
"Kalian siapa?." tanya Kevin melihat tiga laki-laki asing emasuki ruang rawat mamanya. "Ini Tante Rachel, ini Om Farel. Terus yang tiga ini... om-om siapa?."
Kevin mengerjabkan mata menatap 3 laki-laki tinggi itu. Kevin masih kecik di dekat mereka. Brandon tersenyum dan mengusap rambut putranya. Tingkah Kevin tidak pernah gagal membuat Brandon gemas.
"Silahkan Om-om perkenalkan diri kalian," ucap Rachel sambil menahan tawa. Biasanya mereka akan protes di panggil om, lebih suka di panggil Abang. Dulu sebelum menikah, Farel juga tidak suka di panggil Om. Tapi sekarang Farel biasa saja.
Mereka masih diam dan tiba-tiba.
Plak...
Rendy mendelik saat pantatnya di tepok kanan kiri oleh Bastian dan Dypta. Itu kode agar Rendy yang bicara dan memperkenalkan mereka. Rendy berdecih. Tolong nanti ingatkan Rendy untuk membalas menendang pantat mereka.
"Halo, Kevin yang lucu dan imut-imut, perkenalkan nama saya Abang Rendy, sedangkan yang ada di samping kiri Abang ini namanya Om Bastian. Terus yang di samping kanan ini namanya Om Dypta."
"Halo Abang Rendy, halo Om Bastian, Halo juga Om Dypta." Sapa Kevin sambil melambaikan tangan lucu.
Bastian dan Dypta kesal di panggul Om, mau marah, tapi kalau Kevin seimut ini gimana mereka bisa marah.
"Kami bertiga, sekaligus sama Om Farel dan Tante Rachel. Kita semua teman mamanya Kevin. Maaf ya, kami baru datang sekarang," ucap Rendy merasa tak enak.
"Oh yah?." mata Kevin berbinar. "Wah ternyata mama punya banyak teman."
Kevin menghampiri Luna dan dengan susah payah naik ke kursi. Lalu menggengga tangan Luna.
"Mama, mama harus bangun. Lihat ini mama, teman mama banyak yang datang. Mama nggak akan sendiri lagi. Mama punya teman selain Kevin. Ayo bangun mama."
Rachel menutup mulut sambil berkaca-kaca, sementara yang lainnya dengan sorot mata menyendu. Rasa bersalah menghampiri. Mereka menyesal tidak memberi dukungan pada Luna saat-saat terpuruk. Seandainya mereka sedikit saja memberi dukungan, paling tidak menanyakan kabar Luna, pasti hidup Luna tidak akan semenderira ini.
Rachel mendekat pada Kevin dan mengusap rambutnya.
"Tante, Tante pasti deket banget ya sama mama?."
"Iya, deket banget."
"Terus kenapa Kevin nggak pernah liat Tante?."
"Soalnya Tante ada di luar negeri. Tante jyg baru kembali ke Jakarta."
"Oh begitu, sekarang Tante masih mau kan jadi teman dekat mama lagi? soalnya mama nggak punya teman."
__ADS_1
"Mau, tentu saja Tante mau. Tante akan selalu menemani mama Kevin kan, mama Kevin tidak akan sendiri lagi. Tante Rachel, Om Farel dan yang lainnya akan selalu ada untuk mama Kevin."
"Terima kasih Tante."
"Sama-sama."
Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba ponsel Brandon berdering. Brandon mengambil ponselnya yang ada di tas kerjaannya, lalu keluar dari ruangan. Ada panggilan dari nomer tak di kenal.
"Halo,"
"Apa benar ini dengan saudara Brandon Stanley, putra Bapak Ardito?."
"Iya saya sendiri ada apa ya, Pak?."
"Saya dari pengelola apartement mengabarkan Bapak Ardito meninggal di dalam Apartement."
Brandon tersentak. Sesaat terdiam dan kehilangan kata-kata saking terkejutnya.
"Halo, Pak Brandon?."
Brandon mengepalkan tangan untuk menyalurkan rasa sedihnya.
"Kami bersama pihak kepolisian masih terus menyelidiki kejadian yang sebenarnya, Pak Brandon bisa datang kemari untuk berbicara lebih lanjut."
"Baik Pak saya akan ke sana."
Brandon mengakhiri panggilan dan masuk ke dalam ruangan. Farel mengikuti nya.
"Ada apa? Mungkin ada yang bisa gue bantu?."
Brandon mengusap wajahnya dengan kasar, sekaligus untuk mengurangi rasa paniknya.
"Papa meninggal."
Farel terdiam sesaat karena syok, "Kenapa?."
"Gue juga belum tahu gimana kronologi nya. Gue harus buru-buru."
"Lo bisa menyetir? lo kelihatan panik banget."
__ADS_1
"Gue bisa. Lo di sini aja, tolong jagain istri dan anak gue sebentar.
Farel mengangguk, Brandon pun bergegas meninggalkan rumah sakit.
***
Terhitung dua jam mereka menemani Kevin. Kevin anak yang aktif, pintar dan baik sehingga membuat om-om ini merasa senang berbicara dengan Kevin.
Di tengah keseruan mereka tiba-tiba Rachel berdehem.
"Oh ya, tadi aku pesan makanan. Aku ambil di lobby ya." ucap Rachel begitu melihat ponselnya jika peranannya sudah dekat.
"Aku aja yang ambil." ucap Farel.
"Nggak usah. BentRar doang kok."
Rachel keluar dari ruang rawat Luna. Rachel langsung masuk ke dalam lift. Saat ingin menutup pintu lift, tiba-tiba seorang perawat menahan pintu lift dan masuk.
"Oh silahkan." ucap Rachel dengan ramah sambil melempar senyum.
Perawat yang memakai masker itu mengangguk dan berdiri di samping Rachel.
Rachel menekan tombol lantai dasar, tapi perawat itu hanya diam. Rachel berpikir mungkin mereka benar-benar berhenti di lantai satu.
"Kamu ke sini menjenguk siapa?." tanya perawat itu tiba-tiba.
"Teman saya. Namanya Luna. Dia jatuh dari tangga tetapi sudah beberapa hari ini belum sadar," ucap Rachel sendu.
"Di teman dekat kamu atau teman jauh?." tanya perawat itu lagi sambil diam-diam memainkan pisau di dalam sakunya. Keselamatan Rachel tergantung bagaimana jawabannya.
.
.
.
Bersambung...
***
__ADS_1