
"Maaf," Farel melepas pelukan dan mengusap air mata nya.
Rachel berbalik badan dan menatap Farel setelah mengusap air matanya.
"Aku masuk dulu ya, kamu juga istirahat."
"Hm."
Rachel tersenyum sekilas pada Farel dan berlari masuk ke dalam rumah.
***
"Morning, Ma."
"Morning, Sayang."
Rachel duduk di samping mamanya di sofa panjang ruang tengah, dengan si Rafa yang ada di pangkuan Ayuma sedang menyusu. Rachel melongok ke kanan dan ke kiri, tanda mencaru seseorang. Ayuma yang memperhatikan gerak-gerik putrinya hanya tersenyum.
"Farel, Rendy sudah bangun. Mereka di dapur ikut Papa kamu menyiapkan sarapan."
Ayuma tidak menggunakan jasa pembantu atau baby sitter di sini, dia mengurus semuanya sendiri. Mulai dari memasak, membersihkan rumah, mencuci baju, mengurus baby Rafa dan lain-lain.
Ayuma suka melakukan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Apalagi sekarang dia juga tidak bekerja sehingga waktu luangnya lebih banyak. Edgar berulang kali meminta Ayuma menyewa ART, tapi Ayuma terus menolak. Sebagai gantinya karena tak tega, Edgar belajar memasak agar bisa membantu istrinya memasak. Kadang kalau mereka malas memasak bisa memesan dari luar.
Menu untuk sarapan juga tidak susah, biasa nya simple saja seperti roti, selain, sandwich, sereal dan susu.
"Ma."
"Iya," Ayuma menoleh pada putrinya, Rafa juga ikut melirik pada Rachel masih dengan mulut penuh menyusu.
"Aku kalau mau ngomong berdua sama mama, seperti ada yang mata-matai, uuuh gemasnya," Rachel mencubit pipi Rafa.
Ayuma tertawa, "Iya adik kamu kepo banget anaknya."
Ayuma menangkup pipi putranya dan mengarahkan agar menatap pada ga. Ayuma tersenyum sambil mencoel puncak hidungnya. Rafa juga ikut tersenyum.
"Mau bicara apa?." tanya Ayuma sambil mengalihkan perhatian pada Rachel.
Rachel berdehem.
"Semalam aku bicara sama Farel, Ma."
__ADS_1
"Oke, terus? kamu nggak mendadak minta di kawinin sama Farel kan?."
"Ma," Rachel melotot sambil mengerucutkan bibir sementara Ayuma tergelak. Rafa tidak mengerti apa yang mereka bicarakan tapi ikut tertawa juga.
"Mama bercanda. Ya udah lanjut."
"Farel mengajakku pulang ke Jakarta."
Perlahan senyum Ayuma memudar, wajahnya tampak lesu, sorot matanya tanpa gelisah Rachel menyadari perubahan ekspresi wajah mamanya. Sepertinya kabar ini tidak akan membuat Mamanya senang seperti dugaan Rachel sebelumnya.
"Mungkin dengan pulang melihat orang-orang terdekatku dan datang ke tempat-tempat yang dulu sering Aku datangi. Ingatanku lebih cepat pulih, Ma. Aku juga penasaran bagaimana kehidupanku di masa lalu, aku penasaran bagaimana persahabatan ku dengan Farel, Bastian, Rendy, Dypta dan Luna. Aku juga ngin tahu keluarga kita yang lain di Indonesia. Selama ini Mama belum pernah memperkenalkan mereka padaku."
Ayuma mengerti keluarga yang Rachel maksud adalah Papa nya. Rachel sepertinya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan papa nya.
"Kalian masih ingin bicara dan tidak ingin di ganggu?." tanya Edgar membawa nampan berisi sandwich dan susu untuk Ayuma.
"Nggak kok, pa. Aku sudah selesai bicara sama Mama. Aku mau ke dapur, sarapan juga."
Rachel mengerti Mama nya masih berarti untuk menjawab. Mungkin mama nya butuh waktu untuk memutuskan. Rachel tahu sekarang dia sudah dewasa. Dia berhak memutuskan apa yang dia inginkan. Tapi tetap saja selama dia di sini segala kebutuhan nya di tanggung oleh mama nya. Rachel jelas harus melibatkan mamanya dalam segala urusannya.
Jika mama nya tidak menyetujui, kemungkinan besar Rachel tidak akan kembali pulang. Ah, entahlah Rachel juga bingung harus melakukan apa sekarang.
Edgar memotong Sandwich dan menyuapkan ke mulut Ayuma. Si kecil Rafa mengulurkan tangan dan ingin mengambil garpu dari tangan Edgar. Edgar tersenyum dan mencium punggung tangan putranya.
Setelah menelan potongan sandwich, Ayuma menoleh pada suaminya.
"Kamu tahu kan dari dulu Rachel ingin pulang. Dia ingin sekali bertemu dengan papa kandung nya. Tapi aku melarangnya karena Jakarta terlalu jauh, nanti saja setelah dia menikah. Lalu sekarang Rachel bertemu dengan Farel, sahabat masa kecilnya menawarkan perlindungan dan penjagaan untuk Rachel. Menurut kamu aku harus gimana?."
"Apa yang kamu khawatirkan? Hendrawan tidak akan bisa menyakiti Rachel lagi, justru sebaliknya Hendrawan merindukan Rachel. Sedangkan Dilara dan Luna mereka juga sudah tidak ada di kehidupan Hendrawan lagi. Menurutku tidak masalah jika Rachel bertemu dengan Hendrawan."
Ayuma masih diam tampak merenung.
Meletakkan piring di meja, Edgar meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.
"Kejadian yang menimpa Rachel waktu itu pasti sangat membekas di hati kamu. Aku mengerti. Tapi sekarang situasi nya sudah berbeda. Ada aku, aku papa Rachel. Aku akan melindunginya. Aku juga suami kamu, aku akan melindungi kamu juga. Kalian sudah menjadi bagian dari nyawa ku sekarang."
Ayuma menoleh dan menatap lekat matanya. Edgar melepas genggaman tangannya dan mengusap rambut istrinya dengan amat lembut dan hati-hati.
"Aku tahu kamu juga merindukan Indonesia kan? Aku tahu diam-diam kamu sering membaca berita-berita terbaru di jakarta. Kamu juga sering melihat destinasi wisata di sana, jujur saja kamu ingin pulang kan?."
Pertanyaan itu biasa saja tapi entah kenapa membuat Ayuma ingin menangis.
__ADS_1
"Aku ingin pulang. Aku ingin ke makam mama dan papa. Lima tahun Aku tidak pernah mendatangi mereka."
Edgar merangkul bahu Ayuma dan memeluknya. Rafa berhenti menyusu dan berkaca-kaca.
"Mama."
Rafa mencoba berdiri dan ikut memeluk Ayuma. Ayuma tersenyum dalam tangisnya dan mencium putranya.
"Jadi kita pulang?." tanya Edgar.
Ayuma menganguk, "Kamu harus ikut aku.'
Edgar tersenyum, "Tentu saja aku ikut. Astaga, istriku," Edgar mencium dahi Ayuma. Tak puas sekadar dahi, Edgar mencium kedua pipi, puncak hidung dan ... Edgar ingin mencium bibir Ayuma tapi putranya sejak tadi melihat mereka
"Papa cium Rafa aja," Edgar mencium bibir putranya. Rafa menggeleng dan mendorong wajah papa nya. Lalu si kecil menangkup pipi Ayuma dan mencium bibirnya. Ayuma tertawa.
"Aku akan mengurus semuanya."
Edgar mencium pelipus istrinya dan mengeratkan pelukan. Rafa tidak mengerti arah pembicaraan mama dan papa nya. Tapi bocah itu ikut tersenyum melihat tersenyum mama dan papa nya.
Diam-diam Rachel, Rendy dan Farel menguping. Mereka bertiga saling melempar senyum. Lalu keluar dari area dapur dan berlari menuju ke halaman belakang.
"Gue seneng banget gila. Akhirnya gue bisa pulang sama Yayang," Rendy menggendong Rachel dan memutar-mutarnya.
"Rendy!." Rachel melotot terkejut dan memukul bahu Rendy.
"Heh heh calon istri gue woi!." Farel heboh mencoba melepas rangkulan Rendy dari Rachel.
Tapi Rendy tetaplah Rendy dengan segudang ide jahilnya, Rendy justru mengganti posisi menggendong Rachel menjadi bridel style lalu berlari mengelilingi halaman belakang. Farel sontak saja melotot lebar, nyaris bola matanya keluar.
"WOI."
Rachel yang tadinya kesal dengan kejahatan Rendy. Sekarang justru tertawa, lucu saja melihat Farel marah-marah seperti itu.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1