
Agnes membeku di tempat, kedua tangannya gemetar takut. Agnes memang sengaja membiarkan Luna jatuh, tapi tidak menyangka akan sampai seperti ini. Luna tergeletak di ujung tangga bawah dengan sisi kepalanya berdarah.
"Ma-mama."
Kevin meremas sisi bajunya. Dengan langkah gemetar kakinya mendekat. Begitu yakin itu Mama nya seketika air mata Kevin mengalir.
"Mama," Kevin bersimpuh di samping mama nya. "Mama kenapa? kenapa Mama berdarah."
"Mama," Kevin menyentuh lengan Luna menggoyang-goyangkan pelan, namun Mama nya tidak menunjukkan reaksi apa-apa, Kevin ketakutan.
Kevjn langsung berlari keluar rumah, namun karena tidak berhati-hati Kevin terkandung karpet dan hidungnya membentur lantai. Sakit, tapi Kevin mengabaikan rasa sakit itu dan terus berlari.
"Papa, papa, tolong mama!." teriak Kevin begitu melihat mobil papa nya datang.
Brandon khawatir melihat putranya berlari sambil menangis bergegas keluar dari mobil dan menghampiri Kevin.
"Mama, hiks, Mama." Kevin gemetar dan terus menangis.
Melihat hidung Kevin berdarah, Brandon mengeluarkan sapu tangannya dan menekan hidung Kevin agar darahnya berhenti keluar.
"Mama, darah Mama berdarah. Tolong mama papa!."
Brandon tidak tahu apa yang terjadi, tapi mendengar cerita Kevin pasti terjadi sesuatu pada Luna. Brandon pun menggendong Kevin dan membawa masuk ke dalam rumah.
Begitu sampai di sana Brandon terkejut melihat Luna tergeletak di dekat tangga.
Di turunkan nya tubuh Kevin, lalu Brandon menghampiri Luna dengan tatapan khawatir.
"Luna, Luna Sayang bangun!." ucap Brandon yang terlihat sangat khawatir melihat kondisi Luna yang berdarah, entah apa yang terjadi Luna bisa sampai seperti ini. Namun selama beberapa hari Brandon tidak pulang, Brandon sedang merenung sikapnya selama ini terhadap Luna sudah sangat keterlaluan. Sejak penolakan Rachel saat itu, ia mencoba meresapi setiap kata yang di ucapkan Rachel. Jika di dalam hati nya memang sudah terpatri nama Luna tanpa Brandon sadari.
Dan hari ini Brandon pulang, ingin mencoba membuka hati untuk Luna. Tapi sesuatu terjadi pada Luna membuat hati nya sakit, takut kehilangan Luna bahkan sebelum ia bisa membahagiakan Luna.
"Luna, bertahan Sayang. Kita ke rumah sakit sekarang. Maaf, maafkan aku!." lirih Brandon tak kuasa menahan tangis.
__ADS_1
Di gendong tubuh Luna dan berjalan ke depan, Kevin mengikuti Brandon di belakang.
Mendengar keributan di dalam, Pak Budi supir mereka masuk ke dalam rumah dan melihat apa yang terjadi, tanpa banyak bertanya ia membantu membukakan pintu belakang mobil. Brandon menggendong Luna masuk ke dalam mobil
"Kita ke rumah sakit Pak!."
"Baik Tuan."
***
Agnes menggigiti kuku nya sambil fois menyetir. Dia benar-benar ketakutan sekarang. Berulang kali melirik ke belakang, takut jika ada yang mengikuti. takut pembantu Luna atau siapapun yang melihat kejadian itu melaporkan pada polisi dan polisi mengikutinya dari belakang.
"Tidak, bukan aku."
Agnes mempercepat laju mobilnya menuju ke...
"Aku harus kemana?."
"Bagaimana kalau Luna mati? Bagaimana kalau polisi mencariku dan memenjarakan ku? Tidak, aku tidak mau di penjara. Karirku masih panjang. Aku tidak ingin menghabiskan sisa umur ku di penjara."
"AARGG,"
Agnes memukul setir mobil. Kesal dengan dirinya sendiri karena tidak menahan tangan Luna saat Luna hendak jatuh. Namun jika boleh jujur, saat itu dia memang berharap Luna jatuh dari tangga dan mati saja, agar tidak ada yang mengganggu hubungannya dengan Brandon. Tapi Agnes tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Harusnya jika Luna mati bukan Agnes penyebabnya.
"Aku harus sembunyi, sebelum polisi menemukan ku." Saking paniknya, Agnes mengemudi dengan kecepatan tinggi, beruntung tidak banyak pengguna jalan di sana. Namun kepanikan dan ketakutannya membuat konsentrasi nya buyar dan akhirnya menabrak pembatas jalan dan masuk ke dalam jurang.
Duarrrrr
Ledakan dari mobil Agnes tak terelakan lagi.
***
Brandon menatap lekat wajah Luna yang terbaring lemah di brankar rumah sakit. Beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan Luna karena sibuk menenangkan diri dan pikiran nya. Perkataan Rachel membuka pikiran Brandon yang selama ini sudah keterlaluan terhadap Luna.
__ADS_1
Setelah kepergian Hendrawan, Brandon datang menemui Rachel di rumah Hendrawan. Di sana Brandon menemukan fakta jika Rachel sudah menikah dengan Farel. Mereka menikah di rumah sakit dengan wali Hendrawan sebelum beliau menghembuskan nafas terakhir.
"Semalam aku dan Farel sudah menikah, kami sudah sah menjadi sepasang suami istri. Kami hanya perlu mendaftarkan pernikahan kami ke pengadilan agama," Rachel menjelaskan sesaat kalimatnya dan menatap lekat Brandon, "Aku harap mulai sekarang kamu fokus saja dengan Luna dan Kevin. Aku sempat mendengar kamu ingin menceraikan Luna. Tolong jangan lakukan hal sekejam itu, selama 5 tahun, Luna sudah banyak berkorban untuk kami. Cobalah buka hati kamu. Aku yakin, kamu pasti bisa mencintai Luna melebihi rasa cinta kamu padaku."
Brandon mengalihkan pandangan nya ke arah putra kecil nya, Kevin. Wajahnya tampak murung dan sorot mata nya meredup. Melihat bagaimana kondisi putranya sekarang hati Brandon sakit sekali.
"Kevin."
Kevin diam saja tanpa berniat menjawab panggilan papa nya.
"Aku benci papa!. Aku nggak punya papa." teriak Kevin.
"Sayang, jangan bicara begitu," Brandon ingin memeluk Kevin, tapi Kevjn mendorongnya.
"Papa pergi ja sama Tante Agnes. Biar Kevin yang jagain mama. Cuma Kevin yang sayang sama Mama. Semua orang jahat sama mama."
Brandon menggeleng dan terus berusaha memeluk Kevin, tapi semakin kuat juga Kevin mendorongnya.
"Nggak mau, Kevin nggak mau di peluk papa. Papa jahat." Kevin berkaca-kaca dan akhirnya tangisnya pecah dalam gendongan Brandon. Brandon mendekap erat putranya dan mencium rambutnya.
"Maafkan, Papa maaf."
"Papa jahat." Kevin memukul bahu Brandon berulang kali sampai dia lelah lalu melingkarkan kedua tangan mungilnya di leher Brandon dan memeluknya erat. "Kevin benci papa."
"Maaf." Brandon ikut berkaca-kaca rasanya sakit sekali saat mendapatkan penolakan Kevin seperti tadi. Tidak, Brandon tidak ingin di benci putranya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1