Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 55


__ADS_3

"Apartement? Really, Rachel? Lo mau bawa laki-laki yang baru lo kenal ke apartement lo?."


"Gue dan Brandon udah saling kenal lama."


"Lama kapan sih? Gue yakin lo pertama Brandon saat pertandingan Basket di stadion waktu itu terus Brandon mengantar lo pulang? Itu tanda kalian belum lama mengenal. Lo nggak bisa membawa laki-laku sembarangan ke dalam apartement lo."


"Sorry," Brandon menyeletuk, "Lo ngomong gitu seolah gue brengsek sekali dan ingin menyakiti Rachel dan gue juga tau batasan."


"Mulut lo boleh berkata begitu, tapi isi kepala siapa yang tau."


"Tau apa li tentang gue sampai lo seenaknya menyimpulkan."


Farel baru saja ingin menjawab tapi Luna menahan lengannya.


"Babe, calon down. Brandon hanya ingin mengantar Rachel bukan menginao. Kenapa kamu seheboh itu, Rachel sudah dewasa dan dia tahu apa yang dia lakukan. Berikan mereka waktu, kalau kamu terus protektif gini gimana Rachel mau punya pacar."


Mendengar kalimat 'Rachel punya pacar' saja rasanya darah Farel mendidih. Farel benar-benar tidak rela Rachel dekat dengan laki-laki lain.


"Kita tinggalkan mereka saja. Kamu juga masih ada kelas kan siang kan, ayo."


Luna menggebggam tangan Farel dan menariknya menjauh tapi Farel enggan bergerak, justru menatap lekat Rachel.


Melihat bagaimana tatapan mata Farel tidak di pungkiri Luna merasa cemburu, Luna mencoba berpikir positif bahwa kepritektifan Farel hanya sebatas sahabat. Sudah sewajarnya sebagai sahabat Farel mengkhawatirkan Rachel.


"Jangan di suruh masuk," pinta Farel dengan nada khawatir. "Tolong dengerin gue."


Rachel menganguk.


Dengan berat hati Farel berbalik badan. Luna melempar senyum sekilas pada Rachel lalu mengeratkan genggaman tangannya pada Farel. Kemudian mereka sama-sama menjauh dengan pandangan mata Rachel masih mengikuti mereka.


"Rachel."


Mendengar panggilan dan tepukan di bahu, Rachel mengerjablan matanya.


"Iya."


"Jadi pulang kan?."


Rachel menganguk.


Brandon mengambil helm bagi dan memakaikan di kepala Rachel. Kemudian dia sendiri lanjut memakai helm full face sembari memperhatikan Rachel yang terlihat kesusahan mengaitkan tali.


"Sini gue bantu yah!, permisi ya." Brandon anak menunduk dan mengaitkan tali helm Rachel.


"Terima kasih."

__ADS_1


"Sama-sama."


Brandon pun naik ke motor sport nya, lalu mengulurkan lengan, Rachel pun memegang lengan atas Brandon dan naik ke motor gede ini. Entah kenapa cowok-cowok suka mengendarai motor besar seperti ini. Geng Farel juga, kadang mereka gunakan untuk touring. Mungkin motor seperti jnimembuat mereka terlihat lebih keren. Padahal kalau dari segi kenyamanan Rachel lebih suka mengendarai motor sejenis motor scoopy.


"Tas nya taruh di depan saja."


"Hah?."


Brandon tersenyum mendengar suara "Hah" Rachel. Entah antara Brandon yang buncin atau bagaimana, tapi yang jelas suara itu terdengar imut.


"Tas lo di taruh di depan badan lo aja, biar nanti kalau gue ngerem mendadak lo ngga nabrak punggung gue." ucap Brandon agak keras.


"Oh oke, oke."


Rachel memindahkan ranselnya di depan badannya.


"Oh yah soal omongan Farel tadi, lo jangan masukin ke hati yah, dia emang rada suka nething gitu."


Brandon menganguk, "Jadi di mata lo gue nggak brengsek kan?."


"Belum tahu, kan baru kenal."


"Untuk sekarang?."


Brandon mengulas senyum, lalu melajukan motor meninggalkan parkiran kampus Rachel.


***


"Ya udah kamu semangat yah kuliah nya!. Ga papa kan kalau aku pulang? Ngga mungkin kan kalau aku nungguin kamu kuliah sampai kamu 2 lebih."


Farel menganguk,


Luna mengulurkan tangan dan menata rambut Farel yang agak berantakan. Dari sudut mata, Luna bisa melihat banyak pasang mata tertuju pada mereka, bahkan ada yang diam-diam merekam.


Selasa senyum terukir di bibir tipis Luna. Senang banyak mengenali nya. Dimana pun dia berada selalu menjadi pusat perhatian. Di tambah lagi dia menjadi kekasih Farel yang cukup terkenal di kampusnya. Selain menjadi anggota basket, Farel juga aktif di organisasi BEM.


Ah, Luna merasa benar-benar beruntung.


"Kamu langsung pulang? atau ada kegiatan lain?." tanya Farel.


"Rencana nya aku mau ketemu sama cantik series aku. Kayaknya lusa aku mulai syuting."


"Ya udah hati-hati."


Luna menganguk, "Mau peluk cium dulu ngga biar semangat kuliahnya."

__ADS_1


Farel tersenyum dan menggeleng.


"Nggak usah, di sana banyak orang."


"Oh jadi mau nya di tempat sepi, nakal banget pacar aku." Luna mencubit pipi Farel dengan gemas.


Harusnya sekarang menjadi ajang untuk memamerkan dan membangga-banggakan Luna sebagai kekasihnya, mengatakan pada mereka semua bahwa setelah sekian lama akhirnya dia bisa memiliki Luna, tapi entah kenapa Farel malas bicara. Farel hanya membalas singkat pertanyaan mereka.


Namun ada satu pertanyaan yang membuat nya jengkel.


"Serius lo jadian sama Luna? gue pikir lo diam-diam pacaran sama Rachel." Angga teman sekelas nya Farel yang juga teman seorganisasinya yang menjabat sebagai seorang presiden mahasiswa dan duduk di samping nya ikut-ikutan kepo. Padahal biasanya Angga tidak suka berbicara masalah percintaan seperti ini.


"Berarti Rachel sekarang beneran single?, Sebenernya gue dari dulu tertarik sama sahabat lo itu. Tapi karena gue pikir lo pacaran, sebagai teman gue menghargai lo dan nggak mendekati Rachel. Tapi ternyata kalian benar-benar hanya teman."


"Pasti banyak yang terkejut sama kayak gue saat lo mengumumkan pacaran sama Luna. Bukan terkejut karena lo bisa dapetin Luna, tapi terkejut karena hubungan lo sama Rachel hanya sebatas teman. Btw, thanks yah atas kejelasan lo, sekarang gue bisa bergerak."


Seketika Farel memicingkan mata menatap Angga.


"Lo ngga tahu aja Rachel itu sudah menikah dan punya anak."


Angga terkekeh, "Gue lebih percaya bumi bentuknya segitiga dari pada Rachel menikah dan punya anak."


"Sialan lo."


"Gue jamin setelah ini, cowok-cowok yang selama ini diam-diam menganggumi Rachel akan mulai bermunculan. Lo nggak akan menyangka sahabat yang lo anggap biasa saja banyak yang mengincar."


Farel mengepalkan tangan,


"Kenapa? kok muka lo merah gitu? marah atau cemburu?."


"Cemburu ? kenapa juga gue cemburu. Gue hanya menganggap Rachel itu sahabat gue. Jadi gue mau yang terbaik untuk Rachel. Dan menurut gue lo nggak cocok buat Rachel."


"Yang berhak menentukan itu hanya Rachel, lo bukan orang tua atau saudara. Lo itu cuman sahabatnya."


Farel baru saja ingin membuka mulut, membantah ucapan Angga. Tapi apa yang ingin dia bantah? semua yang Angga katakan benar. Dia hanya seorang sahabat tidak seharusnya ia mencampuri urusan pribadinya, kecuali Rachel meminta pendapat nya.


Tapi berat, berat sekali membiasakan diri tanpa Rachel dan tidak ikut terlibat dalam urusan Rachel. Tanpa sadar mereka membutuhkan satu sama lain, saling terikat tanpa ada perjanjian.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2