Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 147


__ADS_3

"Gue juga pengen jatuh cinta kayak lo, Rel. Gue pengen menemukan satu perempuan."


"Mencari satu perempuan bukan berarti lo cobain semuanya terus kalau nggak enak lo lepeh."


Farel menoleh pada Rendy.


"Selama ini lo sering banget mempermainkan perempuan, suatu hari nanti kalau lo benar-benar jatuh cinta dan perempuan itu ninggalin loh, gue harap lo nggak nangis."


"Sialan lo! dari tadi lo nyumpahin gue mulu!."


"Karena gue temen lo! kalau lo bukan temen gue, gue juga nggak akan peduli. Lo mau jungkir balik, mau salto, mau berenang di lautan samudra juga gue bodoh amat. Gur ngomong gini karena gue peduli sama lo. Berhenti sebelum lo dapat karna yang pedih."


Rendy terdiam, "Rel, gue jadi takut beneran."


Rendy merapatkan tubuhnya pada Farel dan memeluknya. Sontak saja Farel melotot dan mendorong Rendy menjauh.


"Kalau terjadi apa-apa sama gue, jangan tinggalin gue ya, Rel. Gue sayang banget sama lo, lo juga sayang sama gue kan?."


Di tengah-tengah usaha Farel mendorong Rendy menjauh, dari spion mobil Farel bisa melirik ke arah mereka. Dan beliau nyengir. Sudah Farel tebak, sopir itu berpikir yang iya-iya, mungkin beliau berpikir dia dan Rendy sepasang laki-laki pencinta terong.


"Ren, minggir nggak lo!."


"Nggak mau, nggak mau jauh-jauh dari Ayang Farel. Kalau gue dapat karna, lo juga harus dapat. Kita kan setia kawan. Gue masuk neraka lo juga harus ikut."


"OGAH!."


***


Di dekat pegunungan Jungfrau 09.00 AM.


"Aku sering ke sini, tapi aku nggak pernah bosan, seperti aku berada di negara impianku," ucap Aqila sambil menoleh pada Edgar yang berjalan di sampingnya.


Sambil menelusuri Alphune Garden, Aqila melingkarkan tangan di lengan Edgar sambil terus bercerita. Sementara Edgar sesekali menyahut, tetapi lebih banyak diam dan mendengarkan.


Ayuma dan Si Kecil Rafa tidak ikut. Mereka ada di rumah. Ayuma sengaja memberikan ruang untuk Aqila dan Edgar karena sampai sekarang mereka masih agak canggung. Aqila yang pada dasarnya anaknya asik dan easy going, dia merasa tidak canggung sedangkan Edgar masih merasa kaku dan canggung berbicara dengan Aqila.


"Mama kamu bilang Swiss negara impian kamu."


"Oh ya?." Aqila berhenti dan menatap Edgar. "Pantas saja aku selalu senang setiap jalan-jalan dimanapun itu di kota Swiss."


Aqila tersenyum dan mengendarkanp pandangan di taman Alphine Garden. Luasnya sekitar 22.000 meter persegi, terletak di pegunungan Swiss. Di sini ada banyak bunga Alphine dan spesies tanaman, termasuk bunga edelweis.

__ADS_1


Sekarang mereka ada di tengah-tengah taman. Aqila bisa melihat pemandangan indah gunung Jungfau dan tanaman dengan aneka bunga. Kalau tidak salah ada sekitar 650 spesies. Jalan di taman ini juga mudah diakses, terdapat kelautan sekitar Taman sehingga pengunjung lebih mudah menelusuri taman.


"Aku benar-benar nggak ingat masa lalu, Pa. Yang aku ingat aku terbangun di rumah sakit bersama mama dan papa. Itu pun aku nggak ingat kalian."


Aqila merasa bersalah saat mengingat hari itu, merasa seperti anak durhaka karena tidak mengenal mama nya.


"Tidak perlu di paksa nanti kamu sakit."


Aqila menganguk lalu mengajaknya berjalan lagi, setelah tadi berhenti sejenak. Hari ini hari wekeend sehingga cukup banyak pengunjung yang datang. Selain dari orang Swiss sendiri, banyak turis juga, apalagi sekarang musim semi. Aqila yang memang tinggal di pegunungan Jungfrau hanya butuh beberapa menit untuk sampai di sini.


"Aku bersyukur dari sekian banyak tempat di Swiss papa dan mama tinggal di Matten bei interlaken. Aku bisa mengakses banyak tempat-tempat wisata dengan mudah contohnya taman ini. Dulu kan kita tinggal di Bern, ibukota Swiss."


Edgar menganguk, "Mama kamu yang memilih ingin tinggal di sini."


Aqila tertawa, "Papa irit banget ngomongnya, papa ngomong yang banyak dong."


"Banyak."


"Ih papa bukan itu, bukan ngomong banyak tapi ngomong kata-kata dan kalimat yang panjang dan lebar."


Edgar tertawa melihat Aqila merengek dan terlihat kesal.


"Pa, apa aku terlihat seperti anak kecil?."


"Aku 25 tahun, Pa."


"Tapi kamu masih suka merengek, tapi kamu imut."


Aqila tertawa, lucu saja melihat Edgar tampak kaku.


Mereka jalan lagi sambil sesekali berhenti saat berbicara. Udara pagi ini sangat sejuk. Aqila memakai cape coat dan skinny jeans, sementara Edgar memakai leather coat dan celana jeans. Aqila memakai sepatu boots pemberian papa nya kemarin. Sebagai bentuk rasa terima kasih, Aqila langsung memakai hari ini juga. Aqila juga memakai soal di lehernya agar style nya terlihat lebih keren.


"Pa, aku kan orangnya agak cerewet."


"Bukan agak, tapi kamu memang cerewet."


"Papa, bohong dikit kenapa sih!."


Edgar tersenyum samar, "Cerewer bukan sifat yang buruk kamu justru mood booster papa dan mama. Bukan cerewet yang annoying. Kalau nggak ada kamu, rumah jadi sepi."


"Tapi Papa suka sepi kan, biar berduaan dengan Mama. Ayo ngaku!."

__ADS_1


Edgar tak kuasa menahan senyum, Aqila selalu bisa membuatnya tersenyum.


"Papa selalu mencuri kesempatan untuk bisa bersama mama kamu. Papa sangat mencintai Mama kamu."


"Ya ampun Papa bilang cinta sama mama, hatiku meleleh."


Aqila tertawa beriringan dengan tawa samar Edgar.


"Aku jadi penasaran apa Papa kandungku yang cerewet seperti aku. Apa beliau orang nya asik? apa beliau juga lembut dan penyanyang. Apa papa kandungku baik seperti papa Edgar?."


Senyum Edgar perlahan luntur, wajahnya berubah sendu. Setiap Aqila bercerita tentang Papa nya dan penasaran bagaimana sifat papa nya, hati Edgar selalu sedih. Sekarang Aqila masih hilang ingatan dan dalam bayangan sosok Hendrawan adalah sosok laki-laki yang baik, penyanyang dan bertanggung jawab.


Dengan hilang ingatan ini Aqila tidak perlu merasa sakit hati saat mengingat perlakuan buruk papa nya. Rasanya Edgar tidak ingin ingatan Aqila kembali. Edgar takut Aqila merasakan luka lagi dan tidurnya tidak nyenyak. Sekarang putrinya sudah bahagia dengan ingatan yang baru.


"Tapi mama bilang papa menikah dengan perempuan lain. Itu artinya apa papa jahat?."


"Papa kamu tidak jahat. Mama dan papa kamu sudah tidak cocok karena itu mereka berpisah."


Aqila menganguk, "Terus kapan aku bisa bertemu dengan papa?."


"Kapan-kapan yah."


"Iya Pa."


Aqila menoleh pada Edgar yang berjalan di sampingnya, "Aku nggak tahu sosok papa kandungku seperti apa, tapi aku senang memiliki papa sambung seperti papa Edgar. Papa sangat baik, penyanyang dan perhatian."


"Sebelum menikah dengan papa, mama sering sedih dan melamun. Setiap hari aku bertanya, tapi Mama tidak pernah menjawab. Saat itu aku menebak mungkin mama merindukan papa, tapi setelah mama menikah dengan papa Edgar, mamah lebih sering tertawa dan tersenyum. Tawa yang benar lepas seperti tak ada beban."


Edgar menghangat mendengar itu, "Terima kasih."


"Kenapa papa bilang terima kasih?."


"Terima kasih karena kamu sudah menerima saya sebagai Papa kamu." Edgar mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk lembut puncak kepala Aqila.


Aqila tersenyum hingga matanya menyipit lucu. "Tentu saja aku menerima papa, soalnya papa baik."


Edgar menganguk, dan mereka jalan lagi.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2