
"Bibi lagi sakit, Sayang." jawab Amora.
"Kenapa setiap mamah ikut makan, bibi selalu sakit. Kemarin-kemarin Oma bilang bibi pulang kampung. Terus waktu itu kecelakaan. Jangan-jangan besok Oma bilang Bibi meninggal."
"Kevin," Luna mengusap pipi Kevin, merasa tak enak dengan keluarga suaminya.
"Luna, kamu sangat tidak berusaha mengurus anak. Bagaimana cara kamu mendidik Kevin sampai Kevin kurang ajar seperti ini?." sinis Ardito.
Luna menggeleng cepat, "Nggak, Pa. Aku-."
"Kevin nggak kurang ajar. Kevin anak baik. Tapi Kevin nggak suka mama di perintah-perintah. Opa mau jus jambu Kevin buatin. Jangan suruh-suruh mama. Mama dari tadi belum makan." Kevin ingin turun dari kursi.
Brandon segera menahan putranya, "Kevin di sini saja ya, papa yang buatin aja."
Brandon langsung berdiri dan ke dapur. Lubs ingin mengikuti suaminya, tapi Kevin tiba-tiba berdiri dan pindah ke pangkuannya.
"Mama di sini saja sama Kevin!."
Luna tak punya pilihan lain dan tetap duduk Sontak saja mendapatkan liriknya tajam dari Ardito dan Amora.
"Biar aku saja yang membantu Brandon," ucap Agnes yang langsung mendapatkan senyuman dari Ardito dan Amora.
"Selain baik, cantik, berpendidikan tinggi, kamu juga pengertian ya. Ternyata kualitas pendidikan mempengaruhi tingkah laku dan pola pikir," ucap Amora sambil melirik pada Luna.
Luna yang merasa hanya lulusan SMA hanya menunduk, menyendokkan nasi dan menyuapkan pada putranya. Meskipun hatinya sakit luar biasa, Luna tetap tersenyum agar putranya tidak bersedih. Jika dia menangis, Kevin pasti ikut menangis.
"Mama makan juga dong. Sini Kevin suapi."
Sebenarnya selain sibuk bolak balik ke dapur dan tidak punya kesempatan untuk makan, mendengar omongan Amora dan Ardito membuat nafsu makan Luna hilang. Tapi lagi-lagu demi putranya, Luna harus terlihat bahagia. Namun mungkin karena ikatan batin, kadang Kevin bisa merasakan kesedihannya.
"Mama."
__ADS_1
"Iya, Sayang, iya, ayo suapi mama, ajaa," Luna membuka mulut membuat si kecil Kevin sangat senang. Lalu menyendokkan nasi dan menyuapkan ke dalam mulut Luna.
Tak lama Brandon dan Agnes kembali. Mereka berjalan beriringan sambil tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan tapi Luna merasa Brandon tidak pernah tertawa seperti itu saat bersamanya.
"Hahaa, iya tau," Agnes menyenggol lengan Brandon. "Kapan-kapan kita ke LA."
"Lagi ngomongin apa sih sery banget kayaknya?." tanya Amora.
"Ini Tante, lagi cerita pengalaman-pengalaman kita waktu di LA. Brandon bilang dia baru beberapa kali ke sana. Sedangkan aku sudah pernah tinggal di sana. Jadi aku lumayan tahu banyak tentang LA. Kapan-kapan aku mau ngajak Brandon ke sana biar pengalaman nya lebih banyak lagi. Sayang kan masih muda di rumah aja."
Ardito tersenyum, "Ide bagus. Kamu harus banyak bergaul dengan Agnes, Brandon. Biar kamu ikut pintar dan berwawasan luas. Agnes kan perempuan berpendidikan."
Kemudian mereka bercerita tentang LA sembari tertawa riang dan seluruh perhatian tertuju pada Agnes. Sementara Luna bersama si kecil Kevin duduk di pojokan kursi dengan dunia mereka sendiri. Kevin bingung kenapa mama nya tidak di ajak. Kevin sedih tapi bingung juga harus bilang apa. Kevin hanya diam dan menatap lekat wajah mama nya.
'Jangan menatap mama begitu, Nak. Nanti mama nangis.'
Menahan air mata mati-matian yang mendobrak ingin keluar, Luna mengulas senyum.
"Kevin makan lagi ya."
Brandon berdehem, "Ayo kita lanjut makan."
Mereka pun kembali ke kursi masing-masing dan lanjut makan. Begitu juga Brandon yang duduk di samping Kevin lagi.
"Kevin, sini sama papa."
"Nggak mau," Kevin menolak dan memeluk erat Luna.
"Brandon, ayo makan," Agnes memberikan sepotong ayam ke piring Brandon.
"Iya," Brandon pun lanjut makan bersama keluarganya begitu juga Luna yang lanjut menyuapi Kevin.
__ADS_1
Selesai makan, Ardito menggendong paksa Kevin dan mengajaknya ke ruang tengah. Dulu Ardito tidak menginginkan Kevin, bahkan menyuruh Luna menggugurkan kandungannya. Tapi Luna menolak begitu juga Brandon. Brandon tetap ingin mempertahankan Kevin, lalu menikahi Luna diam-diam. Seiring berjalan nya waktu, Ardito mulai menyukai Kevin. Karena Kevin anak yang cerdas dan pintar. Tapi Ardito tetap tidak menyukai Luna.
Brandon dan Agnes mengikuti Ardito ke ruang tengah sementara Amora dan Luna masih ada di ruang makan.
"Kamu bersihkan semua ini. Cuci piring sampai bersih jangan sampai ada noda sedikitpun." perintah Amira pada Luna.
"Iya, Ma." Luna membawa piring-piring kotor itu ke wastafel. Luna sudah terbiasa melakukan ini. Selama lima tahun menjadi istri Brandon, setiap makan bersama Luna selalu membersihkan piring-piring setelah selesai makan. Sedih, sedih sekali, tapi mau bagaimana lagi. Luna tidak bisa menolak. Selain Brandon dan keluarganya. Luna tidak punya siapa-siapa lagi.
"Kamu jangan coba-coba melarang Brandon dekat dengan Agnes. Brandon sudah banyak berkorban untuk kamu. Di usianya yang masih muda, dia harus menikah dan mengurus istri dan anak. Kalau bukan karena kebaikan Brandon, sekarang kamu dan anak kamu pasti sudah jadi gelandangan di jalan."
"Iya, Ma. aku sangat berterima kasih dengan kebaikan suamiku," lirih Luna dengan setets air mata yang jatuh begitu saja tanpa dia minta.
Sambil makan apel dan bersandar pada kitchen bar, Amora menatap punggung Luna.
"Kalau kamu nggak menjebak Brandon dan hamil. Sekarang Brandon pasti sudah menikah dengan Rachel. Tapi gara-gara ulah kamu hidup Brandin jadi menderita seperti ini. Dasar perempuan murahan, tidak tahu diri!."
Bukan Luna, bukan dia yang menjebak Brandon. Tapi berulang kali Luna menjelaskan tetap saja Amora, tidak percaya. Luna lelah menjelaskan dan akhirnya diam saja, menginyakan sebuah tuduhan dari ibu mertuanya.
"Sekarang saya dan Mas Ardito sudah menemukan pengganti Rachel. Dia Agnes perempuan hebat dengan latar belakang keluarga bagus. Tidak seperti kamu yang tidak jelas asal usulnya. Bahkan Ayah dan Ibu kamu tidak jelas di mana keberadaannya. Agnes juga berpendidikan tinggi, dia S2 tidak seperti kamu yang hanya lulusan SMA. Keluarga Agnes juga keluarga terhormat dan golongan kelas atas. Dalam waktu dekat Agnes akan menikah dengan Brandon."
Gerakan tangan Luna yang sedang menggosok piring tertahan.
"Kamu harus segera bercerai. Kevin akan ikut bersama Brandon. Agnes bilang dia bersedia merawat Kevin. Setelah kalian resmi bercerai, kamu tidak punya hak apa-apa lagi pada Kevin."
Luna berbalik badan dan menatap tak percaya pada Amora.
"Ma, Mama bercanda kan?. mama tidak serius mengatakan itu kan? kalian tidak akan setega itu memisahkan ku dengan Kevin, Kevin putra kandungku, dia nyawa ku, Mama."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....