Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 70


__ADS_3

"Jangan awal bicara kamu!." Ayuma tidak bisa tinggal diam atas fitnah kejam suaminya.


"Kenapa marah? kenyataan memang begitu kan? Jangan pikir aku ngga tahu yah, aku tahu Ayuma. Selama ini kamu berselingkuh dengan Samuel. Kamu juga menusukku dari belakang."


Ayuma speechless, ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran dan kegiatan suaminya lagi. Dari sekian banyak tuduhan yang Hendrawan lontarkan. Tuduhan ini yang paling menyakitkan. Fitnah yang paling kejam dari suaminya sendiri.


"Kenapa diam saja? Kamu nggak bisa mengelak kan? Tentu saja kamu tidak bisa membantah karena itu semua benar. Kamu tukang selingkuh Ayuma."


Plak.


Ayuma tidak tahan ingin menampar pipi Hendrawan.


"Berani sekali kamu menamparku!." Hendrawan mengepalkan tangan sembari berjalan mendekat pada Ayuma.


Dengan cepat Samuel berdiri di depan Ayuma.


"Minggir lo! tamparan harus di balas dengan tamparan. Sini lo Ayuma!."


Dengan kemarahan yang meledak-ledak, Hendrawan berusaha menyingkirkan tubuh tetap Samuel di hadapan nya. Tapi Samuel tidak mau menyingkir juga.


"Oh oke jangan salah kan gue kalau lo yang babak belur."


Bug.


Dengan kekuatan penuh Hendrawan menonjok Samuel namun Samuel tidak bergerak dari posisinya. Hanya kepala nya saja yang tertoleh ke kanan sedangkan tubuh nya masih tegap berdiri di depan Ayuma. Sebagai mantan Bodyguard dan sudah banyak melalui pelatihan fisik, pukulan Hendrawan tidak ada apa-apa nya.


Samuel meregangkan leher dan lengannya lalu kembali menatap Hendrawan.


"Sejak tadi saya menunggu Anda melakukan ini, jika saya membalas jangan salahkan saya."


Bug.

__ADS_1


Belum sempat Hendrawan beruca, Samuel sudah melayangkan pukulan pada pipi kanan Hendrawan sampai terhunyung ke belakang. Mengutuk keras si bawahan ini karena berani membalas pukulannya.


Hendrawan tidak tinggal diam, membalas dan menonjok perut Samuel dengan kekuatan penuh. Namun Samuel tidak beraksi apapun, seolah pukulan


nya sekedar cubitan untuknya.


"Cuma segitu aja kemampuan Tuan Hendrawan yang terhormat?. CUMA SEGITU."


Bug.


Samuel membalas menonjok perut Hendrawan sampai Hendrawan terbatuk-batuk.


"Sam cukup."


Ayuma menahan lengan Samuel saat ia hendak melayangkan pukulan lagi. Kondisi Hendrawan sudah cukup lemah bahkan tidak mampu untuk membalas lagi. Bukan apa-apa, bukan maksud Ayuma membela Hendrawan, hanya saja takut terjadi sesuatu pada Hendrawan dan Samuel yang di salahkan.


"Kenapa? kenapa berhenti? pukul gue lagi! Semakin banyak luka semakin lama lo mendekam di penjara. Setelah ini gue akan datang ke kantor polisi dan membuat laporan atas kasus penganiayaan. Gue akan menjebloskan lo ke penjara."


Hendrawan terbaring di lantai dengan wajah babak belur.


Hendrawan menekan dadanya yang terasa sakit, memposisikan untuk duduk dan memicingkan mata pada Ayuma.


"Sekarang kamu jadi banyak omong dan berani melawanku."


Ayuma berdecih, "Kamu pikir selama ini aku diam artinya aku lemah. Nggak, Mas. Aku menghargai kamu sebagai suamiku. Aku hanya melakukan tugas ku sebagai seorang istri. Tapi kamu sama sekali tidak menghargai usaha ku sebagai seorang istri. Kamu justru sibuk membujuk perempuan lain untuk menjadi istri kamu. Ya sudah kalau itu mau kamu. Aku akan mundur, dan silahkan sah kan perempuan itu jadi istri kamu."


Ayuma menatap Hendrawan tepat di bola mata, begitu juga Hendrawan menatap lekat padanya.


Tak menyangka pernikahan yang Ayuma perjuang kan selama bertahun-tahun akan berakhir seperti ini. Namun mau bagaimana lagi, Ayuma sudah lelah. Lelah berjuang sendiri sedangkan suaminya justru berjuang untuk perempuan lain.


Ya sudah, jika berakhir. Maka berakhirlah, setidaknya Ayuma sudah berjuang mati-mati an dan tetap menjaga kehormatan nya sebagai seorang istri.

__ADS_1


"Aku akan pergi malam ini juga, dan akan segera mengurus perceraian kita. Kamu juga tidak perlu repot-repot mengusir ku dari rumah kamu ini. Aku yang akan pergi sendiri dan aku akan membawa barang-barang ku besok."


"Satu lagi, entah bagaimana kamu bisa menyimpulkan kalau aku berselingkuh dengan Samuel yang jelas aku sebagai istri kamu, aku selalu setia kepada kamu Mas Hendrawan. Aku mengabdikan hidup ku menjadi istri yang baik untuk kamu. Tapi jika kamu memang mempercayai, silahkan saja cari bukti perselingkuhan ku dengan Samuel dan tunjukkan di pengadilan Agama nanti."


Ayuma menatap dalam suaminya, kemudian berbalik badan. Tepat saat itu, air mata yang dia tahan sejak tadi mengalir juga.


Terdiam beberapa saat sembari mengepalkan tangan kuat untuk menahan isakan. Menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan, lalu berjalan lagi dengan langkah tegap dan dagu terangkat meninggalkan rumah ini. Rumah yang dia harapkan menjadi istana tapi justru berakhir menjadi neraka dunia.


Sembari terus melangkah, di pintu itu seolah di putar ulang saat dia memasuki rumah ini dengan baju pengantin dengan wajah senyum ceria sambil melingkarkan tangan di lengan suaminya. Tapi sekarang Ayuma harus melangkah sendiri meninggalkan rumah.


Begitu melewati pintu, langkah Ayuma terhenti sesaat, Samuel yang berada di belakang juga ikut terhenti.


Ayuma mengepalkan tangan sembari menguatkan tekad melangkahkan kaki lagi meninggalkan teraa rumah.


"Silahkan." Samuel membuka kan pintu mobil belakang untuk Ayuma.


Setelah menghela nafas panjang Ayuma pun masuk ke dalam mobil. Samuel pun melajukan mobil meninggalkan halaman rumah.


Samuel tidak bertanya atau mengatakan apapun, fokus melajukan mobil dan membiarkan Ayuma sendiri dalam dunianya. Kadang saat bersedih, seseorang tidak butuh di tanya kenapa, ada apa, dan bagaimana. Seseorang butuh waktu untuk menenangkan diri. Itulah yang Samuel lakukan sekarang, setelah kesedihan Ayuma mereda, ia akan berbicara dengan Ayuma nanti.


***


"Luna, Sayang. Buka pintu nya, Nak!. Ini sudah malam kamu belum makan Nak. Ayo makan dulu, Mama buatkan nasi goreng kesukaan kamu. Mama juga buatkan kamu bubur kacang. Tolong Sayang buka pintu nya, Mama khawatir."


Tak terhenti berapa kali Dilara mengetuk pintu dan berusaha membujuk putrinya, tapi Luna tidak mau keluar kamar bahkan menyahut ucapan nya saja tidak. Entah bagaimana lagi Dilara meredam kemarahan dan kekecewaan putrinya.


"Sayang, Mama benar-benar minta maaf atas kejadian tadi. Percayalah Mama benar-benar tidak berniat selingkuh dengan Mas Hendrawan, semua terjadi begitu saja. Hati kami yang dulu saling mencintai seolah menggerakkan tubuh kami untuk saling menyentuh. Mama dan Om Hendrawan khilaf Sayang. Mama janji tidak akan mengulangi hal itu kembali. Tapi tolong buka pintu nya, Nak. Dan bicaralah!."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2