Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 191


__ADS_3

Farel enggan membiarkan Rachel sendiri. tetap saja Farel merasa khawatir meskipun mereka tetap satu rumah. Tapi jika ini keinginan Rachel, Farel juga tidak bisa melarang.


"Ya sudah hati-hati, kalau ada apa-apa langsung hubungi papa."


"Iya, pa."


Farel mengantarkan Rachel sampai ke ujung bawah lantai satu. Hendak naik mengikuti Rachel ke lantai 2, tapi Rachel menyuruh Farel berhenti di sana. Setelah itu Rachel menaiki tangga sendirian.


Sambil menaiki tangga, Rachel mengendarkan pandangan ke sekeliling. Berhenti sejenak lalu memanjangkan mata mencoba. Tapi tetap tidak ingat. Potongan-potongan ingatan Itu tiba-tiba saja datang tapi jika Rachel mencoba mengingatnya potongan-potongan adegan itu justru tidak mau muncul.


Sekarang Rachel sudah ada di lantai 3.


Posisinya ada di lorong lantai 3 menatap dindingnya dipenuhi dengan fotonya, Ayuma, dan Hendrawan. Tapi bukan foto asli melainkan foto fanart, foto 3 dimensi dan lukisan.


"Eh, siapa itu?." Saat fokus menatap foto di dinding, tiba-tiba Rachel dikejutkan dengan sosok perempuan yang berdiri membelakanginya. Berada di ujung lorong sebelum kelokan.


Perempuan itu berambut panjang dan memakai gaun merah sampai menutupi mata kakinya.


"Bibi?." Rachel mengira perempuan itu adalah salah satu pembantu Hendrawan.


"Bibi sedang apa?." Tanya Rachel sambil berjalan mendekati perempuan itu. Namun tidak di pungkiri kemisteriusan perempuan itu membuat Rachel agak takut. Tapi juga penasaran dalam waktu bersamaan.


Langkah Rachel semakin dekat, lalu tiba-tiba...


"AARGG," Rachel menjerit saat tiba-tiba perempuan itu menoleh dan wajahnya penuh dengan darah.


Rachel mundur, kakinya seolah memberat dan sulit di gerakan. Ketakutannya membuat Rachel seolah tidak bisa mengendalikan syaraf-syaraf tubuhnya. Sementara perempuan itu terus mendekat. Wajah yang penuh luka itu seperti tidak asing. Tapi siapa? Rachel mencoba menggali-gali memori dalam kepalanya untuk mengingat perempuan ini.


"RACHEL, KAMU DIMANA?." terdengar panggilan Farel.


Perempuan itu tidak mengatakan apapun, berbalik badan dan pergi ke belokan.


"Rachel," Farel mendekat dengan raut wajah khawatir, "Ada apa? kenapa wajah kamu kelihatan pucat?."


Rachel menggeleng, mulutnya terbuka ingin bercerita tentang sosok yang baru saja dia lihat tapi suaranya seperti tercekat di tenggorokan.


Farel langsung menarik Rachel dalam pelukan.


"Ga papa, tenang aku di sini. Aku akan selalu menemani."


Rachel membalas pelukan Farel dengan erat, kedua tangan dan kakinya gemetar. Matanya terepejam dan air mata mengalir semakin terasa basahi pipi. Rachel masih mencoba memahami situasi yang baru saja terjadi. Perempuan tadi... Apakah benar-benar nyata atau hanya imajinasi Rachel saja? karena kadang jika adegan-adegan itu muncul dalam kepalanya. Rachel bingung membedakan antara imajinasi dan dunia nyata. Atau mungkin rumah ini berhantu?.

__ADS_1


Mungkin memang hanya imajinasi Rachel saja.


***


Pukul 22.00, Village Dypta.


Farel baru saja tiba di sana, melempar jaket ke sembarang arah dan menyandarkan punggung di sofa. Ketiga temannya Rendy, Dypta dan Bastian sedang main billiard menatap pada Farel.


Dypta mengambil bungkus rokok dan korek di pinggiran meja billiard di belakangnya, lalu melempar ke pangkuan Farel. Farel mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Menyelipkan di antara bibirnya kemudian menghirup dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Farel bukan perokok, hanya sesekali saat ingin saja.


"Gue kangen Rachel," gumamnya sambil menghembuskan asap dari mulutnya.


"Bukannya lo baru dari rumah Rachel?." heran Rendy. Lalu menunduk dan menyodok bola. Masuk, Rendy mendapat poin.


"Iya, tapi gue masih kangen. Rasanya gue pengen cepet-cepet nikahin Rachel biar gue bisa sama dia 24 jam gue bebas peluk cium gandeng tangan dia Cubit pipi dia astaga," Farel senyum-senyum nggak jelas hanya membayangkan kebersamaannya bersama Rachel setelah menikah nanti, Farel tak puasa menahan senyum. Apalagi jika itu benar-benar terjadi, mungkin Farel akan salto di tengah jalan saking bahagianya.


"Kasihan banget sepupu Gue punya calon suami semprotektif lo." sinis Bastian.


"Kayak lo nggak aja sama Rani." balas Farel tak kalah sinis.


Bastian terkekeh, "Bener juga." Bastian lanjut menyodok bola, ah sial gagal.


"Tapi kayaknya lo sama Rachel nggak bakal semulus itu deh." ucap Rendy.


Rendy tertawa, sementara Dypta dan Bastian terkekeh.


"Ngeri kali anak muda ini kalau dah perkara cinta," ucap Rendy di sela-sela tawanya. "Kalau gue cinta sama Rachel, udah gue kejar dari dulu. Sayangnya perasaan gue ke Rachel cuma sebatas kasih sayang abang ke adiknya."


"Terus apa maksud kalimat lo yang tadi? kenapa lo bilang hubungan gue sama Rachel nggak semulus itu?."


"Brandon."


Gerakan tangan Farel yang ingin menyelipkan rokok ke dalam bibirnya tertahan di udara mendadak jadi bad mood mendengar nama Brandon apalagi jika mendengar cerita Rachel tentang pertemuannya dengan Brandon.


"Tuh orang gigih banget bilang hubungannya sama Rachel belum berakhir di masa lalu kemarin. Bahkan dia ngeyel dan mau ngajak Rachel bicara berdua. Rachel pergi sama gue masa gue tinggalin. Nggak terima dong! gue hampir baku hantam sama Brondon kemarin kalau Rachel nggak lerai kita."


"Emang dulu mereka belum putus?." tanya Bastian.


Rendy dan Farel saling menatap tampak sama-sama bingung, sementara Dypta tampak masih santai lanjut menyodok bola.


"Tapi kayaknya mereka memang belum putus deh." ucap Rendy

__ADS_1


Farel menyesap rokoknya lagi dan menghembuskan perlahan.


"Menurut kalian Rachel bakal milih siapa?." Tanya Farel.


"Gue sih terserah Rachel. Yang penting dia bahagia tapi Brandon setia juga sih udah 5 tahun dia masih jomblo aja." ucap Bastian.


Dypta tersenyum miring, "Kata siapa Brandon jomblo?."


"Terus?." tanya Farel penasaran, begitu juga Rendy dan Bastian yang menatap penuh tanda tanya pada Dypta.


"Dia udah nikah, punya satu anak."


"HAH?."


"Serius? lo lagi nggak bercanda kan?." tanya Farel memastikan.


"Nggak sih, lihat nih. Mukanya serius seratus persen," ucap Rendy sambil menangkup pipi Dypta. Sontak Dypta melempar tatapan tajam padanya.


"Santai, Bro santai!." Rendy terkekeh.


Mematikan puntung rokok di asbak yang ada di meja depan sofa, Farel berdiri menghampiri Dypta. Wajahnya terlihat serius dan penuh rasa penasaran.


"Lo bilang Dypta udah nikah dan punya satu anak. Nikah sama siapa? kok nggak ada kabar tentang pernikahan nya? Secara bokap nya pengusaha, pasti kabar pernikahan nya paling enggak terbesar di antara para pengusaha," heran Farel.


Bastian dan Rendy juga menunggu jawaban Dypta tapi Dypta justru terlihat asik menyodok bola billiard.


"Ck, di tungguin malah sibuk sendiri. Sengaja banget lo," kesal Rendy sambil menonjok canda punggung Dypta.


Dypta terkekeh, menegakkan badan dan menyandarkan pantat di sisi billiard di belakangnya.


"Luna."


Namun ekspresi mereka terlihat biasa saja membuat Dypta mengenyitkan sebelas alis. Dypta pikir ekspresi mereka akan sangat-sangat terkejut.


"Luna siapa?." tanya Bastian.


"Luna Rawnie, sahabat kita dulu."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2