
Luna mengikuti arah pandang Hendrawan. Begitu menoleh, seketika matanya berkaca-kaca membulat terkejut, Rachel. Dalam batin, Luna berulang kali memanggil nama Rachel, berulang kali mengerjabkan mata nya memastikan sosok perempuan itu benar-benar Rachel.
Tidak salah lagi, dia memang Rachel. Apalagi di datang bersama dengan Farel. Sudah pasti dia sahabat Luna yang hilang 5 tahun yang lalu.
"Rachel," Luna berdiri dari kaki Hendrawan dan berlari menghampiri Rachel. Tak ada kata terucap lagi, tubuhnya berhambur memeluk Rachel.
Rachel terkejut, tapi dia benar-benar terkejut. Dia sudah menebak jika suatu hari nanti dia akan bertemu dengan Luna, mungkin Luna akan langsung memeluknya sama seperti sahabat-sahabat nya yang lain saat pertama kali bertemu dengannya.
Rachel juga tidak menyangka akan bertemu dengan Luna di sini. Padahal Farel mengatakan sudah lima tahun ini tidak pernah muncul ke publik. Luna hilang bagai di telan bumi.
"Rachel, Ya Tuhan." Luna melepas pelukan dan mencengkram lembut lengan Rachel, lalu memandang wajahnya dengan lekat.
"Kamu benar-benar Rachel kan?."
"Iyah aku Rachel."
Air mata yang sempat mengering kini kembali mengalir lagi. Rasanya tak tergambarkan namun yang jelas, Luna sangat bahagia bisa bertemu dengan sahabat lamanya.
"Syukurlah kamu baik-baik saja. Terakhir aku mendapat kabar sebelum kamu menghilang, kamu kecelakaan dan koma."
Setelah kondisi nya membaik, setelah dia sudah menerima kehamilannya dan pernikahan dengan Brandon. Luna mulai mulai memperdulikan sekitar. Luna bertanya pada Brandon kemana keberadaan Dilara? Bagaimana kabar Hendrawan lalu bagaimana keadaan sahabat-sahabat nya? Hanya mereka yang Luna miliki.
Untung saja Brandon baik dan mau mencari tau tentang mereka. Brandon mengatakan Dilara menghilang dan tidak tau dimana keberadaannya. Untuk Hendrawan, Brandon mengatakan beliau depresi setelah kepergian Rachel dan Ayuma. Tentang sahabat-sahabat nya yang lain, mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Sementara Rachel, Brandon mengatakan Rachel pergi bersama Ayuma, entah kemana.
"Iya, lima tahun yang lalu aku kecelakaan. Sekarang aku amnesia. Maaf, jika aku tidak tahu banyak tentang kamu."
"Amnesia?."
__ADS_1
"MENJAUH DARI PUTRI SAYA, LUNA."
Dengan tongkatnya, Hendrawan tertatih-tatih menghampiri Rachel Hendrawan tidak akan membiarkan Luna dekat-dekat dengan putrinya dan mencelakakan Rachel seperti yang Dilara lakukan dulu. Luna menunjukkan seolah dia berubah menjadi baik tapi Hendrawan tidak mau percaya begitu saja. Hendrawan tidak ingin lengah sedikitpun dan putrinya celaka.
"Rachel menjauh dari dia," Hendrawan mencengkram lembut pergelangan tangan Rachel, menjauhkan dari Luna.
"Om pelan-pelan," tegur Farel, membuat Hendrawan langsung melepas cengkraman di lengan Rachel.
Farel juga masih membaca situasi. Sangat terkejut bertemu Luna di sini.
Tentang kemunculan Luna...
Farel tidak menyangkal, Luna masih ada di Indonesia, Parel, pikir Luna pergi ke luar negeri. Karena selama ini Farel tidak pernah bertemu dengan Luna, atau lebih tepatnya, Farel tidak mau tahu kabar Luna. Mungkin juga saat berada di Jalan, Farel berpapasan dengan Luna. Tapi Farel terlalu fokus mencari Rachel, sehingga tidak memperdulikan sekelilingnya.
"Maaf, Om saya tidak ada maksud ingin menyakiti Rachel. Justru sekarang saya sangat senang bertemu dengan Rachel."
"Tidak usah berbohong kamu Luna. Kamu keturunan jahat sama seperti mama kamu. Saya masih ingat dengan jelas kamu pernah menjelek-jelekan Rachel di ig pribadi kamu." Hendrawan memicingkan mata pada Luna lalu mengalihkan pandangan pada Rachel dengan sorot mata yang lebih lembut
Rachel baru saja ingin berbicara tapi Luna lebih dulu bersuara.
"Iya, Om. zsaya juga tahu cerita itu. Soal mama yang menyebabkan Rachel kecelakaan. Tapi saya sama sekali tidak tahu rencana mama. Saya nggak sejawat yang Om pikirkan. Iya dulu saya pernah berbuat kesalahan. Saya pernah mencoba mempermalukan Rachel. Tapi itu dulu, Om. Saya sangat menyesal. Sekarang saya benar-benar senang bertemu dengan Rachel. Saya juga senang kondisi Rachel baik-baik saja."
"Saya tidak percaya, pergi kamu!." Hendrawan mendorong-dorong Luna, "Satpam usir dia," teriak Hendrawan pada satpamnya.
"Pa, berhenti." Rachel tak tega melihat Luna di perlakuan kasar.
Luna mengusap air matanya. Sedih sekali mendapat perlakuan seperti ini. Rasanya lelah sekali harus mengatakan pada semua orang dia sudah berubah, tapi tidak ada satu orang pun yang percaya. Luna ingin ada satu orang saja yang mempercayainya. Tapi sampai detik ini tidak ada yang ada di pihaknya.
__ADS_1
Hanya Kevin. Kevin adalah satu satu nya orang yang selalu mempercayainya, menyanyanginya dengan tulus dan menatapnya penuh kekaguman. Tapi jika Kevin tahu masa lalu ibunya. Apa Kevin masih menyanyanginya? atau membencinya sama seperti semua orang?.
"Rachel," Luna mengalihkan pandangan pada Rachel dan menggenggam tangannya. "Maaf pertemuan pertama kita seperti ini. Mungkin lain kali kita bisa bertemu dengan kondisi yang lebih baik. Tapi kamu harus percaya, aku sudah benar-benar berubah dan tidak punya niat sedikitpun ingin menjahati kamu."
Luna mengalihkan pandangan pada Hendrawan.
"Saya minta maaf soal penyamaran saya yang berpura-pura menjadi perawat Om Hendrawan. Saya tidak punya niat apapun selain membalas budi kebaikan Om di masa lalu. Mulai sekarang saya tidak akan bisa lagi ke sini. Saya harap Om Hendrawan bisa menjaga diri dengan baik. Jangan lupa makan, jangan suka begadang. Jaga kesehatan. Permisi, Om."
Sembari membungkam mulutnya dengan telapak tangan Luna masuk ke dalam mobil. Sopir langsung melajukan mobil meninggalkan halaman rumah.
Sementara Farel, Rachel dan Hendrawan masih berada di sana.
"Rachel," Hendrawan mendekati Rachel menggenggam tangannya, "Papa sudah mengusir Luna, bahaya dari hidup kamu. Kamu senang kan?."
Rachel bingung harus merespon bagaimana. Di satu sisi Hendrawan hanya mencoba melindungi nya dengan cara mengusir segala kemungkinan yang akan menyakiti Rachel. Tapi di sisi lain Rachel tak tega melihat Luna menangis seperti tadi.
Mungkin benar Luna pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Tapi Luna sudah mengaku. Luna juga mengatakan dia sudah menyesal. Bukankah setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan ke dua? Tapi... Rachel juga ragu, apa Luna benar-benar berubah.
"Ayo masuk!." ajak Hendrawan. "Rumah ini... Dulu kita sekeluarga tinggal di sini. Papa, mama dan kamu. Keluarga kita mungkin tidak seharmonis keluarga lain, tapi rumah ini akan selalu menjadi tempat ternyaman Papa untuk kembali pulang. Papa minta maaf. Papa baru menyadari itu setelah kamu dan mama kamu pergi."
Hendrawan mengeratkan genggaman tangannya pada Rachel.
"Papa tidak akan mengelak. Papa melakukan banyak sekali kesalahan di masa lalu. Katakan saja apa yang kamu inginkan Papa akan melakukannya untuk menebus kesalahan Papa."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....