
Air mata Dilara kembali menetes, entah tetes yang ke berapa. Sejak tadi, sudah tak terhitung berapa kali Dilara menangis, merasakan sesak luar biasa, bahkan rasanya ingin ambruk. Namun Dilara terus menguatkan diri demi putrinya, Dilara ingin menjadi orang pertama yang ada di samping putrinya saat dia sadar.
Sekarang Hendrawan sudah kehilangan Rachel, kehilangan hak nya sebagai seorang Ayah. Kesalahan nya terlalu besar di mata Ayuma sampai Ayuma tidak sudi membiarkannya bertemu Rachel lagi. Dan Rachel juga tidak mau menganggap nya Ayah lagi.
Tapi Hendrawan masih memiliki Luna, putri tersayang nya dari perempuan yang dia cintai.
"Mas," Dilara menyerongkan tubuhnya menghadap pada Hendrawan, "Sekarang kita fokus saja pada putri kita. Luna tidak memiliki siapa-siapa selain kita. Luna sangat membutuhkan kamu. Aku juga membutuhkan kamu. Tidak ada gunanya kamu bersama Ayuma, Ayuma tidak membutuhkan kamu lagi."
Benar, Hendrawan sudah mencoba berbicara baik-baik dengan Ayuma, bahkan menurunkan ego nya ingin menemani Ayuma untuk menjaga Rachel. Tapi itikad baiknya di tolak mentah-mentah. Dengan arogan dan sombongnya Ayuma mengusirnya pergi.
Daripada bersama Ayuma, di baikan dan tidak di hargai lebih baik Hendrawan fokus pada Dilara dan Luna.
"Mas..."
Hendrawan menganguk, "Aku akan di siju menemani kamu dan Luna."
Dilara tersenyum, "Terima kasih, terima kasih banyak."
Hendrawan mengalihkan pandangan pada Luna, lalu samar-samar dia melihat bola mata di balik kelopak mata Luna yang tertutup bergerak-gerak.
"Luna," Hendrawan memegang lengan putrinya, "Luna, Nak."
"Luna," Dilara ikut memanggil sambil mengusap lembut pipi putrinya.
Perlahan Luna membuka mata, terang ruangan membuat mata Luna agak sakit, lalu memejamkan mata lagi beberapa saat. kemudian perlahan membuka mata lagi.
"Luna," panggil Hendrawan dan Luna bersamaan.
Luna menolehkan kepala menatap ke arah mereka.
"Papa, Mama..." lirihnya lemah sekali.
Dilara berkaca-kaca, begitu juga Hendrawan.
"Iya Sayang ini Mama sama papa," Dilara mengulurkan tangan dan mengusap rambut putrinya dengan lembut. "Mama senang sekali kamu sudah sadar."
Namun Luna justru menggelengkan kepala.
"Kenapa? kenapa aku masih hidup. Kenapa kalian membiarkan ku hidup! Aku tidak ingin hidup lagi. Aku ingin mati."
Tiba-tiba saja Luna histeris, mau mengangkat kedua tangannya dan menutup telinganya.
"Aku nggak mau. Aku takut."
__ADS_1
Dilara berusaha menenangkan Luna sementara Hendrawan keluar ruangan untuk mencari dokter.
"Sayang, Nak. Tenang."
"AKU TAKUT, NGGAK MAU, AKU NGGAK MAU HIDUP. TOLONG. BUNUH AKU!."
Luna terus memberontak sambil menarik infus serta jahitan di pergelangan tangannya sehingga darah keluar lagi.
"Nak, berhenti, jangan begini. Luna," Dilara meraih tubuh Luna dan memeluk erat.
"Aku lelah. Aku hanya ingin tenang. Aku takut. Aku sudah hancur, hiks. Biarkan aku pergi. Aku ingin pergi.
Dilara tak kuasa menahan tangis dan mengeratkan pelukan.
"Jangan takut, Nak. Ada Mama. Mama akan melindungi kamu."
Luna terus berteriak dan memberontak, hingga perlahan tubuhnya melepas dalam pelukan Dilara.
Hendrawan datang bersama Dokter dan tiga perawat.
"Tolong tunggu di luar."
Hendrawan dan Dilara menunggu di luar. Tabgab Dilara sampai gemetar dan tubuhnya menggigit takut, takut kondisi Luna semakin parah.
Hendrawan juga berkaca-kaca meraih Dilara dalam pelukan, untuk menenangkan, untuk saling menguatkan.
Setelah menunggu sekian lama, Dokter keluar.
"Dokter gimana keadaan putri saya?." tanya Dilara.
"Hb pasien menurun, untuk menaikkan Hb dengan cepat kami akan melakukan transfusi darah. Golongan darah pasien AB. Siapa diantara keluarga yang memiliki golongan darah AB?."
Hendrasan terhenyak, "Golongan darah saya A, kamu juga A kan Dilara. Aku masih ingat dulu waktu kuliah Kamu pernah bilang kita memiliki banyak kesamaan, salah satunya golongan darah." Hendrawan mengalihkan pandangan pada Dokter. "Memangnga A dan A bisa menghasilkan AB, Dokter?."
"Itu tidak mungkin Pak." Jawab Dokter, "Golongan darah Ibu A dan Ayah A, kemungkinan golongan darah A dan O."
"Apa maksud semua ini Dilara? golongan kamu beneran A kan? Aku nggak setua itu untuk melupakan apa yang kamu katakan. Saat kuliah dulu tentang golongan darah kita sama."
Dilara menelan ludah gugup.
"Masa sih Mas, aku pernah bilang gitu? seingatku, aku nggak pernah bilang golongan darah kita sama, golongan darahku memang AB. Ya sudah ya Mas kamu tunggu dulu di sini. Tolong temani Luna dulu, aku akan ikut dokter untuk transfusi darah," Dilara berdehem lalu mengalihkan perhatian pada dokter.
"Di ruangan mana darah saya akan di ambil dok?."
__ADS_1
Dokter masuk ke dalam ruangan untuk memanggil seorang perawat agar mengantar Dilara menuju ke ruang donor darah. Sementara dokter tetap berada di ruangan untuk memantau keadaan Luna.
Sekarang di depan ruang rawat Luna, hanya ada Hendrawan yang berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
Ada banyak hal yang dia pikirkan sekarang. Salah satunya kegugupan Dilara saat dia bertanya tentang golongan darahnya.
Hendrawan masih ingat dengan jelas kalimat Dilara saat mengatakan itu, bukan hanya sekali tapi beberapa kali karena itu Hendrawan terus mengingatnya.
..."Sayang, kamu tahu nggak kayaknya kita memang ditakdirkan berjodoh. Kita memiliki banyak kesamaan. Aku suka belajar, kamu juga suka belajar. Aku ambisius, kamu juga ambisius. Kamu jadi mahasiswa berprestasi di angkatan kamu? aku juga jadi mahasiswa berprestasi di angkatan aku. Terus yang paling unik golongan darah kita juga sama loh sama-sama A."...
Saat itu Hendrawan menanggapi dengan senyum ceria. Perasaannya semakin berbunga-bunga saat mengetahui gadis tersayangnya memiliki banyak kesamaan dengannya.
Selain itu yang Hendrawan juga ingat momen lain saat Dilara mengatakan tentang golongan darahnya, saat Dilara meminta putus.
..."Kita memiliki banyak kesamaan bahkan golongan darah kita sama, sama-sama A. Tapi ada perbedaan antara kita yang sulit disamakan. Status sosial kita aku dan kamu sangat berbeda. Aku rasa Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Kamu pasti mendapatkan perempuan yang lebih baik daripada aku, yang setara dengan keluarga kamu. Aku tidak bisa mengimbangi kamu."...
Hendrawan memiliki ingatan yang kuat, ditambah lagi setiap momen bersama Dilara adalah momen yang paling bahagia. Karena itu Hendrawan selalu mengingatnya, menyimpan rapi dalam memori dan hati.
"Apa mungkin Luna bukan Putri kandungku seperti yang Papa katakan? Nggak. Ini nggak mungkin."
Cukup lama Hendrawan berperang dengan pikiran dan hatinya, hingga perlahan kakinya masuk ke dalam ruang rawat Luna.
"Dokter,"
Dokter dan beberapa perawat yang berdiri di samping kanan dan kiri hospital bed Luna sama-sama menoleh ke arah Hendrawan.
"Dokter saya ingin melakukan tes DNA. Apakah bisa?."
"Tentu saja bisa."
"Kapan hasilnya bisa keluar?."
"Hasil tes DNA biasanya keluar satu atau dua hari. Tapi dengan teknologi canggih dan akurat milik Rumah Sakit kami, biasanya kami bisa menyelesalesaikan dalam satu hari dalam 24 jam."
"Saya ingin tes DNA saya dengan putri saya." ucap Hendrawan sambil menatap Luna yang terbaring di Hospital bed tampak lemah dan pucat.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1