
Sesampainya di halaman rumah Luna, Farel mematikan mesin mobil.
Kecewa, itulah yang Luna rasakan sekarang. Luna ingin makan siang dulu sebelum pulang tapi Farel tetap mengantarnya pulang seolah tidak ingin berlama-lama bersama nya.
"Padahal aku ingin kita makan dulu kamu malah mengantarkan pulang."
Farel menghela nafas berat. Dia benar-benar tidak mood sekarang. Pertama karena kekalahannya. Kedua karena Rachel menjauh. Tapi Farel harus tetap terlihat seperti pacar perhatian untuk Luna yang harus menuruti semua keinginannya.
Kadang Farel merasa tidak bisa menjadi dirinya sendiri saat bersama Luna.
Farel tidak bisa bebas mengekspresikan diri. Farek selalu berusaha terlihat sempurna di depan Luna. Berbeda saat bersama Rachel.
Bersama gadis periang itu, Farel tidak perlu takut terlihat kacau, terlihat sedih, terlihat terpuruk. Tidak takut juga menunjukkan sisi-sisi jelek dalam dirinya. Bebas, Farel merasa bebas bersama Rachel.
"Farel," panggil Luna karena sejak tadi Farel hanya diam. Luna benar-benar tidak suka di abaikan."
"Kenapa sih, kenapa kamu jadi berubah gini. Kamu berbeda setelah kita jadian. Ternyata benar kata orang, laki-lakistelah mendapatkan apa yang di inginkan, dia cenderung menyia-nyiakan itu. Aku sudah mempercanyai hatiku untuk kamu Farel. Dari sekian banyak laki-laki yang mengejarku, aku memilih kamu, tapi kamu justru mengabaikan ku seperti ini."
"Bukan begitu Luna."
"Ah sudahlah. Aku capek."
Luna turun dari mobil, begitu juga dengan Farel yang ikut turun dari mobil dan menahan pergelangan tangan Luna. Namun Farel justru di buat Salfok dengan mobil Hendrawan yang ada di halaman rumah.
"Ini mobil Om Hendrawan kan? Om Hendrawan masih sering ke sini?."
Luna menahan diri untuk tidak memutar bola mata mendengar pertanyaan itu.
"Kenapa? kamu mau menuduhku diam-diam meminta Om Hendrawan datang? Kamu mengira aku tidak menepati janjian? Apa kamu setakut itu aku merebut perhatian Om Hendrawan dan membuat Rachel sedih. Aku tahu kamu sangat memperdulikan Rachel sebagai seorang sahabat tapi tolong belakang cara memperlakukanku dan Rachel. Aku pacar kamu dan sudah seharusnya kamu lebih perhatian padaku daripada Rachel, Farel."
"Aku bahkan belum mengatakan apapun, Luna. Bagaimana bisa kamu langsung menyimpulkan begitu."
"Tapi benar kan yang aku katakan tadi? kamu sudah tidak seperhatian dulu. Sejak kecil aku tidak mendapatkan kasih sayang seorang Ayah, lalu saat aku melihat kamu dan berharap kasih sayang seutuhnya, kamu justru mengabaikanku."
"Luna..."
"Kamu sadar nggak? Sikap kamu ini melukaiku. Aku ingat kamu pernah cerita, dulu Ayah kamu menyia-nyiakan Mamah Sarah karena sahabatnya. Ayah kamu lebih memprioritaskan sahabatnya daripada istrinya. Lalu sekarang kamu ingin mengulang kesalahan yang sama?."
__ADS_1
"Kamu ingin menyia-nyiakanku demi Rachel? Kalau memang iya lebih baik sekarang temui Rachel dan hibur dia karena Om Hendrawan datang ke rumah ku. Padahal Om Hendrawan menemuiku hanya karena rasa kasihan. Rasa kasihan, Farel. Tapi kenapa seolah kamu dan semua orang takut aku merebut Om Hendrawan dari Rachel."
Luna menggelengkan kepala, "Kalau sikap kamu terus seperti ini, kamu akan merusak persahabatanku dengan Rachek karena kamu terus membuatku cemburu. Sudahlah, aku ingin sendiri dan menenangkan diri dulu."
Luna berbalik badan dan bergegas pergi.
"Luna tunggu, aku tidak bermaksud ingin merusak persahabatan kamu dengan Rachel. Dengarkan dulu penjelasanku. Hari ini aku sedang capek dan aku tidak ingin melakukan apapun. Tunggu Luna."
Tak mai mendengar apapun lagi, Luna membuka pintu rumah dan berlari masuk ke dalam rumah, ingin segera ke kamar, namun saat melewati kamar tamu Luna samar-samar mendengar suara aneh.
"Luna, aku ingin berbicara sebentar," Farel segera menggenggam pergelangan tangan Luna agar Luna tidak berlari lagi.
"Luna, aku..."
"Ah, Mas Hendrawan."
Suara aneh itu menyita perhatian Farel Refleks kepalanya tertoleh ke kamar ruang tamu.
Hening.
"*Sayang, aku mau sekarang."
"Pengaman, Mas."
"Aku tidak bawa, aku keluarkan di luar. Aku sudah tidak tahan, Sayang. Izinkan aku masuk*."
Luna menutup mulut dengan telapak tangan saking terkejutnya mendengar suara itu.
Dengan pikiran kacau dan tubuh melemas, Luna membuka paksa pintu. Berharap apa yang dia pikirkan tidak benar-benar terjadi. Tapi... jantung Luna seperti berhenti berdetak saat melihat dua orang yang sangat ia kenal dan sangat dia sayangi saling menindih di atas kasur. Dilara berada di bawah kungkungan Hendrawan, dengan kedua nya tanpa sehelai benang pun.
Farel pun sama terkejut nya dengan Luna, bahkan sampai membeku di tempat.
Sementara Hendrawan dan Dilara sama-sama menoleh dengan wajah pucat pasi.
"Lu-luna." Bibir Dilara bergetar menyebut nama putrinya yang masih termangu di tempat. dilara mencelos melihat wajah Luna membuat dan matanya mulai berkaca-kaca.
Luna tidak mengatakan apapun, menutup pintu dan langsung lari.
__ADS_1
"Luna," panggil Farel.
"Aku ingin sendiri," teriak Luba sambil mempercepat larinya menaiki tangga menuju ke kamar.
Farel mengepalkan tangan di luar kamar. Sementara di dalam kamar Hendrawan dan Dilara masih belum sadar dari keterkejutan mereka. Kejadian tadi seperti mimpi buruk, mimpi buruk yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam kepala mereka saat berserakan buah hati mereka memergoki.
"Dilara." Hendrawan turun dari tubuh Dilara dan menatap tak tega wajah pucatnya. Hendrawan juga syok tapi Dilara berkali-kali lipat lebih terkejut.
"I-ini pasti mimpi kan, Mas. Tolong bilang mimpi. Tidak mungkin Luna melihat kita. Ini mimpi."
Dilara menampar pipinya sendiri. Tamparan keras mendarat di pipi kanan dan pipi kiri. Dilara ingin memastikan kalau ini semua hanya mimpi. Sudah bertahun-tahun Dilara menyembunyikan hubungannya dengan Hendrawan dari Luna.
Bahkan sebelum ini mereka tidak pernah berhubungan intim, tapi sebaliknya menginyakan permintaan Hendrawan, kenapa Luna harus melihat adegan ini.
"Dilara cukup, kamu menyakiti diri kamu sendiri."
Hendrawan berusaha menahan tangan Dilara. Namun Dilara tak mau berhenti menampar pipi nya sendiri. Dari suara tangisnya Hendrawan bisa merasakan penyesalan Dilara. Begitu juga Hendrawan yang menyesal.
Bukan menyesal karena nyaris berhubungan intim dengan Dilara tapi menyesal kenapa harus melakukan nya di rumah. Seandainya tadi Hendrawan mengajak Dilara ke hotel atau Apartement persentase mereka ketahuan pasti sangat kecil.
Saat Dilara membuka diri dan menerima sentuhannya setelah sekian lama menunggu, Hendrawan tidak ingat apapun selalu ingin segera mencumbu Dilara. Nafsunya membutakan mata dan hatinya sampai tidak ingat tempat.
"Kenapa? kenapa harus jadi seperti ini Mas Hendrawan?."
"Cukup, Dilara. Cukup."
Hendrawan menarik Dilara salam pelukan. Hanya beberapa detik lalu Dilara mendorongnya menjauh.
"Aku mau kamu pergi! Aku nggak mau melihat kamu lagi."
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1