
Rachel menghela nafas panjang.
"Aku ingin melihat-lihat rumah ini. Sejak kecil aku tinggal di rumah ini, mungkin tempat-tempat di rumah ini akan membuatku mengingat sesuatu."
"Iya, Nak. Silahkan masuk. Papa senang kamu bersedia datang ke sini."
Hendrawan menyentuh punggung Rachel dan membawanya masuk. Rachel menoleh pada Farel dan Farel menggenggam tangannya. Hendrawan sedih sekali Rachel tampak lebih nyaman dengan Farel di banding dengan dirinya.
***
Pukul 08.00
Setelah pulang dari rumah Hendrawan, Luna tidak langsung pulang ke rumah, melainkan pergi ke rumah nya dulu, rumah Dilara. Luna sengaja tidak menjual rumah ini karena sesekali jika ia merindukan Dilara maka ia akan datang ke sini.
Luna membersihkan seluruh bagian rumah sampai kelelahan dan tertidur. Lalu bangun sekitar jam 12 siang. Luna bingung harus melakukan apa, hanya tiduran di ruang tengah sambil menonton televisi. Mau pulang tidak ada orang di rumah, karena ternyata Brandon juga ikut pergi dengan Ardito dan Amora liburan bersama Kevin. Tidak hanya itu Agnes juga ternyata ikut. Karena Agnes mengirim foto Brandon ke wa Luna.
Luna di tinggal sendiri, sepi dan sunyi.
"Ma."
Di posisi tiduran miring menghadap ke layar televisi. Luna memanggil mama nya.
"Mama di mana?."
"Mama sedang apa sekarang?."
"Mama sudah makan?."
"Apa di sana Mama tidur dengan nyaman?."
"Apa Mama baik-baik saja?."
"A-apa Mama masih hidup?."
Di tengah lamunan nya, terdengar ponsel berdering, pertanda ada pesan masuk.
Luna mengulurkan tangan dan mengambil ponsel di atas meja. Ternyata pesan dari Brandon. Luna enggan membaca pesan itu. Tapi mungkin pesan itu ada pesan tentang Kevin.
__ADS_1
Brandon : Aku dan Kevin sudah sampai di rumah? Kamu dimana? Kevin menangis dan mencari kamu.
Brandon : Kenapa kamu pergi tanpa izin dariku? kamu sudah tidak menganggap ku sebagai suami lagi?.
Luna : Aku akan pulang. Bilang sama Kevin aku dalam perjalanan pulang.
Luna : Apa kamu izin padaku saat kamu ikut jalan sama mama dan papa? kamu bahkan tidak mengajakku. Lalu... apa kamu juga menganggap ku sebagai seorang istri? suami mana yang tega meninggalkan istrinya sendirian di rumah dan mencari kesenangan nya sendiri.
Brandon : Pulang sekarang! kita bicarakan di rumah. Aku malas mengetik.
Luna menghela nafas panjang. Setelah memasukkan ponsel ke dalam tas. Kemudian keluar rumah dan masuk ke dalam mobil. Supir pun melajukan mobil meninggalkan halaman rumah.
***
Sesampainya di rumah, Luna di sambut Brandon yang sedang duduk di sofa sambil menyilangkan kaki. Sorot matanya tajam, terlihat jelas raut kemarahan di wajahnya. Padahal kalau di pikir-pikir, di situasi sekarang. Orang yang berhak marah adalah Luna. Tapi seperti biasa, Luna seperti tidak boleh protes dan menerima perlakuan buruk padanya.
"Katakan darimana?."
"Kevin mana?."
Luna menghembuskan nafas kasar dan duduk di sofa sebrang Brandon.
"Aku habis dari rumah Hendrawan. Kamu juga sudah tahu kan, aku jadi perawat di sana. Dari pada aku tidak melakukan apa-apa, aku ke rumah Om Hendrawan. Sudah puas dengan jawabanku? sekarang di mana Kevin? Dimana?."
"Dia sedang tidur. Dia kelelahan menangis gara-gara kamu tidak pulang-pulang. Seharusnya kamu di rumah saja. Lalu saat Kevin pulang, dia bisa langsung bertemu kamu dan tidak menangis seperti tadi."
"Kalau kamu tidak ingin Kevin menangis, seharusnya kamu mengizinkan aku ikut dengan kalian. Aku yakin sepanjang jalan Kevin juga menangis kan?."
"Aku hanya ikut sebentar dengan mereka tadi sepulang dari kantor. Itu pun karena aku ingin menjemput Kevin dan membawanya pulang. Aku juga tidak mau Kevin menginap di rumah Mama dan papa. Aku tau Mama dan papa sangat menyanyangi Kevin. Tapi aku tidak bisa mempercayakan Kevin pada mereka. Memangnya apa yang kamu pikirkan? Kamu pikir aku meninggalkan jamu sendirian? Apa di mata kamu aku sejahat itu?."
Luna mengusap wajahnya dengan kasar. Entah dia harus mempercayai Brandon atau tidak, Luna tidak tau. Luna terlalu lelah berharap pada sesuatu yang tidak mungkin berpihak padanya. Brandon... tidak akan pernah ada di sisinya.
Apalagi sekarang Rachel sudah kembali. Seperti tempo hari yang Brandon katakan, jika Rachel sudah kembali Brandon akan meninggalkan nya dan pergi pada Rachel.
"Aku..." Luna meremas jari-jarinya sendiri. "Melihat Rachel di rumah Om Hendrawan. Rachel sudah pulang."
"Aku tau."
__ADS_1
"Ka-kamu tau kapan? Apa kalian pernah bertemu? kenapa kamu tidak memberitahuku? kamu tahu kan aku juga sangat merindukan Rachel."
"Aku bertemu Rachel dua hari yang lalu. Cuma mengobrol ringan. Setelah itu tidak pernah bertemu lagi. Rachel bilang, dia akan menghubungi ku jika dia sudah siap bertemu dengan ku."
Luna menatap sendu Brandon, "Lalu aoa keputusan kamu sekarang? apa kamu akan mengejar Rachel lagi? apa kamu akan meninggalkan aku dan kevjn?."
"Tentu saja aku akan mengejar Rachel lagi. Kevin akan ikut aku apapun yang terjadi antara kita."
"Kevin putraku."
"Kevin juga putraku Luna."
Luna dan Brandon saling bertatapan sengit. Jika biasanya hanya diam dan menerima semua perintah Brandon, sekarang Luna akan mencoba memperjuangkan haknya. Apalagi jika sudah menyangkut Kevin. Luna tidak akan tinggal diam.
Luna juga tidak bermaksud menjadi istri yang durhaka. Luna hanya ingin Brandon menghargainya selayaknya seorang istri.
"Sekarang kamu sudah mulai berani membantah."
"Membantah bagaimana? aku menyuarakan isi hatiku. Apa aku tidak boleh bersuara? Apa aku tidak boleh memperjuangkan haknya? aku juga punya perasaan. Aku bisa sakit hati, aku bisa sedih, aku bisa juga terluka. Tapi selama ini aku selalu diam."
"Aku merasa tidak pantas berbicara apa-apa, karena sadar, aku bukan siapa-siapa untuk kamu. Aku hanya seorang wanita yang melahirkan anak kamu. Tidak tidak lebih. Aku sadar. Karena itu aku tidak pernah menuntut apapun. Tapi... sampai kapan aku harus seperti ini? Apa aku tidak berhak bahagia? apa aku harus terus menderita?."
Air mata Luna mengalir begitu saja. Tak ingin terlihat menyedihkan, Luna segera menghapus air matanya dengan kasar. Pandangan mata nya tertuju menatap bola mata Brandon.
"Jika kamu ingin kembali pada Rachel atau menikah dengan perempuan manapun. Silahkan! silahkan lakukan apapun yang kamu inginkan. Tapi... tolong biarkan Kevin bersamaku. Kamu masih bisa menikah lagi dan memiliki anak. Sedangkan aku... dengan segala masa laluku, siapa yang mau menerima?. Tidak ada, hanya Kevin yang tulus menyanyangiku tanpa syarat."
Dada Luna naik turun, napasnya tak beraturan dan air mata nya tak berhenti mengalir. Sementara Brandon, juga terdiam. Beberapa detik yang lalu ada banyak hal yang ingin Brandon katakan pada Luna. Tapi mendadak lupa. Perasaan jadi kosong begitu saja saat Luna mengutarakan isi hatinya.
"Tapi daripada berpisah, kenapa kita tidak mencoba untuk mempertahankan pernikahan kita. Kenapa kamu tidak mencoba untuk mencintaiku? ku sudah sering bilang, katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu mencintaiku? Aku akan melakukan itu untuk kamu. Untuk Kevin juga. Kevin akan bahagia jika Ayah dan Ibunya bersatu."
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1