Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 38


__ADS_3

Rachel baru saja ingin menjawab, tapi tiba-tiba ...


"Rachel pulang denganku."


Itu suara Hendrawan, Hendrawan berjalan mendekat ke arah mereka. Tak lama setelah taksi Rachel tiba di rumah tadi, mobil Hendrawan juga sampai di rumah. Hendrawan lega Rachel langsung pulang ke rumah.


"Ya udah aku ke kamar dulu ya, Ma."


"Iya, sayang."


Ayuma mengusap rambut putrinya dengan lembut dan mencium dahi sekilas sebelum Rachel menuju ke kamarnya.


Setelah Rachel menaiki tangga Hendrawan juga bergegas menuju ke kamarnya yang ada di sisi kiri lantai 1. Ayuma mengikutinya.


Padahal Hendrawan ingin sendiri dan sedang malas bertengkar, Ayuma malah mengikuti nya. Hendrawan sudah bisa menebak di dalam kamar nanti Ayuma mengajak nya berdebat soal perhatiannya pada Luna. Tapi untuk saja Ayums tidak curiga dengan hubungannya dengan Dilara


Hendrawan juga senang tadi Ayuma pulang duluan sehingga dia bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Dilara.


Di balkon Rumah sakit tadi Hendrawan menenangkan Dilara sambil memeluknya. Hendrawan tidak bisa berhenti tersenyum mengingat momen manis tadi. Momen untuk pertama kalinya Hendrawan memeluk Dilara tanpa penolakan.


"Mas, kamu sudah makan? Mau aku siapkan makan?." tanya Ayuma dengan suara lembut yang sontak saja mengenyitkan alis.


'Tumben tidak marah-marah.' batin Hendrawan.


"Mas."


"Eh i-iya .... Maksudnya belum. Aku belum makan malan. Tapi kalau makan siang aku sudah makan."


"Ya udah makan malam nanti, makan di rumah ya. Rachel pasti senang kira kumpul dan makan bersama.


Sebenarnya Hendrawan ingin ke rumah sakit dan makan malam bersama Dilara dan Luna. Tapi jika Hendrawan melakukan itu, Ayuma pasti curiga. Untuk sementara Hendrawan akan menjaga jarak dengan Dilara dan Luna dulu.


Kalau sampai Ayuma curiga tentang hubungan nya dan Dilara lalu mengadukan pada papanya bisa runyam semuanya.


"Iya, aku akan makan malam di rumah. Sekarang aku ingin mandi."


Ayuma menganguk.


Hendrawan pun masuk ke dalam kamar mandi tidak lupa membawa ponsel.


Sementara Ayuma masih berdiam diri dengan pandangan mata tertuju pada pintu kamar mandi. Ayuma tahu Hendrawan selalu membawa ponsel ke kamar mandi.


Hendrawan memiliki dua ponsel, ponsel pribadi dan ponsel bisnis. Biasanya ponsel bisnis di pegang sekretarisnya. Jika ada pesan yang masuk sekretaris akan memfilter pesan yang penting dan meneruskan ke nomer pribadi Hendrawan.

__ADS_1


Meskipun Hendrawan membawa ponsel ke kamar mandi Ayuma tidak pernah curiga. Dalam pikirannya, Hendrawan sangat workaholic dan ambisius yang tidak bisa lepas dari pekerjaannya, wajar saja saat di dalam kamar mandi pu Hendrawan mengecek email pekerjaan.


Namun setelah kejadian di rumah sakit tadi, Ayuma tidak bisa berpikir positif lagi. Mungkin saja di ponsel itu ada riwayat chatingan Hemdtawan dengan Dilara.


"Ya Tuhan." Ayuma menekan dadanya yang begitu sesak.


Semakin kesini semakin banyak tanda-tanda suaminya benar-benar selingkuh.


"Tenang Ayuma tenang.


Ayuma menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Meskipun pikirannya kacau Ayuma harus tetap tenang. Dengan ketenangan Ayuma bisa berpikir jernih dan tidak gegabah menyusun rencana.


***


Sesuai dengan rencananya tadi, sekarang Ayuma sedang menyiapkan makanan untuk suami dan putrinya.


"Mam." Rachel menghampiri Ayuma dan memeluknya dari belakang. "Dari kejauhan tadi aku bisa mencium aroma masakan mama. Aku yakin rasanya pasti enak sekali."


"Bisa aja kamu."


"Aku mau belajar lebih banyak lagi menu-menu masakan dari mama terus nanti kalau aku nikah aku masakan buat suami dan anak-anakku."


"Iya nanti mama ajarkan. Semoga nanti Farel dan anak-anak kamu menyukainya."


"Oh Mamah pikir kamu mau nya nikah sama Farel."


"Apaan sih Mah, Enggak kok."


Saat mereka sedang mengobrol Hendrawan datang.


Rachel masih menunduk dan menyibukkan diri dengan apapun asalkan tidak bertatapan dengan papa nya. Tingkah Rachel membuat ayuma heran. Biasanya jika ada Papa nya Rachel langsung bermanja-manja tapi sekarang Rachel diam saja bahkan menghindari kontak mata.


Ayuma mencoba memahami putrinya, mungkin gara-gara di bentak semalam Rachel menjaga jarak dengan Papa nya.


"Mas, silahkan duduk." ucap Ayuma.


Hendrawan duduk di meja paling ujung sementara di sisi kanan ada Ayuma. Biasanya Rachel duduk tepat di sisi kiri Hendrawan tapi kali ini Rachel duduk di samping Ayuma sehingga berjarak agak jauh dari Hendrawan.


Tidak di pungkiri Hendrawan juga merasa bersalah.


Hendrawan hanya mencoba bersikap adil untuk kedua putrinya.


Luna mencintai Farel dan keberadaan Rachel di sama hanya akan mengganggu mereka. Karena itu Hendrawan mengajak Rachel pulang. Tapi Rachel justru memancing emosi nya sampai Hendrawan hampir hilang kendali dan menamparnya.

__ADS_1


"Rachel, ini makan yang banyak ya." Hendrawan mengambil sepotong ayam dan meletakkan di piring Rachel.


"Terima kasih Pa."


Ayuma yang baru saja ingin membuka pembicaraan tapi, tiba-tiba....


"WAH PAS BANGET GUE KE SINI LAGI MAKAN-MAKAN."


Hendrawan, Ayuma dan Rachel menoleh ke sumber suara itu. Di sana seorang pemuda tampan berwajah tengil dengan senyum jenaka berjalan ke arah mereka. Siapa lagi kalau bukan Bastian. Bukan hal asing lagi, Tian memang suka makan di sini jika ada di Jakarta.


Tapi bukan kehadiran Bastian yang buat mereka terkejut melainkan pria tua di belakang Bastian.


"Opa." Rachel langsung berdiri dan menghamburkan diri memeluk kakeknya, "Opa kapan balik dari Jepang?."


"Baru pulang tadi sore. Menginap sebentar di hotel terus ke sini. Opa kangen cucu opa tersayang."


Ayah kandung Hendrawan yang bernama lengkap Wisnu Tanoeapramudya yang lebih akrab di panggil Wisnu itu mengeratkan pelukan pada cucunya. Cucu tersayang dari putra keduanya.


"Ya ampun Opa keren banget. Udah tua tapi jiwa masih jiwa-jiwa muda. Aku jadi tambah semangat olahraga dan makan makanan sehat biar tua nanti bisa kayak Opa."


Melihat kedekatan papanya dengan Rachel, jati Hendrawan sedih sekali. sedih karena Luna juga cucu kandung Wisnu tapi Luna tidak bisa mendapatkan kasih sayang seperti Rachel. Hendrawan ingin mengenalkan Luna pada Wisnu tapi Hendrawan takut papa nya menolak kehadiran Luna. Apalagi dulu Wisnu sangat menentang hubungannya dengan Luna.


Pria berusia lebih dari 70 tahun itu melepas pelukan dan menangkup pipi cucu nya. Wajah ini selalu Wisnu rindukan saat bepergian.


"Opa akan selalu berdoa untuk cucu Opa tersayang. Semoga kamu panjang umur, sehat selalu dan bahagia selalu."


"Teri.a kasih Opa. Semoga Opa juga panjang umur sampai aku nikah nanti. Aku mau Opa hadir di pernikahanku."


"Hadeh masih bocil udah ngomongin nikah." cibir Tian sambil mengacak rambut Rachel.


"Aku sudah besar," Rachel berkacak pinggang sambil melototkan mata. Dalam pikirannya nya mungkin dia terlihat menakutkan seperti singa hutan tapi di mata Bastian saat kesal seperti ini Rachel seperti kucing rumah, lucu dan menggemaskan.


Seandainya Rachel bukan sepupunya, Rachel adalah gadis pertama yang Tian incar menjadi istrinya.


"Pa!."


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2