Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 118


__ADS_3

Farel lagi-lagi tak menjawab, menuangkan wiski ke gelas kecil dan meneguk nya lagi.


"Udah, ntar lo mabuk. Gue juga yang repot."


Rendy merebut gelas di tangan Farel dan meminumnya.


"Bunuh orang boleh nggak?."


Rendy tertawa mendengar pertanyaan konyol Farel.


"Ya Enggak boleh lah, peak! emang lo mau bunuh siapa?."


"Pacar calon istri gue, si Brandon itu. Rachel calon istri gue, kenapa dia malah pacaran sama cowok lain. Gue cemburu. Sakitnya tuh di sini." Farel menekan-nekan dada nya dramatis.


"Beneran mabok nih anak."


"Enak aja, gue nggak mabok. Gue tahan minum whiskas."


"Whiskas, whiskas! wiski. Lagian mana ada whiskas di minum. Dahlah, Rel. Lo udah mabok, sana pulang!."


Farel ingin menuangkan lagi wiski ke dalam gelas nya, tanpa sengaja dia melihat sosok laki-laki yang baru saja dia bicarakan datang.


Brandon, pemuda itu datang bersama senior di club basketnya, setelah makan malam bersama coach dan tim, senior-senior nya mengajak pergi ke club. Tak enak menolak Brandon mengiyakan ajakan mereka.


"Rel, itu Brandon kan?." Rendy menoleh pada Farel tapi kursi di sampingnya sudah kosong. "Lah kemana tuh anak?."


Begitu Rendy ke arah Brandon, ternyata Farel sudah berdiri berhadapan dengan Brandon.


"Ya elah, ribut. Bodo amat, Rel. Gue mau cari dedek emes aja."


Rendy ingin pergi, tapi terlintas sebuah ide dalam kepalanya, "Suruh Rachel ke sini aja deh. Biar dia lihat ngenesnya si Bucin."


.


.


.


"Farel," Brandon kebingungan tiba-tiba Farel berdiri di depannya, begitu juga senior-senior dan teman-teman Brandon yang tampak bingung. Ada beberapa dari mereka yang mengenali Farel, karena mereka pernah menjadi lawan saat bertanding.


"Lo..." Farel menepuk kedua bahu Brandon, "Rachel itu calon istri gue. Lo cuman pacar. PACAR! Suatu hati nanti kalian pasti putus dan Rachel akan kembali sama gue. Karena gue rumahnya, jadi daripada lo putus nanti, lebih baik lo putus sekarang, biar patah hati lo nggak sakit-sakit banget."


Brandon mengenyitkan alis mendengar omongan Farel yang agak ngelantur. Rasanya tidak mungkin Farel mengatakan itu. Farel tidak akan menyuruh putus dengan cara yang tidak gentlement seperti ini.


"Lo pasti tahu kan? lo pasti bisa merasakan kalau Rachel nggak cinta sama lo. Rachel cinta sama gue. Tapi kenapa lo masih bersikeras mengikat Rachel. Kenapa lo nggak mau lepasin dia. Lo pasti tahu kelemahan Rachel yang nggak tegaan dan takut menyakiti siapapun kan? terus lo manfaatin dia buat mengikat Rachel, Iya kan?."

__ADS_1


Farel semakin ngawur.


Brandon menoleh pada seniornya, "Bang, gue bawa temen gue ke sana dulu!."


Setelah mendapat anggukan dari senior, Brandon merangkul Farel dan mengajak nya duduk di sofa kosong. Sekaligus ini kesempatan bagus untuk Brandon menghindar dari mereka. Brandon tidak nyaman dengan mereka.


"Sini, duduk di sini!." Brandon mendudukan Farel di sampingnya.


Farel menyandarkan punggung di sofa, memejamkan mata sesaat untuk mengurangi rasa pusing.


"Lo minum berapa botol sampai mabok seperti ini?."


Farel membuka mata dan menoleh pada Brandon.


"Gue nggak mabok, cuman pusing."


Farel masih setengah sadar, alkohol ini masih belum sepenuhnya merenggut kesadarannya.


"Ya elah, gue cari kemana-mana, ternyata disini."


Rendy duduk di samping Farel, membawa sebotol vodka dan tiga gelas kecil.


"Gue nggak minum."


"Kalau lo nggak minum, terus lo ngapain ke sini? mau culik gadis mabok terus lo bawa kabur!." Rendy terkekeh dan meminum segelas vodka itu.


Rendy memang tahan alkohol, satu atau dua botol vodka yang memiliki kadar alkohol tinggi tidak akan membuatnya mabok. Berbeda dengan Farel yang memang cepat mabok. Lihat lah Farel sudah teler dan bersandar di sofa.


"Brandon sini, lo di panggil Bang Tirta."panggil teman Brandon.


Brandon enggan beranjak tapi tidak enak juga menolak. Akhirnya Brandon menginyakan dan bergabung dengan mereka.


Rendy memperhatikan mereka. Terlihat di sana para senior terus menerus menyuruh Brandon minum. Brandon minum, Brandon terlihat enggan, tapi tetap minum juga. Bukan segelas dua gelas saja tapi tiga gelas langsung. Senioritas di negeri ini memang tinggi. Ada beberapa senior yang gila hormat, ya contohnya senior Brandon.


Rendy mengalihkan pandangan pada Brandon.


"Ck, ini juga baru minum beberapa gelas udah mabok."


Rendya mengeluarkan sesuatu dari dalam jaket. Makanan padat berbentuk kotak kecil, makanan untuk mengurangi pengar. Tidak di produksi di sini. Rendy membeli itu di Paris dengan harga yang tidak murah. Menyadari dirinya suka pergi ke club dan sering mabok, dia membelinya untuk berjaga-jaga untuk mengurangi pengar karena mabok.


Rendy memasukkan ke mulut Farel, "Makan nih!."


Farel membuka mata dan memicing pada Rendy.


"Udah gue bilang, gue nggak mabok!. Gue cuman pusing doang!." Farel berdecak sambil mengunyah makanan yang Rendy berikan.

__ADS_1


Lalu tak lama Brandon datang lagi dan duduk di samping Farel.


Di tengah obrolan mereka, ponsel Rendy berdering. Matanya melotot melihat papa nya menelpon. Papa nya jarang menelpon, sekalinya menelpon pasti ada hal yang penting. Lalu panggilan di akhiri dan ada pesan masuk.


Papa : Pulang!.


Rendy berdecak, "Oh sial, Rel. Gue cabut duluan. Bokap nelpon kayaknya ada masalah mengenai investasi gue kemarin yang gagal."


"Pulang duluan, gue ada mobil."


"Lo mabok, gimana mau nyetir. Udah pulang sekarang."


"Gue bisa nyetir. Gue juga mau ngomong sama Brandon."


"Terserah loh deh! kalau terjadi sesuatu lo urus sendiri. Gue balik."


Rendy berlari tergesa-gesa menuju parkiran. Sesampainya di sana tanpa sengaja dia melihat sosok seperti Luna dan dua temannya. Tak lama setelah Luna masuk ke dalam Club, muncul sosok Bella di belakangnya.


"Terserah! gue nggak peduli. Gue mau pulang daripada gue di cincang sama papa."


Rendy langsung melajukan mobil meninggalkan parkiran. Untung tadi Rachel centang satu dan seperti nya sudah tidur, sehingga Rachel tidak perlu menyusul Farel ke sini.


Di sisi lain Farel menuangkan segelas vodca ke gelas kecil untuk dirinya sendiri dan juga untuk Brandon.


"Cemen lo gitu doang udah mabok."


Brandon meneggakkan badan, mengambil segelas vodka yang dituangkan oleh Farel tadi lalu meneguknya bersamaan dengan Farel. Bersamaan dengan itu juga mereka meletakkan gelas di meja.


"Lo yang cemen," Brandon memicingkan mata pada Farel, "Setelah lo menyia-nyiakan Rachel, terus sekarang Rachel bahagia sama gue. Lo cemburu dan ingin Rachel kembali sama lo? mikir."


Brandon menuangkan minuman ke gelas nya lagi. Dan meneguknya.


"Gue nggak membela diri, tapi memang kenyataan nya gue memang sebodoh itu.


Gue nggak menyadari perasaan Rachel dan gue juga nggak menyadari perasaan diri gue sendiri. Obsesi gue nyaris kehilangan gadis yang benar-benar gue cintai. Rachel, gue sangat mencintai dia."


"Gue juga." Brandon menoleh sambil menajamkan mata, "Gue sangat mencintai Rachel."


.


.


.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2