
[Halo, Mas.]
"Di mana kamu?."
[Ini aku lagi di dalam taksi, Mas. Perjalanan ke rumah sakit tapi jalanan macet, banyak polisi juga di depan sana, seperti nya ada yang baru saja kecelakaan.]
Mendengar itu Hendrawan semakin mengepalkan tangan kuat.
"Kamu tahu siapa yang kecelakaan."
[Nggak tahu Mas. Kenapa juga aku harus tahu, itu bukan urusan ku. Yang jelas sekarang aku ingin ke rumah sakit dan menemani Luna. Tapi nggak tahu sampai kapan kemacetan ini akan selesai. Oh ini, sopir taksiku bilang yang kecelakaan anak muda, katanya gara-gara nggak konsentrasi menyetir, terus-.]
"RACHEL! RACHEL YANG KECELAKAAN! PUTRIKU."
Dada Hendrawan naik turun menahan amarah. Semakin dia mendengar penjelasan Dilara, semakin tersebut juga emosinya.
[Rachel kecelakaan? bagaimana bisa? tadi sepertinya dia ingi ke rumah sakit dan Farel mengejarnya. Oh ya Mas. Maaf aku belum cerita sama kamu. Setelah kamu memberitahu kalau Farel ada di Club yang sama dengan Luna dan Farel menginap di sana, aku langsung ke apartement Farel. Kita harus minta pertanggungjawaban Farel. Kita-.]
"Kamu... masih punya otak dan otak kamu masih berfungsi dengan benar kan?." Hendrawan mengepalkan tangan semakin kuat.
"Kenapa kamu asal menyimpulkan tanpa mendengar pembicaraanku dengan Johny yang utuh. Johny memang mengatakan Farel menginap di sana. Tapi ada orang lain juga, Johny juga belum mengecek tamu keseluruhan. Dia hanya memberi data tamu yang menginap dan yang seumuran dengan Luna, hanya Farel dan Brandon."
Hendrawan mondar-mandir sambil menempelkan ponsel di telinga dan terus berbicara dengan emosi dan penuh tekanan.
[Ta-tapi bisa jadi Farel pelakunya kan, Mas?.]
"Ada kemungkinan, tapi bukan berarti kamu bisa datang ke apartementnya dan menuduhnya! apalagi kamu juga mengatakan pada Rachel. Kamu tau kan dari potongan Diary yang Luna upload, Rachel menyukai Farel dari kecil. Ucapan kamu yang mengatakan Farel memperkosa Luna pasti membuat Rachel syok sampai tidak konsentrasi menyetir dan akhirnya kecelakaan. Kedua putriku ada di rumah sakit semua, Luna kritis dan Rachel luka parah."
"Kenapa kamu nggak nunggu sebentar lagi untuk mencari bukti pasti siapa pelakunya. Sekarang lihatlah akibatnya, dua putriku yang terkena imbasnya."
Hendrawan berkaca-kaca, lalu menekan sudut mata dengan jemarinya agar air matanya tidak menetes. Kemudian mengakhiri panggilan dan terduduk di kursi tunggu sembari menundukkan kepala. Air mata yang sempat di tahan berjatuhan membasahi sepatu nya yang terdapat noda dara, noda darah Rachel yang menetes.
"Kenapa? kenapa jadi begini?." Hendrawan menumpukkan siku di lutut dan mencengkram kepalanya.
__ADS_1
Farel yang masih terdiam berdiri di depan ruang operasi hanya menatap Hendrawan tanpa mengatakan apapun. Farel tidak tahu apa yang di pikirkan Hendrawan sekarang, tapi dari raut wajahnya dia terlihat menyesal.
***
Setelah Farel mengirim pesan dan memberitahu Rachel di rumah sakit. Ayuma bergegas meninggalkan kantor pergi menuju rumah sakit. Beberapa menit kemudian akhirnya Ayuma tiba juga.
Begitu turun dari mobil, Ayuma langsung berlari kecil menuju ke lobi rumah sakit. Namun langkahnya tertahan mendengar panggilan seseorang.
"Ayuma."
Ayuma menoleh, begitu melihat siapa pemilik suara itu, Ayuma tak peduli dan lanjut berjalan lagi.
"Aku tidak punya waktu untuk kamu. Putriku kecelakaan."
"Luna juga kecelakaan, kecelakaan tragis yang membuat dia ingin bunuh diri."
Langkah Ayuma tertahan lalu berbalik badan.
"Bunuh diri? kecelakaan apa yang membuat dia bunuh diri?."
"Luna di perkosa sekarang keadaan nya kritis dan Dokter mengatakan alat intim nya robek."
Ayuma terhenyak, syok bukan main. Meskipun Ayuma tidak menyukai Dilara dan Luna, tetap saja kejadian ini sangat menyakitkan. Ayuma membayangkan jika hal ini juga terjadi pada Rachel, tentu Ayuma sangat terpukul.
"Kemarin Luna ke Klub dan seperti nya mabuk. Lalu ada seseorang yang memanfaatkan ketidakberdayaan Luna dan memperkosa nya. Di sana juga ada Farel, Farel juga mabuk berat. Aku ke Apartement Farel untuk meminta pertanggungjawaban nya. Dan di sana aku bertemu dengan Rachel, setelah mendengar semua penjelasanku, Rachel pergi dan Farel mengejarnya. Mereka kejar-kejaran dan Rachel kecelakaan."
Farel mengerutkan dahi, tampak berpikir keras dan menajamkan mata pada Dilara.
"Jangan fitnah kamu, tidak mungkin Farel melakukan itu."
"Farel mabuk. Dalam keadaan mabuk segala kemungkinan bisa terjadi. Kalau sampai Luna hamil, aku akan meminta pertanggungjawaban Farel untuk menikahi Luna. Ah tidak, bukan menunggu sampai Luna hamil, tapi saat ini juga, saya akan meminta Farel bertanggung jawab untuk menikah dengan Luna. Jadi saya minta agar Rachel berlapang dada untuk melepaskan Farel dan menghapus perasaan nya pada Farel."
Ayuma mengepalkan tangan, dan tanpa mengatakan apapun meninggalkan Dilara dan bergegas ke ruang operasi.
__ADS_1
Dilara juga ke dalam rumah sakit dan menuju ke ruang rawat putrinya. Sekarang pasti Luna sendirian, sementara Hendrawan menemani Rachel. Semakin ke sini Hendrawan terlihat semakin peduli pada Rachel, padahal kondisi Luna juga sama mengkhawatirkan.
***
"Tante Ayuma," Sapa Farel begitu melihat Ayuma mendekat ke arahnya.
Hendrawan yang mendengar itu langsung mendongakkan kepala mengikuti arah pandangan Farel. Begitu matanya menangkap sosok Ayuma, Hendrawan langsung berdiri.
"Ayuma," lirih Hendrawan sembari mendekat.
"Pergi."
Langkah Hendrawan langsung terhenti, hatinya mencelos dengan sorot mata menyendu menatap Ayuma.
"Aku ingin menemani Rachel."
"Menemani? Apa peduli mu?."
"Rachel putriku, dia putri kandungku. Tentu saja aku peduli padanya."
"Putri mu?." Ayuma tertawa dengan mata berkaca-kaca. "Apa kamu lupa ucapan kamu tempo hari, kamu tidak pernah menginginkan Rachel lahir ke dunia. Kamu bilang dia kesalahan, dan waktu bisa di ulang lagi. Kamu ingin menghapus Rachel dari hidupmu. Dan dengan teganya kamu mengatakan itu langsung di depan Rachel! Sedikitpun kamu tidak pernah mencoba menjaga perasaan putri kamu. Padahal Rachel begitu menyanyangi kamu dan menganggap kamu sebagai cinta pertamanya. Lalu kenapa tiba-tiba kamu jadi peduli dan ingin menemaninya?."
Hendrawan terdiam dengan perasaan bersalah menyelimuti hati. Benar Hendrawan mengatakan semua itu. Tapi itu dulu sebelum kasih sayang mulai tumbuh di hatinya. Sekarang Hendrawan benar-benar khawatir dengan kondisi Rachel. Dengan mata kepala nya sendiri, Hendrawan melihat tubuh putrinya berselimutkan darah.
Saat itu rasanya seperti separuh raga Hendrawan dicabut paksa, sakit luar biasa sakit lemas dan sesak.
"Lebih baik sekarang kamu pergi, Mas. Aku dengar Luna juga ada di rumah sakit ini dan kondisinya sedang kritis lebih baik kamu menjaga dia"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...