Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 41


__ADS_3

"Hm."


"Semalam gue mimpi."


"Mimpi apa?."


"Gue nikah sama lo."


Rachel tertawa, "Hahaaa random banget mimpi lo. Nggak sekalian aja lo mimpi menua sama gue. Jadi aki-aki sama nini-nini hahahaa."


"Rachel bukan hanya mimpi nikah sama gue, tapi gue juga..."


Rachel melotot, "Juga apa? jangan bilang lo mimpi malam pertama sama gue?."


Farel tertawa.


"Sumpah lo Rel. Otak lo makin ke sini makin kotor."


"Perasaan gue belum ngomong apa-apa. Lo aja yang langsung mengnyimpulkan begitu. Padahal gue tadi mau bilang, gue bukan mimpi nikah sama lo aja tapi gue juga mimpi makan bareng sekeluarga, Rachel. Kalau kayak gini kayaknya bukan otak gue yang kotor tapi otak lo. Dasar Rachel mesum. Gue aduin sama Tante Ayuma lo suka mesumin gue."


"NGGA MANA ADA?."


Farel tergelak mendengar Rachel ngomel-ngomel.


"Gue juga pernah mimpi nikah."


Tawa Farel seketika terhenti mendengar kalimat itu.


"Sama siapa?." tanyanya dengan nada suara tak santai dan ekspresi penuh rasa ingin tahu.


"Sama lelaki lah."


"Iya lah masa sama cewe, cowok nya siapa? namanya siapa?."


"Kepo."


"Ck. Siapa sih?."


"Rahasia."


"Dypta?."


Kekepoan Farel membuat Rachel senyum-senyum sendiri.


"Bukan."


"Terus siapa? ah gue tahu kamu pasti mimpi sama le mon tea kan?."


"Le mon tea apaan? minuman kali lemon tea. Hahaaa."


Rachel tak kuasa menahan tawa.


"Maksud gue artis korea itu."


"Lee Min Ho Farel astaga, bisa-bisa nya lo miripin sama lemon tea."

__ADS_1


Rachel semakin tergelak bahkan sampai nonjok-nonjok guling seolah sedang menonjok Farel. Jika Farel sedang ada di sisi nya, lengan Farel pasti memerah karena tabokannya.


"Ya terus lo mimpi sama siapa? kalau nggak sama artis korea itu.?"


"Ya ada deh. Sama manusia."


"Siapa juga yang bilang lo nikah sama kambing, Nggak mungkin juga lo nikah sama alien."


Perut Rachel semakin keram akibat tebakan Farel yang aneh-aneh.


"Rachel bilang dong lo mimpi nikah sama siapa?."


"Kenapa sih lo kepo banget? terus kalau gue sebutin namanya lo mau apa?."


"Gapapa gue cuman nanya aja."


"Ya udah gue kasih tahu."


Saat itu juga Farel mengembangkan senyuman.


"Ya udah siapa?."


"Gue mimpi..... Nikah sama...." Rachel sengaja mengulur-ngulur waktu.


"Rachel cepet deh!."


"NIKAH SAMA BAPAK LO." Rachel tertawa dan tawa nya semakin kencang mendengar Farel mengumpat.


"Canda Rel, Gue nggak pernah mimpi sama Om Anthony."


"Cih tukang ngadu."


"Lo juga tukang ngadu."


Lalu mereka saling menatap dan sedetik kemudian sama-sama menyemburkan tawa. Menertawakan betapa konyol nya mereka membicarakan hal-hal random seperti ini.


"Tapi yah Rel. Menurut gue Papa lo ganteng banget. Ganteng nya pake banget, berkarisma gitu. Semakin gue tatap semakin kelihatan gantengnya. Umur Papa lo kan lebih dari 40 tahun kan, tapi masih kelihatan ganteng, apalagi waktu muda, pasti Papa lo jadi idaman cewek-cewek. Selain itu meskipun Papa lo dingin dan agak galak, beliau perhatian, penyanyang dan sempurna deh pokoknya. Gue mau banget jadi istri kedua Papa lo, Rel. Gue akan jadi Ibu yang baik buat lo dan gue akan menyanyangi lo dengan sepenuh hati seperti anak kandung gue sendiri."


"Ck lo ngga tahu aja kelakuan Ayah gue di masa lalu. Lo tahu kata brengsek, Ayah lebih dari itu. Kalau saat itu lo yang jadi istri Ayah, gue nggak yakin lo bisa bertahan sampai Mamah sekarang."


Rachel terdiam sesaat.


"Jadi Ayah Lo brengsek?."


"Bisa di bilang begitu."


"Terus kata orang buah ngga jatuh dari pohonnya, berarti lo juga brengsek dong."


Seketika Farel melotot, merasa ucapannya seperti senjata makan tuan. Padahal niat hati ingin supaya Rachel tidak menyukai Ayahnya.


"Ya en-enggak gitu. Gue nggak brengsek, gue nggak pernah nyakitin perempuan yang gue cintai. Buktinya gue nggak pernah nyakitin Luna. Beda dengan Ayah dulu, Ayah bilang mencintai Mamah tapi kenyataannya Ayah selalu nyakitin Mamah terus."


"Iyah juga sih hahahaa"


Rachel tertawa, meskipun dalam hati dia sedih mendengar jawaban Farel.

__ADS_1


"Ya udah kita udahan dulu vidcall, gue mau mandi dan siap-siap pergi ke kampus."


"Buru-buru amat jam 6 juga belum ada."


"Terserah gue dong, emang lo siapa? ngatur-ngatur gue?."


"Gue suami lo."


Rachel menyipitkan mata.


"Maksud gue .... gue suami lo di mimpi gue. Jadi gue berhak ngatur-ngatur lo."


"Ya udah lo tidur lagi sana, biar lo ketemu gue dalam versi gue jadi istri lo."


Rachel langsung mengakhiri panggilan daripada terus berbicara dengan Farel yang ujung-ujung nya dia yang sakit hati dengan perhatian dan gombal-gombalan Farel. Tapi Farel hanya menganggap sebagai seorang sahabat.


"Capek banget di php in terus."


Rachel baru saja ingin berdiri tapi tiba-tiba ada pesan masuk yang ternyata dari Farel.


Farel : Rachel gue merasa jika gue suka sama lo lebih dari sahabat. Apa lo merasakan yang gue rasakan?.


Seketika jantung Rachel berdebar kencang membaca pesan masuk dari Farel. Rasanya jari Rachel ingin sekali mengetik balasan jika dia juga merasakan hal yang sama.


Tapi... apa Farel serius? Rachel takut menanggapi hal itu dengan serius sedangkan Farel menganggap hanya sebagai candaan.


Farel terlalu sering membercandai perasaannya sampai-sampai Rachel bingung mana yang serius atau mana yang bercanda.


Rachel baru saja ingin mengetik balasan tapi ada pesan masuk lagi dari Farel.


Farel : Astaga gue ngetik apaan sih. Gede banget kan gue. Anggap saja gue nggak pernah ngetik itu.


Sampai kapan pun lo akan selalu jadi sahabat gue. Maksud gue, gue takut mengubah persahabatan kita menjadi pacaran lalu kita putus dan menjadi orang asing.


Gue nggak sanggup membanyangkan jika kita berpapasan di jalan dan pura-pura tidak saling mengenal. Gue ingin sampai kapan pun lo ada sisi gue tanpa ada kata putus atau perpisahan.


Setelah itu Farel offline dan tanpa sadar air mata Rachel mengalir begitu saja.


"Ya ampun kenapa gue jadi nangis?."


Rachel mengusap air mata dengan kasar.


"Serah lo deh Rel. Suka-suka lo mau apa, tapi suatu hari lo cinta sama gue dan gue udah punya pacar. Lo bakalan nyesel. Minta gue ada di sisi lo tapi lo sama cewek lain. Dasar manusia egois. Kok bisa sih gue cinta sama lo."


Rachel menonjok ponsel nya seolah ia sedang menonjok Farel.


***


"Ck, kenapa Luna melarangku datang ke rumah sakit? aku ingin mengantar nya pulang."


Hendrawan mondar-mandir di balkon kamar sambil berulang kali membaca pesan Luna.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2