
Farel menatap Rachel.
"Kita pindah ke kamar aja biar luas."
Farel menggendong Rachel.
"Farel."
"Aku di sini ngga akan kemana-mana."
Rachel yang masih ngantuk Refleks melingkarkan tangan di leher Farel. Menyandarkannya di dada bidang itu, bergerak-gerak kecil untuk mencari posisi nyaman lalu terlelap lagi
"Lucu banget." Farel berhenti sesaat lalu untuk memandangi wajah menggemaskan Rachel.
Kemudian berjalan dengan hati-hati merebahkan tubuhnya beserta tubuh Rachel di kasur. Posisi mereka langsung berpelukan.
"Saat kami bangun nanti, kamu akan mendapati tubuh kamu dalam pelukanku. Aku harap kamu tidak memukulku dengan vas bunga."
Farel terkekeh, kadang sekali Rachel akan berubah menjadi galak sekali tapi Farel menyukainya.
Farel pun memejamkan mata dan mengeratkan dekapannya.
Dalam pejam mata Farel memikirkan Luna, entah bagaimana keadaan Luna sekarang. Tapi setidaknya di sana ada Om Hendrawan yang merawatnya. Dan Rachel bilang tadi hanya lututnya yang luka. Hendrawan saja yang melebih-lebihkan.
Jika tidak ada Farel yang datang melihat langsung kejadian tadi, Rachel pasti akan memendam sendiri. Lalu tertawa seolah tidak terjadi apa-apa. Tertawa seolah dia manusia yang paling bahagia di dunia ini. Padahal hati nya hancur.
"Rachel." Farel mengusap pipi Rachel dengan punggung tangannya. Usapan lembut penuh kehati-hatian.
"Aku hanya menganggap kamu sahabat, tapi kenapa aku lebih takut kamu terluka daripada Luna yang terluka padahal aku mencintai Luna. Aku bingung, aku takut kebingunganku ini justru menyakiti kamu."
"Apa selama ini kamu juga merasakan apa yang aku rasakan?. Apa kamu pernah berpikir untuk mencintaiku? Ah iya waktu itu aku melarang mu mencintaiku.'
Farel tertawa pelan begitu mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat melarang Rachel jatuh cinta padanya agar dia tidak terluka. Dan mungkin sejak saat itu Rachel memutuskan untuk tidak akan pernah mencintainya. Tapi entah mengapa firasat Farel mengatakan Rachel memang mencintainya. Entah hanya Farel yang kegeeran atau firasat nya benar-benar kenyataan.
***
Ayuma mempercepat laju mobil menuju ke rumah sakit.
__ADS_1
Saat sedang belanja bersama tadi tiba-tiba Dilara mendapatkan telepon dari Hendrawan, katanya Luna masuk rumah sakit. Dilara tidak membawa mobil dan Ayuma yang mengantarnya, Sedangkan Sarah pulang karena harus mengurus ketiga anak kembarnya.
Sesampainya di ruang rawat ViP Luna, Malika segera membuka pintu dan ternyata di ruangan itu ada Hendrawan.
Wajah Hendrawan terlihat senang begitu melihat Dilara. Di dalam kepalanya sudah tersusun skenario-skenario menyenangkan dia bisa menghabiskan waktu berdua dengan Dilara di ruangan ini selama menjaga Luna. Tapi seketika skenarionnya bayar begitu melihat Ayuma masuk di belakang Dilara.
"Sayang."
"Mama."
Dengan khawatir Dilara memeluk putrinya.
"Gimana keadaan kamu, Sayang? Apa yang kamu rasakan? Mana yang sakit?."
Dilara melepaskan pelukan dan menatap sendu putrinya.
"Aku ga papa Ma. Cuman luka di lutut. sudah di rontgen juga. Kata Dokter tidak ada yang retak. Tapi badan aku lemes banget, Ma. Jadi aku di rawat inap semalam di sini. Besok pagi baru pulang."
Dilara menganguk, "Perjalanan ke sini tadi, Om Hendrawan sudah cerita sama Mama kalau kamu menyelamatkan Rachel saat Rachel hampir terserempet. Mama bangga sekali sama kamu, sayang. Kamu sangat peduli sama sahabat kamu? tapi lain kali hati-hati yah!."
Ayuma berdehem kecil, "Luna Tante berterima kasih sekali karena kamu sudah menolong putri Tante. Terus di mana Rachel? dan bagaimana keadaannya?."
Ayuma mengalihkan pandangan dari Luna pada Hendrawan dengan sorot mata penuh tanda tanya. Selain pertanyaan itu, Ayuma penasaran bagaimana bisa Hendrawan bisa pergi dengan Luna, padahal janji nya hanya berdua dengan Rachel.
"Rachel baik-baik saja dan sekarang ada di Apartement Farel. Aku sudah menelpon Farel dan Farel bilang Rachel sedang tidur siang. Padahal Luna sudah menolong nya dan terbaring lemas di rumah sakit begini tapi Rachel malah enak-enakan tidur siang. Coba kamu telepon dan tegur dia, suruh dia datang kemari dan menemani Luna. Oh astaga bahkan sampai sekarang Rachel belum mengucapkan kata terima kasih. Ck, bertambah usia bukannya semakin dewasa malah semakin kekanak-kanakan dan bandel."
"Om, jangan begitu. Mungkin sekarang Rachel juga sedang lelah." Ucap Luna.
"Kalau dia lelah, kenapa dia tidak istirahat di sini saja sekaligus menemani kamu. Sudahlah Luna jangan membela Rachel terus. Harusnya Rachel bersyukur memiliki sahabat seperti kamu, bukan malah menyia-nyiakan dan mengabaikan seperti ini. Sekarang kamu juga membutuhkan Farel tapi Rachel malah meminta Farel menemaninya. Om benar-benar tidak mengerti jalan pikiran anak itu."
Ayuma mengepalkan tangan. Jika yang mengatakan itu bukan suaminya, tamparannya akan melayang di pipi orang itu sampai membekas dan berminggu-minggu tidak akan hilang saking keras dan marahnya Ayuma.
"Mas bisa bicara sebentar di luar!."
"Bicara apa?, bicara saja di sini!."
"Aku ingin kita bicara di luar Mas Henfrawan Tanoepramudya."
__ADS_1
Jika Ayuma sudah menyebut nama lengkapnya artinya Ayuma benar-benar marah. Daripada Ayuma mengamuk dan menyakiti Luna lebih baik Hendrawan mengikuti keinginan Ayuma.
"Luna, tunggu sebentar ya, nanti Om ke sini!."
"Iya Om."
Hendrawan mengusap rambut Luna dengan lbih, lalu keluar bersama Ayuma menuju ke Balkon rumah sakit yang ada di sisi kanan gedung.
"Apa kami sering melakukan ini?." tanya Ayuma sambil melihat tangan di depan dada dan menyipitkan mata sinis.
"Melakukan apa?."
"Menjelek-jelekkan anak kandung kamu sendiri dan membangga-banggakan anak orang lain?."
"Menjelek-jelekan apa sih?, kapan aku menjelekkan Rachel? aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya."
"Kamu baru saja melakukan nya Mas. Kamu membanggakan Luna seolah dia malaikat tanpa sayap, sedangkan putri kandung kamu seolah manusia paling buruk di dunia ini. Dimana-mana seorang Ayah pasti melindungi putri nya, tapi kamu justru membeberkan kekurangan putri kamu di depan semua orang. Dan sekarangaku mengerti kenapa Rachel memilih pergi daripada di sini. Karena Ayahnya lebih peduli anak orang lain daripada anaknya sendiri."
"Aku peduli dengan Luna karena dia sahabat Rachel dan tidak punya Ayah."
"Aku tidak melarang kamu peduli dengan Luna. ztapi jangan sampai kepedulian kamu pada Luna melebihi kepedulian kepada anak kandung kamu sendiri. Jangan sampai kamu mencurahkan kasih sayang yang begitu pada anak orang lain. Sedangkan anak kandung justru kekurangan kasih sayang kamu. Jika kamu tidak bisa menjadi suami yang baik untukku. Aku mohon, belajarlah jadi Ayah yang baik untuk anak kamu."
Hendrawan hendak membuka mulut dan hampir saja keceplosan mengatakan bahwa Luna adalah putri kandungnya. Tapi untung saja dia bisa menahan diri.
Tidak Hendrawan tidak boleh ceroboh seperti ini. Jangan sampai kedekatan nya dengan Luna membuat Ayuma curiga dan berpikir yang tidak-tidak apalagi sampai berpikir kalau dia memiliki hubungan dengan Dilara di masa lalu dan mereka memiliki anak.
Ayuma tahu Hendrawan memiliki mantan pacar bernama Arumi. Tapi untung saja Ayuma tidak pernah bertemu dengan Arumi yang sekarang berganti nama menjadi Dilara. Hendrawan tidak tahu alasan Dilara mengganti nama, tapi Dilara pernah bilang dia melakukan itu demi keselamatannya dan Luna.
"Maaf!."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1