Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 53


__ADS_3

"Non Rachel kenapa menangis?."


Rachel mengerjab, "Enggak kok Bi, ga papa. Terima kasih ya. Aku yang memesan makanan inu. Oh yah Bi, tadi aku masak nasi goreng tapi mendadak aku tidak nafsu makan. Jika Bibi tidak keberatan, bibi mau ngga menghabiskan nasi gorengnya?."


"Oh yang di meja itu ya, Non?."


"Iya Bi."


"Saya mau lah menghabiskan nasi goreng buatan Non Rachel. Soalnya nasi goreng buatan Non yang paling juara."


Rachel tersenyum. "Terima kasih Bi."


"Sama-sama, Non Cantik."


"Oh yah, Bi. Kalau Bibi mendengar pertengkaran ku dengan Papa tadi. Tolong jangan ceritakan pada Mama ya, aku ngga mau mama khawatir dan sedih."


"Iya, Non."


"Ya udah aku masuk ke dalam dulu ya, Bi. Terima kasih."


"Bi Siwi menganguk dan berlalu. Rachel pun masuk ke dalam kamar dan menguncinya lagi."


"Aku mau makam sampai kekenyangan dan ketiduran."


Rachel mengeluarkan dimsum dan fried chicken, lalu makan dengan lahap dengan mata berkaca-kaca.


Rachel tidak tahu kenapa Farel mengirimkan makanan ini. Tapi Tachel mengucapkan terima kasih, dengan makanan inu setidaknya Rachel bisa melampiaskan kesedihan hatinya tanpa melukai fisik.


***


Pagi hari.


"Mama."


"Hsi Sayang. Nyenyak banget tidurnya, tumben jam segini baru bangun. Atau semalam begadang nonton drakor terus nangis-nangis sampai nata kamu sembab kayak gitu."


Ayuma yang duduk di kursi makan tersenyum pada putrinya, mengusap lembut lengannya lalu menarik hingga terduduk di kursi samping.


"Iya Ma. Semalam aku begadang."

__ADS_1


Sebelum keluar dari kamar, Rachel sudah membasuh wajah di wastafel kamar mandi berharap matanya yang bengkak gara-gara menangis semalam bisa sedikit berkurang. Tapi ternyata Mama nya masih menyadari itu tapi syukurlah Mama nya berpikir tangis ini gara-gara marathon drakor.


"Oh yah Mama sudah tahu Opa ada di sini? semalam tiba-tiba penyakit jantung Opa kambuh terus Papa membawa nya ke kamar untuk beristirahat."


"Mama sudah tahu. Bu Siwi yang memberitahu Mama. Baru aja tadi Opa pamit pulang di jemput perawat pribadinya. Mama juga ingin ikut mengantar pulang tapi Opa kamu melarang. Kamu tahu sendiri kan betapa mandiringa Opa kamu. Beliau tidak pernah ingin menyusahkan orang lain."


Rachel merutuk pada diriny sendiri karena bangun kesiangan. Seandainya bangun lebih awal pasti bisa bertemu Opa.


"Ga papa nanti kita ke rumah Opa, siang atau sore aja seperti biasa juga kalau Opa kamu sedang sakit pasti tidak ingin langsung di jenguk setidaknya sampai kondisi nya lebih baik."


"Iya, Ma."


Ayuma mengusap rambut putrinya dengan sayang.


"Ya udah sekarang kita sarapan. Roti sama selai, tapi kalau kamu mau nasi goreng atau sandwich akan Mama buatkan."


"Ngga, Ma. Ini aja. Oh yah papa ngga ikut sarapan sama kita?."


"Seperti biasa, Papa kamu sudah berangkat ke kantor." Ayuma tersenyum tapi di balik senyuman itu pasti ada banyak luka yang tersimpan.


Karena itu Rachel tidak ingin menambah beban Mama nya. Beginilah kehidupan Rachel si anak Konglomerat yang kehidupan nya di idam-idamkan banyak orang. Mereka berpikir hidup Rachel sangat bahagia, apapun yang dia inginkan pasti bisa dia dapatkan, tapi tidak ada yang tahu hampir setiap malam Rachel menangis, menangis keluarganya yang tidak akur.


Rachel mencoba bersyukur dan mengambil sisi positif dalam hidupnya.


"Ini." Ayuma meletakkan roti yang sudah di olesi selai nutella ke piring putrinya


"Terima kasih, Ma."


Ayuma menganguk dan lanjut makan lagi.


"Oh ya, soal Farel dan Luna apa benar mereka sudah jadian?."


Gerakan tangan Rachel yang mengarahkan roti ke mulutnya tertahan sesaat, kemudian menggigit sedikit dan mengunyah dan menelan. Setidaknya segigit roti ini bisa memberikan sedikit tenaga untuk menjawab pertanyaan Mama nya dan pura-pura bahagia.


"Iya, Ma. Baru saja kemarin mereka jadian."


Ayuma menoleh dan menatap putrinya dari samping. Mengamati lamat-lamat wajahnya tang tampak sendu.


Ayuma tahu betapa cinta Rachel pada Farel. Mulai dari cinta monyet dari zaman anak-anak sampai dewasa sekarang. Dulu sepulang sekolah, Rachel selalu bercerita apapun tentang Farel. Apa yang Farel lakukan, apa yang Farel makan, kejahilan Farel dan segalanya tentang Farel.

__ADS_1


Cintanya begitu besar dan tidak lengkap oleh waktu. Tapi sayang sekali cintanya harus bertepuk sebelah tangan.


Jika di pikir-pikir lagi, kisah cinta putrinya sama seperti kisah cintanya. Mencintai dengan tulus, mengorbankan banyak waktu dan banyak hal, tapi pada akhirnya laki-laki itu hanya memilih perempuan lain.


Ayuma sudah terlalu hancur sampai rasanya tidak ingin mengenal laki-laki lain dalam hidupnya. Namun Ayuma berdoa semoga Rachel tidak hancur sehancur dirinya dan masih busa membuka hati untuk laki-laki lain.


Ayuma berharap suatu hari nanti Rachel bertemu dengan laki-laki yang mencintainya dengan tulus dan selalu menjadikannya prioritas.


"Jangan menatapku begitu, Ma. Seolah aku terlihat sangat menyedihkan. Aku hanya patah hari bukanywrkena penyakit kronis yang besok aku di vonis mati. Aku masih bisa menghirup oksigen, masih bisa makan dengan baik aku juga masih bisa berbicara dengan Mama. Jadi aku akan selalu baik-baik saja."


Rachel benci terlihat menyedihkan di depan orang lain. Rachel tidak suka membagi kesedihanya dan membuat orang lain ikut bersedih. Meskipun keadaan hatinya begitu kacau, Rachel ingin kehadirannya membawa kebahagiaan.


"Iya, Mama tahu putri Mama sangat hebat."


Ayuma meletakkan tangan di punggung tangan putrinya dan meremas nya lembut.


"Ayo makan lagi."


"Iya Ma."


***


Pukul 13.20 Rachel selesai mengikuti perkuliahan. Tidak ada jadwal kuliah lagi. Rachel pun memutuskan untuk pulang ke apartement saja yang lebih dekat.


Mama sudah mengabari sekitar pukul 16.00 nanti, mereka akan menjenguk Opa. Karena masih lama, Rachel memanfaatkan waktu untuk tidur siang. Sekarang dia benar-benaf mengantuk, mungkin efek begadang tadi malam. Apalagi tadi setelah sarapan Rachel langsung kuliah pukul 08.00 sampai siang ini.


Sekarang Rachel ada di halaman kampus, menggeser-geser layar ponsel ingin memesan gojek. Karena tadi pagi dia tidak mood mengendarai mobil, Rachel memutuskan untuk memakai jasa gojek. Sekarang pun Rachel pulang menggunakan kendaraan online lagi.


"Rachel."


"Eh. Brandon."


Pemuda tinggi dan berwajah tampan ini sembari tersenyum. Kehadiran si kapten Basket kampus sebelah ini sontak menarik perhatian beberapa mahasiswa yang ada di halaman kampus Rachel. Mencuri-curi pandang dan bertanya- tanya apa yang sedang dilakukan di sini. Begitu juga Rachel yang penasaran kenapa Brandon di sini ada di sini.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2