Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 206


__ADS_3

"Saya sama sekali tidak tahu Yamato menyiksa kamu. Saya menitipkan kamu padanya, berharap dia mengubah kamu menjadi lebih baik. Tapi ternyata jauh dengan dugaan saya. Yamato justru menyakiti kamu. Jika saya tahu sejak awal saya akan membawa kamu pulang. Saya tidak berbohong."


Dilara mengepalkan tangan. Penjelasan demi penjelasan Sebastian justru membuatnya hatinya semakin sakit.


"Namun, apapun alasan saya mengirim kamu pada Yamato saya tetap salah. Tidak seharusnya saya memberikan kamu hukuman semenyakitkan itu. Tidak seharusnya saya memisahkan kamu dengan Luna sejauh itu. saya tahu kata maaf tidak akan mengubah wajah kamu seperti semula dengan segala penyesalan. Saya minta maaf. Saya benar-benar minta maaf, Dilara."


Setetes air mara Dilara mengalir kembali, namun buru-buru dia menghapuskan.


"Tidak semudah itu kamu minta maaf Sebastian. Terlalu banyak luka dan sakit yang kamu dan keluarga kamu berikan padaku. Bahkan jika kamu dan seluruh keturunan Tanoepramudya bersujud padaku rasa sakitku tidak akan hilang. Aku hanya akan memaafkan kamu kecuali kamu ikut mati bersamaku."


"Bagaimana, Sebastian? kamu ingin menebus rasa bersalah kamu kan? kalau begitu mati bersamaku. Kita susul Hendrawan dan Wisnu. Kalau kamu menolak artinya kamu tidak benar-benar tulus minta maaf."


"Ma," Luna yang sejak tadi hanya diam dan menangis akhirnya bersuara.


"Sudah cukup Ma. Cukup sampai di sini. Aku tahu Om Sebastian salah. Cara Om sebastian untuk membalas kejahatan yang pernah kita lakukan pada mereka, cukup keterlaluan. Tapi coba kita posisikan jika ada di posisi Om Sebastian. Saat itu aku dan mama mencoba menghancurkan rumah tangga Om Hendrawan dan Tante Ayuma. Mama menyakiti Tante Ayuma dan Om Hendrawan, sedangkan aku menyakiti Rachel. Sebagai keluarga mereka, Om Sebastian pasti tidak terima keluarga nya di sakiti."


"Tolong mama ingat. Apa yang kita lakukan pada keluarga mereka juga sangat jahat."


Luna meminta Brandon mendorong nya lebih dekat, tapi Brandon menggeleng.


"Jangan. Aku mohon." Brandon tidak ingin Luna terluka.


Namun Luna menggenggam tangan Brandon yang ada di sisi kursi roda. "Tidak apa-apa Mas. Mama tidak akan menyakiti aku." Luna mencoba menyakinkan Brandon.


Brandon akhirnya menuruti keinginan Luna mendekat ke arah Dilara.


Sekitar jarak 10 langkah dari Dilara, Brandon berhenti mendorong kursi roda Luna.


"Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, Ma. Aku, Mama, Om Sebastian, kita semua di subu pernah melakukan kesalahan. Namun yang terpenting bagaimana orang itu menyadari kesalahannya, meminta maaf dengan tulus dan mencoba memperbaiki kesalahan nya. Dan sekarang Om Sebastian sudah meminta maaf. Om Sebastian juga mengatakan kepadaku, beliau tidak akan memenjarakan mama atas kasus pembunuhan Papa Wisnu dan Om Hendrawan, meskipun beliau juga merasa marah dan sakit hati. Karena beliau menyadari kesalahan nya dan menerima segala konsekwensinya."

__ADS_1


"Cukup sampai di sini saja, Ma."


"Jangan pernah ada nyawa terbunuh lagi, Ma. Jika mama terus seperti ini mama juga akan membunuhku secara perlahan."


"Tidak," Dilara menggeleng dan melangkah maju, "Mama tidak akan pernah menyakiti kamu."


"Tapi semua yang mama lakukan menyakitiku. Mama melakukan balas dendam ini atas nama ku juga. Aku pernah menjadi sosok yang begitu jahat sampai menyakiti sahabat ku sendiri. Aku tidak ingin kembali jahat. Jahat hanya akan membawa kita pada kesengsaraan, Ma. Sekarang aku justru merasa bersalah pada semua orang Meskipun aku tidak membunuh, tapi aku tetap merasa menjadi seorang pembunuh."


"Kamu bukan pembunuh. Mama yang pembunuh. Tidak ada kaitannya dengan kamu. Kamu tidak perlu merasa bersalah. Biar mama yang menanggung semua dosa dan kejahatan mama."


"Kalau begitu berhenti sampai di sini. Lepaskan semua dendam itu dan mama akan bahagia. Hidup dengan dendam hanya akan membuat Mama menderita. Mari kita hidup bahagia dan tenang. Aku akan bicara dengan suamiku untuk mengizinkan mama tinggal bersamaku. Mama juga bisa bermain dengan Kevin, cucu Mama. Kevin anak baik. Kevin tidak akan takut melihat wajah mama."


"Kevin tidak akan takut." Dilara menoleh ke arah Kevin yang masih tetap berada di samping Brandon.


Mendengar nama nya di sebut, Kevin menghampiri Dilara. Kevin menoleh ke arah mama nya.


"Mah ini Oma?." tanya Kevin.


Kevin menggeleng, lalu tersenyum kemudian selangkah lebih dekat dan memeluk kaki Dilara. Dilara terharu dengan pelukan yang di lakukan Kevin. Lalu ia berjongkok dan membenarkan pelukan nya pada Kevin. Mata Dilara berkaca-kaca, pikiran nya berkecamuk saat itu. Dia juga lelah hidup dengan dendam. Keinginan satu-satu nya adalah melihat Luna bahagia. Sekarang Luna sudah bahagia, lalu apalagi yang Dilara cari.


"Ma," Luna terus berusaha membujuk Dilara, "Lepaskan dendam mama dan mama akan bahagia."


Dilara melepas pelukan nya dengan Kevin lalu menatap lekat Luna, kemudian menatap Sebastian dan yang lainnya. Mereka menatap nya dengan sorot mata biasa saja. Dilara tidak merasa dihakimi atau di salahkan padahal semua yang dia lakukan memang salah.


"Ma, ayo."


Akhirnya setelah bergulat dengan pikiran nya sendiri. Dilara mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Luna. Luna langsung menarik Dilara dan memeluknya.


"Ma," Luna kembali menangis. "Aku sangat merindukan mama."

__ADS_1


Dilara terdiam dan meremas sisi bajunya. Lalu perlahan mengangkat tangan dan memeluk balik putrinya. Air mata Diara yang sempat mengering kini mengalir lagi. Ibu dan anak yang bertahun-tahun berpisah itu kini saling berpelukan erat.


"Ayo kita pulang, Ma."


Dilara menganguk.


Mereka pun pulang dengan mobil masing-masing. Dilara bersama Luna, Brandon dan Kevin. Sedangkan Sebastian bersama putra nya. Dan mobil Sebastian di bawa oleh Rendy dan Dypta.


Selama di perjalanan Luna dan Dilara saling menggenggam erat tangan mereka. Tanpa banyak kata mereka saling melepas rindu. Tiba-tiba perkataan Dilara membuat semua orang yang di dalam mobil terkejut.


"Bawa mama ke kantor polisi Luna. Mama akan mempertanggung jawabkan kejahatan mama di sana." Dilara memberikan keputusannya.


"Mah!." lirih Luna.


"Tidak apa-apa Luna mama ikhlas. Seperti kata mu, Dengan begitu mama akan bahagia setelah menebus dosa dan kesalahan mama. Mama senang kamu sudah bahagia, Nak." Sekali lagi ibu dan anak itu kembali berpelukan, Brandon yang melihat di balik kaca spion hanya bisa tersenyum penuh haru melihat istri dan ibunya berpelukan.


"Nak Brandon antarkan Tante ke polisi." Brandon melirik Luna di kaca spion kemudian di balas anggukan oleh Luna.


Mobil yang dikemudikan Brandon berbalik arah menuju kantor polisi.


"Mama tenang saja, aku akan selalu mengunjungi mama di sana. Mama jaga kesehatan nya! setelah itu kita akan hidup bersama dan bahagia bersama keluarga kecil ku, Kevin dan Mas Brandon."


Dilara mengangguk dan tersenyum.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ..


__ADS_2