Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 74


__ADS_3

"Masuk aja, nggak di kunci."


Rachel pun membuka pintu. Melongokkan kepala untuk melihat posisi Farel. Ternyata sedang duduk di ranjang bersandarkan dua bantal.


Rachel membiarkan pintu terbuka, berjalan mendekat dan duduk di samping Farel.


"Tadi udah tidur?." tanya Rachel sambil mengeluarkan butir-butir obat dan meletakkan di tangan Farel.


"Belum, belum bisa tidur juga."


Setelah semua pil sudah ada di tangan Farel. Rachel membantu Farel minum dengan mengarahkan gelas ke bibir Farel. Kemudian Farel meneguk empat obat itu bersamaan. Rachel membantunya minum lagi.


"Oh ya tunggu sebentar."


Rachel meletakkan gelas di nakas samping ranjang Farel lalu bergegas meninggalkan kamar.


"Ya, Rachel kenapa?." Heran Farel. Padahal Farel masih ingin menemani Rachel di sini tapi entah kenapa tiba-tiba Rachel pergi.


Namun tak lama Rachel kembali lagi dan tampak ngos-ngosan di ambang pintu.


"Tadaa." Rachel tersenyum sembari mengangkat dua pisang. "Gue inget waktu kecil setiap lo selesai minum obat, lo pasti cari pisang."


Rachel duduk lagi di samping Farel, memberikan salah satu pisang dan meletakkan yang satu nya di nakas. Dulu saat mereka kecil setiap Farel sakit, Rachel pasti selalu menjenguk. Rachel juga melihat betapa susahnya Farel minum obat. Setiap satu pil yang tertelan, Farel harus makan pisang dulu.


"Sekarang gue udah bisa minum obat tanpa pisang. Tapi thanks, lo udah bawain pisang ini sampai lari-lari gitu. Dan thanks juga lo masih ingat hal-hal kecil yang gue sukai."


"Mungkin saking lamanya kita berteman, gue jadi hafal kebiasaan lo, hal-hal yang lo sukai atau hal-hal yang nggak lo sukai. Gue bakal hafal golongan darah lo, tanggal lahir lo, merk sikat gigi lo, ukuran sepatu lo dan masih banyak lagi. Mungkin gue lebih mengenal lo daripada diri lo sendiri."


Rachel tertawa. Sementara Farel hanya diam dengan pandangan mata menatap lekat Rachel.

__ADS_1


"Bukan cuma lo doang. Gue juga tau segala hal tentang lo. Tanggal lahir lo, golongan darah, ukuran sepatu bahkan ukuran bra lo gue tau."


"Kok lo tau?." Rachel melotot.


Farel tertawa, "Kan gue pernah liat."


Rachel semakin melotot lebar.


"Ma-maksud gue waktu lipat-lipar baju lo, gue nggak sengaja lihat ukuran bra lo. Jangan nething gitu dong. Gue nggak mungkin diam-diam pegang itu lio waktu lo tidur."


Rachel berdecih, "Gue juga tau ukuran ****** lo. Gue pernah beliin buat lo bareng Tante Sarah."


Farel tertawa lagi, begitu juga Rachel yang ikut tertawa. Lalu perlahan tawa Rachel berhenti begitu menyadari tatapan intens Farel.


"Ada apa? kenapa menatap gue begitu?."


Rachel diam dan mendengarkan baik-baik kata demi kata Farel.


"Sekarang gue tanya, gimana perasaan gue sekarang?."


"Perasaan gimana maksudnya?." tanya Rachel bingung.


"Perasaan gue ke lo. Menurut lo, apa selama ini gue terlalu nyaman dengan hubungan persahabatan kita sampai gue nggak menyadari perasaan gue. Maksud gue perasaan cinta. Cinta sebagai seorang laki-laki dan perempuan dewasa. Rasa marah, kesal, jengkel, setiap lo deket sama cowok lain. Apa itu normal? Apa seorang sahabat juga merasakan perasaan seperti ini? Apa wajar sahabat cowok marah melihat sahabatnya dekat dengan laki-lali lain? Gue bingung Rachel. Gue takut gue salah."


Farel meraih tangan Rachel dan menggenggam erat. Menatap lekat dalam-dalam. Rachel bisa melihatnya. Melihat kekhawatiran, kegelisahan dan kebingungan di maya Farel.


Rachel tidak tahu harus menjawab apa. Kalimatnya saat mengatakan dia memahami perasaan Farel hanya candaan mata. Rachel tidak pernah benar-benar tahu bagaimana perasaan Farel. Jika Rachel tahu selama ini Farel mencintainya, Rachel akan melarang Farel jadian dengan Luna sejak awal. Lalu meminta Farel jadian dengannya. Sehingga tidak ada yang tersakiti dan terluka.


"Lo juga mirip sama Mama." ucap Farel. "Gue rasa kemiripan lo sama Mama lebih banyak daripada Luna."

__ADS_1


"Farel." Rachel menggenggam tangan Farel dan menatap teduh.


"Gue mengerti lo sangat menyanyangi Tante Sarah. Tante Sarah memang sebaik dan sehebat itu. Beliau adalah figur perempuan yang sempurna. Kesabaran nya, kasih sayang nya, pengertian nya dan segala hal tentang beliau sangat mengagumkan. Sangat wajar lo ingin mencari sosok perempuan seperti Tante Sarah. Tapi bukan berarti lo harus menyamakan perempuan yang lo cintai dangan Mama lo."


"Itu bukan cinta, tapi obsesi. Misalkan untuk sekarang sifat Tante Sarah ada pada gue. Lalu kita pacaran. Setelah itu tiba-tiba lo menemukan satu dua sifat gue yang bertentangan dengan Tante Sarah, lo pasti kecewa."


"Lo juga kecewa dengan ekspetasi lo sendiri yang akan berujung kecewa pada pasangan lo. Terus suatu hari tiba-tiba lo bertemu dengan perempuan yang sifatnya lebih mirio dengan Tante Sarah. Lo akan terobsesi lagi."


"Lo akan mengatakan jatuh cinta pada perempuan itu dan ingin memilikinya. Begitu terus dan tidak akan ada habisnya selama obsesi itu masih ada di hati lo. Lo nggak akan pernah puas dengan satu perempuan."


Farel terdiam, memikirkan kembali kata-kata demi kata Rachel dalam kepala. Tidak ada sangkalan, karena semua kalimat Rachel memang benar adanya. Dan bodohnya Farel baru menyadari sekarang. Mungkin jika Rachel tidak memberitahu nya Farel tidak akan sadar. Farel akan terus mencari sosok perempuan seperti Mama-nya.


"Tidak ada manusia yang sempurna, Farel. Semua orang pasti memiliki satu dua kekurangan. Tante Sarah juga memiliki kekurangan. Tapi kasih sayang lo menutupi kekurangan Tante Sarah sehingga di mata lo Tante Sarah begitu sempurna. Cintalah yang menyempurnakan kekurangan pasangan kita Farel."


"Astaga, apa gue terlalu banyak omong?." Rachel tertawa pelan, "Sorry gue nggak bermaksud sok tahu atau bagaimana karena gue sendiri juga belum pernah menjalin hubungan. Tapi sepemaham gue, begitu konsep cinta."


Farel menganguk, "Thanks lo udah ngomong gini sama gue, setidaknya gue lebih sadar. Tapi lo belum jawab pertanyaan gue. Pertanyaan yang tadi, menurut lo. Apa selama ini gue mencintai lo tapi gue belum menyadari itu karena gue terlalu nyaman dengan persahabatan kita?."


Menatap lekat mata Farel, Rachel mengangkat tangan dan meletakkan di dada Farel."


"Lo pemilik hati lo. lo yang lebih tahu tentang perasaan lo. Meskipun gue bilang gue memahami perasaan lo. Nggak ada yang bisa mengerti dalam nya perasaan kecuali diri lo sendiri. Kalau lo memang mencintai gue, gue mau lo mengatakan itu dengan tegas tanpa keraguan. Tapi rasanya sekarang sudah terlambat. Lo sudah memilih Luna. Bahkan Luna sudah berharap hubungan kalian langgeng sampai pernikahan nanti."


"Rachel," Farel meletakkan tangan di punggung tangan Rachel yang masih menempel di dadanya.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2