
"Farel."
Semua orang yang ada di ruang tengah mengangkat kepala, memandang ke arah sang pemilik suara itu, Luna. Gadis berambut sepunggung yang di biarkan tergerai itu berjalan mendekat. Duduk di samping Farel dan menatap nya khawatir.
"Ya ampun Sayang, luka kamu separah ini?." Luna menyentuh lembut lengan Farel dengan lembut yang masih di balut kain kassa.
"Kapan kamu kecelakaan? kenapa baru bilang sekarang? Oh yag maaf aku baru datang sekarang. Semalam aku nggak enak badan karena itu aku bangun kesiangan. Sekarang aja kepalaku masih sakit tapi demi kamu aku menahan sakit."
"Harusnya kalau kamu nggak enak badan nggak usah ke sini." Farel mengulurkan tangan ke dahi Luna, benar agak panas.
"Aku mana bisa tenang sebelum melihat kondisi kamu secara langsung. Terus gimana keadaan kamu sekarang?."
"Sekarang keadaan ku sudah membaik, cuman perli bedrest beberapa hati setelah itu pasti sepenuhnya pulih. Maaf aku juga baru memberitahumu karena aku tidak mau membuat kamu khawatir."
"Syukurlah kalau begitu, sepanjang perjalanan tadi aku sudah was-was takut kamu terluka parah. Coba aja kalau kamu memberitahu ku sejak awal aku pasti akan merawat kamu."
Farel menganguk,
"Ya elah pacaran terus, yang lain mah ngontrak!." Goda Rendy yang membuat Luna mengalihkan pandangan nya ke arahnya.
Luna tersenyum pada Tian, Rendy dan Dypta yang sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Rendy sedang mengenang rambut Rani, sementara Bastian sedang merangkai-rangkai bunga ingin membuatkan mahkota untuk Rana. Sedangkan Dypta sedang bermain Games ponsel dengan Reza.
"Maaf aku terlalu khawatir dengan keadaan Farel sampai aku lupa menyapa kalian."
Lalu Luna menatap Anthony, "Selamat pagi Om. Maaf kalau sikap saya tidak sopan tidak menyapa Om dulu. Saya malah langsung bertanya ini itu pada Farel."
"Tidak apa-apa." Jawab Anthony singkat.
Lalu Luna mengalihkan pandangan ke arah ketiga adik Farel.
"Rana, Rani, Reza lama tidak bertemu." Sapa Luna.
"Hai kak Luna." Sapa ketiga bocah manis itu bersamaan.
Luna merasa bersalah tidak membawakan sesuatu untuk mereka. Biasanya setiap dia datang Luna akan membawa makanan, hadiah atau apapun untuk ketiga adik Farel yang akan menjadi adiknya juga. Tapi karena tadi buru-buru begitu khawatir dengan kondisi Farel, Luna tidak memikirkan apapun selain ingin segera sampai ke rumah Farel.
"Aku jadi merasa bersalah karena tidak membawa apa-apa untuk adik-adik kamu." bisik Luna pada Farel.
"Gapapa di rumah sudah banyak makanan. Mereka juga sudah punya banyak mainan. Kamu nggak perlu bawa apa-apa."
Luna tersenyum, "Sayang ku pengertian banget sih, jadi makin cinta deh." Luna mencubit pipi Farel.
Farel memperhatikan mata Luna yang bengkak. Sepertinya seharian kemarin Luna menangis setelah mengetahui perselingkuhan Hendrawan dan Dilara. Farel ingin ngobrol berdua dan bertanya bagaimana perasaan nya sekarang.
__ADS_1
Selain itu Farel juga ingin mengetahui awal mulai bagaimana perselingkuhan Hendrawan dan Dilara di mulai. Mungkin saja mereka sudah menjelaskan nya pada Luna sehingga Luna lebih tahu tentang hubungan mereka.
"Soal yang kemarin..." Sahut Farel pelan.
"Aku sudah tahu semua." Luna memotong ucapan Farel dan tersenyum.
"Tau apa?."
"Kisah Mamah dan Om Hendrawan. Akan aku ceritakan nanti. Oh yah Tante Sarah dan Rachel di mana?."
"Mereka di dapur lagi masak untuk sarapan nanti."
"Ya udah aku ke dapur juga yah, mau bantu calon Ibu Mertua sama Rachel masak dulu." Luna tersenyum lebar mengusap pipi Farel dan berlari riang menuju dapur.
Farel terdiam dengan mata tertuju pada langkah Luna. Melihat betapa bahagia nya Luna dengan hubungan ini membuat Farel jadi merasa bersalah. Luna terlihat sangat mencintainya sedangkan dirinya masih ragu dengan perasaannya sendiri.
"Tante Sarah, Rachel."
"Luna." Sapa balik Sarah dengan senyum ramah. Begitu juga Rachel yang ikut melempar senyum pada sahabat nya itu.
"Maaf Tante aku datang telat ke sini. Ini apa yang bisa aku bantu? aku tidak bisa memasak tapi aku bisa bantu-bantu menuangkan minuman atau apa gitu?." tanya Luna merasa tak enak.
"Ga papa sudah selesai kok. Tinggal menata makanan aja di meja makan."
"Oke Tante, aku bantuin yah."
"Luna sini!." panggil Rachel yang ada di area dapur sedang menuangkan sop dari panci ke dalam mangkok besar.
Luna tersenyum, menghampiri Rachel dengan riang lalu tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Kakak." manja Luna sambil mendusel-duselkan hidung di rambut Rachel.
"Eh ada apa ini? datang-datang udah manja gini. Pasti ada maunya?."
Luna menggeleng, "Nggak papa kok, aku cuman mau meluk Kakak Rachel aja. Luna Sayang Kakak."
Rachel tertawa "Kamu kenapa Luna? kenapa tiba-tiba gini? lagi happy banget kayaknya, cerita dong, kenapa!."
"Iya aku lagi happy banget," Luna tersenyum menyandarkan kepala di pundak Rachel.
"Ya udah cerita! kenapa bisa sehappy ini. Aku juga mau ikut happy buat kamu."
"Aku cerita nanti aja deh."
__ADS_1
"Oke, ini bawa dulu ke meja makan."
Rachel memberikan mangkok besar berisi sop kepada Luna. Mangkok ini di desain khusus dengan lapisan luar tahan panas sehingga saat sisi samping atau bawahnya di pegang tidak terasa panas. Meski begitu tetap Rachel khawatir Luna kepanasan dan memberikan serbet di bawah mangkuk.
"Panas nggak?."
"Nggak kok. Ya udah aku bawa ke sana dulu yah."
Rachel menganguk dan Luna pun membawa mangkuk itu ke meja makan.
Ruang makan di lantai 1 ini memang lebih luas di bandingkan dengan lantai 2. Di sini lebih banyak kursi sedangkan di lantai 2 hanya ada beberapa kursi saja karena di desain khusus ruang makan keluarga.
"Makan-makan nggak sabar buat ngabisin semuanya." seru Rendy.
"Sekalian aja meja nya lo makan." cibir Bastian.
"Biasanya sih yang ngejek kayak gitu yang ngelakuin sendiri. Tante Sarah awas hati-hati meja makan di makan Tian." adu Rendy yang langsung mendapat pukulan dari Bastian.
Meja ruang makan ini berbentuk lingkaran dengan model meja terbuat dari tiga lapisan. Lapisan pertama sebagai alasan makan, lapisan ke dua dan ke tiga bisa di putar sehingga semua orang bisa mencicipi semua menu dengan cara memutar kaca seperti di restaurant.
Mereka duduk melingkar, dengan posisi Rani, Anthony, Sarah, Rani, Bastian, Dypta, Reza, Rachel, Farel, Luna, dan Rendy.
Sebelum makan mereka berdoa dulu.
"Farel, tangan kanan kamu sakit kan? sini aku suapin." Luna mengarahkan sendok ke mulut Farel.
Bukannya langsung membuka mulut, justru Farel melihat ke arah Rachel untuk melihat reaksinya. Rachel diam saja, sama sekali tidak melirik kepada nya malah fokus makan.
"Farel ayo buka mulutnya." pinta Luna sekali lagi karena Farel hanya diam saja.
Karena sudah mengangkat makanan, tidak enak untuk menolak. Farel membuka mulut, dan lagi Farel melirik Rachel untuk melihat reaksinya. Lagi-lagi Rachel hanya diam, Farel penasaran apa yang Rachel pikirkan sekarang.
Situasi ini benar-benar aneh. Status Luna adalah pacar nya tapi Farel justru takut Rachel marah.
"Ayo aku suapi lagi."
Farel memegang lengan Luna dan menurunkan hingga menempel di meja. Kemudian berbisik pelan ke telinga Luna.
"Aku bisa makan sendiri, nggak enak suap-suapan di depan semua orang begini."
"Ga papa Farel, semua orang juga tahu kalau kamu pacar aku. Sebagai pacar emang sudah seharusnya aku perhatian begini. Hitung-hitung belajar jadi istri yang baik untuk kamu."
Luna menyendok nasi lagi dan menyuapkannya kepada Farel.
__ADS_1
"Istri? emang Abang sama Kak Luna mau nikah?." tanya Reza.
Farel seketika melotot...