
Dilara syok dan menutup mulut dengan kedua telapak tangan, tubuhnya termundur dengan mata kembali berkaca-kaca. Begitu juga Hendrawan yang sama terkejut dan kini mengepalkan tangan kuat.
"Ja-jadi putri saya mengalami pelecehan?."
"Kami belum bisa memastikan lebih jauh tanpa mendengar keterangan dari pasien. Tapi kemungkinan besar iya. Seandainya pasien melakukan itu atas dasar suka sama suka, tetap saja ini sudah mengarah pada kekerasan. Jika Anda membutuhkan bantuan, saya akan menghubungkan langsung dengan tim forensik ke rumah sakit untuk mengetahui DNA pelaku yang tertinggal dalam tubuh korban."
Hendrawan menganguk, "Tolong lakukan dan jalan putri saya akan sadar?."
"Kita tunggu saja dalam waktu 24 jam. Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat.
Silakan Anda bisa menjenguknya di sana. Mari ikut saya untuk mengurus administrasi."
Setelah dipindahkan ke ruang VIP, sementara Dilara di dalam ruang rawat menunggu Luna, Hendrawan di luar ruangan menelepon orang kepercayaannya setelah menemui dokter Andin tadi. Namanya Johny, dia juga yang membantu Hendrawan men-take down berita-berita heboh kemarin.
"Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Cari tahu siapa yang melecehkan putri saya!."
"Baik, Pak. Daya butuh akses apartement Luna."
Hendrawan segera mengirim alamat dan password apartement Luna.
.
.
.
"Bagaimana hasilnya?." tanya Hendrawan sambil mondar-mandir setelah jeda satu jam dia menyuruh Johny mencari tahu tentang pelecehan Luna.
Dilara diam saja duduk di sofa, namun matanya tak berhenti bergerak ke kanan kiri mengikuti gerakan Hendrawan.
[Saya pertama kali mencari informasi dari kamar Luna. Di sana saya menemukan ponsel Luna dari lokasi terakhir ponsel Luna ada di Melati Bar. Data baru tiba ke sana dan sedang meminta akses untuk melihat CCTV, tapi mereka mencoba melobi, namun saya mendapatkan informasi di bagian resepsionis. Dia melihat Luna di sana. Teman saya juga menyerahkan daftar tamu yang menginap di lantai 5 malam itu. Ternyata ada Farel. Farel juga mabuk berat."
"Farel?."
Dilara langsung berdiri saat Hendrawan menyebut nama Farel.
"Ada apa?."
__ADS_1
"Farel menginap juga di klub tadi malam dan kondisi nya mabuk berat."
Dilara mengepalkan tangan kuat, "Mas aku pergi sebentar. Nanti aku kembali lagi."
"Mau kemana?."
"Sebentar. Nggak lama kok, tolong jaga putri kita."
Dilara mengambil tas dan bergegas pergi. Hendrawan baru saja ingin menahan, tapi suara Johny menahan langkahnya.
[Ada Brandon juga.]
"Brandon pacar Rachel?."
[Iya hanya mereka tamu yang menginap seusia dengan Luna, sisanya di atas 25 tabun. Bukan berarti saya menuduh mereka melecehkan Luna, maksud saya kita bisa mencari informasi dari mereka.]
"Tapi busa jadi juga kan salah satu dari mereka melakukan itu pada Luna. Apalagi kamu bilang mereka mabuk berat."
[Bisa jadi, tapi kita tak boleh asal menuduh, anda bisa terkena kasus pencemaran nama baik.]
[Baik Pa.]
Setelah mengakhiri panggilan, Hendrawan meletakkan ponsel di meja. Pandangan matanya menyendu sembari berjalan mendekati brankar putrinya. Tanpa melepas pandangan dari wajah pucat Luna, Hendrawan duduk di kursi samping brankar.
Sesaat hanya diam, hanya terdengar suara tetesan infus dan detak jarum jam dinding. Dengan hati-hati Hendrawan menggenggam tangan putrinya yang tampak mungil di atas telapak tangannya.
"Luna," lirihnya. "Maaf, maaf papa sudah menyebabkan kamu seperti ini. Papa pernah berjanji akan selalu melindungi kamu, tapi papa justru menghantarkan kamu pada kesengsaraan. Maaf papa terlalu pengecut mengakui kamu dan memperkenalkan kamu pada dunia. Kali ini papa benar-benar berjanji, papa akan memperkenalkan kamu pada semua orang setelah kamu sadar. Cepat sadar, Nak. Putriku."
***
"Rel, lo udah tahu hari ini Luna pergi ke LA?."
Farel menoleh sekilas pada Rachel yang duduk lesehan di sampingnya sambil menggigit fried chicken yang mereka pesan untuk menganjal perut. Rachel tidak jadi ke kampus karena dosen tidak datang dan kuliah hari ini di ganti dengan tugas.
Sedangkan si bandel Farel , kuliah jam 10.00 dan Sekarang sudah pukul 10 menit . Terlambat akhirnya bolos saja. Sepanjang 15 menit tadi Rachel mengomelinta gara-gara sering bolos kuliah.
"Tau. Kemarin waktu gue nganter Luna ke rumah sakit, dia bilang dia mau ke LN"
__ADS_1
"Meburut lo kasihan nggak sih Luna? Maksudnya impian dia jadi seorang artis hancur karena kita."
Farel segera menelan ayam di mulut. Melepas sarung tangan plastik yang dia gunakan untuk makan ayam tadi, lalu menatap gadis cantiknya.
"Kita yang kamu maksud siapa ? Lo dan sahabat-sahabat kita yang lain?."
Rachel menganguk.
"Lo nggak salah, semua ini perempuan salah gue sama yang lainnya. Gue nggak akan cari pembenaran dan mengakui gue memang salah. Cara yang gue gunakan terlalu ya... sedikit kejam. Kemarin gue juga udah minta maaf sama Luna. Tapi gue nggak menyesal melakukan itu karena gue melindungi orang yang gue cintai. Bahkan kemarin, seandainya gue ada di villa Dypta dan merusak wajah Bella seperti yang Bella lakukan sama lo, gue nggak akan menyesal."
Farel menatap lekat mata Rachel begitu juga sebaliknya.
"Tapi ada untungnya juga Luna membuat drama ini, setidaknya gue tahu isi hati lo yang sebenarnya."
Rachel memutus kontak mata san menatap ke arah mana saja selain mata Farel. Pembahasan tentang hati, cinta dan perasaan selalu membuatnya gugup.
"Kalau bukan karena potongan diary itu, lo pasti nggak akan pernah mengakui perasaan lo."
Rachel meremas tangan di bawah meja. Bahkan mengalihkan pandangan dari bok ayam pada mata Farel. Begitu mereka bertatapan, mereka seolah membangun dimensi mereka sendiri. Di sebuah padang hijau, ditemani semilir angin, hanya ada mereka berdua.
"Gue seneng lo nggak ngungkapin perasaan lo sejak dulu, karena jawaban Si Bodoh ini pasti akan mengecewakan lo."
"Karena dulu mata hati dan hati gue masih tertutup dengan Obsesi. Gue juga inget gue pernah melarang lo jatuh cinta sama gue Karena gue nggak mau mengubah persahabatan kita menjadi pacaran. Setelah pacaran tiba-tiba ada masalah lalu beberapa bulan kemudian putus dan kita menjadi orang asing."
"Gue gak mau kita jadi orang asing dan pura-pura nggak kenal saat berpapasan. Tapi pada akhirnya kita tetap asing saat gue bersama Luna dan lo bersama Brandon. Kehilangan, kerinduan lo juga merasakan apa yang gue rasakan kan?."
Rachel tak menjawab, justru mengambil sepotong ayam dan mulai menggigitnya.
Farel mengulurkan tangan dan menyelipkan rambut Rachel ke belakang telinga agar tidak ikut masuk ke dalam mulut. Rachel melirik sekilas, Farek tak kuasa menahan senyum.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1