Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 143


__ADS_3

"Ariana," Sapa Aqila begitu tiba di danau Thun, tempat janjian mereka.


Ariana memakai skinny jeans dengan sweater maroon. Sementara Aqila memakai jeans biru di padukan dengan trench coat. Aqila membiarkan rambutnya tergerai dan memakai topi benie.


"Maaf lama,"


"Maaf aku juga baru sampai."


Ariana melingkarkan tangan di lengan Aqila dan berjalan beriringan menuju ke penyewaan perahu.


Sekarang Aqila dan Ariana duduk-duduk saja di bangku sambil menikmati pemandangan.


"Aku bawakan ini untuk kamu juga!." Ariana membukanya tupperware berisi 2 sandwich pada Aqila.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Sambil makan mereka bercerita seputar pekerjaan mereka di hotel Artos dan membahas hal-hal lucu yang kadang pengunjung hotel lakukan. Aqila senang sekali bertemu dengan gadis yang berusia satu tahun lebih tua darinya itu. Ariana sangat baik dan banyak membantu nya saat bekerja.


"Habis ini kita naik kapal, terus menyelam. Aku sudah tidak sabar."


"Aku juga."


Ariana mengendarkan pandangan.


"Qila lihat ke sana deh!."


Aqila mengikuti arah telunjuk Arian, tapi karena banyak orang berlalu lalang Aqila menyipitkan mata untuk melihat apa yang Ariana tunjuk.


"Apa sih? air danau? burung - burung terbang? atau apa sih?."


"Bukan dua laki-laki yang berdiri di dekat pohon. Yang satu membawa kamera dan yang satu nya memakai kaca mata."


Begitu sudah menemukan apa yang Ariana tunjuk, Aqila menganguk-angguk. "Oke, aku udah lihat. Terus kenapa?."


"Sepertinya mereka orang Indonesia. Yang bawa kamera ganteng yah?."


"Semua cowok di mata kamu ganteng."


"Bukan, yang itu ganteng nya beda. Coba deh lihat baik-baik."


Aqila menyipitkan mata dan memfokuskan pandangan pada dua pemuda itu. Entah kenapa pandangan nya selalu teralih pada cowok yang memakai kaca mata hitam dan hanya diam.


Aqila fokus menatap cowok yang membawa kamera seperti perintah Ariana tadi. Tapi entah kenapa pandangan nya tidak teralih pada cowok yang memakai kaca mata hitam. Aqila bahkan tidak sadar sudah memandangnya lama.


"Qila..." Ariana menjentikkan jarinya di depan wajah Aqila karena Aqila tampak melamun. "Jangan bilang kamu juga terpesona dengan cowok yang membawa kamera, Qila itu punya ku."

__ADS_1


"Ambil sana. Ambil semua nya saja. Aku mau naik kapal aja."


Aqila segera menghabiskan sandwich nya dan berjalan duluan."


"TUNGGUIN."


Ariana segera memasukkan tupperware ke dalam tas dan berlari mengikuti Aqila lalu melingkarkan tangan di lengan nya.


"Katanya mau nikah muda, tapi malah cuek gini usaha dong, Qila. Kalau nggak mau cowok Eropa, Asia yang tadi boleh juga kan? Yuk kenalan sama mereka, siapa tahu mereka jomblo."


"Nggak mau, aku mau nya di ajak kenalan." Aqila tertawa.


"Idih, sok jual mahal. Tapi menurut kamu cowok yang berkamera itu ganteng kan?."


"Ganteng, tapi yang lebih ganteng dan keren yang pakai kaca mata." Aqila tersenyum dan menekan dadanya yang entah kenapa berdebar-debar.


"Jangan-jangan kamu jatuh cinta pada pandangan pertama lagi."


"Ih, apa sih enggak."


Ariana ikut tertawa dan bergegas menuju ke kapal.


Sementara dua pemuda yang mereka bicarakan tadi masih tetap di sana. Si cowok berkamera sedang memotret spot pemandangan yang menurut nya bagus, sementara si cowok berkaca mata masih diam sambil melipat tangan dan menatap ke arah danau.


"Gimana? bagus kan?. Nggak sia-sia lo mengiyakan ajakan gue ke sini kan? Danau Thun memang the Best menurut gue, kamu menurut lo gimana?."


"Lama-lama lo tenggelamkan lo ke danau, Rel. Dari tadi di ajak ngomong nggak jawab-jawab."


Lagi-lagi Farel tak menyahut, hanya menghela nafas panjang. Rendy juga ikutan menghela nafas panjang.


Sejak 5 tahun yang lalu, sejak kepergian Rachel, Farel berubah. Farel seperti bukan Farel lagi. Tidak ada lagi Farel yang suka bercanda, tidak ada lagi Farel yang konyol.


Perubahan Farel membuat Rendy kehilangan belahan jiwa. Selama ini dia dan Farel sefrekuensi, candaan mereka nyambung. tapi sekarang boro-boro bercanda, bicara saja jarang.


"Rel, Rel gue kangen kebangsatan lo yang dulu."


Hening lagi.


"Auk ah, Rel. Bodo amat, gue mau pulang." Rendy berjalan menjauh. "GUE BILANG GUE MAU PULANG. GUE PULAAANG REL, WOY!."


Harapannya Farel menahan kepergiannya, tapi tetap saja Farel hanya diam. Rendy mengumpat, umpatan Jawa tidak akan di mengerti orang-orang bule di sini.


"Ya Tuhan kembalikan sahabatku yang dulu, tolong kembalikan Farel ku yang gila dulu."


Rendy berteriak sambil menengadahkan tangan ke atas membuat beberapa orang yang lewat melirik ke arahnya.


"Lama-lama gue yang gila beneran, balik ke hotel aja deh. Rel." Rendy menarik tangan Farel dan membawanya pergi.

__ADS_1


"Repot ya liburan bawa kulkas 12 pintu," sinis Rendy pada Farel yang berjalan di sampingnya.


***


Jakarta, pukul 18.45


Di ruang makan bergaya klasik itu, seorang Obu bersama buah hati kecilnya sedang menata ruang makan malam mereka nanti.


"Mama ini," anak kecil laki-laki berusia 4 tahun yang bernama Kevin itu menyerahkan piring kepada mama nya.


Sang Ibu yang sedang menata lauk di meja tersenyum. "Terima kasih, putra mama pintar sekali."


Si kecil Kevin tersenyum ceria sampai mata menyipit lucu saat mendapatkan ucapan lembut di rambutnya.


"Sekarang semua peralatan makan dan masakan mama sudah tertata rapih, tinggal kita menunggu kepulangan papa."


"Yeeehh, Kevin nggak sabar papa cepat pulang, terus makan malam bersama kita."


Luna tersenyum dan mengangkat putra kecilnya dan mendudukan di kursi, lalu dia sendiri duduk di samping putranya. Sambil menunggu kepulangan suaminya, Luna mengajak Kevin menonton vidio-vidio anak-anak di Ipad.


Luna melirik ke arah jam dinding. Suaminya berjanji akan pulang pukul 19.00 untuk makan malam bersama. Tapi sekarang sudah pukul 19.30. Setengah jam berlalu tapi suaminya belum pulang.


"Mama lihat ini," Kevin menyentuh pipi Luna membuat pandangan Luna dari dinding teralih ke ponsel yang ada di tangan Kevin.


"Mama nonton ini aja sama Kevin. Lucu kan Mah?."


"Iya lucu sekali, Sayang."


Luna hanyut tertawa bersama putranya menonton vidio lucu, lalu saat melirik jam ternyata sudah pukul 19.45.


"Sayang tunggu di sini sebentar ya."


"Iya, Mama."


Luna menuju ke dapur dan mengambil ponsel yang dia letakkan di kitchen bar. Lalu menelpon suaminya, tapi tidak di angkat. Luna juga mengirim pesan, tapi tidak ada balasan juga, WA nya yang terakhir di lihat pukul 19.00.


[Luna : Kamu di mana?, tolong pulang, Kevin menunggumu. Kali ini saja. Aku mohon!.]


Nihil, tidak ada balasan. Luna takut sekali mengecewakan putranya. Ini bukan pertama kalinya suaminya berjanji pulang cepat, tapi pada akhirnya terlambat. Luna takut Kevin tidak mempercayai papa nya lagi.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2