
Sekalipun, Luna tidak pernah terlihat sedih di depan Kevin meskipun hatinya hancur Luna selalu tersenyum dan tertawa untuk Kevin.
"Aku tidak---."
"Sudahlah Luna, aku tidak butuh penjelasan kamu yang penting sekarang kamu cepat ke kamar mandi. Setelah itu temani Kevin saat bangun nanti dan tidak ada kamu di sebelahnya Kevin pasti sedih."
Tanpa menunggu jawaban dari Luna Brandon langsung masuk ke dalam ruang rawat Kevin.
Luna menutup mulutnya dengan punggung tangan agar tangisannya tak terdengar berulang kali mondar-mandir untuk meredam tangisannya tapi dadanya justru semakin sesak.
"Jangan nangis Luna! cukup sudah ya sudah." Luna mencoba menenangkan diri sendiri menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan perlahan.
Setelah merasa lebih baik Luna bergegas menuju ke kamar mandi sebenarnya di ruang rawat Kevin juga ada kamar mandi tapi Luna memilih menggunakan kamar mandi umum saja.
***
Pukul 10.00 pagi.
Setelah menghentikan mobil di halaman Edgar langsung turun dari mobil dan membukakan pintu dan membukakan pintu untuk Ayuma. Ayuma tersenyum, terharu sekali dengan perhatian suaminya. Selama kurang lebih 3 tahun menikah, Edgar pasti selalu membukakan pintu mobil untuknya. Pernah suatu hari dia lupa dan turun dari mobil sendiri. Edgar sedikit ngambek dan kelihatan lucu sekali. Ayuma pun masuk ke dalam mobil lagi dan Edgar membukakan pintu.
"Berat nggak gendong Rafa. Sini aku saja." Edgar mengusap rambut Rafa yang ada dalam gendongan Ayuma. Rafa melirik sekilas papa nya lalu mendusel-dusel kan wajahnya di leher Ayuma lagi.
"Manja banget kamu," edgar mencubit pipi Rafa."
"Eughhh," Rafa mendorong-dorong tangan papa nya. Edgar tertawa.
"Mas nanti nangis."
Edgar tersenyum samar, "Enggak, bercanda."
Ayuma mengalihkan pandangan menatap rumah mewah di depannya. Sudah 5 tahun Ayuma tidak ke sini, tapi tak banyak yang berubah. Bahkan dari warna cat, tatanan rumah dan tanaman masih sama. Ayuma jadi penasaran, apa pemilik rumah ini juga masih sama. Oppa Wisnu, Bastian, Sebastian, Anggun. Ayuma berharap semua orang sehat dan dalam keadaan baik.
Tadi pagi Ayuma dan Edgar baru saja dari makam kedua orang tua Ayuma. Setelah itu langsung ke sini. Nanti malam rencananya jika tidak kelelahan Ayuma ingin ke rumah keluarga Sarah, Edgar juga ingin mengajaknya ke rumah Mattew.
"Ayo masuk," ajak Edgar sambil menyentuh punggung istrinya.
__ADS_1
Edgar dan Ayuma berjalan masuk ke teras rumah. Baru saja ingin mengetuk pintu tapi tiba-tiba pintu sudah di buka dari dalam.
"Ayuma," sambut Anggun dengan senyum penuh haru. Di belakang Anggun ada Sebastian dan Wisnu yang mendekat.
"Ya ampun akhirnya aku bisa ketemu kamu. Akhirnya kamu pulang juga aku sangat merindukan kamu."
Anggun memeluk Ayuma, Rafa tampak kebingungan. Tapi si Kecil tetap diam dan tidak menangis.
"Aku juga merindukan kamu, Anggun. Lama tidak bertemu."
Ayuma membalas pelukan Anggun. Ayuma bersyukur sekali memiliki kakak ipar sebaik Anggun. Mereka sama-sama menantu keluarga Tanoepramudya tapi tidak pernah saling bersaing. Anggun selalu mendukungnya dalam keadaan apapun bahkan setelah Ayuma tidak lagi menjadi menantu keluarga ini Anggun tetap baik padanya.
"Ayuma," Panggil Sebastian sambil mendekat.
Anggun melepas pelukan dan bergeser agak ke belakang memberi ruang pada Sebastian lebih dekat dengan Ayuma. Anggun tidak pernah cemburu dengan kedekatan mereka Anggun tahu Ayuma seperti apa. Ayuma tidak akan pernah jadi wanita licik yang merebut suami dari temannya sendiri.
"Abang," Ayuma memeluk Sebastian.
"Eunggh," namun Rafa mendorong Sebastian dan menoleh pada Edgar, seolah mengadu pada papa nya Rafa tidak suka yang memeluk mama nya selain dia dan Edgar.
Edgar tersenyum samar, "Tidak apa-apa Rafa, dia saudara mama. Sini sama papa."
"Apa dia cucu papa?." tanya Wisnu sambil menatap Rafa.
Ayuma melepas pelukan dari Sebastian dan menoleh pada Wisnu. Sesaat Ayuma terdiam dan memandang wajah beliau cukup lama. Usia tidak bisa berbohong. Wisnu sudah tampak begitu senja. Tapi Ayuma bersyukur papa nya masih dalam keadaan baik.
"Iya, pa. Ini cucu Papa. Namanya Rafa putra saya dan Edgar."
Wisnu tersenyum, mendekat pada Edgar dan mengusap lengan Rafa. Rafa sudah tidak menangis lagi, tapi matanya masih berkaca-kaca. Rafa tampak bingung melihat ada banyak orang yang menatap padanya. Rafa cuma diam dan mengeratkan pelukan pada leher Edgar.
"Saya berterima kasih, kamu sudah menepati janji kamu. Terima kasih sudah menjaga putri saya dengan baik." ucap Wisnu sambil menatap pada Edgar.
"Saya masih berusaha menjadi suami yang baik untuk Ayuma, tapi Ayuma sudah menjadi istri yang sempurna untuk saya." ucap Edgar sambil menatap Ayuma.
Ayuma tak kuasa menahan haru bahkan rasanya ingin menangis Edgar selalu memperlakukannya dengan baik. Setiap ada kesempatan Edgar pasti selalu memuji dan membangga-banggakan pada semua orang.
__ADS_1
Cara Edgar memperlakukannya adalah hal yang paling Ayuma harapkan saat dia masih menikah dengan Hendrawan dulu. Semua harapannya diwujudkan oleh Edgar.
"Ya ampun So sweet banget." Anggun menatap kagum keromantisan mereka.
"Ekhem," Sebastian berdehem. "Apa suamimu ini kurang romantis?."
Anggun tertawa dan mengusap lengan Sebastian. "Kamu yang paling the Best, Mas."
Ayuma tersenyum melihat kemesraan mereka. Sejak dulu sampai sekarang mereka tidak berubah. Masih romantis dan manis sekali.
"Bastian yang memberitahu kami kalian akan datang. Aku juga sudah menyiapkan masakan untuk kalian. Uh baby Rafa lucu sekali. Aku boleh menggendongnya?."
"Boleh," jawab Ayuma.
Anggun ingin menggendong Rafa, tapi Rafa menolak.
"Dia jarang suka orang baru. Nanti kalau sudah dekat dia pasti manja banget sama kamu," ucap Ayuma.
"Ya udah ayo, masuk," ajak anggun.
Mereka baru saja melangkah ingin masuk ke dalam rumah tapi tiba-tiba sebuah mobil memasuki halaman rumah bersamaan mereka menoleh ke arah mobil itu.
Johny lebih dulu turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Hendrawan begitu Hendrawan turun dari mobil seketika Hendrawan membeku di tempat saat pandangannya bertemu dengan sosok perempuannya dia rindukan selama 5 tahun ini.
"Ayuma," lirihnya dengan suara gemetar.
Beberapa kali Hendrawan mengerjapkan mata untuk melihat lebih jelas perempuan yang ada di depannya tapi setelah mengerjapkan mata yang terlihat juga tetap Ayuma, mengecek matanya dengan cukup kuat dan rawan takut jika ini hanya sebuah imajinasi.
Ini bukan pertama kali dulu Hendrawan pernah berhalusininasi bertemu dengan perempuan yang mirip Ayuma. Hendrawan bahkan memeluknya dan berakhir hampir digebukin gara-gara salah memeluk orang.
Ini bukan hanya terjadi pada Ayuma tapi Rachel juga. Hendrawan beberapa kali berhalusinasi bertemu sosok Rachel saat Hendrawan mengerjapkan mata sosok Rachel itu hilang.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...