Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 86


__ADS_3

"Kamu pikir Papa sepengecut itu, berani berbuat tapi tidak berani minta maaf. Papa bukan kamu Hendrawan. Kalau Papa salah Papa pasti minta maaf, tapi Papa harus tahu dulu dimana letak kesalahan Papa. Papa memang pernah menyuruh Dilara pergi dari hidup kamu setelah kamu berhubungan intim dengan Dilara di hari Ayuma melahirkan. Tapi Papa tidak pernah mengancam untuk membunuh Dilara atau Bayinya. Papa mendatanginya bersama sekretaris Papa dan memberinya uang satu koper. Papa memberinya waktu selama 3 hari. Dan 3 hari kemudian Papa mendapatkan laporan kalau Dilara sudah pergi."


Dilara meremas sisi baju nya dengan kuat.


"Kenapa kamu diam saja? katakan yang sebenarnya!. Kapan saya mengancam akan membunuh kamu dan bayi mu?."


Dilara berdehem setelah menguatkan diri dan mendongak dan menatap Wisnu.


"Pa-papa yang mengatakan itu. Tapi mungkin karena sudah lama Papa jadi lupa."


"Saya tidak sepikun itu. Saya selalu mengingat dua hal dalam hidup saya, moment bersama orang yang saya sayangi dan moment bersama orang yang saya benci. Kamu pasti tahu kamu masuk bagian mana dalam hidup saya. Sekarang katakan kapan saya mengancam akan membunuh kamu? kemana juga uang 1 koper yang saya berikan? kenapa kamu mengatakan pada Hendrawan hidupmu sangat menderita dan seolah saya menjadi pelaku penderitaan kamu."


Dilara semakin tertekan dengan kalimat demi kalimat yang di ucapkan Wisnh padanya.


"Papa cukup!." Hendrawan tidak tahan lagi melihat Papa nya terus menerus menyudutkan Dilara.


"Kamu masih mau percaya dengan perempuan ini? Dia bahkan mencoba mengadu domba kita, Hendrawan."


"Aku percaya dengan Dilara, dan akan selalu mempercayai nya. Dilara tidak pernah mencoba mengadu domba kita, Pa. Justru Papa yang sejak tadi memutarbalikan fakta dan menyudutkan Dilara seolah Dilara bersalah padahal Dilara di sini korban keangkuhan Papa. Sekarang cukup, cukup Papa terus berbicara dan menyakiti hati Dilara. Apapun yang Papa ucapkan tentang Dilara aku tidak akan percaya lagi. Aku sudah kehilangan kepercayaan dan respek sama papa sejak Papa menjodohkan aku dengan Ayuma."


Hendrawan menjelaskan dengan menggebu-gebu tapi Sebastian justru terkekeh.


"Apa? nggak usah ketawa lo! Nggak usah songong juga muka lo."


"Muka gue emang ganteng dari lahir." Sebastian menyugarkan rambutnya ke belakang lalu fokus pandangannya pada Hendrawan.

__ADS_1


"Lo dari kecil emang nggak berubah. Masih aja suka ngenyel kalau di bilangin. Gue inget dengan jelas waktu itu lo main di taman belakang rumah. Lo berumur 3 tahun dan gue 5 tahun. Lagi main kejar-kajaran tiba-tiba ada hewan kaki seribu lewat. Gue sama Papa udah bilang itu hewan jangan di makan, tapi lo malah mencengkram hewan kaki seribu itu lalu memasukkan ke mulut lo. Akhirnya lo masuk rumah sakit gara-gara alergi."


Sebastian tertawa merasa konyol dengan tingkah adiknya.


"Gue nggak berhenti menyalahkan diri gue sendiri karena kejadian hari itu. Gue pikir gue ceroboh karena ngga bisa jaga adik sendiri, tapi semakin kesini gue sadar bukan gue yang ceroboh dan gagal menjaga lo, tapi lo sendiri nya aja terlalu bandel dan keras kepala. Dibilang ngenyel padahal itu demi kebaikan lo sendiri."


"Sama seperti sekarang, gue dan Papa mencoba memperingatkan lo. Tapi lo tetap keras kepala. Jadi ya sudah kalau itu pilihan lo. Gue harap suatu hari nanti lo ngga akan nangis-nangis dan menyesali pilihan lo itu."


"Gue nggak akan menyesal. Justru detik ini juga gue akan bahagia bersama Dilara dan Luna. Dan ibarat yang lo pakai tadi sangat tidak cocok dengan situasi sekarang ini. Saat itu gue masih 3 tahun dan gue belum bisa membedakan mana yang benar dan yang salah. Tapi sekarang gue bisa..."


"BISA APA?." Sebastian menajamkan mata pada adiknya.


"Merasa independen, dan bisa mengelola perusahaan sendiri terus lo bisa arogan dan sombong sama papa? Merasa sudah dewasa dan bisa melakukan apapun terus lo bisa semena-mena sama Papa."


"Jadi anak ngga tahu diri banget! terus menerus merasa paling tersakiti dengan keputusan Papa padahal lo juga menikmati hasilnya. Kalau bukan karena Papa yang menggembleng mendidik lo dengan keras dan disiplin, mengajak bertemu banyak relasi, lo nggak akan bisa sejauh ini. Dan sekarang dengan sombongnya lo mengatakan semua pencapaian lo berkat usaha lo sendiri. Bahkan tadi kamu dengan kurang ajarnya mengusir Papa dari rumah pemberian Papa. MIKIR DONG! OTAK DI PAKE!."


"Dan soal perjodohan itu, meskipun Papa menjodohkan lo dengan Ayuma, Papa memberikan keputusan semua pada lo. Dua pilihan. Pilihan pertama, kejar Arumi dan menikah dengannya dengan syarat lo harus meninggalkan nama belakang Tanoepramudya artinya lo meninggalkan semua harta. Pilihan kedua menikah dengan Ayuma dan Papa akan menambah warisan lo."


"Dan pilihan lo... Lo putus dengan Arumi dan menikah dengan Ayuma. Lo bilang pada semua orang lo nggak akan berhubungan lagi dengan Arumi. Tapi ternyata lo diam-diam masih bertemu dengan Arumi bahkan sampai berhubungan intim dan Arumi hamil. Dan parahnya setelah sekian lama berpisah lo bertemu lagi dengan Arumi dan kalian berselingkuh di belakang Ayuma. Dan bisa-bisa nya lo menuduh Ayuma sebagai orang ke tiga dalam hubungan lo dan juga Arumi. Jelas-jelas kalian yang salah. Setan! memang pengecut lo!."


Hendrawan sontak berdiri dari posisi duduk nya lalu mencengkram kerah Sebastian. Dilara dan Luna memekik tertahan, terkejut dengan gerakan Hendrawan yang tiba-tiba.


"LO TAHU APA? LO TAHU APA TENTANG HIDUP GUE! LO NGGA PERNAH BERADA DI POSISI GUE JADI LO NGGAK AKAN PERNAH BISA MERASAKAN JADI GUE."


"Oh yah gue memang nggak pernah berada di posisi lo, karena gue ngga tahu gimana rasanya Dilara, enak banget yah rasanya sampai lo ketagihan dan meninggalkan istri sah lo demi ****** ini!."

__ADS_1


Bug.


Hendrawan tak tahan lagi dan melayangkan pukulan bertubi-tubi pada Sebastian, tak mau kalah Sebastian juga memukulnya.


"Cukup hentikan! Mas Hendrawan." Dilara menggeleng-geleng kan kepala tak tega melihat Hendrawan di pukuli seperti itu. Kondisi Hendrawan masih lemah. Jelas tidak bisa melawan Abangnya.


"Om cukup, Papa. Hikss..."


"Sebastian cukup!."


Gerakan tangan Sebastian yang terayun di udara tertahan mendengar larangan Papa nya.


"Cupu lo." melayangkan tabokan dengan senyum mengejek, Sebastian berdiri di atas tubuh adiknya.


Dilara dan Luna membantu Hendrawan duduk di kursi dengan posisi duduk di tengah-tengah mereka.


Wisnu menghela nafas berat.


"Jadi sekarang katakan apa yang kamu inginkan dengan jelas!." tanya Wisnu.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2