
"Maaf, gue terlalu bahagia bertemu Rachel, sampai nggak bisa mengendalikan diri," ucap Brandon dengan jujur, "Rachel, ku senang sekali kamu pulang. Kapan kamu kembali ke Indonesia?."
"Baru beberapa hari yang lalu."
"Oh gitu," Brandon mengangguk-angguk.
"Tapi maaf, aku belum banyak mengenal kamu karena sekarang. Aku hilang ingatan."
"Hilang ingatan?." Brandon mengenyitkan alis. "Kenapa hilang ingatan? apa yang sebenarnya terjadi? kamu baik-baik aja kan? apa kamu terluka?."
"Sekarang aku baik-baik aja. Aku hilang ingatan karena kecelakaan lima tahun yang lalu."
"Lima tahun yang lalu," Brandon terkejut sampai tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Jadi selama lima tahun ini kamu tidak ingat apa-apa, tentang aku? kamu tidak ingat apa-apa tentang aku?."
Rachel menggeleng, "Maaf, tapi aku tidak ingat apa-apa."
Brandon menatap sendu Rachel. Bukan karena Rachel tidak mengingatnya, tapi kasihan dengan Rachel. Hilang ingatan ini pasti membuatnya sangat tidak nyaman karena tidak mengenali orang-orang terdekatnya.
"Tidak apa-apa. Aku akan membantu kamu mengembalikan ingatan kamu. Oh ya, aku ... namaku Brandon. Di masa lalu kita pacaran. Sebelum kamu menghilang kita belum putus."
Rendy menyipitkan mata, "Ya itu sudah lima tahun yang lalu, anggap saja kalian sudah putus."
Brandon menggeleng, "Nggak. Aku nggak pernah menganggap putus dengan Rachel. Selama lima tahun ini, aku terus menjaga perasaanku, hanya untuk Rachel, Rachel, kamu tahu? aku terus mencari kamu. kemana-mana. Aku tidak pernah lelah mencari kamu. Hingga akhirnya kita bertemu lagi. Sekarang, aku sangat bersyukur dan senang sekali."
"Wah," Rendy menatap tak percaya Brandon. "Lo nggak bisa main klaim gitu aja dong. Hubungan kalian sudah berakhir lima tahun yang lalu. Anggap saja udah putus. Rachel sudah buka lembaran baru dengan orang baru."
"Orang baru siapa?." Brandon memicingkan mata pada Rendy, "Farel?. Dia yang lo maksud?."
"Iya, gue dukung Farel sama Rachel," Rendy membalas menatap tajam Brandon.
"Udah, udah," Rendy melepas sebelum mereka bertengkar. Apalagi mereka sudah saling melempar tatapan tajam.
Rachel menatap Brandon, begitu juga Brandon yang menatap Rachel.
"Kita butuh bicara, Rachel. Ayo naik mobil ku, nanti aku akan mengantar kamu pulang."
"Nggak bisa, Rachel pergi sama gue. Gue juga yang harus mengantarnya pulang. Kalau lo mau bicara sama Rachel. Gue juga harus ikut."
"Gue mau bicara empat mata sama Rachel. Ini pembicaraan sepasang kekasih."
"Sepasang kekasih apa sih, Setan! Udah gue bilang dari tadi hubungan lo sama Rachel udah berakhir lima tahun yang lalu! kenapa lo terus-terusan memanggil Rachel pacar lo. Lo jangan pengecut dong! memanfaatkan hilang ingatan Rachel buat kepentingan perasaan lo sendiri."
"Gue nggak memanfaatkan Rachel. Gue bicara yang sebenarnya. Kenyataan gue sama Rachel belum putus lima tahun yang lalu."
__ADS_1
"Aaarggg," Rendy mengacak rambutnya dengan kesal, lalu mengalihkan pandangan pada Rachel.
"Rachel putusin cowok ini sekarang juga. Dia bukan cowok yang baik buat lo."
"Jangan ngomporin Rachel! Biarkan Rachel mengambil keputusan nya sendiri."
"Gue nggak ngomporin. Gue juga ngomong kenyataan. Kenyataan kalau lo memang nggak baik buat Rachel," ucap Rendy seolah mengikuti kalimat Brandon saat menyindirnya tadi.
"Memangnya lo siapa nya Rachel sampai ngomong gue ngga baik Rachel. Lo tuh cuman teman, nggak lebih. Harusnya lo tahu batasan lo. Ini urusan pribadi Rachel. Biarkan dia memutuskan keinginannya sendiri. Lo... nggak usah ikut campur!."
"Lama-lama lo nyolot juga ya!." Rendy mengambil ancang-ancang.
"Apa!." Brandon juga tampak tidak mau mengalah dan menantang balik Rendy.
"Rendy, Brandon. Stop please!." Rachel mendorong dada Rendy dan Brandon agar jarak mereka menjauh satu sama lain.
Rachel berdiri di depan Rendy dan menatap pada Brandon.
"Maaf Brandon. Aku dan Rendy bukan teman biasa. Maksudku aku sudah menganggap dia sebagai keluargaku sendiri. Saat aku mengambil keputusan aku akan minta saran Rendy."
Mengingat betapa baiknya Rendy padanya, perhatiannya, kasih sayangnya, Rendy menganggap Rendy orang yang penting dalam hidupnya. Bukan Rendy saja, tapi juga Farel, Dypta dan Bastian.
Rachel memang belum mengingat mereka. Tapi banyaknya bukti yang menunjukkan bahwa dirinya dengan mereka cukup dekat, sudah cukup membuat Rachel mempercayai mereka. Mereka berempat adalah orang yang paling Rachel percayai tidak akan memanfaatkannya atau melakukan hal-hal buruk kepadanya.
"Kapan-kapan kita bisa bertemu dan berbicara."
Brandon baru saja membuka mulut hendak menolak dan ingin berbicara dengan Rachel sekarang juga. Tapi jika dia terlalu memaksa, Rachel pasti tidak nyaman. Brandon harus bersabar. Rachel masih memberi kesempatan saja Brandon bersyukur dan senang.
"Kapanpun kamu siap berbicara dengan ku, akan datang."
"Iya."
Rendy menggenggam tangan Rachel dan mengajaknya naik ke motor.
"Ayo naik!." ucap Rendy setelah Rendy naik motor lebih dulu.
Rachel menatap sekilas pada Brandon dan naik ke motor Rendy.
"Hati-hati," ucap Brandon sambil memegang lengan Rachel agar tidak jatuh.
"Modus banget lu, Rachel nggak selemah itu. Dia bisa sendiri."
"Gue cuman memastikan Rachel baik-baik saja."
Rendy pun melajukan motornya setelah memastikan Rachel aman di boncengannya. Sepanjang perjalanan Rendy terus melirik ke arah spion melihat apakah Brandon mengikuti nya atau tidak. Tapi sekitar 15 menit tidak ada tanda-tanda mobil Brandon. Sepertinya sudah tidak mengikuti mereka lagi.
__ADS_1
"Rachel."
"Hm." Rachel agak mencondongkan tubuhnya ke samping kiri agar mendengar ucapan Rendy lebih jelas.
"Kamu kok sweet banget sih."
"Sweet apa?."
"Kamu pilih aku daripada Brandon, hehee." Rendy tersenyum dan salah tingkah sendiri.
"Karena kamu memang baik, dan aku sudah menganggap kamu sebagai keluarga ku sendiri."
"Keluarga sendiri maksudnya gimana kepala keluarga gitu?."
"Mulai deh gombalnya."
Rendy tertawa, "Peluk gue dong Hel, mumpung lo belum nikah sama Farel. Sekarang kan status lo masih jomblo. Lo bebas melakukan apapun yang lo inginkan. Soal Brandon tadi, dia ngaku-ngaku aja jadi pacar lo. Peluk gue sebagai abang lo."
Rachel berdecih, "Modus."
"Beneran nggak mau peluk nih? Ayo dong."
"Nggak mau ih, geli tau Ren."
Rendy tertawa.
Saat mereka sedang motoran, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju di samping motor Rendy. Rendy mengenali pemilik mobil itu. Begitu kaca mobil di buka, benar saja seperti dugaan Rendy. Farel, dia tampak memicingkan mata dari dalam mobil.
"Ren, tepiin moge lo dong. Rachel masuk mobil gue aja, panas. Nanti calon istri gue kena debu."
Rendy tertawa, "Alasan, bilang aja lo cemburu gue deket-deket sama Rachel."
Rachel menoleh dan memperhatikan Farel, lalu sebuah ide cerita dalam kepalanya.
"Ren, tadi lo minta pelukan. Gue peluk deh," Rachel tiba-tiba melungkarkan tangan di perutnya dan menyandarkan dagu di pundaknya.
"Waduh, jadi deg deg an nih," Rendy tertawa. "Oke, gas kita keliling dunia."
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1