya.


Sebelum turun dari mobil Farel mengecek chat di grup mungkin ada informasi terbaru dari teman-temannya


Rendy : Gue dapat info baru jeng jeng jeng.


Farel : BISA CEPET NGGAK?.


Rendy : Pemilik Melati Group bokapnya Brandon.


Tian : Eh.

__ADS_1


Farel : Eh (2)


Rendy : Pihak Club nggak mau ngasih informasi apa-apa, bahkan sekretaris atau orang suruhan Om Hendrawan di hajar habis-habisan sama Bodyguard club gara-gara beliau kekeh minta informasi.


Tian : Kok mencurigakan. Tadinya gue nggak kepikiran anu sih anu?.


Rendy : Kalau ngomong tuh yang jelas lama-lama anu lo yang gue goreng.


Tian : Awkwkwkwkkk, Nih Farel mana sih. Udah di read tapi ngga mau bales. Gimana lo Rel, udah sampai rumah Brandon?.


Farel : Iya ini gue udah nyampe. Tapi nggak mungkin deh orang Brandon tidur di samping gue. Nggak mungkin Brandon yang melakukan itu sama Luna.


Rendy : Inget, pemilik Club bokapnya. Apapun bisa terjadi.


Farel : Iya sih, tapi kan...Kayaknya nggak mungkin.


Tian : Kenapa kok lo kayak nggak rela gitu Brandon tidur sama Luna, lo suka ya sama Brandon? Apalah tidur seranjang tadi malam sudah menumbuhkan bwnih-benih cinta kemahoan mu Rel?.


Farel : FIKS, GUE NGGAK BAKAL RESTUIN LO SAMA RANA.


Farel berdecih dan keluar dari aplikasi Wa lalu turun dari mobil dan memasukkan ponsel ke dalam saku.


Karena gerbang fi buka Farel pun masuk ke dalam rumah meninggalkan mobilnya fi luar gerbang.


Farel menoleh pada pria sudah berumur yang sepertinya satpam rumah Brandon.


"Ada apa, Mas?."


"Saya Farel temannya Brandon, saya ingin bertemu dengan Brandon. Apa dia ada di rumah?."


"Di rumah Mas, tapi..."


"Tapi kenapa Pak?."


Pak Satpam tampak ragu-ragu lalu menghela nafas berat.


"Sepertinya mereka sedang bicara penting dan tidak bisa diganggu Mas."


"Saya juga ingin bicara penting. Rachel masuk rumah sakit dan Brandon harus tahu itu. Tolong Pak ini sangat-sangat penting. Saya harus bertemu dengan Brandon. Saya ingin berbicara empat mata."


Pak satpam mengerutkan dahi dalam tampak sedang berpikir keras, lalu akhirnya mengangguk, beliau mengarahkan Farel untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Tunggu di sini, saya akan memanggil Tuan Muda."


Farel duduk di sofa ruang tamu. Sementara Pak satpam mencari Tuan mudanya, ternyata mereka ada di living room tapi melihat ketegangan mereka. Pak satpam tidak berani mendekat Pak satpam akhirnya hanya diam saja menunggu pembicaraan mereka selesai.


"Papa tidak ingin ada cacat sedikitpun dalam perjalanan karir kamu."


Brandon terdiam sembari memainkan jari-jari gelisah. Sementara Amora, ibu tirinya duduk di sampingnya sambil mengusap punggungnya.


"tapi aku nggak ingat apa-apa, Pak. Aku merasa aku nggak melakukan itu dengan Luna."


"Meskipun kamu tidak ingat apa-apa CCTV itu membuktikan segalanya. Buka mata kamu dan lihat ini."


Ardito, Papa Brandon menunjukkan video rekaman CCTV dari ponselnya.


"Kamu masuk ke dalam kamar Luna dalam keadaan mabuk. Kaljan melakuka hal-hal yang tidak seharusnya kalian lakukan. Kalian sama-sama tidak sadar karena pengaruh alkohol ditambah obat perangsang."


"Setelah papa mengecek seluruh CCTV di club, ternyata senior kamu yang memberi alkohol di campur obat perangsang dan bodohnya kamu minum sendiri dan tidak memberikan pada Farel. Sedangkan obat perangsang Luna, Bella yang memberikan pada Luna. Bella mengatakan pada papa dia ingin menjual Luna pada Om-om tapi malah kamu yang masuk ke kamar itu."


"Ternyata Bella juga memasang kamera diam-diam di kamar. Bella menyerahkan vidio ini sebelum papa menyuruh orang untuk membawa Bella ke luar negeri. Papa pastikan dia tidak akan pernah kembali ke negeri ini dan tidak akan membuka mulut pada siapapun tentang malam itu."


Brandon mencengkram sisi kepala nya, karena dia benar-benar tidak ingat apapun.


"Tapi saat aku terbangun aku bersama Farel, Pa."


"Itu karena papa minta bodyguard untuk memindahkan kamu ke kamar Farel agar nanti kalau ada orang yang menuduh kamu melakukan itu dengan Luna. Farel bisa membela kamu dan mengatakan pada semua orang kamu tidur bersama nya."


"Papa sangat licik."


"Papa melakukan itu demi kebaikan kamu juga bapak tidak ingin kamu menikah dengan Luna. Papa ingin kamu tetap menikah dengan Rachel meskipun kabarnya Ayuma dan Hendrawan akan bercerai. Ayuma tetaplah konglomerat. Setelah kalian menikah nanti kamu yang akan mewarisi semuanya."


"Aku mendekati Rachel bukan karena hartanya, Pa. Aku mencintainya!!" Brandon menajamkan mata pada Papannya.


"Papa tidak peduli yang penting kamu harus tetap menikah dengan Rachel bukan Luna. Kamu pikir kenapa papa menyetujui permintaan Hendrawan untuk menjodohkan kamu dengan Rachel kalau bukan karena bisnis. Papa ingin mengakuisisi perusahaan Soetomo Group yang sekarang di pegang Ayuma. Hidup ini tentang bisnis Brandon, kamu harus terbiasa dengan itu. Kita bisa saling menguntungkan, kamu bisa mendapatkan Rachel dan papa busa memperluas bisnis Papa. Gimana?."


Ardito masih menunggu jawaban putranya. Brandon tampak gelisah dan ragu-ragu.


"Pilihan ini adalah yang terbaik untuk kita semua Brandon. Untuk kamu dan untuk papa. Papa tahu kamu sangat mencintai Rachel. Kalau sampai kejadian ini keponakan Rachel tidak akan mau pacaran lagi sama kamu atau bahkan menjauhi kamu. Itu yang pertama, konsekuensi kedua kamu juga harus bertanggung jawab menikahi Luna kalau sampai dia hamil."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2