Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 168


__ADS_3

Luna segera menghapus air matanya, memutar otak. Bagaimana caranya agar Kevin tidak salah paham jangan sampai Kevin berpikir buruk tentang Papanya.


"Iya papa pergi sama Tante Agnes, soalnya Tante Agnes juga di undang. Sedangkan mama tidak di undang."


"Kenapa mama tidak di undang?."


"Karena yang punya pernikahan bukan teman mama, tapi teman papa dan Tante Agnes. Jadi daripada pergi sendiri-sendiri, lebih baik pergi barengan."


Kevin diam dan justru menatap lekat Luna.


"Terus kenapa mama nangis? mama sedih ya nggak di undang ke pernikahan teman papa?."


"Iya, Mama sedih, tapi nggak terlalu sedih juga. Kalau mama pergi nanti Kevin di rumah sendiri karena acara ini khusus orang dewasa. Sedangkan Kevin masih kecil, jadi ngga boleh datang," Luna tersenyum dan mengusap pipi putranya, "Jadi...sekarang mama bisa menemani Kevin di rumah dan kita bisa makan malam berdua. Mama bisa bacaan dongeng buat Kevin sebelum tidur. Sekarang kita makan malam dulu ya, Kevin mau makan apa?. Mama akan masakin apapun makanan yang Kevin mau?."


"Masak apa saja mama, yang penting makannya sama mama," Kevin mendekat dan melingkarkan tangan di leher Luna.


Luna tersenyum, merengkuh tubuh putranya dan menggendongnya. Lalu berjalan ke dapur.


***


Jam tujuh pagi, Rachel bangun tidur. Setelah merutuk diri sendiri karena bangun kesiangan. Rachel segera ke kamar mandi mencuci muka dan sikat gigi. Semalam dia berencana bangun jam 05.09 pagi, tapi karena semalam pulang sekitar pukul 11.00 malam lalu chatingan lagi dengan Farel sampai 02.09 malam, Rachel tidak bisa bangun pagi.


Setelah makan malam, Rachel mengobrol bersama Bastian dan keluarganya. Waktu berjalan cepat dan tiba-tiba sudah jam 10.30 malam. Akhirnya Rachel pulang. Mungkin ini terdengar aneh dia dan Farel satu rumah, tapi tetap chatingan sampai Rachel ketiduran.


"Ya ampun sekarang aku harus gimana coba?." Rachel menatap pastikan wajahnya dari cermin wastafel kamar mandi. "Ini pertama kali aku menginap di rumah calon mertua tapi aku udah bangun kesiangan semoga saja tante Sarah dan Anthony tidak mengira aku pemalas."


"Eh kenapa juga aku berpikir menginap di rumah calon mertua." Rachel meruntuk kepalanya sendiri lalu tak lama bibirnya mengulas senyum, Farel sering menyebut dirinya calon istri dan Sarah Anthony juga sering menyebut calon menantu, Rachel jadi terbawa suasana.


"Ya ampun jadi deg-degan gini," Rachel menyentuh dadanya yang berdebar kencang. Hanya menyebut nama Farel saja dia sudah deg-degan.


Rachel segera menyelesaikan kegiatan nya di kamar mandi. Awalnya hanya sikat gigi dan cuci muka, tapi sekalian saja mandi, biar wangi.


Setelah mandi Rachel memakai kaos dan celana pendek lalu keluar kamar tujuan pertama Rachel adalah dapur mungkin Sarah sedang memasak sarapan untuk semua orang Rachel berniat membantu.


Rachel baru saja ingin menuruni tangga namun langkahnya tertahan melihat Farel menaiki tangga.

__ADS_1


"Eh," Rachel mendadak malu, padahal tadi malam mereka baru bertemu dan chatingan. "Pagi." Sapa Rachel.


"Pagi juga." Sapa Farel.


Rachel memperhatikan style Farel dari atas sampai bawah. Dia memakai kaos tanpa lengan yang cukup ketat sehingga otot dada dan perutnya agak menjiplak untuk bawahan dia memakai celana training panjang.


"Kamu mau olahraga?." tanya Rachel.


"Hm, aku mau olahraga."


Rachel mengaangguk-angguk, pantas saja pakaian Farel seperti ini.


"Dimana?."


"Di rumah ini. Di lantai 3."


"Oh di sini ada alat-alat gym."


"Hm, nggak selengkap di tempat gym tapi cukup membantu untuk workout. Mau workout bersama? mumpung masih pagi."


Farel tertawa, "Apa dalam bayangan kamu Mama itu calon mertua galak yang kalau menantunya bangun siang akan marah-marah atau bahkan di siram dengan air?." Farel mengulurkan tangan dan mengacak rambut Rachel dengan gemas. "Mama bukan seperti itu. Iya sekarang mama sedang menyiapkan sarapan untuk kita. Tapi aku yakin kalau kamu ke sana Mama pasti akan menyuruh kamu duduk saja karena kamu adalah tamu spesial di rumah kami. Ah tidak tidak bukan Tamu tapi anggota keluarga spesial.


Rachel tersenyum lalu menggeleng kecil.


"Enggak kok, aku nggak berpikir tante Sarah galak cuma aku yang merasa nggak enak."


"Udah nggak usah merasa nggak enak, mending kita workout berdua aja. Mama udah ada Bibi yang bantuin buat masak kamu ikut aku aja."


Farel menggenggam tangan Rachel.


"Naik tangga atau lift?." tanya Farel di sela-sela jalan mereka. "Oke naik tangga aja biar sehat lantai 3 Nggak jauh kok ini udah di lantai 2."


"Ya kalau kamu sudah memutuskan kenapa tadi tanya segala, Farel.


Farel tertawa, Rachel tersenyum dan berlari kecil mengikuti langkah kaki Farel menaiki tangga. Pandangan Rachel tertuju pada tangannya yang digenggam erat, kembali jantungnya berdebar kencang tanpa bisa dicegah jadi tidak sabar ingatannya segera kembali. Rachel ingin mengetahui bagaimana perasaan yang sebenarnya pada Farel tanpa perlu meraba-raba.

__ADS_1


"Apa dulu aku suka nge gym berdua sama kamu?."


"Hm dulu waktu kuliah kita tinggal di gedung apartemen yang sama. Di gedung apartemen itu ada fasilitas Gym. Kita biasanya seminggu sekali workout di sana. Tapi kamu sering malas dan aku sering memaksa kamu."


"Seperti sekarang?."


Farel tertawa, "Kurang lebih iya."


Sesampainya di ruang gym. Rachel mengendarkan pandangan ke sekeliling. Benar saja di lantai 3 di salah satu ruangan ada area game yang cukup luas dinding diam juga terbuat dari kaca sehingga saat olahraga bisa melihat pemandangan dari luar.


"Aku nggak bisa ikut workout. Aku lihat kamu aja. Lagi mager banget sumpah!."


"Ya udah. Kamu duduk di sini."


Rachel mengangguk dan duduk di kursi pemanjang yang letaknya menempel di tembok sebelum memulai workout, Farel mengambil air putih di mesin pendingin yang ada di sini, membukakan tutup botol dan memberikan pada Rachel.


"Aku nggak haus."


"Ga papa buat nanti kalau haus."


Karena Farel sudah membukakan tutup botol air mineral mau tidak mau Rachel menerima itu.


Sebelum mulai olahraga Farel pemanasan dulu agar nanti tidak cedera. Setiap gerakan yang Farel lakukan tidak lepas sari pengamatan Rachel. Melihat bagaimana gerakan Farel, Racgel yakin Farel terbiasa melakukannya.


Di tengah-tengah gerakannya loncat-loncat kecil, Farel tiba-tiba menoleh. Sontak saja Rachel gelagapan dan segera memalingkan wajah.


Farel tersenyum samar, begitu menyadari pipi Rachel merona. Ah, Farel jadi teringat, dulu dia selalu menjahili Rachel setiap ada kesempatan.


"Hei lihat sini! Calon suamimu butuh semangat."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2