Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 164


__ADS_3

Kamu udah cocok banget jadi istri. Semua masakan kamu pasti enak. Dari menu paling gampang, kayak mie instan dan cemilan sampai menu-menu yang susah misal rendang dan opor. Nggak salah aku melihat kamu jadi calon istri."


Rani yang sedang menggoreng pisang tersenyum, "Aku masih 17 tahun, Bang Tian. Harus nunggu aku lulus kuliah dulu, seperti yang Ayah bilang. Jadi kira-kira 5 tahun lagi, saat usiaku udah 22 tahun."


Bastian mengunyah cepat potongan pisang goreng di mulutnya, lalu menatap Rani yang membelakanginya. Hari ini Rani tampak lucu dan imut sekali memakai dress selutut lengan pendek berwarna Pink. Rambutnya di gerai dengan sisi rambut diikat di belakang kepala. Sisi rambut itu di capit dengan ikat rambut yang berbentuk kupu-kupu pemberian dari Bastian.


"Nggak masalah, aku sudah menunggu kamu selama 17 tahun. Bahkan dari kamu dalam kandungan aku sudah menunggu kamu. Nggak masalah kalau aku menunggu 5 atau bahkan 10 tahun lagi."


Rani tersenyum, lega sekali dengan jawaban Bastian. Saat dia sudah beranjak remaja, kura-kura setelah lulus SMP, Mama Sarah menceritakan tentang Bastian. Rani nyaris tidak percaya, Bastian sudah mengincarnya sejak dari dalam kandungan. Rasanya langka sekali itu sangat mustahil, ada seseorang yang menunggu kekasihnya sampai selama itu.


Tapi saat Mamah menunjukkan foto-foto Bastian kecil saat berusia 7 tahun dan memeluk erat Sarah yang besar, Rani benar-benar syok dan tidak menyangka.


"Bang Tian."


"Hm," Bastian mengelap tangannya dengan tisu dan mendekat pada Rani. "Capek? Sini abang yang goreng. Harusnya Rana nih bantuin, mana lagi tuh anak. Pasti pacaran sama Rendy."


"Rana nggak pacaran sama Bang Rendy. Rana bilang dia benci sama Bang Rendy, soalnya Bang Rendy jail."


"Benci itu singkatan dari benar-benar cinta."


"Masa sih..."


"Iya, Sayang."


Blush, pipi Rani langsung merona mendengar panggilan sayang itu. Dulu saat Rani kecil ia sempat bingung dengan perasaannya pada Bastian. Juga harus bersikap bagaimana. Pernah juga tiba-tiba Rani sangat malu dan salah tingkah bertemu dengan Bastian. Alhasil selama berbulan-bulan Rani tidak mau bertemu dengan nya.


Rani masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu cinta. Tapi seiring berjalannya waktu, perasaan cinta dan nyaman itu tumbuh sendiri. Rani sudah cukup dewasa untuk mengerti perasaannya sekarang memang benar-benar cinta.


Lagi pula.... Siapa yang tidak jatuh cinta dengan bastian. Dia benar-benar sempurna dari berbagai sisi. Dia tampan, mapan, royal, bertanggung jawab, dan yang paling penting setia.


Tapi ada satu hal yang membuat Rani sangat kagum pada Bastian. Cara Bastian menjaganya, Bastian tidak pernah mencuri kesempatan dalam kesempitan, padahal Rani masih polos-polosnya dan Bastian bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Bahkan mereka belum pernah berciuman di bibir. Tapi kadang-kadang Bastian menciumnya di dahi atau di pipi.


"Udah kamu duduk aja, biar abang yang lanjutin."


"Nggak Bang, aku sengaja nggak minta bantuin bibi, Rana atau mama biar aku buat pisang goreng spesial buat Kak Rachel."


"Ya udah berdua aja biar romantis."

__ADS_1


Rani tersenyum.


"Nempel banget kayak permen karet."


Bastian dan Rani sama-sama menoleh ke belakang. Farel, dia berjalan mendekati kulkas dan mengambil air dingin. Setelah meneguk beberapa teguk, Farel meletakkan lagi di dalam kulkas.


"Rachel udah bangun?." tanya Bastian.


"Udah lagi siap-siap mau ke rumah lo katanya."


Bastian menganguk dan mengalihkan pandangan lagi pada Rani, "Ayo kita lanjut, Abang nggak sabar cepet-cepet nikah. Biar kita berduaan melakukan apa saja dengan bebas."


"Iya, Bang."


Farel berkacak pinggang sambil menyipitkan mata pada dua orang ini.


"Itu kan nanti, sekarang belum menikah. Jadi jaga jarak dulu!." Farel berdiri di tengah-tengah Bastian dan Rani.


"Ck, ganggu aja sih lo! mending lo ke sana deh, tungguin Rachel di depan kamarnya dari pada di sini ngerecokin gue sama Rani." kesal Bastian.


"Udah, udah." Rani gemas sekali dengan abang-abang ini.


"Ya udah Bang Farel sama Bang Tian lanjut berdua aja goreng pisangnya. Aku duduk-duduk aja."


"Tapi Rani-."


"Ide bagus," ucap Farel memotong ucapan Bastian, lalu Farel melingkarkan tangan di bahu Bastian yang kini menatap sinis padanya. "Kita aja yang goreng pisangnya biar kita juga kelihatan romantis."


"Males romantis sama lo."


Rani tersenyum geli melihat interaksi mereka. Niatnya Rani ingin duduk-duduk saja, tapi wadah dan sendok yang dia gunakan untuk membuat adonan pisang goreng tadi masih kotor. Rani tidak bisa diam saja. Akhirnya gadis cantik itu membersihkan wadah.


Rana datang dengan ngos ngosan.


"Asem Bang Rendy nyebelin banget. Masa aku mau di dorong ke kolam renang. Untung saja ada Reza yang kuat. Syukurin tuh tenggelem di kolam renang, hahahah," Rana tertawa.


Rani tersenyum dan mengambilkan air mineral dingin di kulkas untuk Rana.

__ADS_1


"Makasih."


Rani menganguk dan lanjut mencuci sendok lagi.


"Ayah juga ikutan loh di kolam renang tadi. Ayo Rani ikutan ke sana, pasti seru." Rana menggenggam pergelangan tangan Rani.


"Hei hei, Rani di sini saja."


"Apaan sih, Bang. Suka banget ngekang. Terserah Rani dong mau kemana aja. Sekarang tuh Bang Tian cuma pacar. Aku saudara Rani. Aku lebih berhak dekat sama Rani. Gara-gara Abang sering ngajakin Rani jalan. Rani nggak punya waktu main sama aku dan Reza," Rana menjulurkan lidah pada Bastian lalu menarik Rani dan mengajaknya lari keluar dari dapur.


"Aissh bocah itu," Bastian menggeleng-gelengkan kepala lalu menoleh menatap Farel," Rana dan Rani itu satu rahim, kok bisa-bisanya sifat mereka berbeda 180°derajat."


"Ya kalau sifatnya sama. bisa-bisa juga lo suka sama dua-duanya, repot."


"Oh iya iya," Bastian terkekeh.


***


Bandara Soekarno hatta.


Perempuan memakai high heels 8 cm, sambil menyeret kopernya, berjalan di tengah-tengah kerumunan orang b di bandara. Rambut panjangnya di biarkan twrgerai, dengan lipstik merah melapisi bibi seksinya. Langkahnya tegap dengan dagu terangkat, penuh percaya diri. Beberapa orang melirik ke arahnya, fashionnya yang glamour dan elegant menarik perhatian orang-orang."


Begitu sampai di parkiran, sebuah mobil berhenti di depannya. Sopir keluar dari mobil yang membukakan pintu untuknya.


"Silahkan masuk, Nyonya."


"Terima kasih."


Perempuan itu masuk ke dalam mobil sementara Pak Sopir memasukkan koper ke dalam bagasi. Setelah itu melajukan mobil meninggalkan bandara.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2