
Luna menoleh pada Brandon, "Aku pikir kamu pergi dengan sekretaris kamu."
"Tidak mungkin aku datang ke acara pernikahan temanku dengan seorang laki-laki. Orang-orang bisa mengira aku pasangan gay."
"Kenapa Agnes? kenapa bukan aku? aku istri kamu."
"Istri diam-diam!." tegas Brandon membuat Luna semakin kecewa. "Ingat Luna. Sejak awal aku sudah mengatakan aku akan menikahi kamu dengan syarat pernikahan kita diam-diam."
Bagian yang paling menyakitkan dari pernikahan ini adalah Luna tidak bisa mengutarakan isi hatinya. Luna dilarang cemburu, dilarang marah, dilarang memberontak, Luna diharuskan untuk diam, menerima, dan pasrah.
Tapi sampai kapan akan terus seperti ini, Luna merasa begitu lelah harus menyembunyikan pernikahan mereka.
"Brandon maaf ya aku ke sini. Soalnya aku pikir kamu nggak jadi jemput aku " ucap Agnes sambil berjalan mendekat pada Brandon.
"Ya ampun kamu tampan sekali," Agnes mengusap lengan Brandon dengan gerakan sensual membuat Luna mengepalkan tangan.
Agnes ini... Apa dia tidak punya hati? dia sudah tahu Brandon memiliki istri dan anak. Tapi dia masih mendekati Brandon dan keganjenan bahkan menerima perjodohan itu dan yang paling keterlaluan Agnes bahkan terang-terangan menggoda Brandon di depan Luna.
"Terima kasih." jawab Brandon.
"Apa aku cantik malam ini?." Agnes berputar lalu berpose dengan menyingkap belahan gaun bawah sehingga memperlihatkan paha dalamnya.
"Kita bisa pergi sekarang." ucap Brandon dan tanpa menjawab pertanyaan Agnes.
Brandon menatap Luna, "Aku berangkat dulu."
Luna tak menjawab hanya mengangguk namun Brandon bisa melihat kesedihan di matanya tapi Brandon juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghapus kesedihan itu.
"Ayo!." Agnes melingkarkan tangan di lengan Brandon dan menariknya menuju ke mobil, "Pakai mobil aku saja kamu yang menyetir."
Brandon mengangguk.
Saat mereka berjalan menuju ke mobil, Agnes menoleh ke belakang dan melempar senyum manis pada Luna kemudian memutus kontak mata dan berjalan lagi.
__ADS_1
"Tunggu!." Panggil Luna menghentikan langkah mereka.
Mendengar panggilan itu Brandon dan Agnes berbalik badan bersamaan dengan Luna berjalan mendekati mereka lalu tiba-tiba ...
Plak...
Brandon dan Agnes sama-sama terkejut saat tiba-tiba Luna menampar Agnes begitu keras sampai kepala Agnes oleng ke samping.
"Luna." tegur Brandon.
"Kamu..." Agnes memegang pipinya terasa panas dan mengalihkan pandangan kepada mata memicing.
"Berani sekali kamu menamparku! Kamu siapa, hah. Selama ini tidak ada yang pernah berani menamparku."
Agnes tidak terima tangannya terkepal kuat berniat ingin menampar balik Luna tapi ...
"Sudah cukup!." Suara Brandon sembari menatap tajam Luna menahan gerakan tangan Agnes yang ingin terayun.
"Kamu tanya siapa aku? aku istri dari laki-laki yang berusaha kamu rebut. Kamu seorang perempuan kan? harusnya kamu mengerti perasaan perempuan lain."
"Rebut?." Agnes tertawa. "Aku tidak pernah merebut Brandon kami baru saja ingin mengenal, kalau nanti kami saling jatuh cinta itu bukan kesalahan kami justru kedatanganku ingin menyelamatkan Brandon. Aku sudah tahu Brandon menikahi kamu bukan karena cinta tapi karena tanggung jawabnya. Gara-gara kamu hamil Kevin di luar nikah kalian menikah. Seandainya kalian saling mencintai aku juga tidak akan mau membuang-buang waktuku untuk pendekatan dengan Brandon."
Agnes menatap sinis Luna, "Aku tidak menyangka ternyata kamu seegois ini, Luna. Kamu sudah tahu kan sejak awal Brandon menikahi kamu bukan karena cinta, tapi kenapa sekarang kamu menuntut cinta dan perhatian dari Brandon. Seharusnya kamu bersyukur Brandon menikahi kamu dan juga Brandon berhak bahagia dan berhak menentukan pilihannya."
Luna terdiam dengan tangan terkepal kuat. Luna bisa saja membela diri karena posisinya sebagai istri sah jelas lebih kuat daripada Agnes.
Tapi bagaimana bisa Luna membela diri sedangkan Brandon saja hanya diam, Brandon seolah membenarkan semua yang Agnes katakan, namun jika dipikir-pikir lagi semua yang Agnes katakan memang benar. Tentang Brandon yang tidak mencintainya tentang pernikahan mereka yang terpaksa tentang Brandon yang ingin bahagia.
Iya, Luna tahu semua itu memang benar tapi sedikit saja Luna berharap Brandon membelanya.
"Kenapa diam?." Agnes berdecih dan menatap remeh Luna. Lagi pula, Luna tidak selevel dengannya. Berani-beraninga perempuan ini menasehatinya. Bahkan dari ucapan Luna tadi secara tidak langsung dia menuduhnya sebagai pelakor.
"Luna, aku tidak bermaksud jahat sama kamu Untuk apa juga aku jahat aku nggak maunya waktu untuk mengurus perempuan nggak berguna seperti kamu Luna. Aku cuma ingin mengatakan sebuah fakta agar kamu juga tahu batasan kamu. Kasihan Brandon dia terus-terusan terkekang bersama kamu. Seharusnya kamu juga introspeksi diri. Aku sudah mendengar cerita kamu di masa lalu."
__ADS_1
"Kamu punya masa lalu yang buruk. Menurut kamu apa yang akan terjadi kalau semua orang tahu kamu menikah dengan Brandon. Reputasi Brandon akan hancur!. Reputasi itu akan mempengaruhi saham perusahaan. Tidak menutup kemungkinan perusahaan akan ada di ambang kebangkrutan jika Brandon mengumumkan pernikahan kalian."
Semua kata-kata Itu menyakitkan tapi lebih menyakitkan sikap Brandon yang sejak tadi masih diam kekuatan Luna untuk melawan mendadak jadi luntur, keberaniannya menguap begitu saja Luna tidak pernah merasa selemah ini. Brandon seolah merasa diwakilkan dengan ucapan-ucapan Agnes artinya secara tidak langsung Brandon juga setuju dengan Agnes bahwa Luna istri yang tidak berguna dan tidak pantas bersanding dengannya.
"Sudahlah, sebaiknya kita berangkat. Ini sudah telat Brandon." Agnes melingkarkan tangan di lengan Brandon.
"Kamu masuk duluan."
Agnes ingin protes, tapi melihat tatapan Brandon yang tidak ingin di tolak, Agnes pun masuk ke dalam mobil duluan. Sementara Brandon mendekat pada Luna.
"Kamu masuk ke dalam rumah, langsung tidur."
Luna menatap nanar pada suaminya dengan tangan masih terkepal kuat. Ada banyak hal yang ingin Luna katakan, tapi jangan kan untuk mengatakan keluh kesah hatinya, baru membuka mulut saja Luna pasti akan menangis. Situasi ini terlalu menyakitkan untuknya.
"Kamu masuk sekarang!." ucap Brandon lebih tegas karena Luna tak kunjung masuk ke dalam rumah.
"Hm aku masuk sekarang. Have fun dengan Agnes, perempuan yang bisa membuat kamu bahagia, perempuan yang layak bersanding dengan kamu."
Tanpa menunggu jawaban Brandon, Luna langsung berbalik badan dan masuk ke dalam rumah. Saat berlari air matanya berjatuhan. Menyedihkan, menggenaskan, dan Malang sekali. Itulah yang Luna rasakan sekarang. Bahkan dalam kondisi seperti ini, Luna tidak punya seseorang untuk mendengar ceritanya ada Kevin. Kevin akan selalu ada untuknya tapi yang Luna maksud seseorang seperti keluarga teman atau sahabat.
Langkah kaki Luna tertahan mendengar suara mobil itu pasti suara mobil Agnes yang melaju meninggalkan halaman rumah.
"Mama..."
Suara itu...
Luna berbalik badan dan betapa terkejutnya dia melihat Kevin berdiri di dekat jendela.
"Sayang Apa yang kamu lakukan di sini? mama meminta kamu menunggu di kamar." Luna mendekat Kevin dan berjongkok di depannya.
"Kenapa Mama lama, Kevin pikir Mama ikut sama Papa pergi, jadi Kevin keluar dari kamar terus cari mama. Tapi dari jendela itu Kevin lihat Papa pergi sama tante Agnes."
Ya Tuhan, Luna paling tidak bisa jika berhadapan dengan situasi seperti sekarang Kevin tidak seharusnya melihat hal-hal seperti ini, tidak seharusnya Kevin melihat Papanya dekat dengan perempuan lain dan melihat mamanya menangis.
__ADS_1