
"Penting apa sih? paling lo mau bilang, meskipun lo udah pacaran sama Luna. Lo akan selalu mengutamakan Rachel dan meminta Rachel selalu ada di sisi lo. Iyah kan? Gitu kan?." Bastian berdecih. "Lo belajar jadi playboy dari siapa sih? perasaan kita ngga ada yang mainin perasaan cewek kayak lo."
"Kapan gue mainin cewek?."
"Lo ngga nyadar?" Bastian meledek dan tertawa begitu juga Rendy dan Dypta yang ikut tertawa. Tawa yang membuat Farel geram.
Tak pernah terlintas sedikitpun dalam kepala Farel ingin mempermainkan perempuan. Perempuan yang dekat dengannya keluarganya kecuali Luna dan Rachel. Lalu bagaimana bisa Bastian menuduhnya mempermainkan perempuan? jika yang di maksud Bastian adalah Rachel. Itu tidak akan pernah terjadi. Farel sudah menganggap Rachel bagian dalam dirinya, menyakiti Rachel sama saja menyakiti diri sendiri.
"Apa yang kalian tertawakan? Gue lagi serius?."
"Mau ujian kali ah serius." Bastian masih tertawa meledek.
Farel menjamkan mata dan selangkah mendekat pada Bastian.
"Farel." Rachel buru-buru menahan dada Farel. Mendengar suara lembut dan sentuhan tangan Rachel, langkah Farel tertahan. Mata tajamnya menyendu lalu mengalihkan pandangan kepada Rachel.
Rachel tidak ingin terjadi keributan, apalagi di sini. Masih ada banyak mahasiswa. Bisa heboh satu jurusan atau bahkan satu kampus kalau sampai Farel ribut dengan Bastian.
Dan yang tidak Rachel mengerti kenapa Farel terlalu emosi saat Bastian melarang mereka untuk terlalu dekat. Sudah waktunya untuk mereka untuk menjaga jarak.
"Rachel pulang sama gue. Gue mau bicara satu hal penting sama lo, please." Farel memelas.
"Sorry Rel. Gue mau makan sama mereka. Lagi pula pembicaraan penting apa antara gue sama lo yang tidak boleh Dypta, Bastian dan Rendy dengar. Tidak perlu ada yang di rahasiakan." Rachel mencoba memberi pengertian pada Farel.
Farel menjambak rambutnya frustasi.
"Rachel, please."
"Ck, lo kenapa sih?." Rendy tak tahan dengan tingkah Farel. "Daripada lo di sini ngerecokin Rachel mending lo menemani pacar lo. Eh, itu btw, congrat ya udah jadian sama cewek idaman lo dari zaman piyik." Rendy nyengir sambil mengulurkan tangan pada Farel.
__ADS_1
Bukannya menjabat, Farel justru menangkis tangan Rendy.
"Ngga usah ngeledek gitu!."
"Kapan gue ngeledek? gue cuma ngasih selamat buat lo, salahnya di mana coba? Harusnya lo seneng kan bisa jadian sama Luna. Harusnya lo sekarang menikmati waktu berdua lo sama Luna, bukan malah ke sini terus ngajak Rachel pergi berduaan."
"Gue cuma mau bicara penting sama Rachel!." Farel memperjelas kata demi kata sambil menanamkan mata pada Rendy.
"Penting buat lo tapi kayaknya ngga penting buat Rachel. Jadi sekarang lo pergi karena Rachel mau makan sama kita-kita. Btw, gue seneng li akhirnya jadian sama Luna. Jadi sekarang lo nggak akan nempelin Rachel kemanapun dia pergi. kalau ada apa-apa lo ngga usah nyari Rachel, cari aja Luna. Sekarang gur bebas PDKT sama Rachek. Rencananya sih gue ngga mau pacaran, gue mau langsung nikahi Rachel!, iya kan Yayang."
Rendy memegang kedua pundak Rachel dari belakang dan membuat gerakan pura-pura mencium belakang kepala Rachel.
"Apaan sih lo." Farel mendorong Rendy, "Ngga usah cium-cium gitu."
Wah santai dong." Rendy tertawa, Bastian dan Dypta sama-sama menyeringai, sementara Rachel mengamati lekat wajah Farel yang terlihat marah. Kemarahan Farel seolah melihat pacarnya di gangguin cowok lain. Tingkah Farel seperti ini yang membuat Rachel benar-benar bingung.
"Rel, lo sebenernya bisa ngga sih bedain cara memperlakukan pacar dan sahabat?." Dypta yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
"Ck. Gue cuma mau bicara sebentar sama Rachel! kenapa kalian membesar-besarkan seolah gue mau menculik Rachel dan mengurungnya. Gue tahu cara memperlakukan Rachel dan Luna. Gue mau bicara dengan Rachel berdua juga sebagai seorang sahabat. Tolonglah, jangan memperkeruh keadaan."
Rachel bisa melihat betapa putus asa nya di mata Farel sekarang. Tapi kenapa?.
Kenapa Farel seperti ini? kenapa Farel begitu membingungkan.
"Kalian bilang kita semua teman kan. Kalau kalian mengaku teman, kenapa kalian tidak ikut mengantar Luna pulang? kenapa kalian tidak menemaninya? Luna juga teman kalian kan?" Farel menatap Dypta, Bastian dan Rendy.
"Apa Luna meminta kami datang? Nggak Luna cuma mau lo." jengkel Bastian. "Dan aneh nya kenapa lo harus minta Rachel untuk datang ke rumah sakit kalau lo mau nembak Luna? lo mau jadiin sepupu gue obat nyamuk? lain kali kalau mau pergi berdua sama Luna nggak usah ngajak Rachel."
Farel baru saja ingin membuka mulut tapi...
__ADS_1
"Ck. kelamaan perut gue udah laper, bacot mulut lo dari tadi." Rendy menggenggam tangan Rachel dan mengajaknya pergi menuju parkiran.
"Rachel tunggu!."
Bastian dan Dypta segera menahan Farel.
"Rel, please." Bastian menyentuh bahu Farel.
"Kenapa sih? kenapa lo segitunya ngelarang gue buat bicara sama Rachel? gue salah apa?."
Bastian menghela nafas berat. Di satu sisi Bastian jengkel dengan Farel seolah mempermainkan Rachel. Tapi di satu sisi merasa kasihan karena seperti kebingungan dengan perasaan nya sendiri.
Di tambah lagi Farel tidak menyadari perasaan Rachel kepadanya sehingga Farel tidak menjaga perasaan Rachel saat sedang dekat dengan Luna. Jika tahu selama ini Rachel mencintai nya, Farel pasti menjaga jarak.
Tapi bukan hak Bastian untuk mengatakan itu. Rachel memilih untuk menyembunyikan perasaannya maka Bastian harus menghargainys.
"Bisa bgga dalam waktu satu atau dua hari ini, lo menjauhi Rachel? Biarkan dia tenang dulu." ucap Dypta.
"Kenapa Rachel membutuhkan ketenangan ? memangnya dia kenapa? dia sedih gara-gara gue jadian sama Luna dan berpikir gue akan menjauhinya? Nggak gue nggak akan pernah menjauhi Rachel. Tidak akan ada yang berubah. Gue akan memperlakukan Rachel seperti biasanya. Karena itulah gue mau bicara berdua dengan Rachel agar dia tidak salah paham."
Farel menjelaskan dengan begitu serius yang membuat Dypta dan Bastian semakin jengkel. Masalahnya Farel sangat tidak peka.
"Serah lo deh,Rel. lo pernah bilang lo nggak akan pernah menyakiti Rachel. kalau lo ngga mau Rachel tersakiti, gue minta tiga hari ini, tolong jangan temui Rachel dulu." ucap Bastian lalu berbalik badan bersama Dypta, meninggalkan farel.
Farel selangkah maju, ingin mengikuti mereka namun kakinya tertahan. Termenung beberapa saat lalu berbalik badan dan berjalan berlawanan arah dengan mereka. Entahlah, Farel merasa benar-benar bingung sekarang.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung