Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 48


__ADS_3

Dengan gontai, Farel melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Wajahnya tampak lesu dan murung, kemudian menyandarkan tubuh di sofa dan memejamkan mata.


Setelah dari kampus tadi, Farel ingin pulang ke apartement. Namun Apartemen hanya mengingatkannya pada Rachel dan Farel sudah memutuskan untuk tidak bertemu dengan Rachel hari ini. Jangan sampai perasaannya tak terkendali dan memaksa bertemu Rachel hari ini juga.


Entah kenapa Rachel ingin menenangkan diri tapi jika ketidakhadirannya membuat Rachel lebih tenang Farel akan menjaga jarak.


"Farel, kapan pulang Nak. kok ngga ngomong-ngomong sama Mamah."


Farel membuka mata dan seketika bibirnya mencebik bawah bertatapan dengan mamahnya.


"Mama, sini!." rengeknya sambil menepuk-nepuk sisi sofa tempat di sampingnya.


Sarah tersenyum, mendekat dan duduk di samping putranya. Ekspresi Farel sekarang mengingatkan Darah pada Farel kecil yang kesel dan jengkel, saat baru pulang sekolah karena memiliki banyak tugas sekolah.


Tapi kejutan di dahi putranya sekarang pasti menunjukkan masalah yang jauh lebih berat dari masalah zaman SD dulu. Masalah orang dewasa yang tidak jauh dari masalah hati.


"Ada masalah apa."


Farel langsung merebahkan diri miring dan berbantalan pada Sarah. Dengan lembut dan penuh kasih Sarah mengusap tambah putranya, lalu menunduk dan memberikan kecupan sayang di pipinya.


"Cerita sama Mama."


"Bukan masalah, Mam. Justru ada kabar bahagia."


"Kabar apa?." Sarah menyisir rambut putranya.


"Aku jadian sama Luna."


"Oh ya? Congrats, Sayang. Akhirnya penantian lebih dari 10 tahun berbahasa juga. Harusnya kamu senang, tapi entah hanya perasaan Mama atau kamu justru terlihat sedih."


Itu juga yang Farel bingungkan sekarang. Harusnya sekarang dia bahagia tapi kenapa perasaannya begitu sedih. Harusnya juga sekarang dia merayakan bersama Luna, tapi kenapa rasanya Farel justru ingin bertemu Rachel dan menghabiskan waktu lebih banyak bersama sahabat tersayang nya itu.


Bahkan sekarang Farel ketakutan, takut Rachel menjauhinya.


Kenapa? kenapa perasaannya jadi aneh seperti ini.


"Sebenarnya Mamah sudah tahu tadi dari Rachel. Mama nggak sengaja ketemu Rachel di rumah sakit. Mama juga yang mengantarkan Rachel ke kampus."


Farel dengan cepat memposisikan diri terlentang dan menatap wajah mamahnya.


"Mama beneran ketemu Rachel?."


"Iya."

__ADS_1


"Terus Rachel bilang apa sama Mama?. Rachel bilang sia akan menjauhiku setelah jadian sama Luna?."


Sarah tidak langsung menjawab melainkan tersenyum dan mengusap dahi putranya.


"Rachel tidak mengatakan apa-apa. Tapi sudah seharusnya kan Rachel menjaga jarak dari kamu?."


"Aku ngga mau Mah. Aku ngga mau ada jarak."


"Terus kamu mau yang gimana? Sekarang kamu sudah resmi berpacaran dengan Luna, jika kamu terus dekat dengan Rachel, apa menurut kamu Luna tidak akan sedih?. Bayangkan jika Luna, perempuan yang kamu cintai, melihat kamu merangkul dan menggoda Rachel, apa menurut kamu perasaan Luna aja baik-baik saja?."


Farel terdiam. Pikirannya begitu rumit sekarang. Farel tanpa sadar mulai membandingkan kisah cintanya dengan Ayah nya.


Anthony mencintai Sarah, tapi tidak bisa lepas dari Ziya dengan alasan atas nama persahabatan. Tapi sikap Anthony yang terlalu perhatian pada Ziya tanpa sadar menyakiti hati Sarah. bahkan Anthony hampir kehilangan Sarah.


Farel mengibaratkan jika Luna adalah Sarah duku sedangkan Rachel adalah Ziya. Sudah seharusnya Farel menjauhi Rachel agar Luna tidak tersakiti. Atau jika Farel terus keras kepala mendekati Rachel, Farel akan kehilangan Luna sama seperti Anthony hampir kehilangan Sarah gara-gara terlalu dekat dengan Ziya.


Tapi masalahnya, Rachel tidak jahat seperti Mamah Ziya dulu. Rachel sangat baik.


"Sayang, apa yang kamu pikirkan? kenapa diam saja. Cerita sama Mamah, jangan memikirkan sesuatu dan asal menyimpulkan begitu saja."


Farel mendongak dan menatap lekat Sarah.


"Bingung, Mamah."


"Nak," Sarah mengusap rahang putranya, "Apa yang membuatmu bingung?."


"Aku mencintai Luna tapi kenapa aku sedih berjauhan dengan Rachel. Sebenarnya siapa yang aku cinta, Mama?."


"Kamu yang menentukan jawaban nya, Sayang."


"Tapi bagaimana?."


Sarah menghela napas panjang. "Oh Mamah ingat jika kamu ingin tahu siapa orang yang kamu cinta, jika dia pergi kamu menangis, kamu meneteskan air mata untuknya, tanda nta orang itu sangat berarti dan kamu mencintainya."


"Aku tidak pernah menangis untuk Rachel, tapi aku juga tidak pernah menangis untuk Luna. Aku cuma menangis untuk Mamah."


Sarah tersenyum dan mencium dahi putranya.


"Tidak sekarang, mungkin suatu hari nanti. Tapi karena kamu sekarang sudah memilih Luna sebagai kekasih kamu, berkomitmenlah dengan pilihan kamu itu. Selain itu cobalah menjaga jarak dengan Rachel. Jangan terlalu protektif juga. Dan kalau Rachel punya pacar kamu jangan marah."


"Mah ngga mau."


"Yah terus kamu mau nya gimana? kamu aja boleh pacaran, masa Rachel ngga boleh pacaran. Kamu mau Rachel jomblo seumur hidup?."

__ADS_1


Farel tersenyum, "Rachel masih polos, Mah. Aku takut Rachel di apa-apain sama pacar nya."


"Paling yang jadi pacar Rachel kalau bukan Dypta stau Rendy. Mamah perhatikan mereka dekat dengan Rachel.


"Rendy itu mesum kalau Dypta di ngga baik juga."


Sarah tersenyum dan menoel puncak hidung putranya.


"Sayang, kamu sadar tidak? yang kamu lakuin ini namanya egois. Kamu ingin Luna tapi kamu melarang Rachel bersama laki-laki lain. Jangan begitu itu tidak baik."


Farel baru saja ingin menjawab tapi tiba-tiba...


"Ck. aku tungguin dari tadi ternyata lagi berduaan di sini."


Farel dan Sarah sama-sama menoleh ke sumber suara itu.


Sarah tertawa pelan melihat wajah kesal suaminya. Sarah tak berpamitan pada suaminya ingin mengambil baju ganti untuk berenang, tapi melihat Farel sedih, Sarah sampai lupa dengan tujuannya dan hanyut mendengar curhatan Farel.


"Ayah, hari ini Mamah mau aku monopoli."


Ayah berdecak, "Lama-lama Ayah nikahin kamu aja sama Rachel, biar bisa manja sama Rachel ngga ganggu Mamah terus."


"Kok Rachel sih, Yah?." heran Farel.


"Yah Ayah mau nya Rachel jadi menantu Ayah. Memang nya kenapa? selama ini kamu diam-diam pacaran kan sama Rachel?."


Mendengar itu wajah Farel kian menyendu.


"Bukan Rachel Mas. Tapi sekarang Farel sudah jadian sama Luna. Baru aja hari ini Farel curhat sama aku."


Sebelah alis Anthony terangkat, "Oh jadinya sama Luna. Ya terserah kamu sih. Kalau Ayah sih pilih Rachel." Anthony mengalihkan pandangan pada Sarah. "Sayang ayo ke kolam, Rana, Rani dan Reza sudah nungguin di kolam."


Sarah menganguk dan mengusap lembut pipi Farel yang tampak sedih.


"Ayo kita berenang bareng adik-adik. Biar lebih fresh."


Farel menganguk dan memposisikan diri duduk dan tiba-tiba.


"Eh." Sarah memekik saat tiba-tiba Farel menggendong nya ala bridal style.


"EH ANAK KURANG AJAR, NGGAK USAH GENDONG-GENDONG MAMAH KAMU."


Anthony melotot marah, dan mengejar putranya nakalnya. Sementara Farel menulikan telinga.

__ADS_1


__ADS_2