
Rachel menolehkan kepala pada Farel.
"Hm, lo memang sebodoh itu, tapi gue lebih bodoh lagi. Gue udah tahu lo suka sama Luna tapi Gue tetap nggak bisa lupain lo."
Farel tersenyum samar. "Jadi kita sama-sama bodoh?."
"Ya begitulah."
Farel menghentikan mobil di pinggir jalan yang sepi, lalu meraih tangan Rachel.
"Dan si Bodoh ini mengatakan dengan tegas dan tanpa keragu-raguan sudah jatuh cinta sama lo. Si Nggak peka ini sudah mencintaimu sejak dulu, tapi obsesi gila pada Mama menutup mata dan hatinya. Namun tak pernah benar-benar tertutup. Di bawah alam sadarnya, dalam setiap waktu Bahkan dalam mimpinya, Rachel Aqeela TanoePramudya yang selalu ada dalam bayang-bayang nya."
Rachel yang seribu bahasa dengan pandangan mata tertuju pada mata Farel . Dikeheningan jalan dan kesunyian dalam mobil, jantung Rachel berdebar kencang. Diam-diam seirama dengan debaran jantung Farel sekarang.
Menyerongkan badan, Farel menatap lekat Rachel. mengulurkan tangan, lalu menyelipkan tangan ke belakang Rachel dengan ibu jari mengusap pipinya. Tangan Rachel terangkat dan menyentuh tangan Farel itu.
Pandangan mata semakin intens, semakin kuat juga debaran jantung masing-masing.
"Umur tujuh tahun kita bertemu dan sekarang kita berumur dua puluh tahun. tiga belas tahun bukan waktu yang sebentar, gue mau bilang terima kasih. Terima kasih li tetap bertahan di sisi Si Brengs*k, Si Sialan dan si Nggak peka ini."
"Udah jangan ngomong gitu terus," Rachel mengusap punggung tangan Farel yang masih menyentuh sisi kiri pipinya.
"Gue merasa nggak pantas lo cintai, tapi gue juga nggak mau lo tinggalin. Apa gue masih punya kesempatan ? Gue masih bisa mengubah status kita lebih dari seorang sahabat menjadi pacar atau kalau perlu kita menikah sekarang. Ayah nggak masalah anaknya nikah muda."
Rachel tersenyum geli, "Kuliah dulu yang bener. Lo mau ngasih gue makan apa kalau lo ngajak nikah sekarang. Makan cinta? Sorry gue nggak secinta buta itu sama lo, Rel."
Farel juga melempar senyum, lalu mendekatkan wajahnya dan menarik leher Rachel mendekat hingga dahi mereka bersentuhan.
Rachel memejamkan mata dengan deru nafas tak beraturan, jantungnya terasa semakin menggila. Seperti yang Farel rasakan sekarang.
Dengan kedua mata terbuka lebar, Farel menatap setiap jengkal wajah Rachel, wajah yang ingin dia lihat sebelum dan sesudah bangun tidur kelak.
"Gue akan kerja."
Hembusan nafas harum Farel menerpa wajah Rachel.
"Kerja apa?
Farel mengalihkan pandangan pada bibir Rachel.
"Apa aja yang penting ada uangnya. Jualan pop Ice keliling pun gue jabanin."
Rachel tertawa lalu perlahan membuka mata hingga tepat bertemu dengan mata Farel. Dalam keadaan apapun Farel selalu bisa membuatnya tertawa.
Kemudian hening beberapa saat, pandangan mata mereka masih bertemu, hingga perlahan Farel mendekatkan bibirnya pada bibir Rachel.
__ADS_1
"I Love you, Rachel."
Namun tiba-tiba...
[I love you, Rachel.]
Tiba-tiba suara Brandon muncul dalam kepalanya.
[Aku sangat mempercayai kamu. Tolong jangan tinggalkan aku seperti mama meninggalkanku.]
Wajah sendu dan sorot mata redup Brandon saat mengatakan kalimat itu terbayang-bayang dalam kepala Rachel.
[Janji kan? terima kasih. Aku akan membuatmu bahagia.]
[Aku sudah terlanjur membutuhkan kamu, tolong jangan tinggalkan aku, Rachel.]
"Nggak." Rachel langsung mendorong Farel menjauh.
Farel tersentak.
"Gue-gue nggak bisa."
Rachel mengusap wajahnya dengan kasar lalu keluar dari mobil. Begitu juga Farel yang keluar dari mobil, terburu-buru dan berdiri di samping Rachel.
"Terlambat, Rel."
"Gue ngga bisa sama lo lagi."
"Tapi perasaan lo masih sama kan?."
Rachel menatap lekat wajah Farel, ada banyak hal yang ingin dia katakan, namun sulit terucapkan. Pada akhirnya Rachel memalingkan wajah dengan genangan air mendobrak dari pelupuk mata.
"Gue, Brandon... gue nggak bisa ninggalin dia. Kami sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain Brandon membutuhkan gue dan saat gue butuh dia selalu ada buat gue. Gue nggak bisa. Sama lo...lebih dari sahabat."
Sesak itu semakin menghimpit dada Farel.
"Rachel."
Rachel berbalik badan tempat membelakangi para saat genangan air mata semakin ketara.
Farel memandangi punggung itu ingin memeluk, tapi takut semakin meremukan. Bukan salah Rachel, salah Farel datang terlambat.
Sekarang bukan waktu yang tepat untuk meminta Rachel menjawab untuk memilih dirinya atau Brandon. Apalagi Rachel sudah berjanji akan semakin sulit terakhir lepas dari Brandon.
Farel sangat tahu Rachel tidak ingin menyakiti siapapun. Dalam setiap langkahnya selalu berhati-hati, dalam setiap tutur katanya selalu dia pikirkan baik-baik.
__ADS_1
Sekarang yang bisa Farel lakukan adalah bersaing dengan Brandon . Entah bagaimana akhirnya, setidaknya Farel ingin berjuang untuk Rachel. Berjuang dengan cara yang benar.
***
Di ruang apartemen yang berantakan, Gadis itu menangis historis. Menangis untuk meluapkan kenarahan, kesedihan dan kehancuran. Tangisan ini tangisan tersakiti dalam hidupnya.
"Kenapa? kenapa semua jadi gini? karir yang aku bangun dari kecil, yang aku usahakan dari bawah, mati-matian menahan hujatan netizen setiap hari, hancur dalam sekejap mata."
Luna bersandar di pinggiran sofa, menumpukkan tangan di atas lutut yang tertekuk dan mencengkram kuat rambutnya.
"Aku salah, tapi kenapa setega ini."
Banyak waktu dan tenaga yang Luna korbannya demi mewujudkan impiannya menjadi seorang artis. Siang malam latihan bernyanyi, di sela-sela waktu luang latihan berakting hingga dia berhasil menjadi second lead di series pertama nya. Sebentar lagi series nya akan tayang namun tiba-tiba berita ini keluar dan akhirnya sutradara menggantikannya dengan artis lain.
"Aku salah, aku minta maaf. Tolong kembalikan impianku "
Air mata terus menetes sampai bajunya basah namun Air mata tidak akan bisa mengembalikan semuanya seperti semula. Impian kecilnya telah hancur.
Luna menunduk dan menjambak rambutnya semakin kuat.
Tiba-tiba pintu apartemen terbuka, Luna mengangkat kepala dan menolehkan ke arah pintu. Ternyata mama dan papanya yang datang. Luna memang memberitahu mereka kata sandinya sehingga mereka bisa langsung masuk.
"Luna." Dilara berlutut di samping putrinya dan menariknya dalam pelukan.
Air mata Luna yang sempat mengering, kini mengalir lagi.
"Mama, hiks, karirku hancur."
Luna mengeratkan pelukan pada Mama nya, lalu melepas pelukan dan berjalan dengan menumpukkan lutut di lantai mendekati papa nya.
"Pa..." Luna menggenggam tangan Hendrawan. Entah siapa pembajak IG-nya sampai memiliki vidio mama dan papa nya yang sedang bermesraan di ruang tamu. Namun yang jelas Luna merasa bersalah karena menjadi penyebab vidio itu terbongkar.
"Kamu pikir karir kamu saja yang hancur!."
"Pa..."
"Papa juga nyaris bangkrut gara-gara kamu. Di mana otak kamu? Bisa-bisanya kamu mengupload vidio papa dan mama ke sosial media kamu sendiri! berita keluarga kira langsung gempa dan trending di mana-mana. Parahnya lagi kamu juga sudah merepost berita-berita sampah itu "
"Jelas ini berimbas pada perusahaan papa. Banyak yang memutus kerjasama sepihak. Saham perusahaan Papa juga turun. Untung saja investor papa lebih banyak dari luar negeri, sehingga masih bisa menyokong perusahaan. Tapi tetap saja apa Papa rugi banyak. Bahkan proyek terbaru Papa untuk perluasan perusahaan di Asia harus tertunda gara-gara masalah ini! Ini proyek impian Papa sejak 5 tahun yang lalu!."
"Maaf, Pa."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....