Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 65


__ADS_3

Tidak ada yang Farel pikirkan selain Rachel. Pikiran nya begitu kalut, khawatir dan gelisah sekarang. Bahkan untuk bernafas pun ia tidak tenang.


Karena tidak berkosentrasi dan pikirannya sangat kacau, saat ada motor muncul dari pertigaan dan menyebrang begitu saja, Farel tidak bisa mengendalikan kecepatan. Dia pun membelokkan motor ke arah lain untuk menghindari tabrakan namun...


Bruakk..


Motor Farel ambruk dan tubuhnya terseret. Melepaskan pegangan pada stang motor, tubuh Farel terpelanting. Sisi kanan tubuhnya jatuh lebih dulu dan sisi kanan kepala juga agak sakit karena sepertinya membentur sesuatu.


"Rachel," sambil terus menyebut nama Rachel, Farel berusaha mempertahankan kesadaran.


"Ada yang kecelakaan!." Orang-orang di sekitar mendekat dan berusaha menolong Farel.


Menahan sakit, Farel mencoba berdiri.


"Saya tidak apa-apa. Terima kasih."


Farel mendekat ke arah motor nya yang sudah didirikan oleh beberapa orang.


"Mas, istirahat dulu. Di seberang jalan ada klinik. Itu celana nya sampai sobek gitu."


"Saya tidak apa-apa. Saya harus pergi sekarang. Saya sedang buru-buru. Sekali lagi terima kasih atas pertolongannya."


Farel naik ke motor lagi, menunduk sekilas pada mereka, lalu melajukan motor dengan kecepatan sedang menuju Apartemen Rachel. Kepala nya masih pusing dan beberapa bagian tubuhnya terasa sakit. Tapi Farel tidak mau menunda lagi. Farel harus memastikan Rachel baik-baik saja. Baru setelah itu ia bisa tenang.


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya Farel tiba di gedung apartement Rachel. Meletakkan helm di atas motor, Farel bergegas menaiki lift.


"Rachel, buka pintu nya hel!." Farel menggedor-gedor pintu Apartement Rachel begitu sampai di lantai 10. "Rachel, please."


"Jangan buat gue khawatir. Rachel buka pintu nya!."


Tak lama pintu terbuka.


"Farel, kenapa lo kesi-" kalimat Rachel terhenti begitu saja saat tiba-tiba Farel memeluknya. Pelukan erat sampai Rachel kesulitan bernafas.


"Farel..."


"Gue di sini. Gue di sini, Rachel. Gue akan selalu ada di sisi lo. Apapun yang terjadi, gue nggak akan pernah ninggalin lo sendiri."


Rachel tidak tahu apa yang terjadi sampai suara Farel bergetar dan terdengar begitu khawatir.

__ADS_1


"Farel, ada apa?."


Rachel memegang lengan Farel dan melepas pelukannya, tapi Farel justru mengeratkan pelukan, lalu perlahan Rachel mulai merasa tubuh Farel memberat.


"Farel, lepas dulu. Lo kena-Eh Farel."


Rachel begitu terkejut saat tubuh Farel melemas dan ambruk. Rachel yang berusaha memegang lengannya ikut bersimpuh di lantai dan memangku kepala Farel dengan khawatir.


"Farel, lo kenapa? Farel, bangun." Dengan panik Rachel menepuk-nepuk pipi Farel, berusaha membangunkan nya.


Namun dia justru di buat terkejut dengan telapak tangannya yang berdarah dan meninggalkan noda di pipi Farel saat dia menepuk-nepuk pipi Farel tadi.


"Ya Tuhan, ini kenapa?." Rachel mengangkat tangannya yang gemetar karena terdapat banyak noda darah. Begitu mengingat tadi memegang lengan Farel, Rachel pun menyentuh kembali lengan Farel yang masih terbalut jaket yang ternyata sudah sobek.


"Farel."


Rachel benar-benar terkejut sampai membeku beberapa detik dengan pandangan mata mulai mengabur sebab air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.


"Farel, lo kenapa. Kenapa bisa begini sih?."


"Tunggu sebentar. Gue cari pertolongan."


"Dypta, lo di dalam? Buka pintunya Dypta!."


Sekian kali mengetuk, memencet bel dan berteriak-teriak namun tidak respon. Sepertinya Dypta belum pulang kuliah. Selain sibuk kuliah, Dypta cukup aktif di organisasi kampus, apalagi ini masih sore kemungkinan besar Dypta belum pulang.


"Farel tunggu sebentar. a-aku telepon. A-aku telepon petugas keamanan dulu."


Karena tidak tahu harus meminta tolong pada siapapun dan tidak tahu siapa juga yang tidak sibuk, Rachel akhirnya menelpon pihak keamanan apartement. Rachel baru ingat, Dypta pernah memberikan nomer itu padanya.


Setelah menghubungi mereka, Rachel duduk kembali duduk di samping Farel dan memapah kepala Farel.


"Farel, bangun," Rachel berusaha meneriaki nama Farel, berharap Farel siuman tapi tidak ada tanda-tanda Farel tersadar, justru wajahnya semakin pucat.


"Farel, kenapa, kenapa kayak gini?."


Rachel merangkul Farel dan mendekap erat. "Tunggu sebentar pertolongan akan datang."


"Kenapa lama banget sih?."

__ADS_1


Rachel tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Rachel pun berusaha mendudukan Farel lalu menggendongnya.


"Gue ngga kuat." Rachel menangis semakin kencang karena merasa tidak mempunyai menggendong Farel. Dan akhirnya setelah mencoba kesekian kali dan mengerahkan seluruh kekuatannya, Rachel berhasil menggendong Farel di punggungnya. Lalu bergegas menuju ke lift. Rachel bersyukur karena sering nge-gym sehingga tubuhnya lebih kuat.


Kebetulan sekali dua petugas keamanan datang dari lift.


"Aduh, Mbak. Kok kuat banget gendong Mas ini."


"Pak bisa tolong jangan bicara dulu. Tolongin saya."


Kedua petugas keamanan itu menurunkan Farel dari punggung Rachel dan memapahnya. Kemudian di temani satu petugas keamanan, Rachel melajukan mobil nya menuju ke rumah sakit.


***


"Luna, buka pintu nya, Nak. Jangan mengurung diri terus Mama bisa jelaskan. Semua tidak seperti yang kamu lihat, Sayang. Tadi hanya kecelakaan. Mama dan Om Hendrawan hanya... kami hanya..."


Bahkan untuk merangkai kalimat kebohongan pun Dilara tidak mampu. Semua sudah jelas. Apa yang terjadi di antar dirinya dan Hendrawan tadi tepat di saksikan oleh Luna dengan mara kepala nya sendiri.


"Benar, Luna. Buka pintu nya dulu. Dengarkan penjelasan kami," Hendrawan juga berusaha membujuk Luna.


"Apalagi yang ingin Mama dan Om jelaskan?. Mau mencari alasan apa? Mau bilang tadi hanya prank? atau mau bilang kalian hanya sedang bermain membuat anak-anak kan? Aku bukan anak kecil yang bisa kalian bodohi. Aku melihat semuanya. Aku melihat Mama dan Om Hendrawan, kalian.. kalian tidak memakai baju dan..."


Dilara meremas sisi baju nya saat mendengar tangis Luna yang semakin kencang. Sebagai Ibu, hati Dilara seperti tercabik-cabik. Tak pernah terbanyang akan jadi seperti ini. Jika tahu Luna akan pulang bersama Farel dan melihat kejadian tadi, Dilara tidak akan mengiyakan permintaan Hendrawan melakukan hubungan intim.


Kenapa? kenapa tadi Dilara menuruti hawa nafsunya? kenapa Dilara tidak bisa menahan diri seperti biasanya? Sekarang yang terluka bukan hanya dirinya tapi juga putri tersayangnya.


"Aku benar-benar tidak menyangka Mama yang aku anggap sebagai malaikat ternyata berselingkuh dengan Ayah dari sahabat ku sendiri. Aku benar-benar kecewa sama Mama. Kenapa dari sekian banyak laki-laku mama harus melakukannya dengan Om Hendrawan. Mama tahu kan Om Hendrawan Ayah dari Rachel?."


"Rachel sahabat dekatku, Ma. Rachel satu-satu nya sahabat yang aku miliki. Setelah kejadian ini bagaimana bisa aku bertemu dengan Rachel tanpa rasa malu. Kenapa mama tega? kenapa mama melakukan ini. Farel juga melihat semuanya, Ma. Aku hancur, Farel pasti meninggalkanku dan tidak mau punya pacar anak pelakor sepertiku, Ma."


"Mama kamu bukan pelakor, Luna." Hendrawan tak tahan lagi. Hatinya begitu sakit mendengar Luna mengatai Dilara seorang pelakor.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2