Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 174


__ADS_3

Luna menelan ludah sepertinya urusannya dengan Dypta tidak akan selesai secepat yang dia pikirkan. Dypta pasti ingin mengoreksi informasi lebih jauh tentangnya, Di mana keberadaan ia selama ini dan dengan siapa dia tinggal.


Atau apa mungkin selama ini Dypta sudah mengetahui keberadaannya. Ah rasanya tidak mungkin, Luna tidak sepenting itu sampai Dypta mencari tahu keberadaannya.


Entahlah Luna tidak tahu tapi sekarang Luna berharap dia bisa segera pergi dari sini dan balik ke rumah sakit.


"Bagaimana kabar kamu Dypta." tanya Luna pada akhirnya.


Dypta tidak menjawab justru menyeringai.


Luna meremas tangannya gugup. Dia sangat penasaran apa yang kita pikirkan sekarang, Dypta baik tapi kadang-kadang Dypta bisa menjadi sangat menyebalkan misterius dan tak tertebak juga.


Lalu tiba-tiba Dypta menghentikan mobilnya di tepi jalan.


"Turun."


Luna mengenyit.


"Kamu ingin buru-buru pergi kan?." Dypta menoleh.


"Eh i-iya, terima kasih untuk tumpangannya dan terima kasih sudah menyelamatkanku. Aku permisi."


Luna merasa kalimatnya itu terlalu formal padahal dulu mereka cukup dekat dan sering mengobrol santai bahkan diantara semua teman-temannya, Luna paling dekat dengan Dypta tapi sekarang rasanya asing kaku dan canggung Luna sampai tidak tahu harus mengatakan apa. Semoga saja pertemuannya dengan Dypta tidak meninggalkan kesan buruk. Luna tidak ingin dibenci Dypta atau yang lainnya.


"Aku turun."


Luna pun turun dari mobil. Baru saja menutup pintu mobil, Dypta juga ikut keluar dari mobil. Berdiri di depannya saling berhadapan. Lalu tanpa mengatakan apapun, Dypta memakaikan masker menutupi mulut dan hidung Luna.


Hanya itu, kemudian Dypta masuk lagi ke dalam mobil dan melaju. Sementara Luna masih berdiri di tempatnya dengan pandangan masih tertuju pada mobil Dypta yang kian menjauh.


"Kenapa tadi aku nggak minta Dypta menurunkanku di rumah sakit? sekarang gimana caraku ke rumah sakit? aku juga nggak bawa uang."


Luna mengendarkan pandangan ke sekelilingl dengan cemas. Di sini tidak ada pangkalan ojek atau taksi yang berhenti.Jika ada ojek Luna bisa meminta diantar dulu ke rumah sakit baru nanti Luna membayarnya. Tapi sayang sekali di sini hanya ada lalu-lalang mobil dan motor di jalan.


Luna memutuskan untuk berjalan. Sekitar 15 langkah tiba-tiba ada sebuah mobil yang berdiri di sampingnya.


"Mba Luna ya?." supir itu turun dari mobil.


"Eh, i-iya."


"Saya taksi online yang di pesan Mas Dypta. Mas Dypta meminta saya mengantar Mba Luna ke rumah sakit. Ayo, Mba silahkan masuk. Sudah di bayar kok."


"Serius pak?."


"Iya."


Pak sopir menunjukkan bukti chattingan dengan Dypta. Luna ragu, tapi karena tidak punya pilihan lain, Luna masuk ke dalam taksi setelah itu taksi menuju ke rumah sakit.


"Oh yah Mba Luna. Tadi Mas Dypta juga menitip pesan."

__ADS_1


"Pesan apa, Pak?."


"Mas Dypta bilang semoga Kevin cepat sembuh."


Seketika jantung Luna seperti berhenti berdetak. Jadi selama ini Dypta sudah tahu keberadaannya.


***


Apartement, 21.00


Farel dan Rachel tiba di gedung apartemen Yang Dulu mereka tinggali. Rencana awal, Mereka ingin datang ke sini ke sekitar jam 07.00 malam. Tapi karena Rachel ingin makan malam bersama Anthony sekeluarga, mereka pulang dulu ke rumah Farel, baru setelah makan malam dan mengobrol, mereka datang ke sini.


Sekarang mereka masih ada di dalam mobil di basement parkiran.


"Kamu merasakan sesuatu?." tanya Farel sambil menoleh pada Rachel yang duduk di sampingnya.


"Hm," Rachel menganguk.


"Oh yah, apa yang kamu rasakan?." tanya Farel dengan penuh semangat. Dia berharap Rachel mengingat sesuatu.


"Ngantuk, aku merasa ngantuk sekali hahahaa." Rachel tertawa, sementara Farel menipiskan bibir.


"Ya ampun Farel. Aku juga baru sampai, mana mungkin aku langsung mengingat sesuatu."


Farel terkekeh, "Iya , iya. Tuan putri."


"Harus yah gandengan?."


"Hm, harus pake banget. Soalnya di sini banyak penculik."


"Kamu penculinya."


Farel tertawa.


Sambil bergandengan tangan, Farel dan Rachel masuk ke arah lobby apartement, masuk ke dalam lift dan menekan lantai 10.


"Dulu setiap kita naik lift, aku sering giniin kamu."


Farel memegang bahu Rachel dan memindahkannya ke depannya lalu meletakkan tangannya di rambut Rachel dan mengacaknya.


"FAREL."


Farel tertawa, "Persis, kamu juga akan berteriak seperti itu."


Rachel berdecih dan merapihkan rambutnya lagi. Tapi pada akhirnya Rachel ikut tertawa juga, merasa konyol dengan tingkah Farel.


"Terus apalagi yang biasanya kita lakukan di lift?."


"Kissing."

__ADS_1


Rachel membulatkan mata, "Serius?."


"Bercanda, tapi kalau kamu mau, kita bisa melakukan itu sekarang untuk membuat kenang-kenangan yang akan kita ingat di masa tua nanti."


"Ihhh jailnya," Rachel mencubit perut Farel, tapi susah karena perut Farel sixpack.


Farel tertawa, merangkul pundak Rachel, menyentuh dahinya di sisi rambut Rachel dan menggesek-gesek dengan gemas. Rachel juga tertawa geli dan mendorong Farel menjauh.


"Farel, di lift ini pasti ada cctv. Nanti kita di grebek satpam gara-gara terlalu intim."


"Aku akan bilang kita sudah menikah."


"Kamu tuh, hihihi," Rachel gemas dan menggigit lengan Farel. Bukannya kesakitan Farel justru tertawa.


Pintu lift terbuka, Farel menggenggam tangan Rachel lagi dan mengajaknya keluar.


"Setiap lantai ada dua unit apartement," Farek menjelaskan sambil menelusuri lorong menuju ke unit aparyement mereka, "Ini apartementku, dan ini apartement kamu."


Rachel mengangguk-angguk.


"Dulu saat kita masih kuliah kita menyewa dan bayar per tahun tapi setelah kamu pergi. Aku membelinya dan kamu, aku bisa datang ke sini sesuka hati."


Rachel menatap Farel.


"Seberapa sering kamu merindukanku dan seberapa sering kamu ke sini?."


"Aku merindukanmu 24 jam, tujuh hari seminggu, 30 hari sebulan, 365 hari setahun."


Rachel tertawa,"Setiap hari dong."


"Hm, aku selalu merindukanmu setiap hari. Tapi untuk datang ke apartemen ini tidak setiap haru. Aku punya cara untuk sedikit mengobati rasa rinduku. Bukan hanya datang ke apartement ini tapi melalui beberapa hal. Aku pernah cerita kan?."


Rachel mengangguk, "Melihat foto dan vidioku, datang ke tempat-tempat yang kita sering datangi, memejamkan mata dan menghadirkan ku dengan bayangan kamu."


Farel menatap lekat Rachel, seolah gadis cantik ini semestinya.


"Benar aku melakukan itu semua. Tapi tetap tidak bisa mengobati kerinduanku. Semakin lama kerinduan itu semakin besar layaknya seperti penyakit kronis yang butuh obat. Aku sudah mencari obat itu kemana-mana selama 5 tahun. Sakit dan tersiksa begitulah yang aku rasakan saat aku merindukan kamu. Hingga akhirnya aku menemukan kamu."


"Sekarang sudah sembuh? atau masih sakit dan tersiksa?."


"Hm, sudah sembuh. Tapi aku belum tenang sebelum aku menjadikan kamu milikku sepenuhnya. Menikahimu. Aku ingin kita menikah."


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2