
Rachel mengalihkan pandangan pada Papa nya sambil mengepalkan tangan untuk menahan air mata yang mendobrab di pelupuk mata.
"Pelakor?, kenapa Papa mengataiku pelakor? Memangnya Farel dan Luna pacaran? Tidak, Pa. mereka hanya sahabat. Kami bertiga juga sahabat. Lalu kenapa aku harus menjauhi Farel sedangkan Luna boleh dengan Farel. Padahal Farel adalah orang yang selalu ada untukku."
"Itu karena kamu selalu merengek dan mengejar-ngejar Farel makanya Farel kasihan sama kamu. Sedangkan Luna... Farel mencintainya. Tanpa Luna minta pun Farel selalu ada untuknya. Papa mengatakan ini semua demi kebaikan kamu Rachel. Papa tidak ingin kamu terluka. Masih banyak laki-laki di luar sana. Kalau perlu Papa jododkan kamu dengan anak teman Papa."
"Aku ngga mau di jododkan. Dan satu hal yang harus Papa tahu. Aku tidak pernah mengejar-ngejar Farel. Kami berteman sudah seharusnya kami ada satu sama lain. Kenapa? Papa seolah selalu mengutamakan kebahagiaan Luna di bandingkan kebahagiaanku padahal aku adalah anak kandung Papa. Atau jangan-jangan aku bukan anak kandung Papa terus Luna anak kandung Papa sama Tante Dilara."
"Jaga bicara kamu."
Rachel langsung memejamkan mata saat Hendrawan menganyunkan tangan ke arah wajahnya. Kedua tangannya mencengkram kuat sisi baju untuk menyalurkan gemetar di tubuhnya.
Hendrawan mencelos, "Rachel ... Pa-papa tidak bermaksud menampar kamu l, Papa tadi..."
Begitu pintu lift terbuka. Rachel langsung lari.
"Rachel tunggu, Rachel."
Rachel menghentikan taksi dan meminta supir segera melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
"Kemana Mbak?." tanya sopir.
"Kemana saja, Pak. Jalan dulu."
Pak supir menganguk dan fokus menyetir dengan kecepatan sedang sementara Rachel melempar pandangan ke luar jendela dengan berurai air mata.
Rachel pikir dengan menuruti keinginan Papa nya pulang bersama, sikap Papa nya lebih lembut, tapi ternyata Papa nya justru semakin kasar, bahkan hampir menamparnya.
"Papa," lirih Rachel. "Kenapa Papa tidak bisa menyanyangiku. Aku salah apa?."
"Aku harus melakukan apa agar Papa menyanyangiku?."
***
"Rachel." gumam Farel sambil terus menatap ke arah ponselnya. Lima kali Farel menelpon tapi tidak ada satu pun panggilan yang di angkat.
"Farel." panggil Luna.
__ADS_1
Namun Farel tetap menunduk dan begitu fokus menatap ponsel. Sejak kepergian Rachel dan Hendrawan tadi, Farel duduk di kursi samping kanan brankar Luna dan sibuk dengan ponselnya. Farel hanya bertanya sekali saja tentang keadaan Luna, setelah itu tidak ada obrolan lagi.
Tiga kali Luna memanggil baru Farel mau mendongak.
"Ya."
"Rachel pulang bersama Papa nya kenapa kamu begitu khawatir?." heran Luna. "Om Hendrawan tidak akan menyakiti Rachel. Kamu tidak perlu sekhawatir itu."
"Tidak menyakiti?." Farel mengulang kalimat Luna sambil mengerutkan dahi.
"Kamu tidak melihat apa yang Om Hendrawan lakukan pada Rachel? Om Hendrawan memang tidak menyakiti fisiknya tapi Hendrawan menyakiti batinnya. Kamu pasti bisa melihat dengan jelas kan selama ini Om Hendrawan sering mengabaikan Rachel. Bahkan semalam membentaknya sampai Rachel menangis. Bukan hanya semalam, tapi pagi ini kamu juga melihat Om Hendrawan membentak Rachel di depan banyak orang."
Luna terdiam dan mengingat-ngingat kejadian tadi pagi.
"Maaf jika aku kurang peka atau gimana. Mungkin karena selama ini aku tidak pernah punya Ayah jadi aku tidak bisa merasakan apa yang Rachel rasakan saat di bentak Papa nya. Tadi pagi aku menganggap apa yang Om Hendrawan lakukan hanya biasa sebagai bentuk teguran dari orang tuanya agar anak nya selalu berhati-hati. Aku tidak tahu kalau bentakkan itu menyakiti hati Rachel."
Luna menunduk dan kesal pada dirinya sendiri karena tidak menyadari kesedihan Rachel. Pantas saja Rachel langsung pergi dan tak menemaninya ke rumah sakit itu karena Rachel merasa sakit hati dengan bentakkan Papa nya.
Karena selama ini Hendrawan selalu berbaik baik pada Luna. Dan Luna tidak pernah berpikir buruk tentang Hendrawan. Dengan dia yang hanya orang asing saja begitu menyanyangi nya apalagi dengan Rachel yang anak kandungnya sendiri. Hendrawan pasti berkali-kali lipat menyanyangi Rachel.
"Kejadian tadi pasti membuat Rachel membenciku karena Om Hendrawan lebih memilih menemani ku dari pada mengejarnya. Aku senang mendapatkan perhatian dari Om Hendrawan tapi tidak ada niat sama sekali untuk merebutnya dari Rachel. Tapi mungkin tanpa sadar aku melakukannya, karena aku terlalu excited menemukan sosok ayah dalam diri Om Hendrawan. Kalau begitu mulai sekarang aku akan menjauhi Om Hendrawan"
"Luna."
Farel merasa merasa kasihan kepada Luna. Mungkin karena sejak kecil Luna
kurang kasih sayang, tanpa sadar Inner child Luna membuat Luna menjadi anak yang suka mencari perhatian.
Luna merebahkan tubuhnya dan menarik selimut menutupi kepalanya.
"Bisa tinggalkan aku sebentar!, aku ingin sendiri."
Farel menghela nafas lalu keluar dari ruangan.
Setelah terdengar suara pintu tertutup, Luna kemudian mengeluarkan ponsel dan menyalakannya kemudian melihat walpaper ponsel nya yang menggunakan fotonya dan Rachel. Di foto ini berpose saling merangkul sementara tangan lain nya membentuk Love besar.
"Rachel." Luna mengusap layar ponsel seolah sedang mengusap pipi Rachel.
__ADS_1
"Maaf aku benar-benar tidak ada niat untuk merebut Papa kamu. A-aku hanya senang mendapatkan kasih sayang seorang Ayah."
Luna memeluk ponsel itu dan memejamkan mata dengan setetes air mata yang mengalir di pipinya.
***
"Terima kasih Pak." Rachel memberikan uang sesuai dengan nominal yang disebutkan oleh supir tadi.
Setelah mengucapkan terima kasih Rachel keluar dari taksi. Tak langsung masuk ke dalam melainkan berhenti sesaat di depan gerbang untuk menenangkan diri.
Sepanjang perjalanan tadi Rachel menahan tangis agar matanya tidak memerah dan mamahnya tidak bertanya ini itu.
Rachel tidak ingin menambah beban mamahnya dengan kesedihan ini. Apalagi jika Ayuma tahu jika Hendrawab hampir saja menamparnya, Ayuma pasti marah besar dan orang tuanya akan bertengkar lagi. Rachel tidak ingin itu terjadi. Rachel ingin Mamah dan Papa nya harmonis seperti keluarga-keluarga lain.
"Ga papa Rachel Ga papa."
Rachel menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan lalu berjalan ke arah gerbang yang sejak tadi di bukakan oleh Pak Satpam. Sejak tadi pun Pak Satpam sudah menunggu di sana, ingin menyapa tapi saat Rachel terlihat sedih, Pak Satpam hanya diam saja.
"Selamat sore Pak." Sapa Rachel dengan ceria.
"Sore, Non."
Rachel pun masuk ke dalam rumah dengan riang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Sayang."
"Ma."
Ayuma menghampiri Rachel. setelah dari rumah sakit tadi rencananya ia akan menjemput Rachel di apartement Farel. Namun karena kejadian yang mengejutkan nya di rumah sakit tadi. Ayuma belum bisa mengontrol emosinya, rasanya seperti ingin marah-marah dan teriak-teriak. Akhirnya Ayuma memutuskan untuk pulang.
Sesampainya di rumah, Ayuma melampiaskan kekesalannya dengan mengobrak-abrik kamar. Bahkan rasanya ingin membakar foto pernikahan nya dengan Hendrawan. Semua masih belum jelas tapi Ayuma yakin kalau Hendrawan memiliki hubungan spesial dengan Dilara.
Ayuma akhirnya ketiduran lalu menyuruh pembantunya membereskan kamarnya dan mengganti barang-barang yang pecah.
Sesuai dengan rencana, Ayuma akan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan diam-diam mencari bukti. Jika benar-benar Hendrawan terbukti selingkuh, Ayuma akan langsung menceraikan nya.
"Tadi kami chat Mamah mau ke rumah sakit kok udah pulang. Kamu pulang sama siapa? sama Farel? atau sama Papa kamu?."
__ADS_1
Rachel baru saja ingin menjawab, tapi tiba-tiba ...
"Rachel pulang denganku."