Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 162


__ADS_3

"Masuk, pintunya tidak terkunci."


Luna membuka pintu, Kevin langsung masuk dan berlari menghampiri Hendrawan yang duduk di kursi roda.


"Opaa," Kevin menghamburkan diri dan menumpukkan tubuhnya di kaki Hendrawan.


Hendrawan tersenyum, "Lucunya," tangannya terulur mengusap rambut Kevin dan mencubit pipinya, Hendrawan senang sekali bertemu dengan Kevin yang lucu dan riang. Bocah kecil ini juga salah satu penyemangat Hendrawan untuk terus membuka mata keesokan harinya. Tapi sayangnya Kevin tidak selalu datang ke sini, mungkin du kali seminggu tergantung kondisi Hendrawan.


Luna mendekat dan berdiri di depan Hendrawan.


"Opa, gimana kabar Opa? Opa sudah baikan?."


"Sudah, kondisi Oppa sudah membaik. Terima kasih Kevin sudah menjenguk Oppa."


"Sama-sama Oppa. Kevin senang bermain sama Opa. Opa lebih seru daripada Oppa Kevin. Soalnya kalau Kevin salah Oppa Kevin suka marah-marah, kalau Oppa Hendrawan nggak pernah marah sama Kevin."


"Mana tega Oppa marahin anak selucu dan sepintar Kevin. Ayo kita main di ruang tengah."


"LETS GOOO," Sorak Kevin dengan riang.


"Sebentar ya, mama periksa dulu kondisi Oppa Hendrawan."


"Oke Mama."


Luna mengeluarkan stetoskop untuk mendengar detak jantung Hendrawan, serta mengeluarkan alat tensimeter untuk mengecek tes darah. Demi bisa menjadi perawat Hendrawan, Luna belajar menggunakan alat-alat kedokteran ini.


Untung saja Brandon memfasilitasinya dan membiayai selama Luna belajar. Meskipun Brandon tidak mau mengakuinya sebagai istri di depan umum. Brandon tetap melakukan tugas sebagai seorang suami dengan baik.


"Sudah selesai, detak jantung dan tekanan darah normal," ucap Luna setelah memeriksa Hendrawan.


"Apa itu artinya Oppa Hendrawan akan segera sembuh, Mama?." tanya Kevin, "Terus nanti Oppa bisa berjalan dan lari-larian sama Kevin?."


"Hm, Oppa Hendrawan pasti akan segera sembuh."


"Yeee," Kevin bersorak senang.


Luna mendorong kursi roda Hendrawan menuju ke ruang tengah. Sementara Hendrawan bermain dengan Kevin, Luna menuju ke dapur. Ternyata Bi Susan sudah memasak.


"Neng Nana," Sapa Bi Susan.


Nana, begitulah nama samaran Luna.

__ADS_1


"Iyah, Bi. Wah bibi sudah selesai masak? pasti enak banget sudah tercium dari kejauhan tadi."


Bi Susan tersenyum, "Neng Nana bisa saja."


"Ini Neng sudah bibi siapkan, tinggal bawa aja. Pak Hendrawan jadi makan banyak kalau ada Neng Nana sama Kevin."


"Itu karena masakan Bibi yang enak, kalau saya yang masak mungkin Pak Hendrawan makan nya dikit."


"Aduh, Neng. Bibi jadi malu. Tapi Neng waktu itu pernah masak dan masakan Neng sangat enak. jangan merendah begitu, Neng. Neng harus percaya diri."


"Iya, Bi. Terima kasih. Aku ke ruang tengah dulu ya."


"Iya, Neng."


Luna pergi ke ruang tengah.


"Sarapan datang," Seru Luna membuat Hendrawan dan Kevin yang sedang bermain menoleh. Sejak Luna menjadi perawatnya dan membawa putra kecilnya, Hendrawan membeli banyak mainan di rumahnya, agar Kevin betah berlama-lama di rumahnya. Hendrawan suka bermain dengan Kevin. Celotehan anak kecil ini mewarnai hari-hari gelapnya.


"Aku mau sarapan lagi, mama."


"Kevin laper lagi, tadi di rumah sudah sarapan," ucap Luna.


"Laper lagi. Kevin mau makan bareng sama Oppa Hendrawan. Bolehkah Mama?."


"Tentu saja boleh, sini Oppa suapi."


Luna membantu Hendrawan pindah duduk di sofa, lalu meletakkan piring di pangkuan Hendrawan. Kevin langsung meloncat ke atas sofa dan duduk di samping Hendrawan.


"Oppa aaaa." Kevin membuka mulut lebar-lebar.


Hendrawan tersenyum dan menyuapkan sendok berisi nasi dan suwiran ayam ke mulut Kevin, lalu gantian Kevin yang menyuapi Hendrawan.


Hendrawan tampak bahagia membuat Luna juga ikut bahagia. Tapi Luna juga ingin menangis melihat kondisi Hendrawan sekarang, kondisi tubuh Hendrawan sudah tidak sebugar dulu, di sudut-sudut mata dan bibir sudah mulai terlihat keriput.


Luna ingin sekali menghabiskan waktu lebih banyak bersama Hendrawan, menjaga dan merawatnya seperti ayah kandungnya sendiri. Meskipun Hendrawan bukan Ayah kandungnya. Hendrawan pernah menyayangi dan mengasihinya layaknya seorang putri kandung. Luna ingin berbakti pada Hendrawan dan membalas kebaikannya dulu.


Mungkin sekarang Hendrawan membencinya, tapi tak apa, bisa di dekat beliau udah merawatnya sudah cukup untuk Luna.


"Kenapa kami menangis?." tanya Hendrawan begitu menoleh, melihat Luna menangis.


"Menangis?." Luna menyentuh pipinya yang ternyata sudah basah oleh air mata. Luna bahkan tidak sadar sudah menangis.

__ADS_1


"Saya tiba-tiba merindukan ayah kandung saya, pak."


"Memangnya ayah kandung kamu di mana?."


"Entahlah, mungkin di suatu tempat."


Luna menatap lekat Hendrawan dengan perasaan rindu sekali.


"Sa-saya boleh memeluk Pak Hendrawan?."


"Tentu, tentu saja. Saya juga merindukan putri saya, namanya Rachel."


Luna memeluk Hendrawan dengan setetes air mata yang kembali mengalir. Tuhan terima kasih, batin Luna. Sangat bersyukur bisa memeluk Hendrawan lagi, Kevin tidak tahu kenapa Oppa Hendrawan dan Mamanya berpelukan, tapi Kevin juga ikut memeluk Hendrawan juga mengikuti mamanya.


"Saya berdia semoga kamu segera bertemu dengan papa kandung kamu."


"Iya, Pak. Saya juga berdoa semoga Pak Hendrawan segera bertemu dengan Rachel."


***


"Rachel ini kamar kamu."


Rachel mengendarkan pandangan ke sekeliling, menatap setiap sudut kamar ini. Kamar bernuansa soft blue yang tampak rapi, cantik dan bagus sekali. Melihat kamar ini, Rachel seperti melihat dekorasi kamarnya yang ada di Swiss.


Penataan tempat tidur dan pemilihan warnanya. Meja belajar yang masih lengkap dengan alat tulis ada buku bolpoin, pensil tulis dan beberapa novel. Lalu di meja rias masih ada parfum lipstik dan bedak yang sudah kadaluarsa tapi masih tersusun rapi. Kemudian penataan lemari dan sofa pas sekali di tempatnya. Membuat kamar ini tampak nyaman.


"Dulu kamu sering bermain ke sini dan kadang juga menginap. Biasanya kamu tidur bersama Rana atau Rani, kadang-kadang Farel jahil menawari kamu tidur bersamanya."


Rachel tersenyum, membayangkan betapa jailnya Farel yang dulu.


"Agar lebih nyaman akhirnya Tante dan Om membuatkan kamar ini. Dan ya....inilah kamar kamu. Kamu dan Farel yang mendekorasinya, di bantu Rani, Reza dan Rana. Selama 5 tahun tidak ada yang berubah, semua masih sama. Kami semua merawatnya tapi lebih banyak Farel yang membersihkan kamar ini. Farel memastikan tidak ada debu sedikitpun di kamar ini, sampai kadang kalau Rana dan Rani ingin bermain di sini, dia marah-marah Farel tidak rela kamar ini ternodai."


Rachel tertawa kecil.


"Jika Farel pulang ke rumah Farel pasti tidur di sini." Sarah menatap Rachel lekat. "Farel selalu merindukan mu 24 jam. Mungkin kamu tidak percaya. Mungkin kamu menganggap Tange berlebihan. Tapi jujur saja, Tangerang mengatakan itu bukan karena Farel putra Tante. Tapi kenyataan ya Farel memang sangat merindukan kamu."


Sarah mengusap lembut pipi Rachel, "Kamu semua merindukan kamu."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2