
Luna melepaskan pelukan dan tersenyum, "Iyah Aku tahu terus gimana? kamu nggak sedih lagi? Sebenarnya kamu sedih kenapa? Aku tanya Farel, Farel bilang masalah biasanya tapi kali ini lebih parah. Aku bingung masalah biasa ini masalah apa?."
"Ya apalagi kalau bukan masalah keluarga. Tepatnya masalah Papa. Pokoknya gitu deh, tapi ngga papa kok. Sekarang udah baikan."
Kemarin Rachel tidak menjelaskan apa-apa pada Farel, Bastian, Dypta dan Rendy. Tapi mereka seolah sudah tahu masalahnya. Mungkin karena beberapa kali jika Rachel ada masalah dengan Papahnya Rachel selalu cerita kepada mereka. Jadi mereka sudah hafal masalah Rachel. Kadang Rachel juga cerita kepada Luna tapi di mata Luna Papahnya tidak selalu salah.
"Masalah Papa kamu?, oh aku tahu, gara-gara Om Hendrawan sibuk terus dan kamu merasa tidak di perhatikan terus kamu nangis gitu?. Ya ampun Rachel, Om Hendrawan itu kerja buat kamu kan. Kalau Om Hendrawan nggak kerja kamu nggak bisa nikmati fasilitas ini."
"Kamu harus nya bersyukur Rachel punya Papa seperti Om Hendrawan yang sangat baik, bertanggung jawab dan penyanyang. Dan yang paling penting kamu harus bersyukur kamu memiliki Ayah, kamu lihat aku. Aku dari kecil nggak pernah bertemu sama Ayah aku. Kamu harus pandai bersyukur Rachel."
Rachel menganguk,
"Iyah Aku sangat bersyukur kok. Mungkin kemarin aku terlalu terbawa suasana, dan membuat keadaan semakin kacau. Soal Papa kamu semoga kamu bisa bertemu beliau."
"Ya sudah, Ayo aku temani belanja."
"Btw kok bisa kamu ada di sini." ucap Rachel bingung.
"Kebetulan aku mau hangout juga. Tadi kebetulan aku di lantai 1 terus tanpa sengaja lihat kamu di lantai 2. Ya udah aku langsung samperin kamu diam-diam. Tadi nya aku sama temen-temen tapi aku tinggalin mereka demi kamu.".
Sebenernya bukan sepenuhnya kebetulan. Memang benar Luna berada di mall bersama teman-temannya untuk berbelanja sekaligus nokrong di Mcd. Setelah mendapat serbuat haters di dm IG tadi, Luna ingin refresing.
Saat makan tadi, luna membuat story wa dan di balas oleh Hendrawan.
Hendrawan tanya Luna ada di mall mana, dan Luna menjawab di mall skyhipe. Hendarawan lalu mengajak Luna untuk berbelanja bareng Rachel, tentu Luna dengan senang hati menginyakan permintaan Hendrawan.
Dan sekarang di sinilah Luna bersama dengan Rachel. Hendrawan menyuruh Luna mengatakan pertemuan mereka hanya kebetulan agar Rachel tidak iri.
"Gimana sudah selesai milih sepatu nya?." tanya Hendrawan tiba-tiba.
"Belum Pa." Jawab Rachel dia merasa tak enak karena keasikkan ngobrol bersama Luna jadi lupa untuk memilih sepatu.
"Halo Om Hendrawan." Sapa riang Luna.
Hendrawan tersenyum melihat wajah ceria Luna. Hendrawan sengaja mengajak Luna untuk shopping sekalian menghabiskan waktu bersama kedua putrinya.
"Kalau kamu mau beli sepatu pilih aja!."
"Beneran Om?."
"Iya."
"Terima kasih Om Hendrawan!." Luna menghamburkan diri memeluk Hendrawan.
__ADS_1
Rachel terdiam melihat interaksi mereka. Sejak dulu tepatnya setelah lulus SMP. Papah nya dan Luna menjadi akrab. Hendrawan mengatakan sudah menganggap Luna seperti anak kandungnya sendiri. Tentu saja Rachel bahagia saat itu, akhirnya Luna bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah.
Namun semakin ke sini, entah merasa hanya perasaannya saja atau Papahnya memang lebih menyanyangi Luna dari pada dirinya.
"Oh yah, Gimana Rachel kalau kita beli sepatu couple-an?."
"Boleh."
"Yeah Ayo!."
Luna dan Rachel pun lanjut memilih-milih sepatu. Di temani Hendrawan yang berjalan di belakang mereka.
"Om ini bagus nggak?." tanya Luna. Setiap melihat sepatu yang menurutnya bagus, Luna selalu menunjukkannya kepada Hendrawan.
"Bagus."
"Kalau ini?."
"Bagus juga."
"Terus kalau ini?".
"Itu juga bagus."
"Ih Om Hendrawan dari tadi bilang bagus semua." rengek Luna.
"Masa tiga sih Om."
"Ga papa."
"Eh kan tadi mau beli couple-an kok malah beli ini sih." Luna merutuk pada diri sendiri karena terlalu senang belanja bersama Om Hendrawan sampai melupakan Rachel diam saja berdiri di sampingnya.
"Rachel mau beli yang mana?."
"Mana aja bagus semua."
"Ya udah yang ini aja yah, putih Pink."
Luna bersorak senang, lalu membawa dua sepatu itu ke kasir. Hendrawan mengikuti Luna membujuk Luna agar membeli sepatu yang lain. Sementara Rachel masih melihat sepatu-sepatu yang lain. Tapi Hendrawan tidak menawarinya untuk membeli sepatu lagi. Rachel juga bisa membeli sepatu sendiri tapi lebih mengesankan jika di belikan Papa nya.
"Cuma itu doang? yakin ngga mau beli lagi? nanti sampai rumah nyesel loh. Kamu suka yang full putih tadi kan?." tanya Hendrawan.
"Suka Om."
__ADS_1
"Ya udah beli aja."
"Oke deh kalau Om memaksa."
Hendrawan mengacak rambut Luna dengan gemas.
Luna pun membawa sepatu itu ke kasir.
"Rachel ngga beli lagi?." tanya Luna saat Rachel berjalan mendekat.
Hendrawan ikut mengalihkan pandangan ke arah Rachel.
"Rachel kamu mau beli? beli aja!, mumpung kita masih ada di sini."
"Ngga pah, Rachel nggak pengen beli apa-apa."
Hendrawan pun membanyar sepatu anak-anaknya di kasir llau keluar dari toko. Agar kedua putrinya tidak merasa berat, Hendrawan pun membawa semua kantong belanjaan mereka. Hendrawan berjalan di tengah-tengah kedua putrinya yang ia sayangi.
"Pah, habis ini makan yuk!." Ajak Rachel.
"Ayuk aku juga mau." Sahut Luna. "Gimana kalau kita makan street food aja Om?."
"Tapi aku mau ke restaurant Jepang. Aku lagi pengen makan udon."
"Ya ampun Rachel. Kamu pasti nggak biasa makan-makanan street food. Padahal sebagai orang Indonesia kita harus cinta produk Indonesia. Apalagi penjual street food itu ukm-ukm kecil yang sedang merintis usaha mereka. Rencananya sekaligus aku mau membuat story Ig supaya banyak datang. Lumayan kan follower aku uang 2 jutaan itu datang semua ke Street food. Om Hendra setuju ngga sama aku?."
Hendrawan menganguk.
"Om sangat setuju. Luna selain pintar, punya bakat nyanyi juga punya jiwa sosial yang tinggi. Om sangat bangga sama kamu. Kamu sangat peduli dengan lingkungan sekitar."
"Terima kasih Om." Luna tersenyum senang mendengar pujian Hendrawan.
"Rachel kamu harus belajar dari Luna. Luna lebih muda dari kamu tapi pemikiran nya sudah dewasa. Oh yah, bukannya kamu ikuti banyak kegiatan sosial masa hal-hal seperti ini kamu tidak peka?."
"Iyah Pah." lirih Rachel.
"Jadinya kita ke street food?." Luna memastikan.
Hendrawan menganguk sontak membuat Luna bersorak gembira. Sementara Rachel hanya diam. Protes pun tidak ada gunanya, semakin dia protes semakin Papa nya menjudge nya bukan anak baik. Sebagai anak, sudah sewajarnya Rachel ingin menjadi anak baikan kebanggaan Papa nya tapi entah mengapa seolah tidak ada hal yang membanggakan dalam dirinya di mata sang Papa.
Pulang, Rachel pengen pulang. Tapi kapan lagi bisa menghabiskan waktu bersama Papa nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...