
"Sekarang mama istirahat yah, Aku akan menemani mama di sini."
Ayuma menggeleng, "Sebaiknya kamu pulang dan istirahat di rumah. Besok pagi saja kamu datang ke sini lagi."
"Ya Enggak, Ma. Mana tega aku meninggalkan mama sendiri. Aku bisa tiduran di sofa itu, Ma." Rachel menoleh pada sofa panjang yang di duduk Brandon dan Paman Samuel. Sejak tadi siang sampai sekarang mereka ada di sini."
Sebelum jam delapan malam tadi banyak yang menjenguk. Ada Opa Wisnu, Sebastian Anggun dan sahabat Rachel beserta ibu-ibu mereka, artinya pada Farel dan Sarah juga tapi mereka pulang karena hari sudah malam . Opa Wisnu ingin menginap tapi demi kesehatan. Rachel dan Ayuma menyuruh beliau pulang.
"Pokoknya mama nggak usah khawatir. Selama aku bersama mama aku akan baik-baik saja."
Ayuma menganguk,
"Sekarang mama tidur ya. Sudah malam."
"Perlahan Ayuma emejamkan mata sembari menahan air mata yang mendobrak ingin keluar. Mati-matian Ayuma menahan air mata agar tidak menetes dan membuat putrinya khawatir.
Ayuma merasa begitu rapuh dan lemah sekarang. Janjinya untuk menjadi sosok ibu yang kuat untuk putrinya sulit dia lakukan dengan kondisi yang sekarang.
Kata dokter tidak ada masalah berat, hanya kelelahan tapi dokter memperingatkan Ayuma untuk menjaga kesehatan dan jangan terlalu stress. Stress bisa menimbulkan berbagai penyakit serius .
Namun dalam situasi yang seperti ini, rasanya tidak mungkin Ayuma tidak stres. Ayuma memendam segalanya sendiri. Ayuma tidak suka dikasihani dan orang-orang menatapnya dengan tatapan menyedihkan.
"Selamat tidur Mama," Rachel mencium dahi Ayuma menatap lama, dan mencium sekali lagi.
"Paman Samuel, Rachel titip mama sebentar yah, Rachel ingin keluar cari angin."
Samuel menganguk, sementara Brandon langsung berdiri menghampiri Rachel.
"Aku temani."
Rachel menatap sekali lagi wajah mama nya, lalu keluar ruangan bersama Brandon. Brandon tidak bertanya apapun dan hanya mengikuti Rachel kemanapun dia pergi.
Kini mereka sudah berada di jalan setapak taman rumah sakit. Berjalan di depan sementara Brandon mengikuti dari belakang. Langkah mereka seirama dalam jarak sekitar 10 langkah.
Tanpa Brandon dan orang-orang yang ada di taman ini sadari, Rachel Menangis tanpa Suara. Atau mungkin Rachel yang tidak ingin mendengar suara tangisannya sendiri.
__ADS_1
Tangisan yang menunjukkan betapa lemah dirinya sekarang. Rachel sudah mencoba untuk kuat, tapi melihat mama nya terbaring di rumah sakit, Rachel merasa sebagian dirinya hancur.
Rachel terus melangkah seiring derasnya air mata. Terus saja melangkah menelusuri taman, hingga kakinya lelah dan air mata mulai mengering.
Rachel berbalik badan dan pandangannya bertemu pada Brandon yang berdiri di depannya.
"Kamu ingin aku ke sana ?"
Rachel tak menjawab, justru melangkah duluan mendekati Brandon dan berdiri tepat di depannya.
"Apa yang kamu lihat sekarang ?."
Brandon terkejut mendengar pertanyaan Rachel.
"Kamu lihat aku ... Hidupku sangat berantakan sekarang . Aku bahkan tidak tahu apa Aku bisa tersenyum dan tertawa seriang yang dulu lagi. Jadi jika kamu berharap kehadiranku membuat kamu bahagia, kamu salah Brandon. Aku bahkan tidak bisa membuat diriku sendiri bahagia bagaimana bisa aku membuat kamu bahagia. Aku hanya akan menjadi beban kamu."
Brandon menggeleng, "Kita bisa melewati sama-sama. Hidupku juga tidak sempurna Rachel, aku juga tidak mengharapkan selalu bahagia bersama kamu. Pasti ada saat-saat salah satu diantara kita yang terpuruk. Itulah gunanya kita menjalin hubungan ini. Kita bisa saling menguatkan satu sama lain."
Brandon meraih tangan Rachel dan menggenggam erat tangannya.
"Aku pernah di posisi kamu menjadi anak broken home. Aku tau sakit dan putus asa yang kamu rasakan sekarang. Bahkan meskipun Papa sudah menikah lagi dan Ibu tiriku sangat baik, aku tetap tidak bisa sembuh sepenuhnya. Bertahun-tahun mama meninggalkan ku dan bodohnya setiap malam aku terus mengharap kehadirannya. aku tahu rasanya menahan rindu pada orang tua yang tidak bisa tersampaikan. Sama seperti kerinduan kamu pada papa kamu."
"Aku, aku akan selalu ada di sisi kamu dan tidak akan pernah meninggalkan kamu seperti yang papa kamu lakukan . Kamu tidak akan pernah pergi lagi seperti yang mamaku Lakukan kan ?."
Rachel membalas pelukan Brandon dengan erat, lalu perlahan melepaskannya.
"Aku takut,"
"Takut apa? apa yang kamu takutkan, Rachel?."
"Aku takut tidak bisa memenuhi harapan kamu."
"Harapanku hanya satu, aku minta kamu tetap di sisiku dan jangan meninggalkan aku. Apa sesulit itu?."
Harapan Brandon terdengar sederhana, tapi tidak sesederhana itu bagi Rachel. Rachel merasa tertekan dan takut.
__ADS_1
"Rachel, kenapa?."
"Aku...aku mencintai laki-laki lain."
Sesaat tangan Brandon gemetar dalam genggaman tangan Rachel.
"Siapa?."
Rachel tidak ingin menjalin hubungan dilandasi ketidakjujuran .
Mengehela nafas berat, Rachel menjawab, "Farel. Aku sangat mencintainya. Laki-laki yang kedua yang sangat aku cintai setelah papa. Namun kedua-duanya tidak bisa aku miliki."
"Rasanya aku tidak ingin mengenal laki-laki lagi dalam hidupku. Tapi di sisi lain aku juga takut sendiri. Aku ingin dicintai dan disayangi. Aku ingin merasakan bagaimana diprioritaskan."
"Lalu kamu datang dan berjanji tidak akan meninggalkanku. Aku yang merasa tidak diinginkan apapun sangat bahagia mendengar itu . Aku tidak menyangka ada seseorang yang tulus mencintaiku. Aku mencoba menerima kamu dan membuka hati. Tapi semakin ke sini aku semakin tertekan dan ketakutan."
"Aku penuh luka, Brandon. Aku harus menyembuhkan luka dari papa dan Farel dalam waktu bersamaan. Aku juga harus mencoba mencintai kamu. Aku nyaris mati rasa, Aku bahkan tidak tahu apa aku bisa jatuh cinta dan mempercayai laki-laki lagi."
"Aku takut menyakiti kamu. Luka kamu yang sudah mulai sembuh, Aku tidak ingin menggoresnya lagi. Aku tidak ingin menyakiti siapapun. Setidaknya jika aku hancur Aku ingin hancur sendiri."
"Aku ingin mengatakan ini sejak awal sebelum kita melangkah lebih jauh. Sekarang terserah kamu mau bagaimana."
"Lebih baik kamu pergi daripada kamu ikut hancur bersamaku."
Brandon hanya diam, mendengarkan setiap kata demi kata curahan hati Rachel. Gadis ini tidak sebaik-baik apa saja yang dia pikir. Senyum dan tawanya benar-benar palsu.
Brandon seperti melihat dirinya saat remaja dulu. Meskipun dia laki-laki tapi dia tidak sekuat Rachel untuk terus tersenyum saat sedang luka. Brandon sengaja menunjukkan ekspresi datar dan sorot mata dingin agar tidak ada yang mendekat.
Meskipun untuk sekedar pura-pura, Brandon tetap tidak sanggup tersenyum. Rasanya berkali lipat menyakitkan saat sedang luka tapi harus dipaksa tersenyum demi orang-orang yang disayangi tidak ikut bersedih.
Hanya orang-orang hebat yang bisa melakukan itu. Dan Rachel begitu hebat. Dan rasa kagum Brandon pada gadis ini bertambah berkali lipat.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....