
"Aku juga sibuk, Sayang. Tapi kamu akan selalu jadi prioritasku. Jadi sesibuk apapun itu, saat kamu membutuhkanku, aku pasti akan selalu ada untuk kamu, beda sama mereka bertiga, mereka tidak menjadikan kamu prioritas, pekerjaan, masih menjadi prioritas mereka, hari ini, pun, sebenarnya aku juga ada kerjaan di kantor, Tapi aku minta asisten yang handle."
"Oh, begitu," Rachel mengangguk-angguk, Taerakhir, sempat berpikir, Farel yang memiliki waktu luang paling banyak, karena sejak pertama kali Rachel datang ke sini, Farel yang selalu menemaninya, bukan karena Farel tidak sibuk, tapi karena Farel memang mengutamakannya.
Astaga kalau begini gimana Rachel nggak baper coba, nggak semua cowok bisa memperlakukan ceweknya super baik ini. Rachel merasa terharu sekali sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Rachel jadi bertanya-tanya apa perasaannya sekarang berkaitan dengan perasaannya yang dulu sebelum hilang ingatan. Perasaan ingin mendapatkan kasih sayang perasaan ingin diprioritaskan dan perasaan ingin dicintai dengan tulus.
"Kenapa Apakah aku terkesan agresif sering menyatakan perasaanku?."
Rachel menggeleng dengan cepat, "Nggak kok. Aku suka. Eh- maksudnya tidak apa-apa. Lakukan saja apa yang kamu inginkan."
Farel tersenyum, "Jadi kalau seperti ini boleh?." Farel meraih tangan kanan Rachel dan menggenggam nya, sementara tangan satunya masih fokus menyetir.
"Modusnya halus banget ya, Pak."
Farel tertawa, "Ini juga lagi usaha Buk. Usaha buat meluluhkan hati nyonya muda Gammaland. Jadi kalau Bapak lagi modus Ibu jangan marah-marah ya. Nanti Bu Rachel cepat tua."
Rachel tertawa, merasa konyol dengan tingkah Farel.
"Kamu beda banget tau, dari Farel yang pertama kali aku temui dengan Farel yang sekarang."
"Oh yah? bedanya apa? lebih ganteng dan kharismatik ya?." Farel mengangkat tangan Rachel yang ada dalam genggaman dan mencium punggung tangannya.
Rachel berdehem untuk menyembunyikan kegugupannya sekarang. Melirik sekilas tangannya yang masuh di genggam Farel yang sesekali Farel mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. Sesaat Rachel memalingkan wajah ke jendela sembari mengulum senyum. Menahan diri untuk tidak berteriak saking deg-degan nya sekarang.
"Kamu lebih banyak bicara," ucap Rachel setelah berhasil mengendalikan perasaannya yang membuncah.
"Lebih suka bercanda juga. Dulu saat pertama kali bertemu mata kamu kelihatan sendu sekali. Seperti nggak punya semangat hidup. Wajah kamu juga suram. Meskipun begitu dulu kamu tetap.cool kok. Tapi sekarang kamu ceria, mata kamu berbinar, dan kelihatan lebih bersemangat."
"Semua ini juga berkat kamu. Kamu sperti pelita yang membawa sinar di kegelapan. Seperti hujan di tengah kemarau. Seperti pelangi setelah badai. Semua menjadi lebih indah setelah ada kamu. Kamu lebih suka versi mana? Farel cool atau Farel yang sekarang?."
"Suka semuanya?."
"Tooooolong aku melayang."
__ADS_1
Rachel tertawa begitu juga Farel yang ikut tertawa.
Farel pun melajukan mobil sambil bercanda, dulu, Rachel merasa kaku, canggung, dan bingung berbicara dengan Farel. Tapi sekarang seolah mengalir begitu saja. mereka seperti tidak pernah kehabisan topik pembicaraan. Rachel merasakan kenyamanan yang tidak pernah dia rasakan bersama laki-laki lain.
Rachel bertanya pada dirinya sendiri. Apakah Rachel sudah jatuh cinta pada Farel, Rachel tidak tahu tapi yang jelas sekarang dia merasa sangat nyaman.
***
Setelah sekian lama perjalanan akhirnya mobil Farel sampai di rumah Opa Wisnu mereka turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah sambil Farel menggenggam tangan Rachel.
Sementara di ruang tengah semua orang sedang mengobrol di ruang tengah ini ada 4 sofa panjang yang bentuknya melingkar, di satu sofa ada Edgar dan Ayuma, Rafa karena sudah menyusu, sekarang sedang agak mengantuk digendongan Ayuma. Tapi saat Ayuma menidurkan di dalam kamar Rafa bangun dan menangis, jadi mau tidak mau Ayuma terus menggendongnya.
Di sofa satunya lagi ada Sebastian dan anggun di seberang sofa mereka ada Wisnu dan Hendrawan, sejak tadi Hendrawan tidak berhenti menatap Ayuma sepanjang obrolan mereka.
"Selamat siang semuanya." Sapa Rachel membuat semua orang menatap ke arahnya.
"Rachel," Hendrawan langsung berdiri. Baru saja tadi Hendrawan bertanya pada Ayuma keberadaan Rachel. Tapi Ayuma seolah berusaha mengalihkan obrolan, seolah tidak rela Hendrawan bertemu dengan Rachel. Lalu sekarang tak di duga-duga sosok putri manis yang Hendrawan rindukan muncul.
"Rachel, putriku."
"Papa," panggil Rachel riang.
Hendrawan refleks berdiri dari sofa, senyumnya mengembang dan jantungnya berdebar kencang. Katanitu, kata 'papa' adalah kata yang paling Hendrawan dengar dari jutaan kata yang ada. Saking terharunya Hendrawan sampai berkaca-kaca. Tidak menyangka momen ini benar-benar datang, Sempat Hendrawan merasa hopeles bisa bertemu dengan Rachel, tapi syukurlah Tuhan masih baik padanya mempertemukan nya dengan Rachel lagi.
"Papaa."
"Rachel."
Namun... Rachel berlari melewati Hendrawan dan berjalan menghampiri Edgar. Duduk di sebelahnya dan bergelanyut manja di lengannya.
"Papa, Farel dari tadi godain anak gadis papa," adu Rachel pada Edgar.
"Oh ya?." Edgar tersenyum dan mengusap rambut Rachel, lalu mengalihkan perhatian pada Farel yang kini duduk di samping Oppa Wisnu. "Pulang dari sini kita harus bicara di atas ring tinju Farel,"
Farel tertawa, "Aduh, Om. Saya jadi takut kena tonjok."
__ADS_1
"Tonjok aja Farel, Pa Soalnya Farel nyebelin." ucap Rachel. Tentu saja hanya bercanda. Dan suasana yang tadinya garing menjadi lebih hidup setelah kedatangan mereka.
Sementara Hendrawan... membeku di tempat dengan hati tersayat-sayat. Hatinya sakit luar biasa sampai rasanya begitu sesak. Genangan air mata di pelupuk mata semakin banyak. Kini bukan lagi tentang kerinduan pada Rachel, tapi juga kesedihan yang mendalam.
Hendrawan berharap Rachel mau memeluknya, tapi Rachel melewatinya begitu saja dan memeluk Edgar. Seharusnya Rachel memeluknya lebih dulu karena dia adalah Ayah kandungnya. Tapi kenapa.... kenapa Rachel bahkan tidak mau menatapnya.
Apa luka yang Hendrawan torehkan di masa lalu sedalam itu sampai Rachel mengabaikan seperti ini.
"Hendrawan, duduklah!." ucap Wisnu sambil menarik lengan Hendrawan agar duduk kembali. Wisnu sungguh tak tega melihat kesedihan di mata putranya. Tapi setelah apa yang Hendrawan lakukan, rasanya dia pantas mendapat semua ini.
Bukannya duduk di samping Wisnu. Hendrawan justru duduk di samping Racchel.
"Rachel."
Rachel tampak terkejut.
"Maaf, Om siapa?."
Pertanyaan Rachel itu seperti taburan garam di atas luka hati Hendrawan. Perih dan sakit sekali. Setelah Rachel mengabaikannya, sekarang Rachel pura-pura tidak mengenalinya.
"Papa tahu papa pernah melakukan kesalahan di masa lalu, Papa mengerti, sekarang, kamu benci sama papa, benci Papa sepuas kamu, tapi jangan seperti ini, jangan pura-pura tidak mengenali papa, papa, Ayah kandung kamu! Rachel. Hati papa sedih sekali kamu tidak mengenali papa."
"Pa-papa?."
Rachel terdiam, dengan keterkejutannya menghiasi wajahnya. Rachel tidak mengira laki-laki yang kini menggenggam tangannya adalah Papa kandungnya, selama 5 tahun tinggal di Swiss, beberapa kali Rachel juga meminta foto Papanya pada Ayuma, tapi Ayuma selalu mengatakan tidak memiliki foto Papanya.
Lalu saat sampai di sini Rachel terlalu sibuk bersama Farel pergi ke sana kemari untuk mengembalikan ingatan sampai Rachel dan lupa meminta foto Papanya dari Farel atau keluarga Tanoepramudya. Bersama Farel Rachel jadi melupakan tujuan utamanya datang ke sini yaitu untuk bertemu Papanya.
"Rachel Papa tahu, papa salah dulu Papa selalu Mama abaikan kamu, Papa bahkan pernah mengatakan Papa tidak menginginkan kamu, Papa menyesal, papa sangat-sangat menyesal. Selama 5 tahun ini Papa selalu mencari kamu kemana-mana. Kamu lihat ini papa kecelakaan saat perjalanan keliling Jakarta mencari kamu Papa sangat merindukan kamu putriku."
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...