Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 124


__ADS_3

Rachel yang malu-malu, yang pipinya merona, salah tingkah, Farel menyukainya.


"Lo juga masih mencintai gue kan? Perasaan lo selama 13 tahun nggak mungkin berubah dalam waktu beberapa minggu. Brandon... Lo bersama nya karena lo merasa dia sudah banyak membantu lo, lo takut menyakiti dan mengecewakan dia kan? lalu gimana dengan perasaan lo sendiri? sampai kapan lo menyiksa diri lo sendiri."


"Gue ngomong kayak gini bukan karena gue berharap lo segera putus sama Brandin dan gue bisa mikirin lo sepenuhnya. Gue bicara tentang perasaan lo. Cukup lo nyiksa diri lo sendiri."


"Nyiksa? Rachel menoleh pada Farel.


"Gue nggak pernah tersiksa bersama Brandon. Dia baik, dia selalu memprioritaskan gue, dia selalu ada buat gue, dia juga berjanji nggak akan pernah ninggalin gue. Sampai detik ini setiap dia berjanji dia nggak pernah ingkar. Nggak ada alasan buat gue ninggalin dia."


Rachel sudah jujur pada Brandon tentang perasaannya, tentang cintanya pada Farel. Jadi Brandon sudah tahu selama ini Rachel mencintai Farel dan Brandon tetap ingin melanjutkan hubungan ini. Brandon bahkan bertekad ingin membuatnya jatuh cinta.


'Seandainya Rachel tidak bisa Mencintainya, Brandon mengatakan tidak masalah, dia akan mundur. Tapi tetap Rachel merasa tidak enak jika harus mengakhiri hubungan mereka sekarang.


"Dan soal perasaan gue sama lo...Gue udah nggak cinta sama lo."


Rachel melepas sarung tangan plastik dan berdiri dengan tergesa-gesa.


"Gue mau ke kampus. Mau ke perpustakaan mencarut referensi buat tugas gue.c


Mencangklong totebag di pundak kiri, kakinya bergegas menuju ke pintu. Namun baru saja pintu terbuka sedikit, ada tangan kekar terulur di samping kepala dan mendorong pintu hingga tertutup rapat.


Rachel refleks berbalik badan dan terkejut jarak tubuhnya dengan tubuh Farel begitu dekat. Satu tangan Farel masih tersimpan di samping kepalanya.


"Farel."


"Lo nggak cinta sama gue?."


"Ng-nggak!." Rachel menatap sekilas mata Farel lalu memalingkan wajah dan mendorong dada bidang itu menjauh. "Minggir deh, gue mau balik. Gue-." Rachel membulatkan mata saat tiba-tiba Farel menunduk dan mencium hidungnga.


"Gue inget waktu SD, waktu pementasan Snow White, harusnya lo cium dahi gue, tapi gara-gara lo ke sandung lo cium hidung gue. Atau lo sengaja mau cium hidung gue."


"NGGAK." Protes Rachel kini menatap tepat bola mata Farel yang sukses membuat Farel menyeringai. Tujuannya menjahilu Rachel agar Rachel mau menatap matanya berhasil. Farel suka menatap mata cantik ini.


Rachel mendorong dada Farel untuk memberi ruang tubuh mereka, karena Farel menekan tubuhnya ke tembok. Tapi Farel kekeh tidak mau mundur, Rachel mencengkram kuat kaos marunnya sembari melotot.


"Itu murni kecelakaan."


"Kalau ini murni di sengaja."


Dada Rachel berdesir dan cengkraman tangannya di kaos Farel menguat saat tiba-tiba Farel mendaratkan ciuman di bibirnya. Debaran itu menguat seiring Farel menekan bibirnya, lalu membiarkan saling menempel tanpa menggerakkan.


Seiring bertambah nya detik, detak jantung mereka semakin menguat, meledak-ledak, membuncah. Lalu Farel menjeda sesaat untuk melihat wajah Rachel yang masih memejamkan mata.

__ADS_1


Satu tangan Farel masih di sisi kepala Rachel sementara satu tangannya terangkat untuk mengangkat dagu Rachel. Perlahan gadis dengan rona pipi merah itu membuka mata, hingga mata mereka bertemu dan hanyut dalam dunia mereka sendiri.


Farel menekan bibir bawah Rachel dengan ibu jarinya, memberikan sensasi desiran di sekujur tubuhnya.


"Kamu bilang tidak mencintaiku lagi."


Tanpa melepas tatapan, Rachel menganguk.


"Aku ingin tau apa kamu benar-benar mencintaiku atau tidak..."


Farel menunduk ingin menciumnya lagi, tapi tiba-tiba Rachel mendorong kuat Farel hingga sampai terdorong ke belakang.


"FAREL NAKAL. AKU BILANGIN MAMA SARAH KAMU CIUM PAKSA AKU."


Rachel menjulurkan lidah san berlari ke luar kamar.


Farel terkekeh, "Gila. Gue bener-bener gila karena gadis itu."


Farel bersandar di sofa, lalu mendapat pesan dari Rachel. Dengan cepat Farel membaca pesan itu.


[Rachel : Aku akan mengizinkan kamu mencium ku, dengan syarat nikahin aku dulu. Enak aja main cium-cium tapi nggak di resmiin. My body, My lips, My virginty hanya milik suamiku nanti.]


Farel membulatkan mata membaca itu, tangannya sampai gemetar saat membaca chat Rachel. Pertama Rachel memanggil aku kamu, Ke dua secara tidak langsung Rachel memberi kode agar Farel membawa hubungan mereka ke jenjang serius daripada pacaran.


Setelah menarik nafas berulang kali, Farel mengetik balasan.


[Farel : Nanti malam aku akan datang bersama kedua orang tuaku.]


[Rachel : Yang bener?.]


[Farel : Beneran. Tunggu aja nanti malam. Aku dan keluargaku akan datang ke rumah kamu.]


[Rachel : Oke, aku tunggu.]


Rachel tersenyum membaca chat dari Farel.


Sekarang dia berjalan menuju ke parkiran sambil menunduk membaca pesan Farel dan sesekali mendongak untuk melihat jalan. Tak terasa sudah sampai di bassment parkiran.


Rachel berhenti sesaat saat membaca pesan terbaru yang masuk dari Farel.


[Farel : Aku mencintaimu.]


Rachel beberapa kali mendengar kata cinta, tapi hanya kata cinta dari Farel uang mampu membuat jantung nya berdebar kencang.

__ADS_1


Perasaan ini tidak bisa Rachel kendalikan. Rachel juga ingin jantungnya berdebar kencang saat Brandon mengatakan cinta, tapi seberapa banyak pun Brandin atau laki-laki lain mengatakan I love you, perasaan Rachel biasa saja. Si Gila ini yang selalu memenangkan hati Rachel.


[Farel : Rachel, I love you. Kamu 'I love you too' juga kan?.]


Rachel tersenyum. Baru saja ingin mengetik balasan tapi seseorang memanggilnya.


"Rachel."


"Ya," Refleks Rachel mendongak dan seketika senyumnya memudar saat melihat Dilara berdiri di depannya sekitar tiga langkah.


"Tante Dilara? kenapa Tante ada di sini?."


Dilara mengikis jarak.


"Saya ingin bertemu dengan Farel."


"Kalau boleh tahu, kenapa Tante ingin bertemu dengan Farel?."


Dilara berkaca-kaca membuat Rachel terkejut.


"Tante..."


"Luna bunuh diri dan sekarang kondisinya kritis."


Rachel tertegun, "Bagaimana bisa, bukan nya hari ini Luna berangkat ke LN?."


"Iya, seandainya tadi malam Luna tidak ke Club dan tidak bertemu dengan Farel, hari ini dia pasti sudah sampai di luar negeri dan memulai hidup baru."


"Bertemu Farel? Di Club?." Rachel mengatur nafas sesaat, tiba-tiba saja perasaannya jadi gelisah.


"Tante, semalam Farel memang ke Klub. Farel cerita sendiri sama aku, dia ke Klub sama Rendy dan Brandon, tapi dua tidak cerita bertemu dengan Luna."


"MANA MUNGKIN DIA CERITA!."


Rachel terhenyak mendengar Dilara menaikkan nada bicara, bukan hanya itu sorot mata Dilada juga memerah pertanda marah besar.


"Mana mungkin dia mengaku setelah memperk*sa Luna sampai alat vitalnga robek. Dokter sendiri yang bilang, kondisi Luna kritis setelah bunuh diri dan harus mendapat jahitan di organ intimnya. Farel! Farel yang melakukannya. Saya tidak asal nuduh! Papa kamu sendiri yang sudah menyelidikinya. Papa kamu mendapat telepon dari orang kepercayaannya kalau Farel ada di sana bersama Luna."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2