Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Menjauh


__ADS_3

Tok .... Tok... Tok


Rachel mengerjab, menutup buku diary dan memasukkan nya ke dalam laci. Lalu mengusap air mata nya dengan cepat.


"Iyah ma."


"Mama baru pulang dari mall, terus tadi bibi bilang kamu pulang. Tumben bukan wekeend gini kamu pulang. Ada apa sayang? Mama boleh masuk?."


Rachel menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan lalu menarik bibir nya membentuk senyuman manis. Apapun masalahnya, sesedih apapun hatinya, Rachel tidak pernah menunjukkan pada mamahnya. Rachel tidak ingin mamahnya khawatir.


"Sayang?" panggil Ayuma, mamahnya sekali lagi.


"Iyah, Ma. Masuk aja, gak di kunci kok. Ini aku lagi nonton drakor marathon jadi ga kedengeran suara mamah."


Rachel segera mengeluarkan handphone dan earphonenya, lalu mencari drama korea yang sudah dia download. Saat Rachel menunduk menatap layar ponsel, pintu terbuka.


"Sayang." Ayuma duduk di tepi kasur mengusap punggung putrinya, Rachel tetap menunduk, pandangan matanya mulai mengabur. Berulang kali dalam hatinya berusaha tidak menangis. Tapi entah kenapa rasanya sesak sekali, rasanya Rachel ingin berbagi rasa sakit ini pada mamahnya.


"Honey, kamu baik-baik saja kan?"


Saat itu bahunya terguncang, bergetar dan tetes demi tetes membasahi ponsel.


Ayuma mencelos melihat putri nya menangis.


"Sayang, Ada apa? "


"Mama, hiks" Rachel mendongak, sekilas menatap mamahnya. Setiap hari Rachel selalu ceria, seolah dia manusia bahagia dan tidak ada beban. Tapi melihat putri nya seperti ini, Ayuma jadi khawatir. Namun di sisi lain, Ayuma senang Rachel meu menunjukkan kesedihan nya padanya. Karena biasanya saat Ayuma bertanya, Rachel selalu menjawab tidak apa-apa sambil tersenyum.


Beberapa menit Ayuma hanya diam san memeluk putrinya, menepuk- nepuk lembut punggung putrinya untuk menenangkannya. Setelah putrinya merasa lebih tenang dan tangisan nya mulai mereda. Baru Ayuma mengajak nya bicara lagi.


"Aku capek mah."


"Capek kenapa ? Capek kuliah?."


"Bukan Mah,"


"Terus apa sayang?"


Rachel melepaskan pelukannya dan menatap sendu mamahnya.


"Aku ngga mau pindah kampus, aku sudah nyaman kuliah di sini. Hanya saja..."


Tok... Tok...


Baru saja Rachel hendak bercerita tapi tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk.


"Iya? ucap Ayuma.

__ADS_1


"Maaf bu, Ada Den Faren sama Non Luna. Katanya ingin bertemu dengan Non Rachel."


"Aku ngga mau ketemu mereka."


Rachel naik ke atas ranjang dan menarik selimut menutupi kepalanya. Rachel tidak ingin bertemu dengan mereka, dengan matanya yang sembab dan wajah sendu seperti ini.


Hati nya pun masih marah dan kecewa, emosi nya juga belum stabil. Berbicara sekarang akan membuat situasi lebih rumit. Rachel takut mengucapkan sesuatu yang salah dan berdampak negatif untuk masa depan mereka semua.


Ini soal persahabatan. Rachel tidak ingin persahabatan nya hancur hanya karena soal ini.


"Tolong ma, bilang sama Farel dan Luna, aku lelah dan ketiduran dan jangan sampai mereka masuk kamarku."


Sekarang Ayuma mengerti masalah inti putrinya. Ternyata bukan tentang kuliah tapi tentang pertemanannya. Tidak seperti biasa Rachel menolak bertemu dengan Farel dan Luna, biasanya Racel paling semangat untuk bertemu Farel.


"Ya udah, kamu istirahat dan tenangkan diri kamu dulu yah."


Ayuma menunduk dan mencium selimut di bagian kepala putrinya.


Rachel beruntung mendapat begitu besar kasih sayang dari mamah nya. Mamahnya selalu ada saat dirinya membutuhkan. Papahnya juga selalu baik, tapi sayang sering keluar kota atau keluar negeri mengurus bisnis sehingga jarang pulang.


"Mama menyayangimu."


"Aku juga menyanyangi mama. Terima kasih mah"


"Sama - sama sayang."


"Tante." Sapa Farel menyadari kedatangan Ayuma.


"Farel, Luna" sapa Ayuma dengan senyuman ramah. Luna pun membalas dengan senyuman ramah.


"Rachel ada di rumah kan Tante? Aku May ketemu Rachel!" ucap Farel.


"Iya, Rachel ada di kamarnya. Tapi dia sedang tidur katanya dia lelah."


Saat itu bahu Farel merosot, rasa bersalah kembali menyeluruh hatinya. Begitu juga Luna yang tampak sendu dan merasa bersalah.


"Ya sudah Tante, aku akan menunggu Rachel sampai bangun di sini" ucap Farel penuh tekad.


Farel tidak ingin masalah ini lerlarut-larut dan Rachel menjauhinya. Apalagi sebelumnya Rachel tidak pernah merajuk, untuk pertama kalinya Rachel pergi tanpa pamit. Kejadian tadi pasti begitu melukai hati Rachel.


Rasanya Farel ingin menonjok dirinya atas pembalasan karena keteledorannya tadi.


"Aku juga akan menunggu nya di sini, Tante" ucap Luna.


"Sebenarnya apa yang terjadi?, Saya ingin tahu!". tanya Ayuma.


Farel mwnghela nafas berat dan menceritakan apa yang terjadi tadi.

__ADS_1


"Sebetulnya di sini saya yang bersalah. Saya terlalu senang ingin meranyakan kemenangan bersama Luna dan tim basket sampai melupakan Rachel. Saya benar-benar ingin bertemu Rachel dan meminta maaf. Sungguh saya tidak bermaksud meninggalkan Rachel, saya benar-benar lupa."


Ayuma mengangguk-angguk. Pantas putrinya kecewa, ini bukan tentang perasaannya tapi tentang kekecewaan seseorang yang tak di anggap oleh teman lainnya.


Namun Ayuma tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Farel dan Luna. Mereka sepasang anak muda yang sedang jatuh cinta. Seolah dunia seperti milik berdua.


Satu-satunya cara agar Rachel tidak lagi sakit hati, bukan menyuruh Farel dan Luna berpisah tapi Rachel yang harus menjauh.


"Tante." panggil Farel karena melihat Ayuma hanya diam saja.


"Sebaiknya kalian pulang saja, berikan waktu Rachel untuk sendiri."


"Tapi saya tidak ingin pulang tante, saya ingin bicara dulu dengan Rachel. Saya ingin meminta maaf."


"Besok masih ada hari Farel, meminta maaf lah besok. Sekarang Rachel ingin sendiri dulu. Mengerti dan jangan memaksa kehendak kamu sendiri. Sekarang Rachel masih sedih, itu wajar karena siapa yang tidak sakit hati tidak di anggap oleh temannya sendiri. Tapi kalian tahu kan sifat Rachel seperti apa?, Dia bukan orang pendendam dan juga tidak pernah berlarut-larut dalam masalah. Besok atau Lusa saat kalian bertemu dengan Rachel, dia pasti akan senyum ceria biasanya. Jadi sekarang pulanglah dan rayakan kemenangan tim basket kamu bersama Luna dan teman-temanmu, Farel. Berbahagialah, Rachel akan berbahagia melihat kamu dan Luna bahagia."


Farel mencelos, ucapan Ayuma seperti sindiran tajam yang menusuk hatinya.


"Iya Tante, tapi saya .."


"Farel." Luna menepuk pelan pundak Farel, "Sudah, lebih baik kita pulang dulu, biarkan Rachel sendiri dulu, besok kita temui Rachel lagi."


"Ngga bisa, aku ngga mau pergi. Tidak masalah Rachel tidak mau bertemu denganku, tapi aku akan tetap di sini. Setidaknya dia tahu aku tidak pernah meninggalkannya."


Luna terdiam dan dia memandangi lekat wajah Farel. Dari wajah sendu dan soror mata khawatirnya Farel, seolah ia ketakuan Rachel akan menjauhinya.


Luna juga takut Rachel menjauh, tapi Luna masih biasa saja. Sedangkan Farel, Farel seolah takut kehilangan Rachel seperti takut kehilangan semesta nya.


Ada di satu titik kadang Luna merasa Farel mencintai Rachel. Tapi setiap bertanya Farel selalu menjauh dia hanya menganggap Rachel adalah teman. Satu-satu nya perempuan yang Farel cintai adalah dirinya.


Mungkin karena dia terlalu dekat dengan Rachel karena itu Farel bergantung kepada Rachel.


"Farel tolong pergi, kalau kamu tidak mau pergi sekarang juga. Saya tidak akan pernah mengizinkan kamu bertemu dengan putri saya lagi."


"Farel, Ayo pulang!" Luna mencengkram lembut lengan Farel dan menariknya.


"Baik Tante, saya akan pulang. Tapi besok saya akan kembali lagi."


Dengan berat hati Farel mengikuti Luna keluar dari rumah Rachel.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2